
Pagi harinya, Riuga dan Tata sudah selesai bersiap-siap. Sepasang suami istri itu tampak tengah menuruni anak tangga dan melangkah menuju ruang makan.
Ternyata Febri dan Adelia sudah lebih dulu duduk di meja makan menunggu kedatangan sepasang pengantin baru itu.
"Pagi Kak Riu, pagi Kak Tata." sapa Adelia dengan ramah.
"Pagi juga sayang." sahut Riuga dan Tata secara bersamaan.
Riuga dan Tata duduk di kursi yang biasa mereka duduki. Sementara itu Febri tampak tengah duduk di samping Adelia.
Raut wajah Febri terlihat sangat tegang karena masih memikirkan kejadian semalam yang membuatnya merasa bersalah terhadap Tata.
"Apa yang kau pikirkan Febri?" tanya Riuga yang sedari tadi memperhatikan mimik wajah sahabatnya itu.
"Ti... Tidak ada." sahut Febri terbata-bata.
"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Istriku tidak marah padamu!" ucap Riuga sembari tersenyum ke arah Febri dan Tata secara bergantian.
"Ada apa Kak?" tanya Adelia penasaran.
"Tidak ada apa-apa, cuma salah paham saja. Iya kan sayang?" sahut Riuga sembari menatap ke arah Tata.
"Iya Adel, tidak ada apa-apa. Semuanya baik-baik saja kok!" tambah Tata dengan senyuman manisnya.
"Ya sudah, ayo di makan sarapannya!" ajak Riuga.
Seperti biasa, Tata dengan sigap mengambilkan makanan untuk suaminya. Sementara itu, Adelia membantu mengambilkan makanan untuk kakak keduanya Febri.
Setelah piring mereka berempat terisi dengan makanan, satu persatu dari mereka pun mulai menyantap sarapan masing-masing.
Beberapa menit setelah menikmati sarapan, Adelia akhirnya memilih untuk meninggalkan meja makan terlebih dahulu.
Gadis cantik itupun berlalu meninggalkan kediamannya setelah berpamitan kepada tiga orang kakaknya yang masih berdiam diri di tempat duduk mereka masing-masing.
Setelah kepergian Adelia, Riuga pun mulai membuka percakapan untuk membahas rencana Febri yang akan menetap kembali di Indonesia.
"Apa rencana mu sekarang Febri?" tanya Riuga penuh keseriusan.
"Entahlah, aku belum memikirkan semua itu." sahut Febri yang belum memiliki ancang-ancang untuk kehidupannya saat ini.
"Tidak perlu dipikirkan, kerja denganku saja kalau begitu!" ajak Riuga.
"Kerja apa dulu? Kalau di kantormu aku rasa aku tidak sanggup, sama sekali tidak sesuai dengan bidang ku!" sahut Febri.
"Memangnya selama ini kau bekerja di bidang apa?" tanya Riuga mencari tau.
__ADS_1
"Kau tau sendiri kan kalau aku ini tidak punya ijazah sama sekali. Jangankan ijazah SMP, ijazah SD pun aku tidak punya. Hidupku keras bro, kalau tidak membunuh ya dibunuh!" sahut Febri menjelaskan.
"Hahahaha... Aku pikir kau sudah berubah menjadi laki-laki yang lebih baik, ternyata masih sama saja seperti dulu!" ucap Riuga sembari tertawa lepas.
"Ya beginilah aku, aku tidak bisa merubah diriku begitu saja. Kau sendiri juga tau kalau hidupku ini sudah keras sedari kecil!" sahut Febri dengan santainya.
"Baiklah, aku mengerti. Intinya sekarang kau tidak boleh bekerja di tempat lain. Tetaplah bersamaku, aku membutuhkan orang-orang sepertimu untuk menjaga keluargaku!" ucap Riuga.
"Ya sudah terserah kau saja!" sahut Febri.
Di sela-sela pembicaraan mereka, tiba-tiba Malik datang dan menghampiri mereka yang masih duduk di meja makan.
"Pagi Tuan." sapa Malik dengan wajah datarnya.
"Pagi Malik, kenapa baru datang sekarang?" tanya Riuga dengan tatapan menyelidik.
"Maafkan aku, semalam aku tidak bisa datang ke sini sesuai permintaanmu. Aku masih menyelidiki tentang laki-laki itu!" sahut Malik.
"Tidak masalah, apa ada sesuatu yang kau temukan?" tanya Riuga penuh pengharapan.
"Sedikit, tapi setidaknya aku sudah mengetahui tentang laki-laki itu dan bagaimana latar belakangnya." sahut Malik.
"Kalau begitu duduklah dulu, kau bisa mengatakannya sembari sarapan!" ucap Riuga.
Disaat Malik mulai menikmati sarapan paginya, Tata kemudian memilih untuk meninggalkan meja makan karena tidak ingin mengganggu suaminya yang masih sibuk mencari informasi tentang musuh mereka itu.
