
Warga desa beringin sudah beraktivitas seperti biasa.Sejak arwah Arum tidak meneror desa itu lagi dan Marni yang menjadikan para wanita hamil untuk kegiatan tumbal nya.Warga desa hidup dengan tenang dan bisa bersantai.
Biasanya saat senja mulai tiba, para warga sudah masuk ke dalam rumah masing-masing dan menutup semua pintu.Tapi tidak untuk saat ini,mereka mengobrol di ambin rumahnya dan menikmati kopi.
"Alhamdulillah,kita bisa hidup tenang sekarang."ucap seorang pria paruh baya,setelah meneguk kopi yang mulai tinggal setengah itu.
Pria yang duduk didepannya mengangguk dan menyahuti perkataannya."Benar sekali perkataan paman,akhirnya kita bisa hidup dengan tenang.Awal nya aku sangat takut tinggal didesa ini,tapi lama-kelamaan akhirnya rasa takutku berubah menjadi terbiasa.Dan syukur alhamdulilah,semoga setelah ini tidak ada masalah apapun lagi."
"Amiinn. Semoga saja tidak ada kejadian-kejadian yang mengerikan lagi."
Semua orang yang berada disana ikut mengaminkan perkataan pria kedua yang berkata tadi.Senja pun mulai tiba dan warga yang tadinya duduk nongkrong di ambin tetangganya.Mereka pulang ke rumah masing-masing dan mulai bersiap-siap untuk berangkat ke surau.
Anak-anak pun sudah bersiap-siap berangkat ke surau,karena mereka akan mengaji setelah shalat maghrib.Yang mengajari mereka mengaji adalah ustadz Mirza.
Matahari pun mulai tenggelam dan ustad Mirza selaku kaum mesjid sudah mengaji di surau.Dia menggunakan mic dan suaranya terdengar jelas.Suaranya yang melantunkan ayat suci Al-Qur'an terdengar begitu merdu.
Anak-anak yang berumur lima tahun hingga dua belas tahun berangkat dari rumah menuju ke surau bersama-sama.Mereka berjalan beriringan melewati rumah warga.
Saat mereka tiba didekat surau,mereka masing-masing mengambil air wudhu.Dan setelah itu mereka masuk ke dalam surau.Namun,salah seorang dari mereka berjalan paling belakang menghentikan langkahnya.
Anak itu mendengar suara lirih dibelakangnya.
"Tolooonnngggg arrhhhhhh........"
Seketika saja anak itu langsung memegang tengkuknya dan menoleh ke belakang dengan pelan.Dia tidak melihat apapun,kemudian dia berbalik lagi ke depan dan berjalan.Baru dia langkah, dia kembali lagi mendapat bisikan.
"Tolong akuuuuuu......... Panassssss."
Anak itu kembali melirik ke belakang dan dia melihat sosok yang wajah nya sangat menyeramkan.Wajah itu seperti habis terbakar dan darah nya meleleh di wajahnya yang gosong sebelah.
Tanpa berpikir panjang,anak itu langsung berlari memasuki surau dengan napas terengah-engah.Ustadz Mirza dan yang lainnya memandang lekat ke arahnya dengan tatapan penuh tanya.
"Ada apa Dani? Kenapa berlari seperti itu saat masuk ke dalam surau.Seharus nya kau berdoa terlebih dahulu."ucap Abang dari anak yang bernama Dani itu
"Maaf,aku lupa bang.Soalnya aku tadi melihat hantu,jadi aku tidak sempat membaca doa saat akan masuk ke surau."ucapnya setelah mengatur nafas perlahan
"Ahh masa iya, sore-sore begini ada hantu."ucap Hamzah, bocah yang bertubuh gendut
"Aku berkata benar dan jujur."ucap Dani dengan serius
"Mungkin kau cuma halusinasi saja."ucap Hasan,si Abang Dani
"Aku tidak berhalusinasi bang."ucap Dani dengan nada meyakinkan
"Aku tidak percaya."bantah Hamzah
Melihat Abang dan teman-temannya tidak percaya,Dani seketika kesal."Yasudah kalau kalian tidak percaya,jika kalian melihat langsung.Mungkin kalian akan percaya dan ketakutan.",ucap Dani dengan nada kesal
"Sudah yaa anak-anak,waktu maghrib sudah tiba.Siapa yang mau azan hari ini?"tanya ustadz Mirza
"Aku ustadz."ucap Hasan
"Aku saja ustad."ucap Reza
"Ilham saja ustadz."ucap Ilham yang masih berusia delapan tahun
Ustadz Mirza memandangi semua anak-anak itu,dan dia melihat Dani yang masih diam.Anak itu masih kesal dengan teman-temannya.Mereka tidak mempercayai perkataan nya,padahal dia berkata jujur.Ustadz Mirza pun memanggil namanya dan menyuruh anak itu azan.
