
Setelah semuanya jelas, Riuga dan Daniel memilih untuk kembali ke perusahaan mereka masing-masing. Rasa lapar di perut mereka, sudah lenyap setelah menikmati hidangan yang sangat menggugah selera.
Daniel kembali ke perusahaannya, kondisi hatinya sudah mulai sedikit membaik. Baginya tidak ada yang lebih penting, daripada kebahagiaan sahabat dan wanita yang sempat dia cintai.
Sementara itu, Riuga tengah berjalan kearah kantor dengan memakai kacamata hitam di matanya dan sebelah tangan berada di dalam kantong celananya. Riuga terlihat begitu tampan dengan sedikit senyum menghiasi wajahnya.
Sungguh pemandangan yang begitu indah bagi sekelompok orang yang jarang sekali melihat senyuman di wajah tampan itu. Riuga benar-benar membuat para wanita cantik yang bekerja di kantornya terkesima.
"Ya Tuhan, Tuan Riuga begitu mempesona! Kenapa aku baru menyadarinya?" ucap seorang karyawan wanita yang terus menatap kearah Riuga sembari menopang dagunya di atas meja.
"Hustt,,, kau ini. Sadar diri sedikit jadi orang. Mana mungkin laki-laki seperti itu mau melirik wanita seperti kita!" sahut karyawan wanita lainnya.
"Iya juga sih, mungkin aku berkhayal terlalu ketinggian!" ucap wanita itu sembari tersenyum geli.
"Sudahlah, lanjutkan saja pekerjaanmu itu! Kita hanya orang biasa, jangan berpikir macam-macam!" sahut wanita lainnya yang sudah duduk manis dimeja kerjanya.
Percakapan mereka berdua akhirnya terhenti, setelah menyadari ketidaksanggupan mereka yang hanya berstatus sebagai pekerja yang tidak ada apa-apanya.
Ditempat lain, Tata tengah asyik menatap satu persatu foto kenangan masa kecilnya yang baru saja dia ambil dikamar calon suaminya.
Meskipun hanya sebuah foto, tapi wanita cantik itu benar-benar bahagia karena masih ada yang tersisa dari bayangan masa lalu kedua orang tuanya.
Hati Tata semakin yakin untuk menerima Riuga sebagai pendamping hidupnya. Tidak ada lagi keraguan untuk mewujudkan hal baik yang sudah sejak lama di inginkan oleh papanya.
*****
Sore harinya, Riuga pulang ke istananya bersama Soni. Senyum laki-laki tampan itu kembali mengembang, melihat dua orang wanita cantik yang sedang bersantai di taman depan istananya.
"Hmmm..."
Suara Riuga sesaat membuat Tata dan Adelia terkejut dan langsung menoleh kearah sumber suara.
"Kak Riu, kakak sudah pulang?" tanya Adelia sembari berlari kedalam pelukan kakak laki-lakinya itu.
"Kalian berdua lagi ngapain disini? Kelihatannya serius sekali." ucap Riuga sembari mencium kening adik perempuannya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Tidak ada, kami hanya mengobrol saja!" sahut Adelia sembari melepaskan pelukannya dari tubuh Riuga.
"Pergilah ke kamarmu, mandi dan bersiap-siaplah!" ucap Riuga dengan santainya.
"Memangnya kita mau kemana Kak?" tanya Adelia dengan tatapan ingin tau.
"Jangan banyak tanya! Kalau tidak mau ikut, biar kami berdua saja yang pergi!" ucap Riuga yang berniat menggoda adiknya.
Mendengar ucapan kakaknya, Adelia langsung bergerak dan berlari meninggalkan mereka berdua di taman. Ekspresi Adelia itupun seketika membuat Riuga dan Tata tertawa secara bersamaan.
Setelah Adelia menghilang dari peredaran, Riuga pun melangkah maju tepat kearah wanita cantiknya.
Rasa rindu yang hampir seharian menggerogoti hatinya, membuat Riuga tanpa segan menarik tangan Tata ke pelukannya.
"Baru beberapa jam saja berjauhan denganmu, rasa rindu ini sudah terasa begitu menyiksa." ucap Riuga sembari mengecup pundak Tata dengan lembut.
"Riu, lepaskan aku! Malu tau, dilihatin sama anak buah mu itu!" sahut Tata yang melihat Soni masih berdiri mematung menatap mereka berdua.
"Biarkan saja dia!" ucap Riuga yang sangat enggan melepaskan pelukannya.
