DENDAM YANG MEMBARA

DENDAM YANG MEMBARA
CHAPTER 14


__ADS_3

...


...**......


Dan tiba-tiba muncul perasaan jengkel ketika melihat seragamnya yang terkena noda merah. "Kegh darah kotormu mengenai baju ku. Dasar sialan!." Umpat Yuuto dengan nada kesal, ia tidak suka bajunya dinodai oleh darah Youichi. Saat ia hendak berbalik ia melihat ada tong sampah, dan pikiran jahatnya semakin bertambah. Ia mengambil tong sampah itu, ia tuangkan sampah itu ke tubuh Youichi.


"Sampah kembali ke sampah,, xixixixi ini terdengar unik dan menarik." Ucap Yuuto sambil tertawa aneh.


Namun jika dilihat dari kasat mata, Mikoto ambil andil dalam perbuatan itu. Mikoto lah yang mengendalikan Yuuto untuk melakukannya.


"Yuuto. Ini belum seberapa dengan rasa sakit yang kita rasakan setiap harinya." Mikoto berucap dingin, pandangannya kosong dan begitu jauh sambil mengingat masa lalunya yang menyakitkan.


Yuuto pergi meninggalkan tempat, namun langkahnya terhenti saat melihat Natsume Sensei berdiri dihadapannya dengan wajah ketakutan.


"Aaa sepertinya kau menyaksikan apa yang aku lakukan natsume sensei." Yuuto tersenyum lembut menatap Natsume Sensei. Yuuto terlihat santai, seakan ia tidak takut karena gurunya telah menyaksikan apa yang telah ia lakukan.


"Kenapa kau melakukan ini yuuto!." Teriak Natsume Sensei dengan penuh emosi, nafasnya naik turun menyaksikan perbuatan Yuuto barusan.


Yuuto tidak merespon apa yang diucapkan oleh Natsume Sensei, ia hanya tersenyum lebar sambil berjalan dan berhenti tepat di hadapan Natsume Sensei.


"Kau boleh saja melaporkannya pada polisi." Ucap Yuuto dengan nada dingin, matanya memerah menatap Natsume Sensei.


"Tapi setelah itu aku akan melakukan hal yang sama seperti lima tahun yang lalu, natsume sensei." Bisiknya tepat ditelinga Natsume Sensei, setelah itu ia pergi meninggalkan Natsume Sensei yang sedang terkejut mendengarkan ucapan Yuuto barusan.


"Tidak, itu bukan Yuuto." Dalam hati Natsume Sensei merasa gugup. Karena kejadian 5 tahun yang lalu Yuuto masih SMP, dan kasus bunuh diri 5 tahun yang lalu juga telah disimpan secara dalam oleh pihak sekolah.


"Ya, itu pasti bukan Yuuto. Tidak mungkin yuuto mengetahuinya. Tapi tidak mungkin itu, siswa yang itu." Dalam hatinya lagi. Ia merasa gugup jika memang siswa itu. Tapi tidak mungkin roh bisa menyentuh orang yang sudah mati kan?. Apa yang harus ia lakukan?. Apakah ia akan melaporkan perbuatan Yuuto pada polisi?. Tapi jika ia melakukan itu maka Yuuto akan semakin membenci dirinya.


Dan ia juga masih membenci Yuuto hingga saat ini. Jadi apa yang harus ia lakukan?. Natsume Sensei tidak tahu harus berbuat apa, sebab ia terjebak dalam kondisi yang rumit, namun jika ia diam pasti akan ada korban berikutnya yang membully Yuuto.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan?." Natsume Sensei menghela nafasnya yang terasa sesak.


...***...


Kembali ke Yuuto.


"Ukhuk." Begitu tersadar Yuuto terbatuk darah. Ini adalah efek karena Mikoto merasuki tubuhnya. Nafas Yuuto agak sedikit terasa berat. Memang dirasuki arwah yang dipenuhi kebencian bisa menanggung efek pada tubuh manusia yang hidup.


"Kau tidak apa-apa yuuto?." Mikoto sedikit cemas dengan kondisi Yuuto. Ia memberikan sapu tangannya pada Yuuto.


"Daijobusu desu yo,  mikoto kun." Yuuto menyeka darah yang ada di sudut mulutnya, dan tak lupa senyumnya yang lembut.


"Bertahanlah sebentar lagi yuuto." Dalam hati Mikoto dengan rasa simpati pada Yuuto. Dendam ini belum tuntas, masih ada beberapa siswa yang harus bertanggung jawab dalam hidupnya, dan juga Yuuto.


Dendam itu tidak mudah untuk dimaafkan, dendam itu harus dibalas.


"Yuuto,,,, kamu adalah bayangan masa laluku. Jadi aku tidak akan membiarkan rasa sakit itu membuatmu berakhir seperti ku. Aku tidak akan membiarkanmu mati sebelum kau membalaskan semua dendam itu." Mikoto selalu mengucapkan itu setelah membalas perbuatan mereka. Seakan itu adalah janji yang harus ia tepati saat pertama kali melihat Yuuto di bully.


Siswa kelas 3A sudah berkurang 3 orang, dari Yuko korban pertama, kedua Ryoutaro, ketiga Youichi. Mereka meninggal dengan cara kejam.


