DENDAM YANG MEMBARA

DENDAM YANG MEMBARA
CHAPTER 50


__ADS_3

...***...


Saat itu Hase Sensei telah bersama orang tua Umihara, Izaki, Yousuke dan Matsumoto. Tentunya membicarakan apa yang telah terjadi pada Hasegawa Yuuto.


"Maaf, jika dalam kesibukan tuan dan nyonya harus datang ke sekolah karena panggilan dari saya." Hase Sensei tersenyum kecil, walaupun sebenarnya ia merasa sangat gugup menghadapi . "Karena ini adalah hal yang sangat penting dan sangat berbahaya." Lanjutnya.


"Memangnya apa yang telah dibuat anak saya?. Sehingga sensei berani memanggil saya ke sini?." Ishinori Tayuya ayah dari Ishinori Umihara tidak bersahabat.


"Apa yang telah dilakukan anakku?. Jika dia melakukan kesalahan?. Maka kesalahan apa yang telah ia lakukan?. Sehingga aku dipanggil ke sekolah?!." Takaharu Yanagi ibu dari Takaharu Izaki terlihat sangat jutek.


"Jelaskan pada saya!. Kesalahan apa yang telah dilakukan anak saya?." Fujimoto Ryouta ayah dari Fujimoto Matsumoto terlihat sangat jengkel dengan itu. "Kami ini adalah orang yang sangat penting dalam pembangunan sekolah ini!. Kenapa kau malah menyingung kenakalan yang telah dilakukan anak-anak kami!. Apakah kau sudah tidak betah mengajar di sekolah ini?. Sehingga kau berani memanggil kami?." Ada nada kesombongan yang mereka perlihatkan saat itu.


"Benar!. Kenapa hanya karena kesalahan yang sepele seperti itu?. Kau malah memanggil kami?!." Daiki Queen ibu dari Daiki Yousuke merasa sangat berkuasa hanya karena ia paling banyak menyumbang dana ke sekolah.


Hase Sensei sedikit menghela nafasnya dengan pelan dihadapan mereka semua. Sungguh, hatinya sangat sesak setelah apa yang ia dengar dari mereka semua. "Kalau begitu saya yang akan bertanya pada taun dan nyonya yang terhormat." Ia menatap mereka semua dengan sangat serius. "Rasanya aku sangat menyesal merasa gugup berhadapan dengan orang sombong seperti mereka." Dalam hatinya merasakan hal yang seperti itu, "Apa yang tuan dan nyonya lakukan jika melihat ini." Hase Sensei memperlihatkan rekaman cctv pada mereka semua.


Bagaimana dengan tanggapan mereka nantinya?. Simak terus ceritanya.


...***...


Sementara itu Umihara, Izaki, Matsumoto, dan Yousuke sangat gelisah menunggu di kelas. Akan tetapi teman-temannya yang lainnya yang satu kelas dengan yang lainnya merasa penasaran dengan apa yang teah dilakukan oleh mereka. Saat itu siswa di kelas masih tersisa 15 orang siswa termasuk Umihara dan ketiga temannya.


"Jadi kalian yang telah melakukan rencana itu?." Raikiri yang penasaran langsung mendekati mereka. Mumpung saat itu mereka sedang bebas belajar karena masalah itu.


"Ya, memang kami yang melakukannya karena aku sangat kesal dengan kematian teman kita dengan cara yang tidak wajar." Jawab Umihara tanpa ragu. "Dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal atas apa yang telah dia lakukan pada teman-teman kita." Ada perasaaan benci yang ia salurkan saat itu. Sungguh, hatinya sangat benci dengan itu.


"Jika kalian merencanakan itu?. Kenapa kalian tidak membicarakannya dengan kami?. Bisa jadi kita memilih tempat yang tepat untuk melakukan itu tanpa ketahuan." Erika juga mendekati mereka, dan dengan santainya ia duduk di bersama mereka di atas meja Umihara.


"Kami hanya tidak ngin melibatkan kalian saja. Jadi kami yang merencanakan ini padanya." Izaki yang mwnajwabnya."Akan berbahaya jika kalian juga ikut terlibat.


"Ya. Akan berbahaya jika kalian terlibat dalam masalah ini." Ucap seseorang.


Deg!.