Melihat Tuannya yang begitu dekat dengan seorang wanita, Soni pun mulai kebingungan sendiri. Tuan yang dia kenal, tidak pernah sebucin itu pada wanita manapun selama yang dia tau.
Mendengar perkataan Soni, Riuga akhirnya melepaskan pelukannya dari tubuh Tata. Dengan senyuman yang masih mengambang di wajahnya, Riuga kemudian menarik tangan Tata dan melangkah kearah pintu masuk istananya.
"Soni, bersiap-siaplah. Temani kami keluar sebentar lagi!" ucap Riuga sembari berlalu dari hadapan asisten pribadinya itu.
"Baiklah, Tuan!" sahut Soni yang masih menatap heran kearah sepasang kekasih itu dengan tatapan penuh tanda tanya di benaknya.
Sesampainya di lantai atas, Riuga langsung mengantarkan Tata sampai ke depan pintu kamarnya. Sebelum Tata masuk, Riuga masih sempat-sempatnya ******* bibir wanitanya yang sudah sedari tadi menggoda imannya itu.
"Umm... Riu!"
Tata mendorong tubuh laki-lakinya dengan cepat. Wanita cantik itu terlihat begitu panik karena takut seseorang melihat kegilaan mereka yang tidak mengenal tempat sama sekali.
"Hehe... Maafkan aku sayang, bibir ini begitu menggodaku. Aku tidak bisa sehari saja tidak memakannya!" ucap Riuga sembari mengedipkan sebelah matanya menggoda calon istrinya itu.
__ADS_1
"Dasar laki-laki cabul!" ketus Tata dengan tatapan membunuh.
"Hahahaha... Jangan menatapku seperti itu, sayang! Tatapan itu membuatku semakin berhasrat untuk melakukannya lagi!" ucap Riuga sembari tertawa cengengesan.
"Sudahlah, pergilah ke kamarmu!" sahut Tata sembari melangkah kedalam kamar dan menutup pintu agar Riuga tidak mengikutinya.
"Iya, iya. Mandilah sayang, jangan lupa berdandan yang cantik untukku!" teriak Riuga yang masih berdiri di depan pintu.
Karena Tata sudah menghilang dari pandangannya, Riuga pun bergegas masuk kedalam kamarnya. Laki-laki tampan itu bahkan tidak henti-hentinya menebar senyum meskipun dia hanya tinggal seorang diri.
Riuga masuk kedalam kamar mandi, tangan kanannya meraih kran dan memutarnya kearah jarum jam. Perlahan percikan air pun mulai menyembur membasahi tubuhnya yang sudah berkeringat setelah beraktivitas seharian.
Selesai mandi, Riuga bergegas membuka pintu lemari dan meraih pakaian yang akan dia kenakan. Laki-laki tampan itu mulai melangkah dan berdiri tegak di depan cermin besar. Senyum itupun kembali muncul dari garis bibirnya sembari mengingat wajah wanita cantik yang sudah membuat hidupnya tergila-gila.
"Tok... Tok... Tok..."
Terdengar suara ketukan dari arah pintu, yang seketika membuyarkan lamunan Riuga. Dengan tubuh yang begitu tegap, Riuga mengayunkan kakinya kearah sumber suara dan menarik gagang pintu hingga terbuka lebar.
"Sayang, kenapa belum bersiap-siap?" tanya Riuga yang melihat wanita cantiknya masih memakai pakaian yang tadi dia kenakan.
"Maaf Riu, aku tidak punya pakaian. Kalau begitu, kalian saja yang pergi. Biar aku menunggu di rumah saja!" sahut Tata dengan wajah tertunduk lesu.
"Ayo, ikut aku!"
Riuga menggenggam tangan Tata dengan erat dan menariknya kearah pintu kamar adik perempuannya.
"Tok... Tok... Tok..."
"Adel, buka pintunya!" teriak Riuga setelah mengetuk pintu kamar adiknya.
Tidak lama, pintu kamar itupun terbuka lebar sesaat setelah Adelia membukakannya untuk mereka berdua.
"Ada apa Kak?" tanya Adelia yang sudah terlihat sangat cantik bak bidadari.
"Bantu kakak ipar mu ini! Tubuh kalian sepertinya tidak terlalu jauh berbeda, pinjamkan pakaian untuknya!" ucap Riuga kepada adik kesayangannya itu.
__ADS_1
"Oh iya, Adel lupa Kak!" sahut Adelia sembari menepuk keningnya sendiri.
Adelia kemudian menarik tangan calon kakak iparnya kedalam kamar. Gadis cantik itu bergegas menutup pintu dan menelantarkan kakaknya sendirian tanpa berucap sepatah katapun.