
Pukul 19.00 malam Riuga turun ke lantai bawah untuk makan malam. Diwaktu yang bersamaan, Adelia dan Emilia pun juga keluar dari kamar menuju ruang makan.
"Kapan Kakak pulang, semalam kemana? Pas aku pulang, aku nyariin Kakak tapi gak ada." tanya Adelia sembari menikmati makanannya.
"Ada pekerjaan mendadak sayang." sahut Riuga sesingkat mungkin.
"Pekerjaan apa malam-malam begitu? Kakak pasti pergi sama pacar Kakak ya, ayo ngaku!" ucap Adelia yang ingin menggoda kakaknya itu.
"Anak kecil, jangan sok tau!" sahut Riuga.
"Ngaku saja Kak, gak boleh bohong, dosa tau! Hahahaha..." Adelia sengaja menggoda kakaknya itu sambil menertawakannya dengan puas.
Selesai makan malam, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Sekitar pukul 23.00 malam, Emilia mencoba menyelinap masuk ke dalam kamar Riuga. Ucapan Adelia di meja makan tadi membuatnya merasa sangat kesal.
Riuga tengah tertidur lelap di atas tempat tidur. Emilia pun masuk dan berjalan mengendap-endap agar Riuga tidak terbangun.
"Maafkan aku Kak, aku terpaksa melakukan ini. Aku tidak ingin Kakak memiliki wanita lain, aku menyukai Kakak." batin Emilia yang sangat menginginkan kakak dari sahabatnya itu.
Emilia berpikir untuk menjebak Riuga agar jatuh ke pelukannya. Dengan cepat Emilia membuka pakaiannya, yang tersisa hanyalah kacamata dan segitiga pengamannya saja.
Dengan sangat hati-hati Emilia naik ke atas kasur sembari membuka kamera ponselnya.
Sesaat sebelum Emilia berhasil memotret gambar mereka, Riuga lebih dulu terbangun saat merasakan pergerakan di atas kasurnya.
"Hei, apa yang kau lakukan di sini?" teriak Riuga yang terkejut melihat Emilia yang sudah setengah telanjang itu.
"Kak Riuga, a,,, aku!"
"Dasar wanita bodoh, pakai pakaianmu cepat!" bentak Riuga sembari menghindar dari wanita itu.
Emilia mulai ketakutan mendengar suara Riuga, dia pun bergegas mengenakan pakaiannya kembali.
"Kak Riuga, maafkan aku. Aku melakukan ini karena aku menyukai Kakak. Aku tidak ingin Kakak bersama wanita lain!" ucap Emilia sembari menatap wajah tampan laki-laki yang berdiri di depannya itu.
"Menjijikkan, aku tidak menyangka kau bisa berpikiran seperti ini. Dimana letak harga dirimu sebagai seorang wanita, hah? Tidak tau malu!" bentak Riuga yang semakin naik pitam.
"Aku tidak peduli. Bahkan jika Kakak menginginkan tubuhku ini, akan aku berikan asalkan Kakak mau menjadi milikku. Aku sangat mencintaimu Kak." tegas Emilia tanpa ada rasa malu sedikitpun.
"Sudah cukup, selama ini aku baik padamu semata-mata karena kamu itu temannya Adelia. Aku hanya menganggap mu sebagai adik, jangan pernah berharap lebih!" bentak Riuga dengan tatapan yang sangat menakutkan.
"Tapi Kak, aku ingin lebih dari sekedar adik." ucap Emilia memaksakan diri.
"Dasar wanita gila, seharusnya aku tidak membiarkan Adelia berteman dengan wanita murahan sepertimu!" bentak Riuga lagi.
Emilia bahkan tidak merasa bersalah sama sekali atas kelakuannya yang menjijikkan itu. Perlahan Emilia kembali membuka kancing bajunya.
"Stop, jangan bertindak bodoh. Kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri. Pergilah dari sini, atau kau akan menyesal seumur hidupmu karena telah berani bermain-main denganku!" ancam Riuga yang sudah kehilangan kesabarannya.
Riuga mengambil ponsel dan berjalan buru-buru keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Halo Tuan," ucap seorang penjaga.
"Masuk ke dalam!" perintah Riuga kepada penjaga yang berada di luar istananya.
"Tut...Tut...Tut"
Riuga mematikan sambungan teleponnya.
Tidak lama, seorang penjaga pun datang sesuai perintah Tuannya itu.
"Ada apa Tuan?" tanya penjaga itu sembari membungkukkan tubuhnya.
"Antar wanita ini pulang ke rumahnya, pastikan dia tidak akan lagi menginjakkan kaki di sini!" perintah Riuga dengan sangat tegas.
"Baik Tuan," jawab penjaga sembari menarik tangan Emilia dan membawanya keluar.
"Lepaskan aku!" bentak Emilia kepada penjaga itu.
"Kak Riuga, jangan usir aku. Aku masih ingin di sini!" teriak Emilia yang sama sekali tidak didengarkan oleh Riuga.