Mereka semua saat itu sangat terkejut mendengarkan suara itu. Mereka semua menoleh ke arah tempat duudk Hasegawa Yuuto?.


Deg!.


Mereka semua sangat terkejtu dengan apa yang mereka lihat saat itu. Bagaimana mungkin Hasegawa Yuuto berada di kelas bersama mereka?.


"Kenapa kalian malah ketakutan melihat aku yang seperti ini?. Bukankah aku dari tadi bersama kalian loh?." Ia tersenyum kaku, dan terlihat sangat menyeramkan. "Kalian ini jahat seklai ya?. Berani seklai kalian melupakan keberadaanku setelah apa yang telah kalian lakukan padaku." Lanjutnya lagi.


Mereka semua tidak berani mengeluarkan kata-kata, karena penmapilan Hasegawa Yuuto yang sangat tidak wajar saat itu, sehingga mereka tidak sanggup untuk berbicara. Seakan-akan pada saat itu ada yang menahan suara mereka agar tidak membalas ucapan Hasegawa Yuuto.


"Selamat sore." Sapa seseorang.


Deg!.


Saat itu nereka sangat terkejut, seakan-akan mereka baru saja ditarik paksa dari dunia lain, shingga mereka sangat terkejut dengan apa yang telah mereka alami tadi.


"Hm?. Ada apa?. Kenapa kalian malah diam?. Ini jam pelajaran terakhir loh?." Naria Sensei merasa heran dengan reaksi mereka yang seperti baru saja melihat hantu yang sangat menyeramkan.


Dengan patuhnya mereka duduk di tempat masing-masing, termasuk Erika yang tadinya duduk di atas meja Umihara.


"Sial!. Apakah itu tadi hanya halusinasi saja?."


Setidakya itulah yang ada di dalam pikiran mereka semua saat itu. Sungguh, sangat aneh rasanya setelah apa yang menimpa mereka.


...***...

__ADS_1


 


Mereka semua telah melihat hasil dari rekaman cctv yang diperlihatkan HAse Sensei pada mereka. Bagaimana tanggapan mereka mengenai masalah itu?.


"Tidak mungnkin mereka melakukan hal bodoh seperti ini." Ishinori Tayuya sangat kesal dengan itu.


"Anak saya tdai mungkin-." Takaharu Yanagi sangat heran dengan apa ynag dilihat dari cctv itu.


"Apakah menurut tuan dan nyonya?. Perbuatan seperti itu pantas dilakukan oleh seorang pelajar?." HaseSensei memberikan pertanyaan seperti itu pada mereka. "Sebagai orang tua yang telah melewati masa sekolah?. Apakah tuan dan nyonya pernah melakukan tindakan yang seperti itu?. Saya rasa tidak akan seperti itu." Lanjutnya dengan perasaan ia berkata seperti itu.


"Lantas?. Bagaimana anak itu?. Apakah dia masih hidup setelah apa yang telah terjadi padanya?." Daiki Queen terlihat sangat khawatir dengan apa yang ia simak tadi di cctv itu. "Apakah keadaanya baik-baik saja?." Lanjutnya.


"Untuk saat ini keadaannya sedang kritis." Jawab Hase Sensei.


"Oh?. Benarkah?." Daiki Queen sangat khawatir.


"Tapi untuk saat ini hasegawa yuuto sedang di atasi oleh dokter. Jadi untuk saat ini masih aman. Namun tetap saja harus mendapatkan perhatian yang sangat tepat untuk ini." Ucapnya dengan tegas.


"Apakah kau ingin kami membayar kompensasi atas apa yang telah dilakukan oleh anak-anak kami?." Pertanyaan itu muncul dari Fujimoto Ryouta yang masih merasa keberatan dengan apa yang telah ia dengar.


"Harusnya tuan dan nyonya berterima kasih kepada saya, karena saya tidak menyerahkan masalah ini pada pihak kepolisian yang merasa sangat ingin menuntaskan masalah di tempat umum itu." Hase Sensei sangat kesal. "Tapi saya sebagai wali kelas mereka telah menjadi tameng bagi mereka semua!. Melindungi mereka dari hukuman!." Bentaknya dengan penuh amarah yang sangat membara.


Mereka hanya diam saja sambil mendongkol di dalam hati mereka. Sungguh, mereka tidak menduga jika masalah itu telah sampai pada kepolisian?. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.


