
Hari sudah menunjukkan pukul 19.00 malam, Riuga tampak sedang keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan tubuhnya. Begitupun dengan Tata yang sudah lebih dulu membersihkan tubuhnya sebelum Riuga bangun.
Tata tengah duduk di depan cermin meja rias nya sembari menunggu Riuga yang sedang mengenakan pakaian yang sudah disiapkannya. Raut wajahnya terlihat begitu anggun meskipun tidak memakai make up. Dia hanya memoles bibirnya dengan lipgloss agar tidak kering.
Setelah Riuga selesai mengenakan pakaiannya, dia kemudian berjalan menghampiri Tata dan memeluk istrinya itu dari belakang kursi. Tata pun tampak melebarkan senyumannya sembari menatap wajah suaminya dari cermin.
Tata meraih sisir yang ada di atas meja rias nya dan segera bangkit dari tempat duduknya. Dia kemudian membalikkan tubuhnya dan membantu merapikan rambut suaminya yang masih berantakan.
"Mmuach,"
Riuga memberikan kecupan di pipi Tata sebagai hadiah karena sudah membantunya menyisir rambut. Tata pun kembali melebarkan senyumannya dan mengecup bibir suaminya dengan lembut.
"Sayang, kamu ingin menggodaku?" ucap Riuga yang terkejut mendapatkan ciuman di bibirnya.
"Tidak, untuk apa aku menggoda mu?" sahut Tata dengan santainya.
"Jadi apa maksud ciuman tadi?" tanya Riuga dengan tatapan yang tak biasa.
"Memangnya aku tidak boleh mencium suamiku sendiri, atau kamu ingin melihatku mencium orang lain?" canda Tata sembari melangkah ke arah pintu.
Ucapan Tata itu ternyata membuat Riuga sangat marah. Dia berlari mengejar istrinya dan mendorong tubuh Tata hingga tersandar di dinding. Riuga pun menempelkan dadanya ke tubuh Tata agar istrinya itu tidak bisa menghindar.
"Lepaskan aku sayang, apa yang kamu lakukan?" ketus Tata dengan tatapan tajamnya.
"Apa bibirku ini belum cukup bagimu, kenapa masih ingin mencium orang lain?" tanya Riuga dengan nada meninggi.
"Hahahaha... Kenapa kamu jadi marah begini, kamu cemburu ya?" ejek Tata sembari tertawa cekikikan.
"Jangan tertawa Tata, jangan membuat kesabaran ku habis!" ketus Riuga dengan tatapan mematikan.
Tata kembali tertawa melihat ekspresi suaminya yang sudah seperti predator liar itu. Dia kemudian mengalungkan tangannya di leher Riuga dan mendekatkan bibirnya ke telinga suaminya itu.
"Untuk apa mencium orang lain kalau yang ini saja rasanya sudah sangat nikmat?" bisik Tata dan kemudian meniup telinga suaminya.
Hembusan nafas Tata itupun membuat bulu kuduk Riuga berdiri seketika. Riuga merasa lemah di hadapan istrinya dan mulai sedikit terpancing.
__ADS_1
"Jangan mempermainkan emosiku seperti ini sayang, aku tidak bisa menahannya kalau kamu seperti ini!" tegas Riuga dengan suara yang mulai terdengar berat.
"Hahahaha... Maafkan aku sayang, aku hanya bercanda. Kenapa kamu jadi sensitif seperti ini?" ucap Tata yang kemudian menempelkan bibirnya di leher Riuga.
"Tapi candaan mu ini sudah kelewatan sayang. Kamu itu hanyalah milikku, tidak ada seorang pun yang boleh menyentuhmu!" tegas Riuga.
Tata meninjitkan kakinya dan mulai meluma* bibir suaminya dengan penuh perasaan. Perlakuan Tata itupun membuat Riuga kembali luluh dan membalas luma*an istrinya.
"Sudah, jangan marah lagi. Kamu sudah berjanji kan untuk belajar mengontrol emosi?" ucap Tata mengingatkan suaminya.
Riuga sampai terdiam dan tidak mampu berkata-kata lagi. Tata benar-benar seperti ombak yang terkadang bisa menghempaskan tubuhnya dan kadang juga bisa menenangkan hatinya.
"Kenapa aku bisa terjebak dengan istri yang nakal seperti kamu ini?" tanya Riuga sembari mencubit pipi Tata yang menyebalkan itu.
"Hahahaha... Itu karena suamiku juga nakal, jadi kita impas kan?" sahut Tata dengan manjanya.
