Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Mesra


__ADS_3

Dengan mata yang mulai memerah, Riuga berusaha menahan gairah yang sudah menggebu-gebu di jiwanya. Dia pun segera beranjak dari tubuh Tata dan duduk di samping wanita itu.


"Maafkan aku sayang, lagi-lagi aku melakukan ini padamu. Rasanya begitu sulit menahan keinginan itu!" ucap Riuga sembari berdiri dan melangkah kearah sofa.


Dengan raut wajah yang terlihat begitu kusut, Riuga mulai menekuk kakinya di atas sofa. Dia menumpukan sepasang sikunya di atas kedua lututnya. Dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Sudahlah Riu, tidak perlu merasa bersalah seperti itu! Aku menyukainya, kita hanya perlu bersabar sementara waktu!" sahut Tata sembari memiringkan tubuhnya dan menatap kearah Riuga dengan tatapan penuh cinta.


"Tidurlah sayang, besok pagi kau akan ikut bersamaku!" ucap Riuga sembari merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Kenapa kau tidur di sana? Kemari lah, aku ingin tidur didalam pelukanmu!" bujuk Tata dengan nada bicara yang terdengar begitu manja.


Mendengar ucapan Tata, Riuga pun kembali bangkit. Dia tersenyum sembari melangkah dan naik ke atas tempat tidur.


Riuga membaringkan tubuhnya dan menarik tubuh Tata kedalam dekapannya. Dia juga mengecup kening, mata, hidung, pipi, dagu dan bibir wanita cantiknya itu dengan begitu lembut.


"Begini kan yang kau inginkan?" ucap Riuga yang semakin mempererat pelukannya.


"Iya, hawa tubuhmu terasa begitu hangat. Aku sangat menyukainya!" sahut Tata sembari mengecup dada Riuga dengan bibir manisnya.


"Ayo tidurlah, jangan bicara lagi! Besok adalah hari pertama untukmu bekerja di perusahaan. Kalau kau telat, aku akan menghukum mu!" ucap Riuga yang sudah mulai memejamkan kedua matanya.


Perlahan, Tata juga mulai memejamkan matanya. Dia kemudian melingkarkan tangannya di pinggang laki-laki itu. Dia juga menempelkan hidungnya di sela-sela ketiak Riuga. Menikmati aroma khas tubuh laki-lakinya, yang membuatnya merasa sangat nyaman.


Dua insan yang dipertemukan dengan cara yang tidak biasa itupun, akhirnya terlelap dengan posisi saling memeluk satu sama lain.


*****


Tidak terasa, gelap sudah berganti dengan terang. Kicauan burung yang sedang menyambut datangnya pagi, membuat sepasang insan manusia itu terjaga dari tidur lelap mereka.


Riuga membuka kedua matanya secara perlahan. Begitupun dengan Tata, yang tengah mengucek sepasang kelopak matanya dengan jari telunjuknya.


Tatapan mereka berdua, akhirnya saling bertemu dan saling menebar senyuman manis satu sama lain.


"Pagi sayang, mmuach!"


Riuga memberikan ciuman selamat pagi kepada wanita cantiknya itu. Tidak peduli meskipun baru bangun tidur sekalipun, bibir Tata tetap saja menggoda penglihatan Riuga.


"Sudah Riu, ayo bangunlah. Aku akan kembali dan mandi di kamarku saja!"


Tata bangkit dari tempat tidur dan bergegas meninggalkan kamar Riuga. Suasana pagi itu benar-benar terasa begitu indah. Tata bahkan tidak berhenti menebar senyum, hingga sampai didalam kamarnya.

__ADS_1


Tata melangkah kedalam kamar mandi dan melucuti satu persatu pakaian yang dia kenakan. Guyuran air pun mulai turun membasahi sedikit demi sedikit bagian tubuhnya, yang sudah polos tanpa mengenakan sehelai benang pun.


Selesai mandi, Tata keluar mengenakan handuk yang menutupi bagian inti tubuhnya. Wanita cantik itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari melihat paper bag yang sudah memenuhi lantai kamarnya.


"Riu, kau ini benar-benar sudah gila!" gumam Tata yang masih tertegun melihat seluruh barang-barang pembelian calon suaminya tadi malam.


Tata mulai membuka satu persatu paper bag itu dan memilih pakaian yang cocok untuk dia kenakan. Tata ingin sekali tampil cantik, didepan laki-laki yang sangat dia cintai itu.


Selesai berdandan, Tata keluar dari kamarnya dan turun menuju lantai bawah. Dia melangkah dengan anggunnya kearah meja makan.


"Wow, Kak Tata cantik sekali!" sanjung Adelia yang sudah lebih dulu duduk menikmati sarapannya.


"Adel, kamu sudah bangun?" tanya Tata sembari menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Adelia.


"Sudah Kak, hari ini Adel ada kuliah pagi!" sahut Adelia yang masih menatap kagum kearah calon kakak iparnya itu.


