
Meskipun awalnya Riuga sangat enggan untuk menemui tamunya itu, tapi rasa penasarannya yang begitu besar membuatnya segera bangkit dari tempat duduk dan melangkah ke arah ruang tamu mengikuti langkah kaki Soni.
"Lain kali jangan menerima tamu sembarangan seperti ini lagi, kau lupa kalau ini adalah jam istirahat ku. Apalagi menerima orang asing yang tidak jelas malam-malam begini, banyak bahaya yang sedang mengintai keluargaku saat ini!" ketus Riuga sembari terus mengayunkan kakinya.
Soni sengaja bungkam dan tidak mau menjawab omelan Riuga yang tidak jelas itu. Dia malah sengaja menutup telinganya dengan earphone yang tengah tersambung ke ponselnya.
"Kau tidak mendengar ucapan ku?" bentak Riuga sembari melirik ke arah Soni.
Soni tampak semakin cuek dan mengangguk-anggukkan kepalanya menikmati lagu yang tengah dia dengarkan.
"Ya Tuhan, kau malah mengabaikan ku. Kau pikir aku ini radio rusak!" bentak Riuga sembari menarik telinga Soni dengan kasar.
"Awh, apa-apaan kau ini. Kau ingin membuat telingaku putus!" ketus Soni sembari mengusap telinganya yang sudah memerah.
"Bukan hanya telingamu saja yang ingin ku putuskan, tapi punyamu itu juga akan ku potong sehingga kau tidak akan berguna lagi!" bentak Riuga sembari melirik ke arah resleting celana Soni.
"Eit, dasar manusia kejam. Kau ingin melenyapkan surga duniaku. Kalau begitu urus saja tamu mu itu sendiri, lebih baik aku pulang!" sahut Soni yang kemudian memotong langkah Riuga.
Sesampainya di ruang tamu, Soni menghentikan langkahnya dan berbicara dengan laki-laki yang tengah menunggu Riuga itu.
"Itu dia orang yang kau cari. Berhati-hatilah dengan orang itu, dia bukanlah manusia!" ucap Soni sembari tersenyum licik.
"Aku tau itu, dia seperti seekor predator liar yang sangat rakus!" sahut laki-laki itu sembari ikut tersenyum.
Mendengar ucapan dua orang laki-laki yang tengah berdiri di hadapannya itu, wajah Riuga pun mulai terlihat masam. Dia sepertinya ingin sekali menendang Soni hingga lenyap dari pandangannya.
"Siapa kau, apa hak mu mengatai aku seperti itu?" teriak Riuga penuh kekesalan.
"Bersiap-siaplah melihat keganasan nya. Kalau kau tidak kuat, lemparkan saja bangkai ayam ke kepalanya, maka dia akan langsung terdiam!" ucap Soni sembari melanjutkan langkahnya hendak meninggalkan ruangan tersebut.
Saking kesalnya mendengar hinaan Soni, Riuga pun dengan cepat meraih asbak yang ada di atas meja dan hendak melemparkannya ke punggung Soni. Beruntung, laki-laki tampan itu segera menahan tangan Riuga dan merebut asbak itu dengan cepat.
__ADS_1
"Jangan ikut campur!" ketus Riuga.
"Tentu saja aku harus ikut campur, kau ingin melukai asisten mu sendiri?" sahut laki-laki itu dengan lantang.
"Tidak ada urusannya denganmu!" ucap Riuga dengan tatapan menakutkan.
"Memang benar tidak ada urusannya denganku, tapi ini masalah kemanusiaan. Aku tidak bisa melihat saja, jika hal seperti ini terjadi di depan mataku sendiri!" sahut laki-laki itu.
Riuga menghela nafasnya dan membuangnya dengan kasar. Dia kemudian melangkah ke arah sofa dan langsung mendudukinya dengan raut wajah dinginnya.
Dia sebenarnya tidak berniat untuk menyakiti Soni. Tujuannya hanya sekedar menggertak Soni agar tidak memancing emosinya.
"Duduklah, katakan siapa dirimu dan apa tujuanmu datang mencari ku malam-malam begini?" tanya Riuga yang sudah mulai terlihat tenang.
Laki-laki itu duduk sesuai permintaan Riuga dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Dia kemudian melipat kakinya dan merentangkan kedua tangannya hingga sebelah tangannya menyentuh pundak Riuga.
