
Setelah Selena tertidur,Marcelian keluar dari ruangan wanita itu.Dia duduk bersandar di kursi yang berada tidak jauh dari kamar pasien.Dengan memejamkan matanya,Marcelian menahan sesuatu yang terasa bergejolak di dadanya.Ada perasaan aneh yang menelusup ke hati nya saat dia menemani Selena melahirkan.
Dan saat melihat bayi yang dilahirkan oleh Selena tadi, Marcelian sangat bahagia.Dan perasaan bahagia nya harus segera sirna.Karena dia sadar,bayi itu bukan putranya.Tapi putra Selena bersama suaminya dan dia bukan siapa-siapa.
Marcelian berpikir,kenapa Selena datang sendiri ke rumah sakit? Kemana suaminya ? Apakah suaminya sedang bekerja dan jika dia benar-benar bekerja,kenapa tidak dia tinggalkan saja pekerjaan nya? Padahal istrinya sedang mengandung anaknya ? Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di pikiran nya, bagaimana mungkin suami Selena membiarkan nya sendirian dirumah.
Perasaan Marcelian sedikit tercubit,wanita yang dulu nya menjadi seorang wanita malam.Wanita yang sangat dia cintai,namun wanita itu lebih memilih pria dewasa itu daripada dirinya yang memang masih muda saat itu.
Marcelian ingin meninggalkan Selena disini ,tapi dia khawatir.Karena tidak ada yang menjaga wanita yang masih dia cintai hingga saat ini.Dia ingin segera pulang,karena waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Setelah puas berpikir, akhirnya Marcelian lebih memilih untuk pulang.Dia merasa jika Selena akan ada yang menjaganya,yaitu suster dirumah sakit ini.Jadi tidak perlu khawatir.
*********
Sejak kepulangan Johan kemarin,ustadz Hamzah masih dilema dengan permintaan jin qarin Arum.Jin itu mengatakan jika dia ingin keadilan tentang kematian dia dan suaminya.Dia tidak ingin orang yang menjadi dalang peristiwa puluhan tahun silam yang menimpa nya hidup dengan tenang.
Sementara itu,dia harus menjadi arwah penasaran.Dan gara-gara mereka,putra semata wayangnya harus menjadi seorang anak yatim piatu setelah beberapa menit di lahirkan.Arum sangat dendam pada mereka yang masih hidup dengan tenang.
'Dari mana aku harus memulai menyelesaikan masalah wanita itu ?'ucap Ustadz Hamzah dalam hati.'Mungkin kah aku harus menemui pak Johan,dan menanyakan hal itu secara detail lagi.Agar aku bisa mencari keadilan untuk wanita itu.'
Setelah cukup lama berpikir,akhirnya dia menelpon nomor Johan.Untung saja dia menyimpan nomor yang Johan berikan,jika tidak pasti dia akan sulit menyelidiki masalah yang sudah terjadi puluhan tahun yang lalu.
Setelah cukup lama,akhirnya telpon nya di angkat.
"Assalamualaikum. Hallo ustadz."ucap Johan dibalik telepon
"Waalaikumsalam. Apakah aku mengganggu waktu pak Johan ?"tanya Ustadz Hamzah sopan
"Tidak ustadz,aku sedang bersantai sekarang."
"Ohh begitu."
"Iya ustadz,ada apa ?"tanya Johan
"Ada hal yang ingin aku tanyakan,tapi sepertinya akan sangat sulit berbicara di telepon.Kapan pak Johan ada waktu luang ?"tanya Ustadz Hamzah
"Kapan pun ustadz,aku selalu ada waktu luang.Kapan ustadz ingin kita berjumpa ? Atau ustadz mau datang ke rumah ku, sekaligus bersilaturahmi?"tanya Johan
"Jika pak Johan mengizinkan,aku akan datang ke rumah pak Johan."ucap ustadz Hamzah
__ADS_1
"Baiklah, bagaimana jika ustadz datang saja malam ini.Setelah shalat isya, bagaimana?"