"Dani,hari ini mau azan tidak?"tanya Ustadz Mirza pada bocah yang berusia Sepuluh tahun itu
"Lho,kok aku ustadz?"tanya Dani dengan heran sambil menunjuk ke arah dirinya
__ADS_1
"Memang nya,kau tidak mau azan?"ustadz Mirza balik bertanya
"Mau,tentu saja aku mau Ustadz."ucap Dani dengan semangat,lalu dia berdiri dan menuju ke mimbar serta mic.Kemudian dia mengumandangkan azan,dan suara anak itu sangat bagus.
Setelah azan selesai,Dani pun langsung mengumandangkan Iqamah.Shalat Maghrib pun dipimpin oleh ustadz Mirza.Jamaah hari ini lumayan banyak,tiga barisan shaf terlihat penuh.Baik itu anak-anak maupun orang tua.Dan baik pria maupun wanita.
___
Dikediaman Ibrahim,dua orang pria yang berbeda usia itu sedang duduk berhadapan.Dan seperti nya pembahasan mereka sangat serius dan penting sekali.
"Ayah,aku menemukan satu fakta tentang desa tempat Fandi dan ibu tinggal."ucap seorang pria yang tidak lain adalah Jefri,paman Argana.
Sedangkan pria yang dia panggil nya ayah itu mengerutkan keningnya.Lalu dia bertanya."Apa itu?"tanya nya
"Ternyata Fandi di fitnah dan pelakunya adalah ayah dari wanita yang dicintai oleh Argana."ucap Jefri dengan menghela nafas berat
"APA?"ucap Ibrahim dengan nada tinggi,lalu dia kembali menyahut."Bagaimana mungkin bisa seperti ini.Apakah Argana tahu siapa yang menjadi penyebab kedua orang tuanya meninggal?"tanya Ibrahim pada putranya itu
"Aku rasa,dia tidak tahu ayah.Seandainya Argana tahu fakta sebenarnya,entah bagaimana perasaannya.Bahwa gadis itu adalah anak dari dalang dari peristiwa yang menyebabkan kematian orang tua nya.Mungkin perasaan Argana akan hancur."ucap Jefri dengan pelan,namun masih bisa didengar oleh ayahnya
"Ehh tunggu sebentar,aku juga mendapat info.Jika warga desa itu mendapatkan teror dan balas dendam arwah Arum.Banyak warga yang terlibat tewas,karena arwah Arum menuntut balas."ucap Jefri lagi
"Apakah kau yakin dengan info itu Jef?"tanya ayah nya Jefri
"Entah lah,aku juga bingung Yah.Jika itu benar,lalu siapa yang melakukan balas dendam itu?"ucap Jefri dengan pikiran berkecamuk
"Pasti orang terdekat nya yang bisa melakukan itu."ucap Ibrahim
Setelah itu,ayah dan anak itu saling menatap.Kemudian mereka berucap bersamaan.
"Mungkin kah pelakunya paman Johan?"
"Mungkin kah pelaku nya Johan?"
"Kita tidak bisa menyalahkan paman Johan,Ayah.Sebagai orang tua,pasti dia sakit hati.Anak semata wayangnya harus tewas secara mengenaskan."begitulah yang Jefri ucapkan
"Kau benar Jef,aku mungkin akan melakukan hal yang sama jika aku tahu dari awal."ucap Ibrahim dengan emosi tertahan."Sepertinya,aku akan menemui Johan dan bertanya yang sebenarnya kepadanya."ucap Ibrahim
"Itu ide bagus,ayah."ucap Jefri dengan senang
"Aku tidak sabar rasanya untuk berjumpa dengan Johan,dan menanyakan hal yang sebenarnya."ucap Ibrahim
"Sebaiknya,ayah hubungi dia terlebih dahulu dan membuat janji bertemu."uca Jefri memberi saran,Ibrahim menuruti apa yang putra nya katakan.Lalu dia mengambil ponselnya,dan menelpon nomor Johan.
Tidak lama kemudian, panggilan telepon dari Ibrahim langsung di angkat oleh Johan.Dan mereka mengobrol dan merencanakan pertemuan untuk besok di sebuah restoran.Dan Johan mengiyakan ajakan Ibrahim untuk bertemu.
"Bagaimana ayah?"tanya Jefri
"Dia menyetujui."ucap Ibrahim
*********
Malam semakin dingin,padahal baru selesai shalat isya dan pukul delapan malam.Dan langit mulai gelap karena hujan akan segera turun.Tidak ada cahaya dari bintang atau rembulan sedikit pun.Yang ada hanya kegelapan dan bunyi jangkrik yang bersahutan dengan kodok.
