Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Perasaan Canggung


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama bagi Soni untuk mengendarai mobil mewahnya. Selang beberapa menit saja mobil tersebut sudah kembali masuk ke dalam pekarangan Riuga Grup.


"Kita sudah sampai, kalian turunlah lebih dulu!" ucap Soni sembari menoleh ke arah Febri dan Tata secara bergantian.


"Lebih baik kalian berdua saja yang turun, aku belum siap masuk ke dalam kantor dan bertemu dengan Riuga!" sahut Febri yang terlihat begitu gugup.


"Apa maksudmu Febri, jangan seperti ini. Ikutlah denganku, aku jamin Riuga tidak akan macam-macam terhadapmu!" sambung Tata meyakinkan Febri.


"Aku tau, aku hanya butuh waktu untuk menenangkan pikiranku sebentar." sahut Febri.


"Kalau begitu kau pulang saja, aku akan meminta sopir untuk mengantarmu. Kau bisa istirahat dan menenangkan pikiranmu di rumah. Di sana juga ada Malik, kau pasti akan lebih nyaman beradaptasi dengan lingkungan barumu!" ucap Soni mencari jalan tengah agar Febri bisa melupakan kejadian yang baru saja dia alami.


"Baiklah kalau begitu, tolong sampaikan permintaan maaf ku kepada Riuga. Aku benar-benar tidak bermaksud menggoda istri kesayangannya ini!"


Febri menekuk kepalanya dengan penuh rasa bersalah, bagaimanapun dia masih saja merasa tidak nyaman dengan keadaan yang sudah terjadi.


"Tidak apa-apa Febri, jangan dipikirkan lagi. Semua akan baik-baik saja setelah ini!" sahut Tata sembari tersenyum tipis.


Soni turun dari mobil mewahnya dan membukakan pintu untuk Tata. Mereka berdua kemudian melangkah ke arah pintu masuk Riuga Grup.


"Kau masuklah lebih dulu, aku akan menyuruh sopir untuk mengantarkan Febri pulang. Kasian sekali dia, harusnya suamimu tidak bertingkah kekanak-kanakan seperti tadi!" ucap Soni.


"Kau seperti tidak kenal dia saja, hahaha." sahut Tata.


"Ya begitulah dia, susah untuk ditebak." sambung Soni.


"Sudahlah, aku masuk dulu. Kau pergilah, kasihan Febri kelamaan menunggu!" tambah Tata.


Tata melanjutkan langkah kakinya menuju lift sembari tersenyum geli. Entah apa yang merasuki pikirannya, tiba-tiba saja bibirnya menyeringai dengan tangan menutupi sebagian area wajahnya.


Tak lama berselang, lift yang dinaiki Tata pun berhenti di lantai atas. Saat pintu lift terbuka lebar, tiba-tiba saja wajah cantik itu tertegun melihat sosok laki-laki yang sangat dia cintai sudah berdiri di depan pintu.


Seketika senyum di wajah Tata pun lenyap tak bersisa. Ada perasaan takut yang bersemayam di dalam hatinya melihat wajah Riuga yang sudah seperti serigala kelaparan.


"Sayang..."


Belum selesai Tata menyapa suami tercintanya itu, Riuga sudah lebih dulu menarik tangan wanita cantiknya itu. Tubuh Tata pun dengan kuat menghantam dada Riuga. Sontak saja Tata terperanjat kaget menerima sentakan dari tangan suaminya itu.


"Riu, apa yang kau lakukan?" teriak Tata.


"Darimana saja kau, apa kau sudah lupa kalau kau itu sudah punya suami. Kenapa kau pergi meninggalkan kantor tanpa seizin ku?" tegas Riuga dengan nada meninggi yang membuat Tata langsung terdiam kaku.

__ADS_1


"A... aku..."


"Tidak perlu dijawab, ayo ikut aku!" tambah Riuga sembari menarik tangan Tata kembali masuk ke dalam lift.


"Kita mau kemana Riu?" tanya Tata yang mulai terlihat pucat menghadapi kemarahan suaminya.


"Jangan banyak tanya, ikut saja!" tambah Riuga.


Melihat kemarahan yang sudah memuncak di ubun-ubun suaminya, Tata pun akhirnya memilih untuk diam dan mengikuti kemauan Riuga.


Di tempat lain, Sopir yang sudah siaga di kantor terlihat sedang memasuki mobil yang baru saja terparkir di depan Riuga Grup.


Sesuai arahan dari Soni, Sopir yang sudah puluhan tahun bekerja dengan Riuga itupun mulai melajukan mobilnya mengantarkan Febri pulang ke kediaman Riuga.


Tidak ada percakapan yang berarti diantara mereka berdua. Febri yang masih saja galau, terlihat sedang memegangi kepalanya sembari menutup kedua kelopak matanya.


Di lantai atas, Riuga dan Tata baru saja keluar dari dalam lift. Meskipun merasa tidak nyaman dengan perlakuan Riuga, Tata berusaha untuk menahan dirinya agar tidak memancing kemarahan Riuga lagi.