"Insyaallah aku akan datang pak Johan,baiklah. Mungkin hanya ini saja yang bisa aku katakan,sampai bertemu nanti malam. Assalamualaikum."ucap ustadz Hamzah yang ingin mengakhiri panggilan telepon
"Baik Ustadz,aku akan menunggu kedatangan ustadz. Waalaikumsalam."
Setelah panggilan berakhir,ustadz Hamzah meletakkan ponselnya.Dia bersyukur,Allah masih membantu nya dalam menyelesaikan masalah pertama.
*********
Setelah kepergian Marcelian,Selena membuka matanya yang pura-pura terpejam tadi.Dia masih ingat saat dia ingin melahirkan satu jam yang lalu.Jika yang menemani nya melahirkan adalah Marcelian,pria yang dia cintai dan dia tolak cintanya hanya karena perbedaan umur.
Bukan itu saja,dia merasa buruk dan tidak pantas dicintai oleh seorang pemuda yang berasal dari keluarga konglomerat.Sedangkan dia hanya berasal dari rakyat biasa,apa yang dia miliki selain dari cinta.Bahkan cinta saja tidak cukup untuk sebuah hubungan.
Yaa kali makan cinta,sangat mustahil.
Selena melirik ke arah box tempat putranya diletakkan,dia bangkit dari ranjang rumah sakit.Dia mendekati box putranya,dan dia melihat putranya sedang tidur lelap.Wajah nya sangat damai dan dia mewarisi kemiripan dengan ayahnya.Bentuk alis tebal seperti alis ayah nya.Hidung nya juga mancung Seperti hidung milik ayahnya.Tidak ada sedikitpun yang Selena wariskan kepada putranya jika mengenai tentang kemiripan.Karena putra nya ini duplikat sang suami.
Mengingat suaminya,entah dimana sekarang.Sejak kejadian saat dia bertemu dengan Marcelian sebulan yang lalu.Bram mengurung nya didalam rumah.Untuk keluar melirik ke pekarangan rumah saja dia tidak dibolehkan, apalagi jalan ke luar rumah.
Mengingat hal itu,Selena tersenyum getir.Dan Selena ingat dengan perlakuan Bram yang sangat menyakitkan.Suaminya itu memang pria pencemburu dan posesif,dan dia juga sangat ringan tangan.Jika dia marah,dia tidak akan peduli.Dia akan tetap melampiaskan amarahnya kepada Selena.
Kembali lagi dengan Selena yang masih menatap wajah putra nya itu."Mama sangat senang dengan kehadiran mu di dunia ini sayang.Mama sangat bersyukur,semoga saja dengan kehadiran mu.Papa bisa betah di rumah dan lebih hangat perhatian nya kepada kita yaa nak."batin Selena
"Kenapa wajah mu sangat mirip dengan papa nak? Padahal papa sempat tidak mengakui,jika kau bukan lah anak nya.Hati mama sangat sakit saat itu nak,tapi kini kau telah membuktikan.Jika kau memang putra nya,bahkan kau meniru wajah papa mu.Bahkan,kalian seperti kembar.Kau adalah Bram kecil sayang."ucap Selena dengan suara serak,sebisa mungkin dia menahan air matanya yang ingin jatuh.Dengan cepat dia mengusap wajahnya.
Setelah itu,dia mencium kening putranya dengan lembut.Dan dia memegang jemari putra nya dengan pelan, kemudian dia juga menciumnya.
"Putra mama yang sangat tampan."ucapnya dengan lirih
Lalu dia ingin berbalik dan terkejut dengan kehadiran suaminya yang berada didepan pintu.
'Sejak kapan dia ada disana?'ucap Selena membatin
*********
Setelah shalat isya,ustadz Hamzah menuju ke rumah Johan.Dengan di antar oleh anak sulung nya yang bernama Hamid.Untung saja anak sulungnya itu tahu dimana letak alamat rumah Johan.Jadi,ustadz Hamzah tidak kesulitan menuju ke sana.
Tidak lama perjalanan yang mereka tempuh,akhirnya mereka tiba didepan rumah mewah Johan.Supir pribadi Johan yang berjaga didepan bersama sang satpam segera beranjak dari tempatnya,saat dia melihat kedatangan ustadz Hamzah.
