Dendam Jadi Cinta

Dendam Jadi Cinta
Flashback


__ADS_3

Riuga berjalan menghampiri Tata dan memeluknya dari sandaran kursi yang tengah diduduki oleh istrinya itu.


Dia kemudian mengecup kepala Tata sembari menatap ke arah layar laptop yang masih menyala di hadapan mereka berdua.


"Aku merindukanmu sayang." ucap Riuga sembari menempelkan bibirnya di pundak Tata.


"Ya Tuhan, ada apa denganmu sayang? Baru beberapa menit tidak bersama, kenapa seperti tidak bertemu berhari-hari begini?" sahut Tata sembari menoleh ke arah suaminya.


"Entahlah, aku rasanya tidak kuat jika tidak melihat wajah cantik ini meskipun hanya sedetik!" ucap Riuga sembari menyentuh dagu istrinya dengan lembut.


"Hahahaha... Jangan seperti ABG yang baru pertama kali jatuh cinta sayang, malu sama umur!" sahut Tata sembari tertawa geli.


"Kenapa, ada yang salah? Aku kan memang baru kali ini merasakan yang namanya jatuh cinta!" ucap Riuga dengan jujurnya.


"Bohong ih, mana mungkin laki-laki sepertimu baru kali ini jatuh cinta?" sahut Tata dengan tatapan menyelidik.


"Kalau saja waktu itu kita tidak bertemu, mungkin sampai saat ini aku masih tetap teguh dengan pendirian ku untuk tidak menikah seumur hidupku!" ucap Riuga dengan santainya.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Tata yang mulai penasaran setelah mendengar pengakuan suaminya itu.


Riuga menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Tata. Dia kemudian mengangkat tubuh istrinya dan mendudukannya di atas kedua pahanya.


Riuga menyibakkan rambut Tata ke bagian depan. Dia kemudian melingkarkan tangannya di perut Tata dan menempelkan wajahnya di pundak istri cantiknya itu.


"Jangan seperti ini sayang, kita sedang berada di kantor!" ucap Tata yang tidak habis pikir dengan kelakuan suaminya itu.


"Kamu ingin tau kan kenapa aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya?" ucap Riuga yang ingin menjelaskannya kepada wanita yang sangat dia cintai itu.


"Memangnya kenapa sayang?" tanya Tata dengan rasa penasarannya yang begitu besar.


"Waktu itu usiaku masih 8 tahun saat kau dan keluargamu pergi ke luar negeri dan meninggalkan kami semua. Aku benar-benar sedih karena harus kehilangan salah satu dari adik perempuanku. Bagiku kau dan Adelia itu tidak ada bedanya. Aku sangat menyayanginya kalian berdua!" ucap Riuga dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


Sesaat Tata mulai tersentuh setelah Riuga menceritakan kehidupan masa kecil mereka itu. Tata memiringkan posisi duduknya dan melingkarkan tangannya di pinggang Riuga.


"Lalu apa yang terjadi setelah kepergian kami?" tanya Tata sembari menyandarkan kepalanya di dada Riuga.


"Sejak saat itu, kita tidak pernah bertemu lagi. Om Haikal sangat sibuk sehingga tidak punya waktu untuk kembali ke Indonesia. Begitupun dengan Papa yang juga sibuk mengurusi perusahaan Papa kamu yang ada di kota P." sahut Riuga.


"Terus kenapa kamu tidak ingin menikah?" tanya Tata yang semakin penasaran.


"Sebelum kejadian naas itu terjadi, Papa sempat menceritakan semua kesepakatan yang sudah dia buat bersama Om Haikal padaku. Mereka ingin menikahkan kita berdua disaat kita sudah sama-sama dewasa. Aku bahkan tidak menolaknya sama sekali dan langsung mengiyakan permintaan Papa itu." sahut Riuga.


"Jadi karena janji itulah kamu akhirnya mau menikah denganku?" tanya Tata dengan tatapan yang terlihat sedikit kecewa.


"Tidak sayang, kamu kan tau sendiri kalau kita berdua bertemu sebelum aku mengetahui identitas kamu yang sebenarnya." sahut Riuga.


Riuga semakin mengencangkan pelukannya dan mengecup kening Tata dengan penuh kasih sayang.