...***...


Sementara itu di rumah sakit tempat Hasegawa Yuuto dirawat.


Saat itu Yamazaki Yui sedang keluar untuk menghirup udara segar. Memang saat ini sebenarnya ia hanyalah seorang mahasiswa yang masih dalam tahap belajar, akan tetapi karena ayahnya adalah seorang dokter yang sangat hebat yang memiliki rumah sakit?. Ia bisa keluar masuk ke rumah sakit sambil belajar praktek dari dokter yang ada di sana. Dan kebetulan saat itu ia bertemu dengan Dokter Azuki Remon. Dokter yang cukup hebat dalam masalah organ dalam yang dialami pasien.


"Yho?. Yui-chan?." Sapanya dengan senyuman yang sangat ramah.


"Lama tidak bertemu." Ia mengamati penampilan Yamazaki Yui dengan seksama. "Apa yang sedang kau pikirkan?. Sehingga kau terlihat sangat kusut sekali." Ia sangat penasaran sekali.


"Aku hanya sedang memikirkan kondisi pasien pertamaku, hanya itu saja remon-ji." Jawabnya dengan aneh.


"Jadi?. Kau diizinkan ayahmu untuk mengatasi pasien?." Ia ikut duduk di samping dokter Remon.


"Hanya sekali ini saja." Ucapnya dengan gugup. "Tapi aku tetap asih harus belajar lebih giat lagi, supaya aku benar-benar bisa merawatnya dengan baik." Lanjutnya lagi.


"Memangnya pasienmu itu mengalami sakit apa?. Sehingga ayahmu mengizinkanmu itu merawat pasien itu?." Penasaran?. Sebut saja sepert itu.


"Jika remon-ji penasaran, tentunya bisa melihat keadaannya." Entah dorongan apa, ia malah berkata seperti itu.


"Baiklah, aku ingin melihatnya." Dokter Remon juga tidak keberatan sama sekali.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.


...***...


Pukul 16.40.


Bel terakhir telah berbunyi, karena pada saat itu mereka ikut ujian?. Jadi lebih cepat pulang satu jam dari jam biasanya. Karena mereka belajar bersama guru mata pelajaran yang akan dites besok.


Saat itu kelas 3A masih belum sanggup meninggalkan kelas, setelah mereka secara nyata melihat Hasegawa Yuuto yang berbicara pada mereka?.


"Ano?. Kalian tadi melihatnya, kan?." Reika memberanikan dirinya untuk bertanya. "Tadi itu aku melihatnya, dan bahkan mereka berbicara dengan sangat lancar." Jantungnya berdebar-dear saat berkata seperti itu.


"Hm." Sayaka menganggukkan kepalanya tanda benar apa yang telah dikatakan Reika. "Dia muncul, dan berbicara dengan kita. Dia malah-." Ia merasa berat untuk melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Aku pulang dulu. Perasaanku sama sekali tidak enak." Yumi langsung mengambil langkah seribu meninggalkan kelas.


"Ah!. Aku juga!." Shizuko juga mengambil tasnya dan langsung pergi begitu saja.


Mereka semua bergegas pergi meniggalkan kelas, tentunya mereka semua sangat takut dengan apa yang telah terjadi. Mereka semua saat itu merasa diteror oleh Hasegawa Yuuto.


"Sial!. Padahal sudah sekarat seperti itu?. Masih saja dia berani melawan kami." Dengan perasaan yang sangat kesal Umihara berkata dalam hatinya.


"Untuk saat ini aku biarkan kalian menikmati kemenangan kalian. Tapi tidak untuk selanjutnya." Saat itu Yuuto yang menjadi roh gentayangan berkata seperti itu.


"Jadi kau akan membiarkan mereka seperti itu dulu?." Mikoto Hase ternyata bersamanya saat itu.


"Kita hanya bisa menakuti mereka saja, hase senpai." Yuuto kali ini dengan santainya menyebut nama Hase, ditambah dengan senpai yang artinya senior. "Saat aku terbangun nanti, baru kita mulai lagi pembalasannya." Lanjutnya dengan senyuman yang sangat mengerikan.


"Jika memang seperti itu, aku tidak keberatan sama sekali." Hase hanya pasrah saja.


