DENDAM YANG MEMBARA

DENDAM YANG MEMBARA
CHAPTER 38


__ADS_3

...***...


Yuuto dan Mikoto saat itu masih berada di dalam dimensi yang tercipta dari suasana hati Yuuto saat itu. Mereka melihat kembali apa yang telah terjadi, sehingga Hase Sensei yang saat itu sangat sedih. Yuuto sama sekali tidak menanggapi apa yang telah dilakukannya saat itu. Sementara itu di dalam ingatan atau dimensi itu, Yuuto dan Mikoto masih melihat kejadian itu dengan sangat jelas.


"Baiklah, ingat yaa. Pelajari di rumah, pertemuan berikutnya sensei akan memberikan kuis, jadi jangan lupa untuk belajar ya." Pesan Hase Sensei sebelum meninggalkan kelas, tak lupa senyuman ramahnya.


"Haik Sensei." Jawab mereka dengan suara lemah, mereka jadi tidak bersemangat jika ada kuis pada pertemuan berikutnya.


Setelah Hase Sensei pergi meninggalkan kelas, ada beberapa siswa yang mendekati meja Yuuto. Mereka pastinya akan kembali melakukan hal yang sangat tidak pantas pada Yuuto.


"Kau terlihat sangat kesal sekali hase kun?." Mikoto dengan nada mengejek berkata seperti itu?.


"Diam kau hantu sesat." Yuuto sama sekali tidak suka dengan apa yang dikatakan Mikoto.


"Hi!. Seram sekali." Mikoto malah berpura-pura takut pada Yuuto saat itu.


Namun mereka seakan-akan dipaksakan untuk melihat itu. Melihat apa yang telah terjadi saat itu.


"Ha-se-kun?." Pelan tapi begitu menusuk, membuat Yuuto takut, dan ia semakin menundukkan kepalanya. Ia memang tidak berani untuk melawan siapapun di kelas.


"Jangan takut yuuto, hadapi mereka." Sosok itu masih mengamati Yuuto, ia merasa kesal karena Yuuto belum juga menyadari kehadirannya.


"Kenapa aku berada di tempat yang tidak enak sama sekali!. Apakah tidak ada poisi yang lebih bagus lagi?." Mikoto malah kesal melihat posisinya saat itu.


"Bisakah kau diam sebentar?. Aku sudah mulai bosan melihat ini. Apakah kau tidak bisa menekan tombol skip pada cerita ini?. Lama-lama hilang juga pembaca jika seperti ini!." Yuuto sangat jengah dengan kondisi yang seperti ini.

__ADS_1


"Diam lah!." Mikoto menjitak kepala Yuuto hingga meringis sakit. "Kau pikir mencari ide itu mudah?. Bahkan dia hampir saja menangis karena tidak memiliki ide untuk lanjutannya. Dan terpaksa memasukkan mu ke dimensi ini untuk memperpanjang alur cerita. Mungkin lama-lama dia malah pakai google translate untuk menambah jumlah kata." Ucap Mikoto tanpa dosa. "Jadi terima saja kondisimu sekarang. Bahkan dia sedang mencoba mengetik, walaupun jiwanya sedang kosong karena tidak ada ide. Apakah kau mengerti?. Hasegawa yuuto." Kali ini Mikoto benar-benar terlihat berbeda, seakan-akan ia memahami isi hati penulis yang sedang hampa ketika mengetik ini. Sungguh sangat sakit, dan menyedihkan demi mencari cuan, tidak memikirkan perasaan pembaca yang selalu menunggu update ceritanya. Upsh!. Keceplosan keknya. Saking lelahnya mencari ide, malah panas mesinnya, juga hampir saja meledak.


Namun lanjutan ingatan Yuuto masih berlanjut, walaupun sebenarnya dengan berat hati mengatakan jika ia telah kehilangan cerita ini. Namun berhenti di jalan itu lebih menyakitkan lagi. Skip!. Masuk kembali atas apa yang dilihat Yuuto dan Mikoto dalam dimensi itu.


"Hei, hase kun?. Itu nama pemberian hase sensei ya?." Ryoutaro siswa yang paling disegani dikelas, ia memainkan rambut belakang Yuuto, seakan ia hendak menjambak rambut Yuuto.


Namun, Yuuto hanya diam, ia tidak tahu kenapa Hase Sensei memanggilnya seperti itu. Jadi jangan tanyakan dirinya, tanyakan pada Hase Sensei, kenapa dirinya yang diadili disini?.


