
Riuga membawa Tata untuk menikmati angin segar di geladak utama kapal yang sedang mereka tumpangi. Di sana sudah tersedia tempat duduk untuk mereka berdua bersantai sambil menikmati suasana malam di tengah-tengah gelombang air laut.
"Riuga, kepalaku terasa pusing." ucap Tata sambil memegangi kepalanya.
"Apa kau sakit? Kita kembali ke kamar saja ya!" sahut Riuga yang mulai khawatir dengan keadaan Tata.
"Tidak, kita disini saja dulu! Aku ingin menikmati pemandangan yang indah ini." ucap Tata yang mulai merasa nyaman.
Riuga duduk di samping Tata dan memeluk tubuh wanita cantik itu dengan penuh kasih sayang.
"Apa kau masih marah kepadaku?" tanya Riuga sembari mengelus rambut Tata dengan lembut.
"Entahlah, aku juga tidak tau!" sahut Tata tanpa ekspresi sama sekali.
Riuga semakin mempererat pelukannya dan menyandarkan kepala Tata ke dadanya.
"Aku tau, kau pasti sangat membenciku. Pertemuan kita terjadi karena sebuah kesalahpahaman, dan aku menyadari kesalahanku padamu cukup sulit untuk di maafkan. Tapi aku berharap kau bisa memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku benar-benar mencintaimu, Tata!"
Riuga kembali meyakinkan Tata kalau dirinya benar-benar mencintai wanita cantik itu. Namun sayangnya, Tata tidak bersuara sedikitpun untuk memberi tanggapan.
Entah apa yang ada di pikiran Tata malam itu. Dia hanya terdiam seribu bahasa sambil menangis didalam pelukan Riuga.
"Kenapa menangis? Apa aku salah bicara?" tanya Riuga yang merasa ada sesuatu yang menetes di dadanya.
Tata lagi-lagi tidak berkata sepatah katapun. Dia hanya menggelengkan kepalanya sambil memeluk tubuh Riuga dengan sangat erat.
"Aku sangat membencimu, Riu! Tapi aku juga merasa tenang berada dalam pelukanmu. Apa itu pertanda kalau aku juga mencintaimu?" batin Tata yang tanpa sadar mengecup buah dada Riuga dengan lembut.
"Ya Tuhan, apa yang kau lakukan Tata? Apa kau sengaja ingin menggodaku?" batin Riuga yang merasa bagaikan tersengat sesuatu.
Tanpa disadari, malam sudah semakin larut dan Tata pun sudah terlelap di pelukan Riuga.
Riuga mencoba membangunkan Tata, namun wanita cantik itu malah semakin mempererat pelukannya.
"Tata, bangun...!"
Riuga hanya bisa tersenyum sambil menatap wajah polos yang masih terlelap didalam pelukannya itu.
Karena tidak ingin mengganggu tidur wanitanya, akhirnya Riuga menggendong tubuh wanita yang sudah mengobrak-abrik hatinya itu dan membawanya masuk kedalam kamar.
Sesampainya didalam kamar, Riuga membaringkan tubuh Tata di atas tempat tidur dan menyelimuti nya agar tidak kedinginan.
"Maafkan aku, aku berjanji akan menukar kesedihanmu dengan kebahagiaan yang tiada duanya!" gumam Riuga sambil mengecup kening Tata dengan lembut.
Riuga tidak ingin mengganggu tidur wanitanya itu, dia akhirnya memilih untuk tidur di sofa yang ada di sudut ruangan.
__ADS_1
*****
Pagi harinya, Tata terbangun dan terkejut melihat Riuga yang tengah tertidur lelap di atas sofa. Tata pun bangkit dari tempat tidur dan menyelimuti laki-laki yang masih tertidur pulas itu.
"Tok... Tok... Tok..."
Terdengar suara ketukan pintu dan Tata segera berjalan membukakan pintu kamarnya.
"Permisi, Nona! Sarapan sudah siap. Apa Nona mau sarapan sekarang?" tanya seorang pelayan yang bekerja di kapal milik Riuga itu.
"Nanti saja, aku mau mandi dulu!" sahut Tata dengan ramah.
"Baiklah, Nona. Saya permisi dulu!" ucap pelayan itu sambil berjalan meninggalkan Tata.
Tata kembali masuk dan membersihkan tubuhnya didalam kamar mandi.
Selesai mandi, Tata keluar dengan tubuh yang sudah terlihat lebih segar dari sebelumnya.
"Pagi, sayang!" sapa Riuga yang baru saja terjaga dari tidur lelapnya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Tata yang masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Riuga menghampiri wanitanya dan memeluknya dari arah belakang. Seketika laki-laki tampan itu menenggelamkan wajahnya di pundak wanita cantik itu.
