
Riuga melangkah menghampiri Tata yang tengah termenung di jendela ruangan pribadinya. Perasaan Riuga saat itu memang hancur, tapi dia berusaha untuk lebih ikhlas menerima kenyataan.
"Hei, coba lihatlah mataku! Katakan kalau kau tidak punya perasaan apa-apa terhadap ku!"
Riuga menatap dalam ke netra Tata, berharap bisa menemukan kebenaran didalam mata wanita yang sudah diam-diam mencuri hatinya itu.
"Aku tidak punya perasaan apa-apa kepadamu! Aku sudah punya kekasih. Mulai hari ini, tolong jangan ganggu aku lagi!"
Tata mengatakan semuanya dengan jelas dan tegas sambil menatap Riuga dengan tatapan yang mampu menyayat hati.
Pengakuan dari Tata itupun, seketika membuat mata Riuga kembali berkaca-kaca.
"Baiklah, aku mengerti. Sekali lagi maafkan aku, kau boleh pergi sekarang!"
Riuga akhirnya menyerah pada keinginannya dan membukakan pintu untuk Tata.
"Pergilah!"
Riuga membiarkan Tata pergi dari sisinya dan memberikan waktu untuk wanita itu memilih jalan hidupnya sendiri.
"Jika kau bahagia bersamanya, maka aku ikhlas melepaskan mu." batin Riuga penuh kekecewaan.
Tata pun akhirnya pergi tanpa menoleh kearah Riuga yang masih menatapnya dari depan pintu ruangan pribadinya.
Riuga menyadari telah melakukan kesalahan yang memang sangat susah untuk dimaafkan.
Satu minggu kemudian
"Selamat pagi, Tuan Daniel!" sapa Tata yang melihat bosnya melangkah didepan meja kerjanya.
"Pagi, Tata!" sahut Daniel dengan wajah berseri-seri.
Tata kembali duduk setelah menyapa bosnya yang baru saja datang itu.
"Lima belas menit lagi, masuk ke ruangan ku!" perintah Daniel sambil tersenyum manis kearah Tata.
"Baiklah, Tuan!" sahut Tata dengan sopan.
Daniel kembali melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Tata yang mulai kebingungan melihat ekspresi bosnya yang berbeda dari biasanya.
Setelah lima belas menit berlalu, Tata akhirnya menghentikan pekerjaannya dan berjalan menuju ruangan Direktur Utama Daniel Group itu.
Tok... Tok... Tok
"Silahkan masuk!" ucap Daniel dari dalam ruangannya.
Tata pun masuk setelah mendapatkan izin dari bosnya itu.
"Permisi, Tuan! Ada apa memanggilku ke sini?" tanya Tata yang belum tau tujuan Daniel memanggilnya.
"Duduklah!" perintah Daniel sembari menarik kursi untuk Tata.
"Terimakasih, Tuan!" jawab Tata sambil duduk di kursi itu.
__ADS_1
Daniel kembali ke tempat duduknya dan menatap Tata dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Malam ini adalah pesta ulang tahun perusahaan kita. Kau masih ingat kan?" ucap Daniel mengingatkan Tata kembali.
"Tentu saja aku ingat, Tuan!" sahut Tata dengan yakin.
"Kalau begitu, malam ini kau harus menjadi pendampingku! Kau tidak keberatan kan?" pinta Daniel.
"Apa? Kenapa harus aku, Tuan? Aku hanya karyawan baru disini." ucap Tata yang sedikit keberatan dengan permintaan bosnya.
"Ini sudah menjadi keputusanku. Kau mau atau tidak?" tegas Daniel dengan jelas.
"I... Iya, Tuan! Aku bersedia."
Mau tidak mau. Suka tidak suka, akhirnya Tata terpaksa menyetujui permintaan bosnya itu. Dia melakukannya hanya karena tidak ingin menjadi orang yang tidak tau berterimakasih.
"Bagus, nanti sopirku akan menjemputmu! Berdandan lah yang cantik!" ucap Daniel yang merasa punya harapan untuk mendekati Tata.
"Baiklah, Tuan! Kalau begitu aku permisi dulu!"
Tata meninggalkan ruangan bosnya dengan berbagai pertanyaan yang menggerayangi otaknya.
"Kenapa harus aku? Padahal masih banyak senior lain yang lebih pantas mendampinginya." batin Tata sembari berjalan kembali kearah meja kerjanya.
"Doaaaaaar..." (mengejutkan)
Rere mengagetkan Tata yang sedang berjalan seperti orang kebingungan.
"Aahh..." (berteriak)
"Hahahaha... Makanya, jangan melamun kalau lagi jalan!" ucap Rere sambil tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi lucu sahabatnya itu.