"Aku ke kamar dulu ya sayang, kalian bicaralah!" ucap Tata sembari bangkit dari tempat duduknya.
"Ya sudah, tunggu aku ya. Aku masih ingin berbicara dengan Malik sebentar!" sahut Riuga.
"Tidak apa-apa, lanjutkan saja. Aku akan menunggumu!" ucap Tata sembari tersenyum dan melangkah meninggalkan mereka bertiga.
Setelah kepergian Tata, Riuga pun mulai menginterogasi Malik yang dia percayai selama ini. Riuga juga memperkenalkan Malik kepada Febri agar mereka bisa saling mengenal satu sama lain.
"Malik, laki-laki yang duduk di sampingmu itu adalah sahabatku. Mulai hari ini dia akan tinggal di sini bersamaku, begitu juga denganmu. Aku harap kalian bisa saling mendukung satu sama lain!" jelas Riuga memperkenalkan mereka.
Malik yang masih menyantap makanannya, segera melirik ke arah Febri dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Febri pun dengan cepat menyambut tangan Malik dan tersenyum melihat raut wajah datar Malik itu.
"Kau sudah tau kan siapa aku, bagaimana denganmu?" tanya Malik dengan datarnya.
"Kenalkan, namaku Febri. Aku baru saja pulang dari luar negeri" sahut Febri.
"Oh, aku pernah mendengar cerita tentangmu dari Riuga. Semoga saja kau bisa kuat bergabung dengan kami!" ucap Malik meremehkan kemampuan Febri.
"Hahahaha... Tidak masalah, aku sudah terbiasa hidup dalam kekerasan." sahut Febri dengan santainya.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu, apa kau juga bisa bermain-main dengan ini?" tanya Malik sembari menunjukkan sesuatu yang terselip di pinggang celananya.
"Hahahaha... Kau jangan meremehkan aku, aku juga mempunyai benda itu!" sahut Febri sembari tertawa lepas.
"Wow, aku pikir kau hanya orang biasa yang tidak tau apa-apa?" ucap Malik dengan tatapan menyelidik.
"Kau tenang saja, mulai hari ini aku akan membantu kalian!" sahut Febri.
Setelah Malik selesai menyantap sarapannya, dia pun segera menceritakan semua informasi yang sudah dia dapatkan kepada Riuga.
Penjelasan Malik itupun membuat Riuga menatap heran sembari mengernyitkan keningnya. Riuga benar-benar tidak menyangka kalau orang-orang di masa lalunya mulai bermunculan satu demi satu.
"Sekali mendayung, dua pulau terlampaui." ucap Riuga dengan senyuman sinis nya.
"Kau harus berhati-hati dengan mereka, kita tidak tau entah apa yang mereka rencanakan saat ini?" sahut Malik yang tidak ingin membuat Riuga masuk ke dalam jebakan orang-orang yang sedang mengincar keluarganya.
"Kau tenang saja Malik, aku akan membantumu menangani ini semua!" tambah Febri.
"Ok, kalau begitu kau ikut aku ke kantor saja Febri. Dan kau Malik, tetaplah di sini. Aku ingin kau yang mengambil alih pekerjaan sopir untuk menjaga Adelia!" pinta Riuga.
"Baiklah, sesuai perintah mu saja!" sahut Malik.
"Jangan anggap ini sebagai perintah, aku tidak pernah menganggap mu sebagai bawahan ku. Aku meminta tolong sebagai saudaramu, bukan bos mu!" jelas Riuga.
"Ya, ya, aku mengerti." sahut Malik.
"Satu lagi, berhentilah memanggilku Tuan. Aku sudah sering mengatakan ini padamu bukan, kenapa kau tidak mau mendengarkan aku?" ketus Riuga.
"Bagaimanapun juga kau ini adalah orang yang menggaji ku, memanggil namamu saja rasanya kurang sopan." sahut Malik.
"Tidak apa-apa, kita di sini semua bersaudara. Panggil nama saja biar lebih akrab!" pinta Riuga.
"Ya sudah, aku akan mencobanya. Apa ini juga berlaku untuk Soni?" tanya Malik penasaran.
"Tentu saja, bagiku kalian berdua itu sama. Kita sudah bersama sejak lama, harusnya tidak perlu sungkan lagi!" sahut Riuga.
"Baiklah, terserah kau saja. Kalau begitu aku mau istirahat dulu, aku belum sempat tidur karena tugas yang kau berikan itu!" ucap Malik sembari bangkit dari tempat duduknya.
"Pergilah, tapi nanti jangan lupa untuk menjemput Adel di kampusnya!" sahut Riuga.
"Siap, kau tenang saja!"
Malik melangkahkan kakinya meninggalkan Riuga dan Febri di meja makan. Dia kemudian masuk ke dalam kamar yang ada di sebelah kamar Febri dan segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Sementara itu, Riuga pergi memanggil Tata yang masih berada di dalam kamar dan berlalu meninggalkan kediamannya menuju kantor.
__ADS_1