DENDAM YANG MEMBARA

DENDAM YANG MEMBARA
CHAPTER 21


__ADS_3

......***......


Pukul 17.30 ketika bel pulang berbunyi. Yuuto pergi ke ruang BK sesuai dengan permintaan Hase Sensei. Ada apakah gerangan yang terjadi?. Sehingga ia dipanggil?. Apakah terjadi sesuatu padanya?. Tidak biasanya ia dipanggil oleh Hase Sensei.


"Kira-kira, apa yang membuatmu dipanggil hase sensei?." Ia seperti enggan memanggil Hase sensei dengan sebutan kakak?.


"Sepertinya mereka mau menghubungkan masalah yang terjadi, mikoto-kun." Yuuto berjalan santai menuju ruang BK, ia terlihat tersenyum kecil menatap Mikoto yang berjalan di sampingnya.


"Jadi mereka menyadarinya?. Apakah mereka mulai curiga?." Mikoto menanyakan itu pada Yuuto.


"Bisa jadi mereka menyadarinya. Tapi untuk apa mereka menghentikan kita sekarang?." Itu sangat aneh bagi Yuuto.


"Um. Mungkin mereka takut dengan apa yang kita lakukan, yuuto." Mikoto tersenyum lebar, ini seperti mendapatkan kemenangan pertama mereka selama ini.


"Kghe!. Baru segitunya saja udah panik mereka ya?. Sangat tidak adil sekali." Yuuto tertawa kecil mendengar ucapan Mikoto, entah kenapa terasa lucu ditelinganya.


"He?. Kau tertawa yuuto?. Itu tidak adil. Nanti kau bakalan nangis loh?. Jika kau tertawa berlebihan seperti itu." Mikoto menggoda Yuuto yang tampak menikmati sesuatu.


"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan tertawa seperti itu tuan mikoto." Yuuto balik menggoda Mikoto, hingga keduanya tertawa cekikikan, namun tawa Mikoto membuat bulu kuduk merinding. Hanya saja Yuuto telah terbiasa dengan tawa Mikoto yang seperti itu.


Akan tetapi pada saat itu mereka tidak bisa bercanda terlalu lama. Karena mereka telah sampai di depan ruang BK?.


"Sumimasen. Apakah saya boleh masuk?." Yuuto membuka pintu ruang BK, di sana ia melihat ada Hase Sensei dan Natsume Sensei menunggunya. ia memberi salam pada kedua Senseinya itu.

__ADS_1


"Masuk saja." Balas Natsume Sensei yang sangat kenal dengan suara Yuuto.


"Terima kasih. Saya masuk ya?." Yuuto melangkah dan berdiri di depan kedua gurunya?.


"Silahkan duduk hase kun." Hase Sensei mempersilahkan Yuuto duduk dihadapannya, sedangkan Natsume Sensei duduk di sebelah Hase Sensei.


"Haruskan aku duduk?." Ia melirik ke arah Mikoto, ja berkata seperti itu dengan berbisik.


"Duduk saja." Balas Mikoto dengan senyuman kaku.


"Santai saja hase-kun, kami tidak mengadilimu kok." Hase Sensei tersenyum kecil, ia tidak menyangka akan mengalami suasana canggung seperti ini


"Haik, sensei. Gomen, apa saya berbuat salah?." Setelah ia duduk ia malah bertanya seperti itu tanpa basa-basi lagi.


"Masalahnya seperti ini hase-." Ketika Hase Sensei hendak berbicara namun terpotong karena Natsume Sensei.


"Natsume Sensei." Hase dan Yuuto melihat ke arah Natsume Sensei, ekspresi ketakutan sangat terlihat di wajahnya. "Kau ini sebenarnya mau berkata apa?." Sangat tidak terduga sama sekali baginya melihat keadaan seseorang yang seakan-akan takut, seperti melihat hal yang mengerikan.


"Yuuto, aku mohon mengaku lah." Nafasnya seakan sesak, udara di dadanya seperti menipis, ia ia sudah tidak tahan lagi dalam ketakutan apa yang ia lihat. "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Jika kau yang telah membunuh teman sekelasmu." Rasanya ia tidak sanggup untuk mengatakan itu, tapi jika ia pendam terlalu lama juga tidak baik baginya. Hatinya semakin sesak menyimpan itu semua.


