
...***...
Dua jam mata pelajaran hampir berlalu, Hase Sensei bersiap untuk meninggalkan kelas.
"Baiklah semuanya, Sensei harap tidak ada yang seperti ini lagi" Hase Sensei mengemasi perlengkapannya.
"Menuduh teman itu tidak baik, apalagi mem-bully-nya, pasti sangat sedih diperlakukan beda. Sensei harap kelas ini tidak melakukan pembullyan." Ada nada sedih yang tersirat di sana saat ia mengucapkan kalimat bully. Ia mengingat adik yang ia sayangi pergi dengan cara yang menyakitkan. "Baiklah, pelajaran kita sampai disini dulu. Pikirkan baik-baik dampak bully pada teman kita. Jangan sampai kau menyesalinya kemudian hari nanti." Setelah itu Hase Sensei meninggalkan kelas. Ia kembali ke ruang BK untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Yho!. Hase kun anak haram?." Yuko ternyata telah berdiri di samping Yuuto, membuat remaja itu terkejut kaget.
"Kau akan menerima hukumanku juga setelah ini." Ucapnya sambil menyiram kepala Yuuto dengan susu coklat. Yuuto hanya menunduk saja, ia tidak bisa melawan, hanya diam sambil menyebut nama Mikoto.
Dan saat itu juga Mikoto berdiri di samping Yuuto, memasuki tubuh Yuuto. Tidak ada yang menyadari jika mata Yuuto memerah karena Yuuto menundukkan kepalanya, yang pasti saat itu Yuuto telah merencanakan sesuatu diluar dugaan mereka semua.
...***...
Pukul 17.00
Yuko baru saja keluar dari ruang BK, ia diceramahi oleh Hase Sensei tentang dampak buruk membully, tapi Yuko nampaknya cuek saja.
Yuko pergi ke toilet cewek, ia berbenah dulu sebelum pulang. Ketika ia hendak memasuki toilet ia sempat berpas-pasan dengan Yuuto. Seketika itu emosinya langsung memuncak, ia hendak mencaci maki Yuuto, namun terhenti saat melihat mata merah Yuuto. Wajah Yuuto juga terlihat pucat pasi, dan senyumannya begitu menyeramkan.
"Yho!. Yuko." Suara Yuuto terdengar dingin dan membuat bulu kuduk merinding. Suasana jadi seram seketika.
"Apaan kau ini anak haram, mau melawanku ya?." Antara takut dan kesal Yuko meneriaki Yuuto, ia tidak takut pada anak culun seperti Yuuto.
Yuko maju selangkah, namun langkahnya terhenti saat Yuuto memberi kode gerakan berhenti dengan tangannya. Yuko dapat melihat menyeringai seram Yuuto saat itu.
"Kau akan merasakannya juga yuko sama." Senyuman lebar terlihat jelas dari wajah Yuuto saat itu, dan tiba-tiba Yuko menghilang entah kemana.
"Eh?." Yuko terkejut karena ia tiba-tiba berada di dalam toilet cewek, ia sangat kebingungan kenapa ia bisa berada di sini?. Apa yang terjadi sebenarnya?.
Belum terjawab dengan kebingungannya, Yuko dikejutkan dengan air coklat yang menyirami tubuhnya dari atas.
__ADS_1
"Kya!." Yuko berteriak histeris, tubuhnya jadi basah kuyup karena air coklat itu, dan ia menyadari air coklat itu adalah susu coklat.
"Hei!. Siapa yang melakukan ini?." Yuko tidak terima dengan apa yang terjadi pada dirinya. Ia hendak melabrak orang yang berani berbuat seperti itu padanya. Namun apa daya pintu toiletnya terkunci.
DAKH!. DAKH!. DAKH!.
Yuko menggedor pintu toilet dengan kuat, kenapa pintu tolietnya terkunci?. Ia tidak tahu.
"BUKA!." Teriak Yuko dengan suara keras, tapi tidak ada yang merespon atau menjawab. "Buka pintunya!. Siapapun di luar buka pintunya!." Teriaknya dengan penuh ketakutan.
Sedangkan di luar, Yuuto berdiri dengan satu tangan ke depan mengarahkan sesuatu. "Kau akan menerima hukuman karena telah berkali-kali menyakiti Yuuto." Suara dingin itu keluar dari mulut Yuuto.
"Apa yang kau lakukan padaku anak haram sial!." Maki Yuko.
"Kau akan mati. Mati!." Balasnya.
"Aku telah mendengar suara panggilanmu yang menyakitkan, yuuto." Lanjutnya lagi, dan saat itu air matanya mengalir membasahi pipinya yang pucat pasi.
Bukan hanya Yuuto saja, namun di depan Yuuto seolah berdiri Mikoto dengan tubuh transparan tak terlihat. Yuuto seolah hanya wadah Mikoto untuk balas dendam saja, yang melakukan semua itu adalah Mikoto. Ya!.Mikoto lah yang mengendalikan alam bawah sadar Yuuto. Beberapa menit kemudian terdengar suara teriakan Yuko yang memilukan.
