DENDAM YANG MEMBARA

DENDAM YANG MEMBARA
99.


__ADS_3

Sudah seharian,namun Bima tidak kunjung pulang.Sehingga membuat ibunya Yasmin khawatir,wanita itu pun berjalan mondar-mandir dari dalam hingga keluar.Yasmin yang melihat ibunya seperti itu hanya menghela nafas pelan.Dia juga khawatir,namun dia bingung harus melakukan apa.


"Assalamualaikum."ucap seseorang dibalik pintu dan ternyata adalah Farisham,adik Yasmin.


"Waalaikumsalam."sahut Yasmin dan ibunya


Yuanika mendekati putra bungsunya itu dan bertanya."Apakah kau bertemu dengan bapakmu nak?"


"Tidak bu, dan aku juga sudah bertanya kepada teman-teman bapak.Mereka bilang,mereka tidak ada yang bertemu dengan bapak sejak kemarin."ucap Farisham pada ibunya,sedangkan ibunya makin khawatir.


"Ibu tenang saja,aku sudah melaporkan pada pak RT dan beliau akan membantu kita untuk mencari bapak."ucap Farisham lagi sambil meyakinkan ibunya


Yuanika menatap putra bungsunya yang tinggi melebihi dirinya."Benarkah?"


"Iya Bu."sahut Farisham


"Sebaiknya kau segera lah mandi dek,kakak akan menyiapkan makanan untuk kita."ucap Yasmin dan dibalas anggukan kecil Farisham


Setelah Farisham berlalu dari hadapan mereka, ibu dan anak itu bertatapan."Ibu, sebaiknya ibu istirahat dulu.Pasti ibu capek kan mondar-mandir dari dalam ke luar?"ucap Yasmin


"Tapi.....ibu khawatir dengan keadaan bapakmu nak. Ibu takut bapak mu kenapa-kenapa."ucap Yuanika lirih


"Shutttt.....ibu tidak boleh bicara seperti. Sebaiknya ibu do'akan saja,supaya bapak bisa cepat pulang dalam keadaan sehat dan tanpa kurang apapun."ucap Yasmin memeluk ibunya."Aku ke dapur dulu yaa Bu, mau menyiapkan makanan untuk kita."ucap Yasmin dan dibalas anggukan pelan ibunya


*********


Setelah pulang dari kantornya,Jefri menjemput sang ayah untuk dibawa ke markasnya.Sesampainya di markas miliknya,dia segera turun dari mobil bersama sang ayah.


"Sudah lama aku tidak ke gedung ini."ucap Ibrahim


"Kalau ayah mau,ayah bisa bernostalgia dulu."ucap Jefri tersenyum kecut


"Banyak omong,cepat bawa aku ke hadapan pria itu."sergah Ibrahim


Jefri pun berjalan cepat menuju ke markas,dan ayah nya pun mengiringinya di belakang.Setelah masuk ke dalam,Jefri dan ayah nya masuk ke dalam ruangan Bima berada.


Terlihat Bima yang meringkuk menahan sakit.Walaupun sudah di obati,tapi rasa sakit nya masih terasa.Dan dia sudah dipaksa makan oleh anak buah Jefri.

__ADS_1


Mendengar suara langkah yang masuk ke dalam ruangannya,Bima membuka matanya.Dan dia melihat Jefri yang dia kenal,lalu dia melihat pria disamping Jefri.Sangat mirip dengan, batin nya berucap.Dia menduga,jika pria disamping Jefri adalah ayahnya Fandi dan ayah nya Jefri juga.


Bima memandang wajah dia pria dihadapannya itu dengan tatapan tajam.


"Apa kabar?"tanya Jefri dengan senyum sinis,bukan nya menyahuti.Bima hanya diam saja dan masih menatap Jefri dengan tajam.


"Lihat lah Jef,dia memandang mu terus."ucap Ibrahim pada putranya itu


Jefri terkekeh. "Yaa aku tau,mungkin dia ingin segera lepas dari sini dan ingin memukul ku.Maka nya dia terus memandangi aku."ucap Jefri,kemudian dia kembali menyambung perkataannya."Bisa lepas dari sini? Heh,itu hanya lah mimpi."ucap Jefri dengan tegas dan lantang


"Jef,jangan berkata kejam seperti itu. Ayah takut."ucap Ibrahim dengan ekspresi takut sebentar,kemudian dia mengubah ekspresi takut nya menjadi datar dan dingin.


"Sudah puas banyak bicara."ucap Bima


Ayah dan anak itu serempak menatap Bima dengan tajam.Ibrahim menghampiri Bima dan berlutut.


PLAK.


Sebuah tamparan dari Ibrahim mengenai pipi Bima.Dan sekali tamparan itu pula,bibir Bima kelihatan berdarah.


"Ini belum seberapa,rasa nya aku ingin segera menghabisi nya.Tapi,aku tidak ingin mengotori tangan ku ini."ucap Ibrahim sambil menahan emosi dalam dirinya


Sambil menahan rasa sakit bekas tamparan Ibrahim,Bima menatap tajam ayah nya Fandi itu dengan sinis.Kemudian dia meludahi wajah Ibrahim,sehingga Ibrahim dan Jefri langsung meradang.


BUGH. BUGH.