"Papa sama Mama meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis yang langsung merenggut nyawa mereka di tempat kejadian."


Flashback


Bram sudah terlihat sangat rapi setelah dibantu oleh Tari mengenakan pakaiannya.


"Sayang, aku duluan ya. Masih ada yang harus aku urus di hotel itu. Kamu nanti minta tolong sopir saja untuk mengantarmu ke sana. Jangan lupa dandan yang cantik, kita akan bertemu di sana dua jam lagi!" ucap Bram yang kemudian mengecup kening istrinya.


"Iya sayang, pergilah. Aku akan datang sebelum acara di mulai!" sahut Tari dan mulai mencium tangan suaminya.


Bram meninggalkan Tari dan berlalu menuju hotel bintang lima milik Haikal. Malam itu adalah acara peresmian hotel mewah itu. Bram ingin semuanya berjalan dengan sempurna sehingga dia sendiri yang ikut turun tangan mengurus segala sesuatunya.


Satu setengah jam sebelum acara dimulai, Bram sudah standby di tempat itu. Jiwa pekerja keras Bram yang begitu tinggi, membuatnya selalu menjadi yang terbaik diantara semua lawan bisnisnya.


Beberapa jam kemudian, para tamu undangan mulai berdatangan untuk menyambut acara besar-besaran itu. Tidak terkecuali Randi yang merupakan sahabat Bram sendiri.

__ADS_1


Randi yang saat itu masih menyimpan dendam kepada Bram, sudah lebih dulu mengatur siasatnya dari jauh-jauh hari. Kesempatan emas itu dimanfaatkan olehnya sebaik mungkin.


Randi ingin menghancurkan karir Bram di dunia bisnis dan membuat Bram berselisih paham dengan istri yang sangat dia cintai.


Dia bahkan sudah menempatkan Sania di dalam sebuah kamar hotel untuk menjebak mantan sahabatnya itu.


Sebelum Tari datang, Randi sudah memulai permainannya dan membuat Bram mabuk sehingga dia mulai kesulitan mengendalikan keseimbangan tubuhnya.


Anak buah Randi pun dengan cepat membawa Bram ke kamar yang sudah mereka siapkan untuk mempermalukan papa dari Riuga itu.


Sesampainya di dalam kamar, pintu itupun dikunci dari arah luar. Bram sangat terkejut melihat Sania yang saat itu sudah memakai pakaian yang begitu seksi dan tengah berbaring di atas kasur.


Begitupun dengan Sania yang saat itu tidak mengetahui apa yang sudah direncanakan oleh Randi sebenarnya. Randi hanya membayar Sania untuk melayani seseorang, tapi Sania tidak tau kalau laki-laki yang dia maksud itu adalah Bram.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Bram dengan tatapan nanar pengaruh alkohol yang sudah dia konsumsi.


"Bram, apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya Sania sembari mendekat ke arah Bram.


Sania tau sekali kalau Bram bukanlah tipe laki-laki yang suka jajan sembarangan. Dia kemudian mengernyitkan keningnya saat merasakan ada yang salah dengan semua yang sudah terjadi.


Sania meraih jaketnya dan segera menutupi tubuhnya yang sudah hampir separuh telanjang itu. Dia kemudian membantu Bram naik ke atas tempat tidur.


Tubuh Bram yang begitu berat, membuat Sania terjatuh di atas dada laki-laki itu tanpa di sengaja. Niat baik Sania itu ternyata malah jadi bumerang untuk mereka berdua.


Tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka dengan lebar. Di luar sana sudah ramai sekali wartawan dan para tamu yang sedang menyaksikan pemandangan yang memalukan itu.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" teriak Tari yang ikut menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kejadian menjijikkan itu.


Bram mulai tersadar saat mendengar suara istrinya yang begitu jelas di telinganya. Dia kemudian mendorong tubuh Sania dengan kuat hingga wanita itu tersungkur di atas lantai.


Tari berlari meninggalkan kamar itu sembari menangis menahan rasa sakit ulah perbuatan memalukan suaminya yang sangat dicintainya itu.

__ADS_1


Bram yang masih merasa pusing di kepalanya, kemudian ikut berlari mengejar istrinya yang sudah salah paham terhadap dirinya itu.


__ADS_2