"Natsume sensei?. Apa yang kau bicarakan-." Kembali ucapannya terputus, namun kali ini karena Hasegawa Yuuto?.


"Haik!. Memang aku yang melakukannya, natsume sensei. Apakah kau merasa puas setelah aku mengakui perbuatanku?." Dengan santainya Yuuto membalas ucapan Natsume Sensei, sedangkan Hase Sensei terkejut mendengar pengakuan Yuuto, apalagi dengan wajah tersenyum tanpa beban seperti itu. Apa yang ada dipikiran Yuuto saat ini?. Begitu juga dengan Mikoto yang berdiri di belakangnya tak percaya jika Yuuto akan mengakui perbuatannya?.

__ADS_1


"Hah?. Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan hase-kun?." Hase Sensei tidak percaya jika Yuuto dengan mudahnya mengakui perbuatannya itu?. "Apakah kau tidak menyadari apa yang katakan tadi itu adalah suatu pengakuan yang sangat aneh?." Tidak seperti kebanyakan yang lainnya yang membantah apa yang dituduhkan padanya, namun Yuuto?. "Katakan padaku dengan jujur kebenaran itu. Aku percaya padamu hasegawa yuuto." Ia menatap serius ke arah Yuuto, apakah ini hanya akting saja?. Ya mungkin ini hanya sandiwara Yuuto, setelah itu ia akan menangis memeles dan mengatakan. Kenapa harus aku yang dituduh melakukan kejahatan itu?. "Seseorang pasti akan berusaha melindungi dirinya agar tidak ketahuan telah melakukan kejahatan, tapi kenapa kau malah mengakuinya?. Apa yang kau pikirkan sebenarnya hasegawa yuuto?." Rasanya ia tidak percaya sama sekali dengan pengakuan dari Yuuto yang tidak membantah sama sekali?.


Ya pasti seperti itu kejadian berikutnya, setidaknya itu yang ada dalam pikiran Hase Sensei, karena kebanyakan memang begitu kan?. Masa mau mengaku begitu saja?. Sandiwara seperti apa yang akan dimainkan Yuuto dalam masalah itu?.


"Dia memang melakukannya!. Hase sensei tidak perlu bertanya banyak lagi padanya!. Aku melihatnya sendiri!. Tidak mungkin dia tidak mengakuinya!." Emosi Natsume Sensei meluap, ia seakan hendak menelan Yuuto, ia memaksa Yuuto untuk mengakui kesalahannya itu.


"Tenanglah natsume sensei. Kita dengarkan dulu penjelasan dari yuuto. Mungkin pada saat itu dia hendak berniat membantu temannya yang diserang. Tapi kau salah dalam melihatnya." Hase Sensei masih saja ingin membela Yuuto, dan ia tidak berpikiran jika Yuuto melak kejahatan.


"Untuk apa kau membela dirinya?!. Dia-." Ucapannya terputus karena ucapkan Yuuto.


"Um, aku memang melakukannya." Yuuto sangat muak melihat perdebatan mereka.


"Apa?!." Hase sensei sangat terkejut dengan pengakuan dari Yuuto.


"Dengar sendiri, kan?. Hase sensei?!. Dia telah mengakuinya!." Natsume sensei semakin bergemuruh ketika Yuuto memang mengakui perbuatanku itu.


"Yuuto. Jangan bercanda dalam keadaan seperti ini. Katakan yang sebenarnya." Dengan suara yang ramah ia berjaya seperti itu. Supaya Yuuto memahami apa yang ia sampaikan pada saat itu.


"Kami memang melakukannya, iya kan?. Mikoto-kun?." Yuuto  menganggukkan kepalanya, ia tidak membantah sama sekali, ia malah dengan tenangnya menyebut nama Mikoto sambil menoleh ke belakangnya, membuat Hase Sensei dan Natsume Sensei terkejut


Apalagi ini coba?. Apa ini  sandiwara siswa jenis terbaru untuk mengelabui gurunya agar terhindar dari tuduhan?. Entahlah, terkadang otak siswa ini licin seperti belut untuk lari dari tanggung jawabnya. Tapi tidak dengan Yuuto yang mengakui perbuatannya?.


Deg!.

__ADS_1


Apakah yang terjadi sebenarnya?. Next.


...***...


__ADS_2