"Tenang saja yuuto, biarkan mereka berbuat jahat untuk terakhir kalinya padamu. Namun tidak ada yang berikutnya lagi, jadi bersabarlah


yuuto." Sosok itu mencoba untuk tenang, ia hanya butuh waktu agar Yuuto menyadari kehadirannya, yaa sabar saja. "Aku akan membalaskan semua dendam dan sakit hati yang kau rasakan." Soso itu kembali menguatkan dirinya?. Atau menguatkan Yuuto?.


"Sepertinya anak haram ini mendapat nama baru." Kimiko siswi kedua yang disegani di kelas 3B ini.


Deg!!!


"Yuuto." Ucapnya lagi dengan suar sedih bercampur marah. Ia merasakan kesedihan dan rasa sakit yang dirasakan oleh Yuuto saat ini, serta amarah yang membuncah. Tanpa sadar air matanya menetes, kesedihan yang ia rasakan bercampur dengan perasaan iba pada Yuuto.


"Kalian dengar?. Namanya sekarang adalah hase anak haram. Jadi kita hargai hase sensei yang telah memberikan nama baru padanya." Daiki teman dekat Ryoutaro mengeraskan suaranya sambil menekan kuat kepala Yuuto hingga membuat tubuh Yuuto terdorong ke depan dan hampir saja kepalanya terantuk meja. Mereka malah tertawa, entah apa yang lucu dari ucapan Daiki, yang pasti mereka mengejek habis-habisan Yuuto.


"Yuuto. Pasti sakit sekali kau diperlakukan seperti itu." Sosok itu begitu merasakan sedih yang mendalam. Ia hampir saja menangis terisak karena merasakan perasaan sedih Yuuto seakan mereka berbagi perasaan tanpa disadari. Ia ingin membantu, namun dengan kondisinya yang sekarang ia tidak bisa melakukannya. Itu terasa menyakitkan, rasanya sangat sesak, hingga napasnya naik turun karena menahan emosi yang berkumpul dalam dirinya.


"Hiks, hiks hiks yuuto." Ucapnya dengan suara lirih, air matanya jatuh berlinang, dan tidak ada satupun yang menyadari kehadirannya. Itu membuatnya semakin ingin menderita karena perasaan sakit itu. "Hwa!." Ia berteriak keras untuk melepaskan rasa sakit yang menghimpit dadanya, hingga menimbulkan efek gaib, kaca di bagian paling belakang pecah mendadak membuat seisi kelas terkejut.


Mereka kebingungan dengan apa yang terjadi, untung saja tidak ada korban dari efek pecahan kaca jendela. Itu hanyalah luapan emosi sosok gaib itu.

__ADS_1


"Yuuto!. Sadarilah kehadiranku!. Aku akan membantumu!." Mata kosong itu berubah menjadi tajam, marah dan kecewa bercampur menjadi satu.


Ya, yang ia butuhkan adalah Yuuto menyadari kehadirannya agar ia dapat membantu Yuuto untuk mengeluarkan emosional yang menumpuk di dalam dirinya. Apa yang terjadi sebenarnya?. Siapa sosok yang mengawasi Yuuto?. Kenapa ia begitu emosi?. Sedangkan mereka yang berada di kelas tidak mengerti sama sekali apa yang terjadi sebenarnya. Sehingga mereka semua tidak menyadari apa yang menyebabkan itu semua terjadi.


"Hei?!. Apakah kalian mengetahui apa yang terjadi?."


"Aku tidak tahu apa yang terjadi."


"Tapi tadi itu seram tidak sih?. Apakah kelas kita ada sesuatu yang aneh?."


"Kita lapor ke wali kelas aja?."


"Sepertinya jangan deh!."


Mereka semua merasa kebingungan dengan apa yang telah terjadi. Mereka sama sekali tidak melihat benda jatuh dengan suara yang sangat keras. 


"Aku juga sangat bintang. Bagaimana mungkin aku tiba-tiba saja di atas atap?. Sangat heran." Yuuto masih penasaran dengan itu. "Tapi setelah aku rasakan semuanya sendiri, aku menyadarinya." Ucapnya lagi sambil melirik ke arah Mikoto.


"Kau merasakan apa?." Dengan hati-hati Mikoto Hase bertanya.


"Aku mengerti jika aku harus segera keluar dari dimensi ini. Aku akan resign dari alur cerita ini. Supaya aku keluar dari zona membosankan ini." Ucapnya sambil menerobos keluar dari dimensi itu.


"He?. Terlalu jujur sekali." Mikoto juga ikutan keluar dari dimensi itu.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bagaimana dengan Hase Sensei?. Next halaman.

__ADS_1


...***...


__ADS_2