
Setelah semua pekerjaan yang menumpuk di atas meja kerjanya selesai, Riuga mulai bersiap-siap untuk menemui klien yang akan dia temui di luar kantor.
"Sayang, hari ini kamu gak apa-apa kan makan siang tanpa aku?" tanya Riuga kepada Tata.
"Tidak apa-apa sayang, aku bisa makan siang di kantin sebelah. Tidak perlu khawatir!" sahut Tata.
"Baiklah, tapi kamu jangan pergi sendirian ya. Kamu bisa mengajak karyawan wanita untuk menemanimu. Aku akan meminta Febri untuk pergi bersama kalian juga!" ucap Riuga.
"Iya sayang, jangan terlalu mengkhawatirkan aku!" sahut Tata.
"Bagaimana mungkin aku tidak khawatir? Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu!" ucap Riuga.
"Iya sayang, aku mengerti. Pergilah!" sahut Tata.
Riuga menghampiri Tata dan memeluk istrinya itu dengan erat. Dia kemudian mengecup kening Tata dan memberikan sedikit sentuhan di bibir manis istrinya itu.
"Aku pergi dulu, kamu hati-hati ya. Selesai makan siang langsung kembali ke kantor, jangan kemana-mana!" pinta Riuga.
Riuga akhirnya pergi meninggalkan Tata sendirian di dalam ruangan mereka. Tata pun hanya bisa tersenyum sembari memandangi punggung Riuga yang mulai menghilang dari pandangannya.
Riuga bergegas masuk ke dalam ruangan Soni, dia tidak ingin membuang-buang waktunya dan berlama-lama mengurusi klien yang sebenarnya tidak dia butuhkan itu.
"Apa kau sudah siap Soni?" tanya Riuga setelah membuka pintu ruangan Soni.
"Sudah, apa kita akan pergi sekarang?" tanya Soni sembari menoleh ke arah Riuga.
"Lebih cepat lebih baik, aku tidak punya banyak waktu!" sahut Riuga.
"Baiklah, aku akan menghubungi mereka sebentar!" ucap Soni sembari meraih ponselnya yang ada di atas meja.
Sementara Soni tengah sibuk menghubungi klien mereka, Riuga pun dengan sigap meminta bantuan Febri untuk menemani Tata makan siang.
"Febri, aku ingin meminta bantuan mu untuk menemani istriku makan siang di kantin sebelah. Apa kau bisa?" tanya Riuga.
"Tidak masalah, kau tenang saja. Aku akan menjaga istrimu selama kau tidak ada!" sahut Febri.
"Terima kasih, tolong jaga sikapmu di depan istriku. Jangan berpikir macam-macam!" ucap Riuga memperingatkan Febri.
"Kau tenang saja, begini-begini aku masih waras tau. Aku tidak akan pernah menyukai barang milik orang lain, apalagi milik sahabatku sendiri!" ketus Febri sedikit kesal.
"Baguslah kalau begitu." sahut Riuga dengan perasaan lega.
__ADS_1
Di sela-sela pembicaraan Riuga dan Febri, Soni pun kembali menghampiri mereka berdua setelah menelepon klien bisnis mereka.
"Ayo jalan sekarang, mereka sudah otw!" ajak Soni.
Soni mengambil berkas yang sudah dia kumpulkan di atas meja kerjanya. Dia kemudian melangkah lebih dulu menuju pintu meninggalkan Riuga dan Febri yang masih saling berhadapan.
"Pergilah, aku akan menjaga kepercayaan mu padaku!" ucap Febri.
"Baiklah, tolong hati-hati. Jangan sampai ada yang berani mendekati apalagi menyakiti istriku!" sahut Riuga yang kembali mengingatkan Febri untuk menjaga Tata.
"Siap bos, tidak akan ada yang berani mengganggu istrimu itu. Aku bisa jamin!" ucap Febri dengan sangat yakin.
Riuga akhirnya merasa lega setelah mendengar ucapan dari Febri. Dia pun berbalik dan melangkah menyusul Soni yang sudah lebih dulu keluar dari ruangan itu.
Di dalam perjalanan menuju kafe yang sudah mereka pilih, Riuga tampak begitu galau memikirkan semua yang tengah terjadi.
"Soni, apa menurutmu langkah yang kita ambil ini sudah tepat?" tanya Riuga meminta pendapat Soni.
"Ada apa denganmu, kenapa kau jadi ragu seperti ini?" tanya balik Soni.
"Entahlah, aku merasa ragu setelah memikirkan keselamatan keluargaku dan kalian semua. Tapi kalau kita tidak melakukan ini, kita tidak akan tau apa tujuan mereka sebenarnya?" ucap Riuga penuh kegelisahan.
"Sejak kapan orang seperti dirimu mempunyai rasa takut?" sahut Soni penuh tanda tanya.