"Riu, kau mau apa? Lepaskan aku!" ucap Tata yang terkejut mendapat perlakuan Riuga.
Tata tak bisa berkutik, yang bisa dia lakukan hanyalah pasrah menerima pelukan hangat dari laki-laki tampan itu.
"Bagaimana tidurmu tadi malam? Apa kau memimpikan aku?" tanya Riuga dengan sangat percaya diri.
"Jangan kegeeran! Siapa juga yang mau memimpikan laki-laki seperti dirimu itu? Ogah ah..." jawab Tata sambil tersenyum malu-malu.
Riuga merasa kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Tata. Laki-laki tampan itupun menggigit pundak Tata sambil memeluknya dengan erat.
"Aw,,, apa yang kau lakukan, Riu? Sakit,,," ketus Tata sambil mencubit tangan Riuga yang sedang melingkar di perutnya.
"Hahahaha..."
Riuga kemudian tertawa karena berhasil membuat Tata kesal terhadap dirinya.
"Sudah, lepaskan aku!" ucap Tata yang sudah mulai merasakan sesak.
"Cium dulu, baru aku lepaskan!" sahut Riuga yang ingin menggoda wanitanya itu.
"Jangan mimpi!" ucap Tata sambil menginjak kaki Riuga dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
"Aw,,,"
Riuga pun akhirnya melepaskan pelukannya dari tubuh Tata dan memeriksa jari kakinya yang terasa berdenyut ulah perbuatan wanita cantik itu.
"Enak kan? Makanya jangan mesum!" ucap Tata sembari tersenyum karena sangat puas telah berhasil mengerjai Riuga.
Tata kemudian melemparkan handuk yang tadi dia pakai ke wajah Riuga dan berlari meninggalkan laki-laki yang tengah kesakitan itu didalam kamar sendirian.
"Dadah... Hahahaha..."
Tata melambaikan tangannya kearah Riuga dan tertawa terbahak-bahak saking senangnya melihat ekspresi wajah Riuga yang sudah seperti tikus kejepit pintu.
"Ya Tuhan, wanita ini benar-benar ingin menguji kesabaran ku!" gumam Riuga sambil tersenyum dan menggaruk kepalanya.
Tidak lama, Riuga pun keluar dari kamar setelah selesai mandi dan berganti pakaian.
Riuga berjalan kearah dapur dan tersenyum melihat wanita cantiknya yang tengah berbicara dengan seorang pelayan.
"Ngapain disini, sayang?" tanya Riuga sembari memeluk tubuh Tata dari arah samping.
"Lepaskan aku, Riu! Apa kamu tidak punya malu bertingkah seperti ini didepan pelayan?" bisik Tata sembari mencubit tangan Riuga.
Riuga tidak memperdulikan perkataan wanitanya. Dia menarik tangan wanita itu dan membawanya ke geladak utama untuk menikmati suasana indah di pagi hari.
"Riu, aku takut!" ucap Tata sambil menutup kedua matanya.
"Kenapa takut lagi? Bukankah tadi malam kau sangat menikmatinya? Bahkan kau sampai tertidur lelap di dadaku ini." ucap Riuga yang mengingatkan Tata tentang kejadian tadi malam.
Tata melotot kan matanya dan menatap tajam kearah Riuga.
"Apa yang kau lakukan kepadaku tadi malam?" tanya Tata yang terlihat begitu panik.
"Tidak ada, justru kau lah yang telah menggodaku! Untung saja aku tidak tertarik padamu. Kalau tidak, kau pasti sudah aku lahap sampai habis." ucap Riuga sambil tersenyum lebar.
Tata mengingat kembali kejadian yang mereka lalui tadi malam. Sesaat wajah Tata berubah menjadi merah karena merasa malu dengan tingkah konyolnya terhadap Riuga.
"Sudahlah, lupakan saja!" ucap Riuga.
Riuga duduk di atas kursi dan memangku Tata di atas kedua kakinya.
"Apa yang kau lakukan, Riu? Aku bisa duduk sendiri." ucap Tata yang merasa canggung berada dipangkuan laki-laki itu.
"Jangan banyak bicara, sayang! Sekali-sekali belajarlah untuk menurut! Jangan membantah terus!" ucap Riuga sembari berbisik di telinga wanitanya.
"Jangan panggil aku sayang, aku tidak suka!" sahut Tata dengan tatapan yang tidak biasa.
__ADS_1
"Lalu kamu sukanya dipanggil apa? Wanita bodoh atau gila? Hahahaha..."