"Untuk hari ini aku akan memaafkan mu. Tapi jika lain kali kamu mengulanginya lagi, aku akan membuatmu menangis hingga berteriak memohon ampun padaku!" ancam Riuga sembari mundur dari posisinya.
"Lakukan saja, aku tidak takut!" tantang Tata.
Tata memperlihatkan senyuman sinis nya dan melangkah melewati suaminya yang masih berdiri mematung menatapnya. Dia kemudian membuka pintu kamar dan berjalan menuju anak tangga.
Di tempat lain, Soni tampak sedang menaiki mobilnya kembali dan disusul oleh laki-laki tampan yang dia temui tadi.
Entah apa yang sudah mereka bicarakan sebelumnya, tapi raut wajah mereka berdua sepertinya adem ayem saja.
Soni mulai menginjak pedal gas setelah mereka berdua duduk manis di dalam mobil. Dia kemudian melajukan mobilnya meninggalkan hotel tersebut dan mengarahkan mobilnya ke arah kediaman Riuga.
"Terima kasih untuk bantuannya, aku berhutang budi padamu!" ucap laki-laki yang tengah duduk di sebelah Soni itu.
"Tidak masalah, jangan sungkan!" sahut Soni yang masih fokus menyetir mobilnya.
Di kafe, Adelia dan Daniel baru saja selesai menikmati makan malam mereka. Meskipun awalnya Adelia terlihat begitu canggung, tapi pada akhirnya Adelia mulai menyesuaikan diri dan bisa bersikap lebih tenang di hadapan Daniel.
Daniel bangkit dari tempat duduknya dan kembali menggenggam tangan Adelia. Mereka berdua kemudian mengayunkan kaki mereka secara bersamaan menuju parkiran.
__ADS_1
Setelah mereka berdua berada di dalam mobil, Daniel pun bergegas melajukan mobilnya untuk mengantarkan Adelia ke kediamannya.
"Terima kasih sudah mentraktir Adel makan ya Kak." ucap Adelia sembari melirik ke arah Daniel yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Kenapa berterima kasih, Kakak lah yang harusnya berterima kasih karena kamu sudah mau menemani Kakak makan!" sahut Daniel.
Adelia tampak tersenyum dan kembali menatap lurus ke arah depan sembari memperhatikan jalanan yang tengah mereka lewati.
Namun berbeda dengan Daniel yang mencoba mencuri-curi pandang ke arah Adelia. Sepertinya dia mulai merasa nyaman berada di dekat adik dari sahabatnya itu.
Di tempat lain, Riuga dan Tata tengah asyik menikmati makan malam mereka. Namun wajah Riuga terlihat sedikit gusar saat mengetahui kalau adik perempuannya belum juga pulang sedari tadi.
Setelah menyelesaikan makan malam itu, Riuga dan Tata memilih untuk bersantai di ruang tengah sembari menunggu Adelia yang belum bisa di hubungi.
"Kemana dia, tidak biasanya dia pulang malam seperti ini?" gumam Riuga yang mulai terlihat panik.
"Tenang dulu sayang, mungkin Adel sedang di jalan!" ucap Tata menenangkan suaminya.
Tidak lama, tiba-tiba terdengar suara mobil yang baru saja datang dari arah luar. Riuga bangkit dari tempat duduknya dan berniat menyusul ke teras istananya. Namun Tata bergegas menahan tangan suaminya dan menariknya kembali untuk duduk di sofa.
"Tunggu saja di sini. Aku mohon, apapun alasannya kamu jangan pernah memarahi Adel!" pinta Tata mewanti-wanti suaminya yang emosional itu.
"Tapi dia sudah kelewatan sayang." sahut Riuga dengan kesalnya.
"Aku tau, tapi aku yakin Adel tidak akan melakukan hal buruk di luar sana. Aku percaya padanya!" ucap Tata.
"Tapi sayang,..."
"Permisi Tuan,"
Belum sempat Riuga melanjutkan ucapannya, tiba-tiba Soni muncul di hadapan mereka berdua.
"Soni, kau yang datang?" tanya Riuga dengan tatapan kebingungan.
"Iya Tuan, maaf menganggu waktu kalian. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu!" ucap Soni.
__ADS_1
"Siapa yang mencari ku malam-malam begini, apa dia tidak bisa menunggu sampai besok?" tanya Riuga kesal.
"Temui saja dia langsung, dia sedang menunggu di ruang tamu." sahut Soni yang membuat Riuga mulai penasaran.