
Sore harinya sekitar pukul 16.00 wib, Tata terbangun dari tidurnya. Wanita cantik itupun merasa sangat canggung melihat Riuga yang masih terlelap sembari memeluk erat tubuhnya.
Tata kemudian mengangkat tangan Riuga dari tubuhnya dan segera beranjak dari tempat tidur. Rasa gerah setelah bangun tidur, membuat Tata tidak sanggup menahan diri untuk cepat-cepat ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Selesai mandi, Tata keluar dari kamar dan pergi menikmati pemandangan pantai di sore hari.
"Waw, benar-benar indah!" gumam Tata sembari merentangkan kedua tangannya di bibir pantai.
Tidak hanya Tata, di sana juga ada beberapa pengunjung lain yang sedang menikmati keindahan pulau yang cukup banyak peminat itu. Terutama kaum adam yang sedang asyik menghabiskan waktunya dengan bermain jetski.
Sementara didalam kamar, Riuga baru saja terbangun dari tidurnya. Laki-laki tampan itupun terkejut saat menyadari kalau Tata sudah tidak ada di sampingnya lagi.
Riuga melompat dari tempat tidur dan bergegas melangkah ke kamar mandi untuk mencari keberadaan wanitanya. Laki-laki tempramen itupun mulai panik setelah membuka pintu kamar mandi yang kosong, tidak ada Tata sama sekali didalam sana.
Dengan perasaan kacau, Riuga segera mengenakan pakaiannya dan menyelipkan senjata api yang selalu dibawanya kemana-mana itu di area pinggang celananya.
"Dimana kau Tata? Kenapa meninggalkan kamar tanpa memberitahu aku?" gumam Riuga sembari berlari terburu-buru keluar dari kamarnya.
Riuga sudah berkeliling mencari Tata di seputaran resort, sayangnya Tata tidak bisa ditemukan sama sekali.
Riuga bahkan sudah bertanya kepada seluruh pekerja resort, tapi tidak ada seorangpun yang melihat Tata keluar dari resort tersebut.
"Tata, apa yang terjadi? Dimana kau?" gumam Riuga yang sudah tidak bisa mengendalikan kemarahannya.
Sesaat Riuga tertegun, dia kembali teringat dengan ucapan Tata pagi tadi. Tata sempat mengatakan kalau dia sangat menyukai pemandangan di pulau itu.
Tanpa berpikir panjang, Riuga langsung berlari meninggalkan resort dan mendekat kearah pantai yang saat itu lumayan ramai.
Riuga berlari ke sana kemari mencari keberadaan wanitanya. Wajah paniknya sudah tidak bisa dia sembunyikannya lagi. Semua orang yang melihatnya, sampai heran melihat ekspresi laki-laki tampan itu. Ada juga beberapa orang wanita yang memanfaatkan keadaan untuk menggodanya. Namun Riuga sama sekali tidak menghiraukannya.
Saat Riuga sudah hampir putus asa, tiba-tiba terdengar suara yang sayup-sayup sampai di pendengarannya.
"Riu, kau kenapa?" tanya Tata yang muncul dari arah belakang laki-laki yang sudah ngos ngosan itu.
Saking kagetnya, Riuga segera menoleh kearah belakang dan menatap Tata dengan tatapan yang sangat menakutkan.
__ADS_1
"Tata kau,,, ayo ikut denganku!"
Riuga benar-benar sangat marah dan menarik tangan Tata dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan? Sakit Riu, tolong lepaskan aku!" rengek Tata sembari meringis kesakitan.
Laki-laki yang memang sangat susah mengontrol emosinya itu, tidak mendengarkan rintihan Tata sama sekali. Dia terus saja berjalan sembari menarik tangan Tata kembali ke resort tempat mereka menginap.
Setelah sampai didalam kamar, Riuga menghempaskan tubuh Tata dengan kasar keatas kasur.
"Riu, apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau kembali bersikap kasar seperti ini? Hiks... Hiks... Hiks."
Tata menangis di atas tempat tidur sembari menekuk kedua kakinya. Wanita cantik itu benar-benar takut melihat kemarahan Riuga yang sudah menjadi-jadi.
Sesaat Riuga terdiam dan kembali sadar atas perlakuannya yang terlalu berlebihan terhadap Tata. Riuga naik keatas kasur dan menarik Tata kedalam pelukannya.