Tidak berselang lama, Riuga pun datang menghampiri mereka berdua. Wajah Riuga pagi itu, terlihat begitu tampan dengan senyuman yang merekah di sudut bibirnya.


"Pagi, sayang!" sapa Riuga sembari menatap kearah Adelia dan Tata secara bergantian.


"Pagi, Kak Riu!" sahut Adelia sembari terus menyantap makanannya.


"Kenapa sarapannya belum di sentuh, sayang?" ucap Riuga kepada Tata yang masih tertegun melihat ketampanan calon suaminya itu.


Adelia mulai bangkit dari tempat duduknya. Gadis cantik itu sudah lebih dulu selesai menikmati sarapannya.


"Kak, Adel duluan ya!" ucap Adelia sembari memeluk kakaknya yang sudah duduk di kursi utama meja makan.


"Iya sayang, kamu hati-hati ya!" sahut Riuga sembari mengecup kening adik perempuannya dengan penuh kasih sayang.


Adelia melambaikan tangannya kearah Tata. Dia mulai mengayunkan kakinya, meninggalkan Riuga dan Tata berdua di meja makan.


Tata pun hanya bisa tersenyum menatap punggung calon adik iparnya, yang sudah semakin menjauh dari pandangannya itu.


"Ayo sayang, makanlah sarapan mu!" ucap Riuga yang mulai meraih makanan yang sudah terhidang di atas meja.


"Biar aku saja!" ucap Tata yang ingin melayani calon suaminya itu.


"Tidak perlu sayang, nikmati saja makananmu itu. Aku bisa sendiri!" sahut Riuga yang tidak ingin merepotkan calon istrinya.


"Tapi, aku ingin melayani mu seperti waktu itu!" ucap Tata sembari mengingat kembali masa-masa saat mereka berada di villa.

__ADS_1


"Sudah sayang, jangan mengingat itu lagi. Semua itu hanyalah kesalahpahaman!" sahut Riuga yang merasa bersalah, sudah memperlakukan Tata seperti seorang pelayan.


"Tapi, aku tidak keberatan sama sekali. Pada akhirnya, aku juga akan melakukan semua itu untukmu!" ucap Tata dengan santainya.


"Iya sayang, aku tau. Tapi, aku tidak ingin kau melakukannya lagi!" sahut Riuga sembari mulai mencicipi sarapannya.


"Lalu untuk apa kita menikah, kalau aku tidak boleh melayani mu?" ucap Tata yang membuat Riuga merasa semakin tersudutkan.


"Sudahlah, sayang. Jika bertanya terus, kapan selesai makannya?" sahut Riuga yang mulai kehilangan akal, menjawab semua pertanyaan Tata.


"Hahahaha..."


Tata kemudian tertawa cekikikan, tanpa ada beban sama sekali. Laki-laki tampan itu hanya bisa tersenyum, melihat wajah cantik wanitanya yang begitu polos seperti tak ada dosa sedikitpun.


Selesai mengisi perut, Riuga mulai bangkit dari tempat duduknya. Dia dengan cepat menggenggam tangan wanitanya dan berlalu meninggalkan istana megah itu.


Didalam perjalanan menuju perusahaan, Tata terlihat begitu bahagia. Dia tak henti-hentinya menebar senyum, sembari menyandarkan kepalanya di lengan Riuga.


"Kenapa kamu jadi manja seperti ini, sayang?" ucap Riuga sembari mengelus rambut Tata dengan lembut.


"Entahlah, rasanya seperti sedang bermimpi. Aku bahkan tidak pernah menyangka, bisa bertemu dengan laki-laki sepertimu!" sahut Tata sembari mengalungkan tangannya di perut Riuga.


"Mungkin kita sudah ditakdirkan untuk bersama, makanya Tuhan mempertemukan kita berdua. Maafkan aku ya, aku sudah menyakitimu sebelumnya!" ucap Riuga dengan tatapan penuh penyesalan.


"Yang lalu biarlah berlalu, Riu. Aku hanya ingin meminta satu hal darimu!" sahut Tata penuh pengharapan.


"Apa yang kau inginkan, sayang?" tanya Riuga mencari tau.


"Temukan pembunuh kedua orang tuaku!" ucap Tata dengan tatapan menuntut keadilan.


"Tidak perlu khawatir, sayang. Tanpa kau minta pun, aku akan mencari mereka semua!" sahut Riuga dengan penuh keyakinan.


"Terimakasih, Riu. Aku mencintaimu!" ucap Tata sembari mengecup pipi laki-lakinya itu.


"Aku tidak menerima kecupan di pipi!" ucap Riuga sembari tersenyum licik.


"Kau maunya dimana?" tanya Tata dengan raut wajah kebingungan.


"Disini lebih nikmat!" sahut Riuga sembari meletakkan telunjuknya tepat di bibir manisnya.


"Dasar mesum. Malu tau, ada Pak Sopir!" ucap Tata sembari mencubit perut Riuga dengan kuat.

__ADS_1




__ADS_2