Tata kembali duduk dan mengambil sebotol air mineral yang terletak di atas meja kerjanya.
"Glug... Glug... Glug"
"Aahhhhh..."
"Tata, anak perawan kok minumnya seperti itu? Gak bisa pelan-pelan apa?" ucap Rere yang heran melihat cara minum sahabatnya.
"Makanya, lain kali jangan mengagetkan aku lagi!" ketus Tata yang masih merasa bergetar di tubuhnya.
"Hahahaha... Maaf ya!"
Rere meminta maaf kepada Tata atas kejahilan yang telah dia lakukan barusan. Rere juga tidak lupa menanyakan masalah yang sedang mengganjal di hati sahabatnya itu.
Tanpa ragu, Tata pun akhirnya menjelaskan semua yang sedang mengganggu pikirannya kepada Rere.
"Jadi, begitu ceritanya. Kamu beruntung sekali, Tata! Aku saja yang sudah bertahun-tahun kerja disini tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh bos kita." ucap Rere sedikit sedih.
"Aku juga bingung, kenapa harus aku?" sahut Tata yang masih tidak percaya.
"Mungkin bos kita menyukaimu. Atau mungkin malam ini dia mau mengatakan cintanya kepadamu?"
__ADS_1
Rere mencoba menerka nerka sikap bosnya yang terlalu perhatian kepada sahabatnya itu.
"Sudah lah, tidak usah dipikirkan! Lebih baik lanjutkan pekerjaan kita!"
Tata memilih untuk tidak membahas masalah itu lagi, dan kembali melanjutkan pekerjaan yang masih menumpuk di atas meja kerjanya.
*****
Malam harinya, Tata dan Rere sudah selesai bersiap-siap untuk datang ke acara pesta ulang tahun perusahaan tempat mereka bekerja.
Tidak lama, sopir perusahaan pun datang dengan mobil mewah yang akan membawa mereka.
"Tata, kamu duluan saja ya!" ucap Rere yang merasa tidak enak hati jika ikut menumpangi mobil yang khusus menjemput Tata itu.
"Loh, kenapa? Kita pergi sama-sama saja! Lagian tujuan kita juga sama kan." ucap Tata.
"Tapi, Tata..."
"Sudah lah, ayo naik!"
Tata menarik tangan Rere dan memaksanya masuk kedalam mobil itu. Mau tidak mau akhirnya Rere terpaksa pasrah menerima ajakan sahabatnya.
Di tempat lain, Riuga juga sudah bersiap-siap untuk datang menghadiri undangan dari sahabatnya Daniel.
"Sudah siap, Del?" tanya Riuga kepada adik perempuannya yang masih duduk di meja rias.
"Sudah, Kak! Ayo, kita jalan sekarang!" ajak Adelia yang sudah berdandan sangat cantik.
"Oh iya, Kak. Aku cantik gak?" tanya Adelia yang saat itu memakai gaun pembelian kakaknya.
"Tentu saja, adik kakak ini memang yang paling cantik." sanjung Riuga yang selalu berusaha menyenangkan hati adik perempuannya itu.
Adelia tersenyum bahagia dan memeluk lengan kakaknya dengan erat.
Mereka berdua berjalan keluar dari istana mereka dan melaju dengan mobil mewah yang dikendarai oleh Soni.
Pukul 19.00 malam, Tata dan Rere sudah lebih dulu sampai di gedung tempat acara berlangsung.
"Tata, kau cantik sekali." sanjung Daniel yang benar-benar terpesona melihat kecantikan Tata malam itu.
"Terimakasih, Tuan! Tuan terlalu berlebihan." ucap Tata yang merasa bosnya terlalu berlebihan memuji dirinya.
"Sudah, malam ini tidak usah panggil Tuan! Panggil nama saja!" pinta Daniel yang merasa kurang cocok dipanggil Tuan di acara seperti itu.
"Baiklah, terserah Tu... kamu saja!" sahut Tata yang tidak ingin mengecewakan bosnya.
Belum lama mereka mengobrol, tiba-tiba Riuga masuk kedalam gedung bersama adiknya. Adelia pun menggandeng lengan kakaknya seperti sepasang kekasih yang tidak ingin berjauhan satu sama lain.
Dag... Dig... Dug
Jantung Tata berdetak sangat kencang melihat Riuga yang sedang berjalan kearah mereka.
"Riu, akhirnya kau datang juga." sapa Daniel sembari memeluk sahabatnya itu.
__ADS_1
"Maaf, aku sedikit terlambat! Nungguin bidadari ini berdandan lama sekali." sahut Riuga yang mengkambing hitamkan adiknya atas keterlambatan mereka.