"Tapi musuh mu itu mengincar Tata, apa kau akan diam saja jika istrimu mendapat ancaman dari orang-orang itu?" sahut Soni.
"Kau benar, aku yakin sekali jika ini ada hubungannya dengan masa lalu istriku. Aku harus tau siapa dalang dari semua ini?" ucap Riuga.
"Maka dari itu, kau harus yakin. Kau tidak sendirian, ada aku, Malik dan juga Febri. Kami akan membantumu mendapatkan keadilan atas kebenaran masa lalu kalian!" sahut Soni.
"Terima kasih, kalian memang saudaraku yang sebenarnya. Aku tidak akan kuat menjalani semua ini jika tidak ada kalian!" ucap Riuga.
"Untuk apa berterima kasih padaku? Ini belum seberapa jika dibandingkan dengan kebaikanmu padaku. Kau lupa bahwa aku bahkan berhutang nyawa padamu. Kau menyelamatkanku dari kematian, kau juga yang membuatku jadi seperti sekarang. Jika waktu itu kita tidak bertemu, aku mungkin masih berkeliaran di jalanan hingga saat ini!" sahut Soni.
"Sudahlah, tidak perlu dibahas. Kau terlalu berlebihan memuji ku, aku tidak sebaik yang kau pikirkan!" ucap Riuga.
"Tapi kenyataannya memang begitu," sahut Soni.
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya mobil yang dikendarai Soni itupun berhenti di parkiran sebuah kafe. Mereka berdua bergegas turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam kafe tersebut.
Sesampainya di dalam kafe, ternyata mereka berdua sudah ditunggu oleh dua orang laki-laki yang kemarin menemui mereka di kantor.
__ADS_1
"Selamat siang, maaf membuatmu menunggu lama." ucap Riuga sembari menarik sebuah kursi yang akan dia duduki.
"Tidak apa-apa, kami juga baru sampai." sahut Abrar.
Soni memanggil pelayan kafe dan memesan makanan untuk mereka berempat. Percakapan mereka pun berlangsung sembari menikmati makan siang.
"Aku sudah memikirkan tawaran kalian dengan baik, tapi aku mempunyai syarat agar bisa bergabung dengan perusahaan kalian!" ucap Riuga yang tidak ingin berbasa-basi.
"Syarat apa yang kau inginkan?" tanya Abrar.
"Aku ingin menjadi salah satu pemegang saham juga di sana. Bagaimana menurut kalian?" tanya Riuga dengan senyuman sinis nya.
"Itu tidak mungkin, tidak ada perintah dari bos kami untuk menjual saham perusahaan kepada orang asing!" sahut Abrar.
"Terserah kalian saja. Jika kalian tidak bersedia, kalian bisa mencari investor lain yang bisa membantu perusahaan kalian!" ucap Riuga dengan santainya.
"Tunggu sebentar, aku akan menghubungi bos terlebih dahulu!" sahut Abrar sembari bangkit dari tempat duduknya.
Abrar berjalan menjauh dari meja yang mereka duduki, dia mencoba menghubungi bos nya yang sampai saat ini belum diketahui oleh Riuga.
"Ada apa?" tanya bos tersebut dari balik telepon.
"Dia menginginkan saham perusahaan bos. Dia mengancam kalau tidak bisa memiliki saham perusahaan, dia tidak akan mau bekerja sama dengan kita." sahut Abrar.
"Apa? Sombong sekali dia." ucap bos itu dengan kesal.
"Lalu kita harus bagaimana bos?" tanya Abrar.
"Tidak perlu dilanjutkan, batalkan saja kerjasama itu. Aku akan mencari cara lain untuk masuk ke dalam perusahaan mereka!" sahut bos misterius itu.
"Baiklah, aku mengerti." ucap Abrar dan bergegas mematikan sambungan telepon mereka.
Laki-laki yang dipanggil bos oleh Abrar itupun terlihat sangat marah setelah menerima telepon. Dia kemudian pergi meninggalkan kantor dan mengunjungi sebuah gudang yang tidak terlalu jauh dari kantornya.
Ternyata gudang itu adalah tempat menyimpan barang-barang ilegal yang akan mereka ekspor ke luar negeri.
Bos misterius itu naik ke lantai atas dan membuka sebuah pintu ruangan yang dijaga ketat oleh anak buahnya.
Di dalam ruangan yang sangat gelap tanpa cahaya itu, tiba-tiba saja bos misterius itu berteriak dengan sangat lantang.
"Kau sudah membuat hidupku berantakan, jangan pernah berharap bisa lepas dari genggamanku. Apapun caranya, wanita itu harus aku dapatkan hingga tidak ada lagi yang tersisa dari kalian!" teriak bos misterius itu penuh amarah.
__ADS_1
"Ha, haha... Ha, haha..."