
...***...
Pukul 23.00 Hasegawa baru saja pulang dari tempat kerjanya. Ia kerja part time di sebuah caffe. Dan ia sekarang tinggal di kosan kecil yang agak murah. Hasegawa Yuuto, terpaksa melakukan semua itu demi kebutuhan sehari-hari.
Selesai mandi Yuuto mengerjakan tugas sekolah. Meski lelah ia tetap menjalaninya tanpa merengek pada siapapun. Lalu bagaimana dengan orang tuanya?. Hase masih memiliki ayah dan ibu, tapi setelah ia tamat SMP Yuuto tidak lagi tinggal bersama kedua orangtuanya.
"Yuuto." Suara halus menyapa telinga Yuuto saat ia sedang fokus mengerjakan tugas.
"Eh?. Kau disini?. Bagaimana bisa kau ada di sini?." Yuuto terkejut melihat kehadiran sosok itu, dan Yuuto masih belum menyadari kalau sosok itu bukanlah manusia biasanya, karena sosok itu membuat Yuuto merasa nyaman.
"Aku baru saja sampai di sini, aku membuntutimu tapi kau terlalu fokus memikirkan sesuatu. Rasanya sangat sedih sekali diabaikan begitu saja." ucapnya sambil duduk di samping Yuuto, ia duduk di atas meja belajar Yuuto.
"Aa gomen." Yuuto hanya tertawa kecil, tadi ia memang memikirkan sesuatu, uang bulanan kos nya bentar lagi akan dibayarnya, jadi ia melakukan penghematan pengeluaran untuk Minggu ini.
"Etto, aku memanggilmu siapa?. Kau pasti punya nama kan?." Yuuto masih penasaran nama sosok ini, wajahnya terlihat lucu saat bertanya siapa nama teman barunya itu.
"Panggil saja aku mikoto." Ia tersenyum lebar menatap Yuuto, entah kenapa ia juga ikutan tersenyum karena ekspresi Yuuto.
"Kau hanya perlu percaya diri saja Yuuto." Ucapnya tanpa sadar, ia merasakan suasana nyaman melihat wajah tersenyum Yuuto.
"Eh?." Yuuto merasa canggung karena ucapan Mikoto. Ia memang tidak pernah percaya diri karena ejekan menyakitkan dari orang lain.
"Percaya diri kah?." Wajah Yuuto terlihat murung, membuat Mikoto ikutan murung, ia merasa bersalah karena ucapannya sendiri.
"Um, kau hanya perlu melatih dirimu saja yuuto. Percayalah, aku akan selalu mendukungmu." Mikoto mencoba menyemangati Yuuto, ia tidak akan membiarkan Yuuto sedih sendirian. Sebab ia merasakan sakit sendiri, pedih sendiri. Tentunya ia tau bagaimana mentalnya saat itu.
"Benarkah?. Kau akan menjadi temanku?." Yuuto merasa sedikit bersemangat, ia merasa semangat karena Mikoto.
"Ya, bukankah aku sudah mengatakan padamu, yuuto?. Panggil aku kapanpun yang kau mau. Maka aku akan datang saat itu juga." Mikoto memberi harapan yang membangkitkan percaya diri pada Yuuto. Saat itu Mikoto dapat melihat senyuman tulus dari Yuuto, hatinya menghangat.
__ADS_1
"Arigatou gozaimasu mikoto kun." Ada perasaan lega dalam diri Yuuto, ia merasakan kasih sayang teman dari Mikoto, tanpa sadar ia malah meneteskan air matanya.
"Eh?. Kau menangis yuuto?." Mikoto jadi panik karena Yuuto menangis tanpa sebab.
"Aa,,, gomen, aku sangat senang memiliki teman sepertimu mikoto kun. Kau boleh tinggal di sini jika kau mau." Yuuto menghapus air matanya, ia merasa terharu karena ada orang yang masih peduli padanya.
"Haik, yokatta ne yuuto kun." Mikoto juga ikut lega, ia merasakan suasana hati Yuuto yang membaik.
"Ne yuuto. Aku akan menjadi alat balas dendam mu, kau tenang saja." Tanpa disadari oleh Yuuto, raut wajah Mikoto berubah menjadi dingin. Ia menyeringai seram, sifat jahatnya seakan menguar dari tubuh yang pucat pasi.
...***...
Keesokan harinya.