"Lepaskan aku, jangan pernah menyentuh aku lagi!" teriak Tata sembari mendorong tubuh Riuga dengan kuat.
"Maafkan aku Tata, aku tidak bermaksud menyakitimu!" ucap Riuga yang mulai menyesali perbuatannya.
"Kau selalu saja menyakitiku Riu, aku tidak percaya lagi padamu! Tolong bawa aku kembali, aku ingin pulang! Hiks... Hiks... Hiks."
"Aku tau aku salah, kau pantas marah padaku seperti ini. Pukul saja aku jika itu bisa membuatmu senang!"
Riuga meraih tangan Tata dan memukul wajahnya sendiri dengan kuat sampai berulang-ulang kali.
"Riu, lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?" bentak Tata sembari menahan tangannya agar tidak menyakiti Riuga.
"Tidak masalah, jika itu bisa membuatmu memaafkan aku!" sahut Riuga yang mulai meneteskan air matanya.
Tata tertegun melihat penyesalan yang begitu besar dimata laki-laki yang baru saja menyakitinya itu.
"Kenapa kau menangis? Harusnya aku yang menangis, bukan kau!" ketus Tata yang mulai tersentuh melihat air mata yang turun di wajah manusia batu itu.
"Maafkan aku Tata. Tadi aku benar-benar panik memikirkan dirimu, kau menghilang begitu saja dari tempat tidur. Aku pikir terjadi sesuatu padamu. Aku terlalu emosi, karena aku benar-benar takut kehilangan dirimu." ucap Riuga sembari menyentuh wajah Tata dengan lembut.
__ADS_1
"Apa kau mengkhawatirkan diriku?" tanya Tata dengan polosnya.
"Sangat Tata, aku sangat mengkhawatirkan dirimu. Sampai-sampai aku membawa ini untuk mencari mu." ucap Riuga sembari mengeluarkan senjata api yang terselip di pinggang celananya.
Tata sangat terkejut melihat benda yang ada di tangan Riuga itu. Matanya seketika membesar melihat benda yang belum pernah dia lihat sebelumya itu.
"Apa ini Riu? Kau sudah gila?" tanya Tata yang tidak percaya dengan apa yang sedang dia lihat itu.
"Ini adalah mainan ku, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu!" sahut Riuga dengan tatapan yang sangat menakutkan.
"Tapi aku hanya keluar melihat pemandangan di pulau ini, tidak ada yang menyakitiku!" ucap Tata meyakinkan laki-laki tempramen itu.
Riuga menyimpan kembali mainannya didalam laci dan memeluk Tata dengan erat.
"Maafkan aku ya. Mulai hari ini, aku akan belajar mengontrol emosiku. Tapi aku mohon, lain kali kalau mau pergi, jangan diam-diam seperti ini lagi ya! Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu!" ucap Riuga penuh kelembutan.
Riuga mengusap rambut Tata dan mengecup kening wanitanya itu dengan penuh kasih sayang.
"Iya, aku juga minta maaf karena sudah membuatmu khawatir! Tadi kau tidur sangat lelap, aku tidak ingin mengganggumu!" ucap Tata yang mulai nyaman berada didalam pelukan Riuga.
"Aku tidak pernah merasa terganggu olehmu. Kemanapun kau ingin pergi, dalam keadaan apapun aku akan menemanimu." ucap Riuga sembari mengecup kepala wanitanya dengan lembut.
"Terimakasih!" sahut Tata sembari menenggelamkan wajahnya di dada manusia setengah serigala itu.
Sesaat suasana didalam kamar itupun menjadi hening disaat mereka berdua sama-sama larut dalam perasaan masing-masing.
"Tata, apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?" tanya Riuga tanpa melepaskan pelukannya.
"Ya..." sahut Tata singkat.
"Apa kau mencintaiku?" tanya Riuga yang belum mengetahui perasaan Tata terhadap dirinya.
"Aku tidak tau, saat ini aku hanya merasa nyaman bersamamu." sahut Tata sembari mempererat pelukannya.
"Ya sudah, tidak apa-apa! Aku akan menunggu sampai kau benar-benar siap menerimaku." ucap Riuga sembari tersenyum dan kembali mengecup kepala wanitanya itu dengan lembut.
__ADS_1