"Apa kau tidak bisa mengenaliku?" tanya laki-laki itu.
Laki-laki itu tersenyum dengan sinis dan menepuk-nepuk pundak Riuga dengan kasar. Dia kemudian membuka kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya dan meletakkannya di atas meja.
"Apa begini caramu menyambut tamu?" ucap laki-laki itu.
Riuga mulai kesal melihat tingkah tamu yang tidak dia undang itu. Dia kemudian memiringkan posisi duduknya dan menatap wajah laki-laki itu dengan seksama. Dia pun mengernyitkan keningnya saat menyadari ada yang aneh dengan tatapan mata laki-laki asing itu.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Sepertinya wajahmu tidak asing lagi di mataku." ucap Riuga dengan tatapan menyelidik.
"Hahahaha... Tidak ku sangka kau bisa melupakan aku begitu saja. Apa kesuksesan ini sudah membuatmu buta dan melupakan masa lalu mu?" sahut laki-laki itu dengan tawa menyindir Riuga.
"Kau tidak berhak berkata seperti itu padaku. Hanya orang-orang tertentu yang tau siapa aku dan bagaimana aku?" ucap Riuga yang masih memperhatikan wajah laki-laki itu.
"Jika kau masih sama seperti dulu, kau pasti bisa mengenaliku dengan baik!" sahut laki-laki itu.
__ADS_1
Riuga kembali memperhatikan wajah laki-laki itu dengan intens. Dia kemudian berusaha mengingat kembali masa lalunya sembari memandang dalam ke arah mata laki-laki itu.
Setelah cukup lama terdiam, Riuga akhirnya terperanjat dari lamunannya. Matanya kembali menyorot tajam ke arah laki-laki yang membuatnya penasaran itu.
"Matamu mengingatkan ku pada seseorang, apa kau,..."
Riuga menghentikan perkataannya dan membulatkan matanya lebar-lebar. Tatapan mata mereka berdua saling bertemu dan mengingat kembali waktu yang mereka lewati 10 tahun yang lalu.
Kenangan itupun kembali terlintas di benak dua orang laki-laki tampan yang tengah melamun itu.
Riuga teringat kembali saat dirinya menahan rasa lapar di bawah kolong jembatan. Mata yang sama pun tampak jelas di memorinya. Seorang laki-laki sebayanya tengah memberikan sebungkus nasi ke tangannya.
Tidak terasa, air mata Riuga mulai menetes membasahi pipinya. Dia langsung tersadar dari lamunan itu dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Febri, apakah ini kau?" tanya Riuga dengan air mata yang masih berjatuhan di pipinya.
Seketika laki-laki itupun tak mampu menahan emosinya. Matanya ikut berkaca-kaca saking bahagianya karena Riuga masih mengingat dirinya.
"Kau benar, ini aku Febri!" sahut Febri sembari menyeka air matanya yang mulai berguguran.
Air mata dua orang sahabat lama itupun tak mampu dibendung lagi. Bahkan sudah tidak ada lagi kata-kata yang bisa terucap dari mulut mereka berdua.
Mereka berdua bangkit dari tempat duduk masing-masing dan saling memeluk satu sama lain. Suasana di ruang tamu itupun sejenak menjadi hening karena tidak satupun dari mereka yang mampu mengeluarkan suara.
Air mata mereka bahkan belum bisa berhenti karena tidak sanggup menahan rasa haru setelah sekian lama berpisah. Perasaan rindu yang selama ini mereka tahan pun akhirnya terobati.
"Kemana saja kau selama ini, kenapa tidak pernah mengabari ku?" tanya Riuga sembari melepaskan pelukannya.
"Aku sudah lama sekali ingin kembali dan mencari mu, tapi aku terjebak masalah di sana. Itulah yang membuatku tidak bisa meninggalkan negara itu!" sahut laki-laki tampan yang ternyata adalah sahabatnya Riuga.
"Aku senang kau akhirnya kembali dan mencari ku. Aku pikir kita tidak akan pernah bertemu lagi. Aku bahkan sempat mengutus orang-orang ku untuk mencari keberadaan mu, tapi semuanya nihil!" ucap Riuga sembari menepuk-nepuk lengan Febri.
__ADS_1
Mereka kembali saling berpelukan dan melepaskan kerinduan yang masih terasa di hati mereka masing-masing.