Yuuto seakan terlena dengan kehadiran Mikoto, ia terus saja mengobrol bersama sosok Mikoto hingga ke sekolah. Karena dengan Mikoto, Yuuto tidak merasa sendiri lagi. Tapi, Yuuto tidak menyadari tatapan aneh siswa lainnya tertuju padanya. Gosip baru mulai beredar, bahwa diri nya sudah tidak waras lagi karena ngobrol sendirian.
"Ne mikoto kun, kau benaran siswa pindahan?." Yuuto bertanya terus, itu karena Mikoto mengenakan seragam sekolah sama seperti dirinya.
"Jangan katakan apa-apa tentangku pada siapapun ya?." Lanjut Mikoto mempersilahkan Yuuto memasuki kelas.
"Haik, himitsu ne?." Balas Yuuto jalan duluan sambil masuk kelas, ia menganggukkan kepalanya. Baru kali ini memiliki rahasia bersama seorang teman. Entah kenapa itu membuatnya senang. Senyumnya begitu lebar saat mengatakan sebuah janji untuk rahasia.
"Arigachu yuuto." Mikoto mengikuti Yuuto menuju kursinya. Nada canda itu membuat Yuuto tertawa geli, plesetan terima kasih seperti itu terdengar lucu oleh Yuuto.
"Haik." Balas Yuuto dengan semangatnya, ia kemudian berjalan mendekati mejanya. Ia tidak menyadari teman sekelasnya menatapnya dengan tatapan aneh.
Namun ketika ia hendak duduk, muka Yuuto disembur dengan susu coklat oleh Yuko, tentunya Yuuto terperanjat kaget.
Phus!!!
__ADS_1
"Aaa." Yuuto memejamkan matanya karena simbahan susu coklat itu. Ia berdiri dari tempat duduknya, ia mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Lagi?." Batin Yuuto merasa down, ia mengelap wajahnya yang basah oleh susu, juga bajunya kena cipratan susu coklat.
"Yhooo hase kun anak haram." Yuko mendorong lumayan kuat bahu kiri Yuuto. "pagi-pagi gini kau masih ngindur ya?." Lanjut Yuko dengan nada mengejek, membuat yang lainnya tertawa cekikikan.
"Kau mulai enggak waras ya?. Hingga berbicara sendiri?." Daiki makin memanasi suasana kelas, hingga Yuuto makin ditatap jijik oleh mereka semua.
"Apa?" Batin Yuuto miris mendengarkan ucapan Daiki yang mengatakan ia tidak waras?. Berbicara sendiri?. Apa maksud dari ucapannya itu?.
Deg!.
Jantung Yuuto berdetak kencang melihat tatapan mereka. Ia ingin menangis, sangat ingin menangis, tapi ia berusaha menahannya. Ia menatap sekelilingnya, rasanya sangat sesak dan menyakitkan. Dan matanya melihat sosok Mikoto di tengah kerumunan teman sekelasnya.
Bibirnya bergetar menyebut nama itu, ia sudah berjanji pada Mikoto bahwa dirinya akan merahasiakan keberadaan Mikoto. Ia tidak tau kenapa Mikoto memintanya seperti itu.
'tolong aku Mikoto Kun, aku tidak berbicara sendirian' Yuuto menahan Isak tangisnya, bibirnya bergetar, namun ia gigit kuat sambil berbisik seperti itu pada Mikoto yang berdiri di pojokan.
Sedangkan Mikoto yang memperhatikan itu, mengeluarkan aura tidak enak. Matanya memerah, tatapannya tajam, ia telah menargetkan seseorang. Hanya menunggu waktu saja.
***
Saat jam istirahat.
Yuuto berada di lantai paling atas bersama Mikoto. Ia menikmati makan siang bersama Mikoto.
"Makanlah yang banyak yuuto. Agar kau bertenaga untuk pelajaran berikutnya." Mikoto seakan menasehati Yuuto.
"Haik, wakarimashita mikoto sama." Balas Yuuto dengan nada bercanda hingga membuat keduanya tertawa cekikikan.
__ADS_1
"Yaa seperti itu seharusnya, yuuto. Jangan bersedih lagi, cukup aku saja yang menderita." Mikoto memperhatikan bagaimana wajah tersenyum Yuuto. Ia sudah memiliki rencana untuk membuat Yuuto lebih baik dari yang sebelumnya. "Kau harus segera membalas rasa sakit hatimu pada mereka yang telah berani berbuat jahat padamu." Setidaknya itulah yang ada di dalam hatinya pada saat itu.
***