"Sensei, ini pasti kutukan dari Yuuto. Karena dia dendam pada kami semua." Daiki merasa sangat kesepian karena, ketiga kawan akrabnya meninggal, dan ia sangat tidak terima.


"Huffff." Hase Sensei menghela nafasnya, ia berusaha mengontrol emosinya yang hampir meledak.


"Sensei juga kenapa selalu membela Hasegawa?. Apa Sensei memiliki hubungan dengan Hasegawa?." Matsu heran dengan gurunya ini, kenapa bersikeras sekali membela Hasegawa Yuuto.


Namun reaksi Hase Sensei membuat mereka tercengang, karena Hase Sensei menangis setelah sekian lama tidak menangis.


"Gini ya. Kehilangan orang yang kita sayangi itu sangat menyakitkan." Ia berusaha menahan segala apa yang ada di dalam hatinya saat ini.

__ADS_1


"Mikami nii." Mikoto Hase yang memperhatikan di pojokan merasa sedih melihat kakaknya menangis seperti itu.


"Aku mengerti, betapa sakit rasanya kehilangan orang kita sayangi, karena aku juga merasakannya." Lanjut Hase Sensei sambil menghapus air matanya yang jatuh dipipinya.


Mereka hanya diam melihat Hase Sensei yang mencoba mengeluarkan unek-uneknya. "Adikku mikoto hase. Lima tahun yang lalu meninggal bunuh karena korban bully, dan dia di kelas ini juga." Hase Sensei mengingat kejadian yang menyakitkan didalam hidupnya.


"Adikku hase. Satu-satunya adik yang aku sayangi, pergi dariku karena korban bully. Sangat sakit sekali bagiku." Hase Sensei menahan Isak tangisnya, rasanya tidak sanggup menahan kesedihannya.


"Apa kalian ingin hase. Hasegawa yuuto melakukan hal yang sama?." Hase Sensei melangkah menuju tempat duduk Yuuto. "Apakah itu yang kalian inginkan?. Membunuh mental orang lain, hingga ia tidak sanggup hidup dan bunuh diri?. Apa itu yang diajarkan sekolah?. Apakah kalian tidak memiliki perasaan sama sekali?." Tatapan Hase Sensei dipenuhi oleh kesedihan yang mendalam atas kepergian adiknya Mikoto Hase.


"Aku merasa sangat bersalah karena tidak berhasil merangkul adikku hase mikoto. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk bunuh diri, rasanya sangat menyakitkan hingga Sekarang. Jadi aku mohon, kejadian itu jangan sampai terjadi pada hasegawa yuuto." Hase Sensei tidak tau harus bagaimana lagi menyampaikan pada siswanya tentang dampak buruk dari bully.


"Rasa bersalah itu selalu menghantuiku, pikiranku, langkah ku. Bahkan hidupku rasanya tidak sanggup lagi." Yaa Hase Sensei mengungkapkan semua yang ia rasakan.


"Kalian kehilangan teman kan?. Aku sangat kehilangan adikku, adik yang sangat aku sayangi, pergi meninggalkan aku dengan cara bunuh diri." Hase Sensei berjalan mengitari kelas, ia hanya ingin siswanya tahu, betapa menyakitkan kehilangan orang yang mereka sayangi. Jadi berhentilah membully mental dan fisik orang lain.


"Mikami nii." Mikoto yang melihat itu merasa tersentuh, namun dendam dalam dirinya tidak mudah dihapuskan begitu saja.


"Mikoto kun." Yuuto merasakan perubahan suasana hatinya, ia sangat merasakan sakit dan kesedihan Mikoto. Ia melirik ke arah sosok Mikoto berdiri di pojokan.


"Jadi karena itulah sensei memanggilku dengan sebutan Hase?." Yuuto ingat pertama kali ia berkenalan dengan Sensei nya ini.


"Umm gomen ne hasegawa kun. Karena rasa bersalahku pada adikku membuatku memanggilmu dengan nama hase." Lagi, air matanya berlinang jatuh membasahi pipinya. Rasa sedih yang ia alami selama ini. "Juga aku menggunakan nama hase nama adikku, sebagai ungkapan rasa bersalahku padanya." Lanjutnya lagi dengan senyuman yang sangat pahit. "Namaku mikoto mikami. Dan adikku mikoto hase. Aku selalu menghidupkan jiwa adikku didalam namaku, juga hatiku." Entah bagaimana lagi Hase Sensei menyampaikan betapa ia kehilangan orang yang ia sayangi.


Sedangkan Mikoto yang mendengarkan itu menangis terharu. Ia sangat tau betapa abangnya itu menyayangi dirinya. Tidak pernah sekalipun abangnya itu menyakiti perasaanya.


Bahkan ia selalu membantunya, hanya saja kedua orangtuanya yang membuat mereka terpisah, dan ia berakhir bunuh diri dengan melompat dari gedung atas sekolah.


Hari ini hari berkabung siswa kelas 3A, juga wali kelasnya Hase Mikami juga merasa sedih atas apa yang terjadi pada siswanya.

__ADS_1


Simak terus ceritanya.


...***...


__ADS_2