Riuga membawa Tata masuk ke dalam ruangan pribadinya. Tanpa berucap sepatah katapun, Riuga menghempaskan tubuhnya di atas ranjang mereka.


Dengan deru nafas yang mulai tersendat, Riuga memejamkan kedua matanya tanpa menghiraukan Tata yang masih berdiri di samping tempat tidur mereka.


"Sayang, kau kenapa. Apa kau sakit?" tanya Tata sembari menekuk kedua kakinya dan duduk di pinggir ranjang.


"Lalu kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Tata bingung.


"Kalau kau tidak mau menemaniku di sini, pergi saja!" ketus Riuga.


"Kau ini benar-benar aneh. Kalau ujung-ujungnya mau mengusir ku dari sini, lalu untuk apa kau membawaku ke sini?" sahut Tata dengan nada penuh kekecewaan.


Melihat reaksi Riuga yang begitu dingin terhadap dirinya, Tata pun mencoba untuk bersabar menghadapi sikap suaminya itu.


"Kalau begitu kau istirahat saja di sini. Aku turun dulu, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan!" ucap Tata sembari melangkah ke arah pintu.


Riuga yang tadinya berharap ingin diperhatikan oleh istrinya, justru dibuat semakin kesal dengan sikap Tata yang seakan acuh tak acuh terhadap dirinya.


"Tunggu, kau mau kemana?" tanya Riuga sembari bangkit dari tempat tidurnya.


"Kerja, mau kemana lagi?" sahut Tata menahan gelak tawanya.


"Tidak perlu, ayo kemari lah. Pekerjaanmu ada di sini!" ucap Riuga.

__ADS_1


"Oh, kau sudah membawanya ke sini. Kalau begitu tidurlah, aku akan menyelesaikan pekerjaan ku dulu!" sahut Tata.


Tata melangkah ke arah meja kerja dan duduk di atas kursi yang ada di ruangan tersebut.


Sontak saja reaksi Tata itu membuat emosi Riuga terpancing seketika. Dengan mata yang terlihat merah karena meratapi kepergian Febri tadi, Riuga turun dari tempat tidur dan menghampiri Tata yang sedang membuka laptop yang ada di atas meja.


Tanpa berbasa-basi, Riuga dengan sigap mengangkat tubuh Tata dan membawanya ke atas tempat tidur.


"Riu, apa yang kau lakukan? Ayo, turunkan aku!" tegas Tata.


"Tidak ada pekerjaan di sana, pekerjaanmu ada di sini!" sahut Riuga.


"Apa maksudmu Riu, tolong jangan gila. Ini kantor, jangan macam-macam di sini!" tegas Tata.


"Diam saja sayang, aku tidak akan macam-macam. Cuma satu macam aja kok!" sahut Riuga menyeringai.


"Hust, cukup bercanda nya Riu. Tidak lucu!" ucap Tata.


"Iya, iya, gitu aja kok marah. Aku hanya ingin memeluk istriku sebentar, apa tidak boleh?" tanya Riuga.


Riuga membaringkan tubuhnya tepat di samping Tata. Tidak terasa, air mata laki-laki batu itu kembali menetes mengingat saat-saat terakhir dirinya melihat kepergian Febri tadi.


Tata yang menyadari itupun segera mendekap tubuh suaminya dengan erat.


"Ada apa sayang, kenapa kau menangis?" tanya Tata sembari mengusap air mata yang jatuh di wajah suaminya.


"Kenapa semua orang yang aku sayangi selalu pergi meninggalkan aku, apa salahku?" gumam Riuga.


"Tidak ada yang salah pada dirimu, hanya saja sikapmu yang terlalu berlebihan itulah yang menjadi bumerang untuk dirimu sendiri." sahut Tata.


"Apa aku salah, aku hanya ingin menjaga istriku. Aku tidak ingin kau juga pergi meninggalkan aku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kau dan Adel." ucap Riuga.


"Tidak ada yang akan pergi darimu, kita akan tetap bersama. Hanya maut yang akan memisahkan kita berdua." sahut Tata.


"Tapi aku sudah kehilangan sahabatku, aku ini benar-benar bodoh. Kenapa aku bisa bertindak begitu ceroboh seperti tadi. Febri sudah pergi, kemana aku harus mencarinya?" gumam Riuga.


"Sudahlah, tidak usah dipikirkan lagi. Aku yakin Febri tidak akan pergi meninggalkan kita. Kau tidak perlu merasa bersalah berlebihan seperti ini!" ucap Tata menenangkan Riuga.


"Bagaimana kau bisa yakin kalau Febri tidak akan pergi meninggalkan kita?" tanya Riuga penasaran.


"Sudahlah, nanti saja kita bahas di rumah. Kau istirahat saja dulu, aku ingin turun ke bawah. Pekerjaanku masih banyak." ucap Tata.

__ADS_1


"Suruh saja Soni menyelesaikannya, kau di sini saja bersamaku!" pinta Riuga dan menahan tubuh sang istri dengan pelukannya.


__ADS_2