
Flashback
Bram, Randi, dan Haikal adalah tiga sekawan yang memiliki ikatan persahabatan yang sangat erat. Mereka bertiga bersahabat sejak sama-sama duduk di bangku kuliah.
Bram dan Randi berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Sementara Haikal adalah anak seorang konglomerat yang sangat berpengaruh di kota tempat mereka tinggal saat itu.
Sejak kepergian kedua orang tuanya, Haikal lah yang menjadi pewaris tunggal dan melanjutkan semua bisnis ayahnya.
Tamat kuliah, Bram dan Randi mulai bekerja di perusahaan Haikal. Namun, Bram berhasil mendapatkan jabatan yang sedikit lebih tinggi dari Randi. Semua itu Bram dapatkan karena hasil kerja kerasnya selama ini. Bram juga menikah dengan adik kelasnya yang bernama Tari.
Saat itulah hubungan persahabatan di antara mereka bertiga menjadi renggang. Tanpa Bram sadari, ternyata Randi sudah lama menaruh hati pada Tari. Namun, Randi tidak pernah mengatakan semuanya kepada Bram dan menahan rasa sakitnya sendirian.
Randi yang sudah jatuh dan tertimpa tangga itu, akhirnya memutuskan untuk keluar dari perusahaan Haikal dan membangun bisnisnya sendiri.
Satu tahun menikah, Tari melahirkan anak pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki. Bayi tampan itupun diberi nama Riuga Wijaya.
Bram sangat bahagia dengan kehadiran putranya itu, begitupun dengan Haikal yang sudah menganggap putra sahabatnya itu sebagai anaknya sendiri.
Selama kurang lebih 5 tahun, Haikal benar-benar mencurahkan kasih sayangnya terhadap Riuga kecil. Bahkan apapun yang diminta oleh Riuga kecil, selalu dituruti oleh Haikal.
Tidak lama, Haikal akhirnya menemukan belahan jiwanya dan menyusul Bram yang sudah lebih dulu membina hidup berumah tangga.
Kebahagiaan Haikal pun semakin lengkap, saat istrinya yang bernama Vani mengandung buah cinta mereka. Begitupun dengan Bram, yang mengetahui kalau istrinya tengah mengandung anak keduanya mereka.
Beberapa bulan kemudian, Vani melahirkan anak pertamanya yang berjenis kelamin perempuan. Haikal sangat bahagia karena keinginan yang selama ini dia pendam akhirnya terwujud juga.
Dua minggu kemudian, Tari pun melahirkan anak keduanya yang juga berjenis kelamin perempuan. Riuga kecil pun sangat bahagia karena mendapatkan dua orang adik perempuan sekaligus.
Sejak saat itu, hubungan diantara Bram dan Haikal pun menjadi semakin dekat. Bahkan bisnis yang mereka kelola pun semakin berkembang dengan pesat.
Saat Riuga kecil berusia delapan tahun, Haikal memutuskan untuk pindah ke luar negeri dan melanjutkan bisnisnya yang terbengkalai di sana.
Namun sebelum berangkat, Haikal sudah membuat perjanjian dengan Bram untuk menjodohkan putra pertama Bram dengan putri semata wayangnya. Semua orang pun sangat senang dengan kesepakatan yang sudah mereka buat.
__ADS_1
Riuga kecil pun sangat sedih dengan kepergian keluarga keduanya itu. Apalagi Riuga kecil sangat menyayangi putri pamannya yang saat itu masih berusia tiga tahun.
Beberapa tahun berlalu, akhirnya Bram menceritakan tentang perjanjiannya itu kepada putranya. Bram juga menceritakan semua kebaikan yang sudah dilakukan Haikal untuk keluarga mereka selama ini.
Mengingat kasih sayang yang sudah diberikan oleh Haikal, Riuga yang saat itu sudah berumur dua belas tahun dengan senang hati menerima perjodohan yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak itu.
Namun sayangnya, hingga saat ini Riuga tidak tau dimana gadis kecilnya itu berada. Itu lah yang membuat Riuga tidak pernah mau untuk menikah.
Flashback Selesai
Malik membawa Tuannya ke tempat yang agak sepi dan menceritakan semua informasi yang sudah dia dapatkan dari beberapa anak buahnya.
"Informasi apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Riuga dengan tatapan menuntut penjelasan.