...***...
"Yuuto, kau adalah bayangan masa lalu ku." Sayup-sayup suara itu akhirnya menghilang.
Yuuto baru saja selesai mandi, dan ia gantian mandi dengan Mikoto. Setelah pulang dari tempat kerja ia langsung pulang, namun kali ini ia tidak sendirian karena ada Mikoto.
"Waah kau terlihat keren mengenakan pakaian biasa." Yuuto mengagumi penampilan Mikoto mengenakan pakaiannya. Karena Mikoto tidak memiliki rumah, Yuuto mengajaknya tinggal bersamanya.
"Arigachu yuuto." Mikoto tersenyum kaku, tapi terlihat tulus Dimata Yuuto. Ia mengusap kepala Yuuto dengan kasih sayang. Membuat Yuuto menjadi canggung, karena baru kali ini ada yang memperlakukannya seperti itu.
"Umm." Yuuto menganggukkan kepalanya, ia merasa senang diperhatikan oleh Mikoto. Yuuto tidak merasa sendirian lagi sejak ada Mikoto, rasanya sangat membahagiakan mempunyai teman yang mau mendengarkan keluhanmu.
"Ne?. Yuuto?." Ia juga ingin berbagi kesedihan bersama Yuuto. Rasa bersalahnya itu membuatnya merasakan ingin melindungi seseorang.
__ADS_1
"Kau tenang saja yuuto, aku bersumpah akan membalas mereka semua. Karena itu?. Panggil aku bila kau ingin mereka merasakan sakit yang kau rasakan." Mata Mikoto berubah menjadi merah karena menahan emosinya. Kemarahannya itu berasal dari ungkapan Yuuto yang terlalu lama menahan sakit.
Mikoto telah mengucapkan sumpahnya, bahwa ia akan membalas rasa sakitnya, juga sakit yang dirasakan oleh Yuuto.
...**...
Keesokan harinya.
Sekolah di hebohkan dengan penemuan mayat siswa yang bernama Yuko. Kondisinya sangat mengerikan. Bagi yang tidak tahan akan muntah, sebaiknya jangan melihatnya.
Polisi sedang menyelidiki penyebab kematian Yuko. Apakah ia disiksa atau ia menjadi korban pembullyan si sekolahnya.
Di kelas 3A.
Hase Sensei berusaha menenangkan siswanya, karena teman Yuko menangis histeris.
"Saya pribadi turut prihatin, apa yang terjadi pada teman sekelas kita yuko oshima. Saya harap kalian tetap tenang." Nafas Hase Sensei naik turun karena situasi yang tegang ini. Ia tidak bisa mengendalikan kondisi siswanya saat ini.
BRAK!!.
"Bagaimana bisa kami tenang?!. Hase Sensei?!. Teman kami meninggal dengan cara keji!." Daiki menggebrak mejanya dengan kuat, ia berteriak dengan suara tinggi. Hatinya memanas, bagaimana bisa teman dekatnya Yuko meninggal dalam keadaan mengenaskan?. Teman yang lainnya hanya bisa menangis terisak, tidak terima dengan apa yang terjadi pada Yuko.
"Saya tau tapi-." Ucapan Hase Sensei terputus karena Ryoutaro ikutan menggebrak mejanya, ia berdiri, ia menuju meja Hasegawa Yuuto yang duduk tenang.
Semua orang yang dikelas menatap ke arah mereka, tanpa kecuali Hase Sensei.
"Pasti kau yang telah melakukannya!. Hasegawa!. Mengaku lah brengsek!." Teriak Ryoutaro dengan suara keras, ia cengkram kuat kerah baju Yuuto, hingga membuat Yuuto merasa sesak.
"Apa yang kau katakan ryoutaro san?. Aku sama sekali tidak melakukannya." Yuuto berusaha melepaskan cengkraman Ryoutaro, namun tidak bisa. Kenapa disaat seperti ini malah ia yang dituduh?. Apakah ia telah melakukan kesalahan membunuh orang lain?. Ia tidak mungkin melakukan perbuatan keji itu meskipun sering diperlakukan kasar oleh mereka.
Hase Sensei yang melihat itu tidak tinggal diam saja, ia segera melerainya dengan melepas paksa tangan Ryoutaro dari leher Yuuto. "Jangan memanasi keadaan yang bukan dilakukan oleh hase-kun. Itu fitnah namanya ryoutaro. Tenanglah." Entah kenapa Hase Sensei merasa kesal atas tuduhan yang dilayangkan oleh Ryoutaro pada Yuuto.
Hatinya tidak terima begitu saja. Sungguh rasanya sangat aneh sekali baginya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah Hase Sensei akan berpihak pada Yuuto?. Simak terus ceritanya.
__ADS_1
...***...