__ADS_1
"Silahkan masuk ustadz,tuan Johan sudah menunggu didalam."ucap sang supir dengan sopan
"Terimakasih pak."ucap Ustadz Hamzah lalu dia masuk ke dalam bersama dengan Hamid yang berjalan mengekori nya.Setelah diantar supir Johan ke ruang tamu,dia langsung dipersilahkan duduk oleh Johan yang memang sudah menunggunya.
Johan langsung berdiri dan menyalami tangan ustadz Hamzah,dan ustadz pun menerima uluran tangan Johan.Dan Johan juga menyalami tangan Hamid yang berada disamping ustadz Hamzah.Lalu dia bertanya."Siapa pemuda ini ustadz?"tanya Johan
"Dia putra sulung ku,tidak apa-apa kan kalau dia ikut bersama ku kesini?"ucap ustadz Hamzah balik bertanya
Johan menggeleng,"Tidak masalah ustadz,aku senang sekali jika banyak orang yang datang berkunjung ke rumah ku.Karena dirumah aku hanya aku berdua dengan cucuku,serta bibi dan supir serta satpam saja."ucap Johan menjelaskan
"Ohh begitu,lalu dimana kah cucu pak Johan itu?"tanya ustadz Hamzah
"Dia sedang didalam,kata nya dia akan kesini sebentar lagi."kata Johan. Baru saja Johan selesai bicara tentang Argana,pemuda itu sudah datang menghampiri nya."Nah,ini dia cucuku Ustadz."ucap Johan
Argana menatap Hamid terkejut,karena dia sangat mengenal pemuda itu."Hamid."
Hamid yang merasa nama nya dipanggil sontak menoleh."Argana."
"Kalian saling mengenal?"tanya Johan dengan ekspresi bingung,kedua pemuda itu langsung mengangguk.Argana langsung menghampiri ustadz Hamzah dan menyalami tangan nya,kemudian dia menyalami tangan Hamid.Setelah itu dia duduk disamping kakeknya.
"Kalian kenal dimana?"tanya ustadz Hamzah,dia baru tau jika anak sulungnya ini mengenal cucu Johan yang bernama Argana.
"Kami pernah satu sekolah di SMP hingga lulus SMA.Apa Ayah lupa,jika Argana ini adalah anak yang menjadi teman dekat ku dahulu.Dan dia juga sering memenangkan segala lomba di bidang keagamaan.Baik itu lomba adzan,mengaji,dan hapal ayat.Suara Argana juga merdu ayah dan dia juga sangat populer saat di sekolah,karena ketampanannya."ucap Hamid menjelaskan,hingga Argana menjadi malu.
"Tidak,kau terlalu berlebih-lebihan dalam mengatakan tentang aku Hamid.Aku tidak begitu populer,kau lah sang pria tertampan di sekolah.Dan suara ku juga biasa saja."ucap Argana merendah karena malu di puji oleh sahabatnya yang sempat terpisah ini.
"Lihat lah ayah,dia sangat pemalu."gurau Hamid
Semua orang tertawa renyah dan tersenyum mendengar perkataan Hamid.Siapa sangka,mereka saling mengenal.
Ustadz Hamzah bertanya kepada Johan."Pak Johan, Seperti yang aku katakan saat di telepon.Aku ingin berbicara penting dengan mu."
"Silahkan katakan Ustadz, apapun masalahnya,aku tidak akan menutupi hal penting dari Argana.Karena dia berhak tahu apa yang aku tahu."ucap Johan yang seperti nya tahu maksud ustadz Hamzah yang ingin berbicara hal penting.
Ustadz Hamzah mengangguk kecil."Begini,apakah boleh aku mengetahui cerita lengkap tentang peristiwa yang menimpa kedua orang tua nak Argana."ucap ustadz Hamzah yang langsung menatap Johan dan Argana yang menegang saat ustadz Hamzah bertanya tentang kematian Arum dan Fandi.
*********
BERSAMBUNG
__ADS_1