"Maaf Tuan, ternyata mereka pernah kembali ke kota ini beberapa tahun yang lalu. Tapi sayangnya, mereka menghilang dan tidak kembali lagi ke luar negeri." ucap Malik penuh keseriusan.
"Apa maksudmu? Berarti selama ini mereka ada di kota ini?" tanya Riuga sembari membelalakkan matanya.
"Maksudmu mereka semua sudah tiada?" tanya Riuga seakan tidak percaya.
"Tidak Tuan! Gadis kecil yang Tuan cari, selamat dari pembunuhan itu. Dia diasuh oleh seorang wanita malam." ucap Malik yang membuat Riuga tak sanggup lagi membendung air matanya.
Riuga terduduk lemas di atas hamparan pasir. Sesaat, pikiran laki-laki yang tengah bersedih itupun langsung tertuju kepada Tata.
Laki-laki tampan itu benar-benar terpukul mendengar penjelasan dari anak buahnya.
"Kau tau siapa gadis kecilku itu?" tanya Riuga yang terus berderaian air mata.
"Iya Tuan, dia adalah anak dari wanita yang Tuan lenyapkan tempo hari!" ucap Malik yang membuat tubuh Riuga bergetar seketika.
"Sudah, tidak usah di jelaskan lagi! Pergilah beristirahat, mungkin keberangkatan kita akan di undur." ucap Riuga sembari menyeka pipinya yang sudah kebanjiran.
"Tunggu Tuan,!" Malik pun membisikkan sesuatu yang membuat Riuga menatapnya dengan tatapan mematikan.
__ADS_1
Serasa bagaikan di hoyak gempa yang begitu dahsyat. Riuga bahkan tidak sanggup untuk melangkahkan kakinya menuju resort.
Dengan langkah kaki tertatih-tatih, Riuga berusaha keras agar sampai didalam kamar dan menemui wanita malangnya itu.
"Kreeek"
Riuga berjalan kearah Tata dengan raut wajah yang sudah tidak bisa di mengerti. Laki-laki itu bahkan tidak tau apakah dia harus senang ataupun sedih setelah mengetahui kebenaran yang selama ini dia cari.
Melihat wajah polos Tata yang sedang terlelap, Riuga pun semakin merasa hancur dan tak bisa menahan kesedihannya lagi. Dengan kaki yang sudah semakin bergetar, Riuga memilih untuk duduk di sofa sembari terus menatap kearah wanita malangnya itu.
"Kenapa semuanya terungkap disaat aku ingin menjauh darinya? Apa ini hanya kebetulan, atau jodoh lah yang sudah membawaku padanya? Dia adalah gadis kecilku yang manis, dia juga satu-satunya wanita yang aku cintai. Bagaimana cara menjelaskan semua ini padanya? Dia bahkan tidak menginginkan diriku. Apa yang harus aku lakukan Tuhan, kenapa semuanya jadi serumit ini?"
Riuga hanya bisa berbicara didalam hatinya. Pikirannya mulai buntu tanpa tau apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Tidak lama, Tata terbangun dari tidurnya dan terkejut melihat Riuga yang masih saja meneteskan air matanya.
"Riu... Ada apa, kenapa kau masih menangis?" tanya Tata sembari melangkah kearah Riuga.
Wanita cantik itupun duduk di sebelah Riuga dan membantu menyeka air mata yang tak henti-hentinya mengalir di wajah tampan laki-lakinya itu.
"Aku tidak apa-apa, Natasya! ucap Riuga sembari membelai rambut Tata dengan lembut.
"Riu, kenapa kau memanggilku dengan nama itu?" tanya Tata sedikit kebingungan.
"Kenapa? Apa kau tidak suka dengan nama yang sudah diberikan oleh kedua orang tuamu itu?" tanya Riuga dengan tatapan penuh kesedihan.
"Bukan begitu Riu, darimana kau tau nama asliku?" tanya Tata dengan tatapan mencari tau.
"Tidak penting aku tau dari mana! Kenapa kau menyembunyikan semuanya dariku?" tanya Riuga sembari memeluk tubuh Tata dengan erat.
"Aku tidak pernah menyembunyikan apa-apa darimu! Sejak kepergian kedua orang tuaku, nama itupun ikut terkubur seiring berjalannya waktu." sahut Tata sembari menangis di dada Riuga.
Riuga mengusap punggung Tata dan mencium kepala wanita malang itu dengan perasaan yang sudah tidak menentu.
__ADS_1