"Tapi aku tidak menduga akan seperti ini rasanya jadi roh gentayangan hanya karena masalah ganjal ini." Yuuto malah terkekeh kecil.


"Hufh!." Hase menghela nafasnya dengan sangat pelan. "Kau ini ya?." Hase mendekatinya. "Jadi gentayangan seperti ini tidak enak, loh?." tentunya ia telah lama merasakan perasaan itu.


"Setidaknya ada senpai yang menemani aku. Jadi aku tidak merasa kesepian." Tanpa merasa bersalah ia berkata seperti itu.


"Ya. Aku akan selalu ada untukmu selagi kita masih terikat dengan perjanjian itu." Balasnya sambil memperlihatkan simbol perjanjian yang belum hilang dari tubuhnya.


Namun yang menjadi pertanyaannya adalah?. Apakah yang akan mereka lakukan dalam keadaan ayng seperti itu?. Simak terus ceritanya.


...***...


Kembali ke rumah sakit.


Yui dan Dokter Remon saat itu baru saja sampai di ruang perawatan Yuuto. Sebelum mereka sampai, tentunya mereka singgah ke tempat penyimpanan obat, karena Dokter Remon ingin memberikan obat pada pasien yang ia rawat.


"Keadaanya saat ini memang sangat parah." Yui membuka pintu, dan mereka masuk. "Aku sangat khawatir padanya." Ia mendekati Yuuto yang mendapatkan perawatan yang sangat intensif.


Deg!.


Dokter Remon sangat terkejut dengan apa yang telah ia lihat saat itu. Sungguh, ia tidak menduga sama sekali saat itu dengan apa yang ia lihat, dan apa yang ia rasakan saat itu.


"Namanya hasegawa yuuto. Siswa sma yang mengalami kecelakaan yang sangat parah-." Ucapannya terhenti karena melihat reaksi yang sangat tidak biasa dari Dokter Remon. "Eh?. Remon-ji?." Yui tidak mengerti dengan reaksi Dokter Remon.


"Oh?. Oh?." Tangannya bergetar ingin menyentuh wajah pucat itu. Perasaannya saat itu sedang dipermainkan takdir yang sangat menyakitkan. "Oh?." Ia menjatuhkan tubuhnya, hingga ia bertumpu pada pinggiran tempat tidur dan saat itu ia menangis sambil menyentuh tangan Yuuto?.


"Remon-ji?." Yui sangat tidak mengerti dengan apa yang ia lihat saat itu.


"Yuuto." Hatinya sangat sakit ketika ia menyebutkan nama itu. "Yuuto. Hiks!. Yuuto!." Kau kenapa bisa seperti ini, nak?." Hatinya sangat sakit, hingga ia menangis sejadinya. Ia elus pipi Yuuto yang pucat itu dengan tangan yang bergetar.


"Yuuto?. Apakah remon-ji kenal dengan anak ini?." Tentunya itu menjadi tanda tanya yang sangat besar baginya.


"Yuuto." Dokter Remon masih menangis sedih. Ia tidak menjawab pertanyaan Yui yang seakan-akan tidak ia dengar saat itu. "Yui-chan. Apakah kau bisa menjelaskan padaku?. Kenapa kondisinya bisa seperti ini?." Dengan nada memohon ia berkata seperti itu.


"Eh?." Yui sedikit bingung. "Boleh saja sih." Ucapnya sambil memperhatikan Dokter Remon yang menangis?. "Tapi remon-ji harus menjelaskan padaku, apa hubungan remon-ji dengan anak ini?. Apakah remon-ji kenal dengannya?." Itulah syarat yang ia ajukan saat itu.


Dokter Remon nampak menghela nafasnya setelah ia berhasil meredakan tangisnya, serta perasaan sesak yang menghimpit dadanya setelah mengetahui anak itu.


"Ya. Aku akan mengatakannya padamu, tapi rahasiakan dari siapapun ya?. Jangan sampai ada yang mengetahui ini, ya?." Ia juga mengajukan syarat pada Yui.


"Eh?." Yui juga tampak terkejut dengan apa yang ia dengar saat itu. "Ba-baiklah." Rasanya ia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti ucapan Dokter Remon, karena ia sangat penasaran.                                                                                                                        


Apakah yang terjadi sebenarnya?. Next.

__ADS_1


...***...


__ADS_2