Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Kenangan


__ADS_3

Dengan raut wajah penuh kekecewaan, Riu tersandar di pintu lemari sembari menekuk kedua kakinya di atas lantai. Tuduhan Tata terasa bak pedang tajam yang menusuk hingga ke hulu hatinya.


Entah darimana muncul pemikiran seperti itu, Riuga hanya terdiam dengan netra yang mulai berbinar menahan bening kristal yang sudah memenuhi kelopak matanya.


"Kenapa kau diam saja, Riu? Apa semua yang ku katakan itu benar?" teriak Tata yang mendesak Riuga mengakui sesuatu yang tidak pernah dia lakukan.


"Apa yang harus ku katakan padamu? Aku tau, aku bukanlah orang yang baik. Aku bahkan sudah sering melenyapkan nyawa orang lain. Tapi, aku tidak pernah melenyapkan orang-orang yang aku sayangi!" sahut Riuga sembari menghapus jejak kristal yang membekas di pipinya.


Perlahan, Riuga menumpukan kedua tangannya yang sudah bergetar di atas lantai dan bangkit dari tempat duduknya. Setelah berdiri dalam posisi tegak, laki-laki tampan itu membuka lemari pakaiannya dan mengambil sebuah kotak yang berisikan kenangan masa kecilnya.


Riuga mendekat kearah Tata dan meletakkan kotak berukuran sedang itu tepat di telapak tangan wanitanya.


"Mungkin kau bisa mengetahui jawabannya setelah melihat isi didalam kotak ini!"


Riuga bahkan tidak sanggup menatap wajah wanitanya yang penuh dengan amarah itu. Laki-laki tampan itupun kemudian membalikkan tubuhnya untuk mengambil pakaian dan segera mengenakannya.


Tata yang sudah penasaran, menarik nafasnya dengan pelan dan membawa kotak yang sudah dia pegang itu naik ke atas kasur.


Dengan raut wajah yang dipenuhi tanda tanya, Tata perlahan menggerakkan tangannya dan menyentuh bagian atas kotak.


Saking gugupnya, Tata akhirnya memejamkan kedua matanya dan bergegas membuka kotak dengan tangan yang mulai bergetar hebat.


Sesaat, Tata pun terperanjat saat membuka kembali kedua matanya. Isi yang ada didalam kotak, seketika mengingatkannya kembali kepada kedua orang tuanya yang sudah tiada beberapa tahun yang silam.


"Mama, Papa... Kalian?"


Tata terus saja bergumam sembari melihat satu persatu foto yang sudah ada di tangannya.


Rasa rindu yang sudah lama Tata pendam seorang diri, akhirnya dengan sekejap mampu meluluh lantakkan hatinya.


Tak ada satupun kata yang bisa mengungkapkan perasaannya saat ini. Hanya air mata yang jatuh berderaian, yang bisa menguraikan segala kegundahan didalam hatinya.


Melihat kesedihan yang begitu dalam di wajah wanita yang dia cintai, Riuga pun tak sanggup menahan dirinya. Laki-laki tampan itu melangkah menghampiri Tata dan menarik tubuh wanitanya itu kedalam dekapannya.


"Apa maksud dari semua ini, Riu? Hiks... Hiks..."


Tata menangis di pelukan Riuga sembari meminta penjelasan atas semua foto yang sudah membuatnya larut dalam kesedihan yang sangat mendalam itu.

__ADS_1


"Maafkan aku, Tata! Aku tidak bermaksud menyembunyikan semua ini darimu! Aku juga baru mengetahuinya saat kita akan kembali kesini!" ucap Riuga sembari mengelus rambut wanitanya dengan lembut.


"Siapa kau sebenarnya, Riu? Kenapa kau bisa memiliki semua foto ini?" tanya Tata yang masih tersedu didalam pelukan Riuga.


Karena Tata sudah terlanjur mengetahui semuanya, Riuga pun tidak bisa menyembunyikan apapun lagi dari wanitanya itu. Riuga sadar, Tata juga berhak tau hubungan antara orang tuanya dan orang tua wanitanya itu.


Flashback


"Riu, Papa sama Mama mau berangkat ke luar kota. Riu mau ikut kami atau tinggal bersama Paman Haikal?" tanya Bram kepada Riuga kecil yang masih berusia lima tahun.


"Riu tidak mau ikut dengan kalian, Riu mau sama Paman Haikal saja!" jawab Riuga kecil dengan polosnya.


"Ya sudah, tapi Riu jangan nakal ya. Kasihan Paman, nanti kerepotan gara-gara Riu!" ucap Bram mengingatkan putranya itu.


"Kamu tidak perlu khawatir, Bram! Bagaimanapun, Riu ini juga putraku. Dia sama sekali tidak merepotkan!" sambung Haikal yang justru sangat senang karena Riuga kecil lebih memilih untuk tinggal bersamanya.