Setelah kepergian Emilia, Riuga kembali masuk ke dalam kamarnya dengan penuh kekesalan.
"Mimpi apa aku semalam? Iiiih, untung saja aku cepat terbangun. Kalau tidak, bisa-bisa keperjakaan ku hilang direnggut oleh wanita sialan itu!" gumam Riuga sembari menutup anakonda nya dengan tangannya dan menggeliat geli.
Riuga kembali naik ke atas tempat tidur untuk melanjutkan mimpinya yang sempat diganggu oleh wanita gila tadi.
Setelah beberapa menit berbaring, Riuga kembali bangkit dari tempat tidur.
Riuga memantik korek api untuk menyalakan sebatang rokok.
"Huftt..."
"Wanita tadi membuat otak ku keluyuran saja!" batin Riuga sembari menepuk keningnya dengan kasar.
"Tata..."
"Aish, kenapa aku malah memikirkan wanita itu? Bodoh," gumam Riuga sambil mematikan rokoknya kembali.
Riuga kembali naik ke atas tempat tidur. Dia merasa seperti orang bodoh karena memikirkan wanita yang sama sekali tidak dia sukai.
"Krasak Krusuk"
Miring kiri, miring kanan, telentang, tengkurap. Bahkan ketika menyungging sekalipun, Riuga masih tetap melihat bayang-bayang wanita cantik itu di depan matanya.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi denganku? Kenapa dimana-mana ada dia?"
"Ahh sial, aku tidak bisa tidur kalau begini. Wanita itu..."
Riuga akhirnya keluar dari kamar dan berjalan menuju mini bar yang ada di lantai tiga.
Dengan perasaan kesal Riuga membuka sebotol anggur dan meneguknya seperti orang yang sedang kehausan.
__ADS_1
Anggur adalah teman yang paling setia menemani Riuga selama ini. Dalam keadaan apapun hanya anggur lah tempat melampiaskan perasaannya. Baginya anggur itu lebih menarik daripada seorang wanita.
Setelah menghabiskan beberapa botol anggur, Riuga kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Namun baru beberapa langkah berjalan, dia kemudian tersungkur dan tergeletak di atas lantai.
*****
Pagi harinya, Adelia tengah panik mencari keberadaan Emilia.
"Kalian melihat Emil gak?" tanya Adelia kepada beberapa orang pelayan yang tengah menyiapkan sarapan.
"Maaf Nona Adel, kami tidak melihatnya." jawab pelayan itu bersamaan.
"Kemana dia, kenapa pagi-pagi begini sudah menghilang?" batin Adelia sembari mengerutkan keningnya.
"Oh tidak, apa dia tidur di kamar Kakak?" batin Adelia sembari berjalan dengan langkah seribu menuju kamar kakaknya.
Setelah sampai di depan pintu kamar Riuga, Adelia sejenak terdiam memikirkan sesuatu yang bisa saja terjadi di dalam sana.
"Semoga saja mereka tidak melakukan apa-apa!" batin Adelia sembari mendorong pintu kamar kakaknya dengan pelan.
"Kreeek..."
Adelia kembali terdiam saat melihat tempat tidur kakaknya yang kosong tak ada seorangpun di sana.
"Tidak ada, mereka berdua kemana?" gumam Adelia yang kembali keluar dari kamar kakaknya.
Disaat Adelia ingin menuruni anak tangga, tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing lagi di telinganya.
"Cari siapa?" tanya Riuga yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Kakak dari mana?" tanya Adelia dengan raut wajah bingungnya.
"Semalam Kakak tidur di lantai atas." jawab Riuga dengan santai.
"Kakak tidur sendiri, tidak bersama Emil kan?" tanya Adelia yang sedikit bingung dengan raut wajah kakaknya.
"Tentu saja Kakak tidur sendiri, kamu pikir Kakak laki-laki apaan?" ketus Riuga yang mulai kesal mendengar nama wanita yang tidak tau malu itu.
"Oh, Adel pikir Kakak tidur bersama Emil semalam. Soalnya Emil menghilang dari kamar." ucap Adelia yang membuat Riuga mengangkat alisnya.
"Dia tidak menghilang, dia sudah pulang ke rumahnya." sahut Riuga seperti tidak terjadi apa-apa.
"Kenapa dia pulang Kak, apa yang terjadi?" tanya Adelia yang penasaran dengan kepergian sahabatnya itu.
Riuga menarik tangan adik perempuannya itu dan membawanya melangkah memasuki kamar.
"Lain kali jangan bawa dia ke sini lagi!" pinta Riuga yang membuat Adelia semakin kebingungan.
"Memangnya kenapa Kak, apa yang terjadi?" tanya Adelia.
Riuga akhirnya menjelaskan semua yang sudah terjadi malam tadi kepada adik perempuannya itu tanpa ada yang ditutup-tutupi.
__ADS_1