Dua kali pukulan mengenai wajah Bima, pukulan itu dia dapat kan dari tangan Ibrahim."Kurang ajar."desis Ibrahim dan dia pun langsung berdiri dan duduk di kursi yang telah disediakan anak buah Jefri.


"Bagaimana rasanya pukulan ayah ku? Enak?"tanya Jefri


"Bagiku,pukulan nya hanya seperti gigitan semut."ucap Bima tersenyum sambil menahan sakit akibat tampan serta gebukan dari Ibrahim tadi.


Ibrahim menggeram kesal dan ingin kembali memukuli Bima.Namun Jefri dengan cepat mencegah ayahnya."Tenang ayah,jika ayah emosi seperti itu.Rencana yang kita buat akan berantakan."bisik Jefri dan akhirnya Ibrahim pun menuruti kemauan putra nya itu


"Bima, jawab pertanyaan ku. Apakah kau mau mengakui perbuatan yang kau lakukan pada seluruh warga desa beringin ? Jika kau telah memfitnah Fandi adikku serta istrinya."ucap Jefri


Bima menatap Jefri sinis. "Hei,untuk apa aku harus mengakui itu semua.Tidak ada guna nya,mereka berdua memang pantas mendapatkan kematian seperti itu."ucap Bima

__ADS_1


Jefri menggeram, begitupun ayah nya.Namun sekuat tenaga mereka menahan emosi.


"Jadi, kau tidak ingin mengakui perbuatan mu?"tanya Jefri lagi


"Tentu saja."sahut Bima enteng


"Bagaimana jika aku membakar rumah mu beserta istri dan kedua anak mu?"tanya Jefri penuh penekanan dan dia berkata sambil tersenyum jahat


Bima menatap tajam Jefri. "JANGAN MENGANCAM KU BEDEBAH. "


Jefri kembali lagi terkekeh kecil. "Aku tidak mengancam,hanya sedikit main-main. Iyakan ayah?"tanya Jefri pada ayah nya


Ibrahim mengangguk. "Iya,apa salahnya bermain-main sebentar pada keluarganya. Agar dia bisa merasakan seperti yang kita rasakan, yaitu kehilangan orang yang dicintai."ucap Ibrahim


"Jika kalian melakukan hal itu pada keluarga ku,aku tidak akan membiarkan kalian hidup dengan tenang."ucap Bima mengancam,ayah dan anak yang diancam itu hanya tertawa.


"Kau mengancam kami? Simpan kata-kata mu itu rapat-rapat. Atau kau menginginkan putri sulung mu di perkosa ramai-ramai dan aku akan menyuruh orang membunuhnya. Bagaimana ? Kau pilih saja,melihat keluarga mu sengsara atau mengaku pada warga desa beringin dan membersihkan nama adik dan adik ipar ku."ucap Jefri penuh penekanan


"Sial."umpat Bima dalam hati. Dia tidak habis pikir,kenapa bisa dia terjebak disini.Ini pasti ulah Aziz yang bersekongkol pada Jefri untuk menjebaknya.Dia tidak ada pilihan lain dan dia harus jujur pada warga desa beringin.Dia tidak ingin hal buruk terjadi pada keluarga kecil nya.


"Bagaimana? Kau bisa memikirkan hal ini dari sekarang,dan besok pagi aku akan datang kembali menunggu keputusan mu."ucap Jefri ingin keluar bersama ayahnya,namun langkah mereka berdua terhenti begitu mendengar perkataan Bima.


"Tunggu, aku akan menyetujui permintaan mu. Aku akan jujur pada seluruh warga desa beringin dan aku harap kalian tidak melakukan hal buruk pada keluarga ku."ucap Bima yang akhirnya memohon kepada Jefri


Jefri dan ayah nya saling berpandangan,kedua nya tersenyum penuh arti. "Kau bisa menjawabnya besok pagi,dan yaa tidak usah terburu-buru."ucap Jefri tanpa menoleh sedikitpun. Dia pun meninggalkan tempat itu bersama ayah nya.


Sedangkan Bima hanya bisa mengutuk perbuatannya.Andai saja,dahulu dia langsung membunuh Aziz juga.Mungkin dia tidak akan kerepotan dengan masalah ini.Tapi sekarang,dia dalam keadaan yang tidak menguntungkan.Dia terjebak dan harus berpikir keras.


Dia kepikiran,jika dia jujur pada warga. Maka tamatlah riwayatnya,warga pasti tidak akan memberi ampun kepadanya.Terlebih,karena perbuatannya lah warga desa beringin mengamuk dan membakar rumah Fandi berserta Fandi dan Arum.Dan setelah itu,arwah Arum gentayangan dan membunuh warga yang terlibat dalam peristiwa membara malam itu.


Jika dia tidak jujur,maka keluarga kecil nya lah yang terkena akibatnya.Dia tidak bisa membayangkan,jika Jefri tadi benar-benar menyuruh orang melakukan perbuatan buruk pada putri sulungnya.Dan membakar rumah nya serta anak dan istri nya. Membayangkan itu saja,sudah membuat kepala Bima pusing.


Seperti nya dia memang harus berpasrah diri,lebih baik dirinya terkena amukan warga.Daripada keluarga kecil nya itu yang terkena dampak buruk perbuatan masa lalu nya.


*********


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2