Melihat kedekatan diantara putra dan sahabatnya, Bram pun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena kesibukannya yang terlalu menyita waktu, Bram jarang sekali dapat menghabiskan waktunya bersama Riuga. Untung saja ada Haikal yang selalu siap sedia menggantikan dirinya sebagai ayah kedua untuk Riu.


Malam itu, setelah keberangkatan Bram dan istrinya, Haikal akhirnya membawa Riuga pulang ke rumahnya.


"Riu, kamu sudah lelah kan? Ayo gosok gigimu dulu, jangan lupa cuci tangan dan kakimu! Setelah itu kita tidur!"


Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Riuga kecil pun berlari ke atas kasur dan menindih tubuh Pamannya itu dengan kasar.


"Riu, apa yang kau lakukan? Perut Paman sakit!" ucap Haikal sembari mengangkat tubuh kecil Riuga.


"Ah, Paman benar-benar cemen. Sama anak kecil saja sudah menyerah!" sahut Riuga kecil sembari membaringkan tubuhnya di atas tubuh Haikal.


"Kau ini nakal sekali ya." ucap Haikal sembari mengusap-usap punggung putra angkatnya itu.


"Paman aku sudah mengantuk, jangan ribut lagi!" ucap Riuga kecil yang mulai memejamkan matanya.


Mendengar ucapan Riuga kecil, Haikal pun langsung terdiam dan tersenyum sumringah. Tingkah menggemaskan anak angkatnya itu, membuat Haikal semakin menyayangi Riuga kecil.


"Jika saja aku memiliki anak perempuan, kau pasti sudah ku jodohkan dengannya." batin Haikal yang ingin sekali memiliki anak perempuan untuk Riuga kecil.


Pagi harinya, Riuga kecil terbangun dan mencubit pipi Pamannya yang masih mengorok saking lelapnya.

__ADS_1


"Paman, bangunlah. Kupingku sakit mendengar dengkuran mu itu!" teriak Riuga kecil tepat di telinga pamannya.


"Riu, kau sudah bangun?" tanya Haikal yang kaget mendengar teriakan putra angkatnya itu.


"Paman tidur seperti itu, mana ada wanita yang mau sama Paman. Aku saja tidak kuat mendengar dengkuran Paman!" ucap Riuga kecil sembari beranjak dari tubuh pamannya.


Riuga berlari ke kamar mandi karena tidak tahan dengan sesuatu yang sudah mengganjal di area selangkangannya.


Melihat Riuga kecil yang terburu-buru masuk ke kamar mandi, Haikal pun langsung menyusul karena khawatir dengan putra sahabatnya itu.


"Kau kenapa Riu?" tanya Haikal sembari mengernyitkan keningnya.


"Paman, kau ini benar-benar tidak sopan! Kenapa kau melihat burungku?" teriak Riuga kecil dengan polosnya.


"Hahahaha, kau ini! Paman pikir terjadi sesuatu padamu!" sahut Haikal sembari tertawa geli.


"Aku ini sudah besar, Paman. Aku hanya ingin pipis, Paman tidak lihat?" ucap Riuga kecil sembari membelakangi pamannya itu.


"Iya, iya. Maafkan Paman!" sahut Haikal sembari melangkah meninggalkan kamar mandi.


*****


Di meja makan, Riuga kecil tengah asyik menikmati makanan yang sudah terhidang di atas meja.


"Riu, hari ini Paman ada urusan sebentar. Kau mau ikut atau tinggal di rumah bersama Bibik?" tanya Haikal yang ingin mengurus surat nikahnya dengan Vani.


"Aku ikut Paman saja, di rumah membosankan sekali!" sahut Riuga kecil yang masih asyik mengunyah makanannya.


"Baiklah, tapi jangan nakal ya! Nanti ada Bibi Vani juga yang ikut bersama kita. Kau ingin punya adik kecil kan?" ucap Haikal memberi tau Riuga kecil.


"Tapi aku ingin punya adik perempuan, Paman! Aku akan menyayanginya dan menjaga adikku itu dengan baik!" ucap Riuga kecil yang membuat Haikal tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha, iya Riu. Jika adikmu perempuan, Paman tidak hanya ingin kau menjaganya saja. Tapi kau harus menikah dengannya jika sudah besar nanti!" ucap Haikal kepada Riuga kecil.


"Menikah itu apa Paman?" tanya Riuga kecil dengan polosnya.


"Sudahlah! Nanti kalau kamu sudah dewasa, Paman akan menjelaskannya padamu!" sahut Haikal yang sedikit kebingungan menjelaskannya pada anak sekecil Riuga.

__ADS_1


Flashback Selesai


__ADS_2