Saat semua orang akan turun dan pulang, tiba-tiba hujan turun.Mereka pun menghentikan langkah untuk pulang dan masuk kembali ke dalam surau.
"Wah, Seperti nya malam ini hujan nya lebat sekali ustadz.Bagaimana kita akan pulang jika hujan begini?"ucap Alvin,teman Abang nya Dani
"Kita tunggu saja sampai hujan nya mereda,jika satu jam lagi tidak berhenti.Dengan terpaksa,kita akan pulang atau menginap di surau."ucap Ustadz Mirza
"Benar sekali perkataan ustadz Mirza."ucap Dani
__ADS_1
"Tapi,jika kita menginap disini beserta anak-anak ini.Pasti orang tua mereka akan khawatir."ucap seorang pemuda yang tidak lain adalah Farisham
"Lalu bagaimana? Mau tetap pulang atau tinggal di surau?"tanya Ustadz Mirza pada mereka semua
"Pulang saja Ustadz,kami tidak ingin membuat ibu dan bapak kami khawatir."ucap Dani mewakili teman-temannya
"Baiklah. Jika itu yang kalian inginkan."ucap ustadz Mirza
Dan mereka sepakat untuk menunggu hujan sampai reda.kira-kira satu jam sudah setelah pembicaraan tadi,namun hujan tetap saja masih mengguyur desa beringin.Namun tidak selebat hujan pertama kali turun tadi.Hanya tinggal rintik-rintik hujan saja.
"Ayo kita pulang,kita akan mengantarkan kalian ke rumah masing-masing,dengan urutan rumah yang terdekat terlebih dahulu."ucap Ustadz Mirza
Lalu mereka turun dan berjalan beriringan,mereka hanya mengantar sampai depan rumah.Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan,begitu tiba didepan rumah anak-anak itu.Sehingga saat ini sisa dua orang anak saja yang belum tiba dirumah nya.Mereka adalah Dani dan Hasan.
Sedangkan Ustadz Mirza dan Farisham masih berjalan beriringan mengantar Abang dan adik itu.Dan kebetulan sekali rumah Farisham dan rumah ustadz Mirza tidak begitu jauh.Dan itu mempermudah perjalanan mereka.
Saat tinggal sepuluh langkah lagi tiba didepan rumahnya.Dani merasa seperti diawasi oleh seorang lalu dia merapat ke tubuh abangnya.
"Kau kenapa Dan?"tanya Hasan pada adiknya
"Seperti ada yang mengawasi kita bang."bisik Dani
"Siapa mengawasi kita? Dan dimana ?"tanya Hasan sambil berbisik pada adiknya
"Coba Abang menoleh ke arah pohon pisang yang ada di samping kiri rumah kita."ucap nya pelan
Hasan pun segera menoleh dan dia sangat terkejut.Dia melihat sosok pocong dengan wajah hancur penuh belatung.Sosok itu menatap ke arah nya dan seketika saja dia langsung menunduk.
Melihat ekspresi Abang nya,Dani langsung berbisik."Abang lihat apa?"tanya Dani yang penasaran,padahal dia sudah melihat sosok pocong itu.Dan dia berharap,semoga itu cuma halusinasi nya saja.
"Abang melihat ada pocong yang wajahnya hancur."bisik Hasan
"Hah? Ternyata Abang melihat juga?"tanya nya dengan pelan
"Iya."
Ustadz Mirza dan Farisham melihat kakak beradik itu saling berbisik-bisik dan berpelukan erat.Entah apa yang mereka bicarakan,mereka berdua tidak akan mengganggu kedua anak itu.
Saat tiba didepan rumah mereka,Hasan meminta Ustadz Mirza dan Farisham untuk mengantar mereka langsung ke rumah.Takutnya,setelah mereka pergi.Orang tuanya sudah tidur dan tidak membukakan pintu.Sangat bahaya,begitulah pemikiran Hasan dan adiknya
"Assalamualaikum."ucap Ustadz Mirza dan yang lainnya
Tidak lama kemudian,pintu rumah terbuka.Terlihatlah ayah dan ibu dari kedua anak itu dibalik pintu.Ternyata mereka belum tidur,memang benar jika mereka belum tidur.Karena mereka masih menunggu kepulangan kedua anak nya.
"Waalaikumsalam."ucap kedua pasangan suami istri itu
"Maaf mengganggu waktunya pak Jalal,kami hanya mengantarkan Hasan dan Dani."ucap Ustadz Mirza
"Terimakasih Ustadz Mirza dan nak Farisham,maaf telah merepotkan kalian."ucap kedua orang tua Hasan dan Dani secara bersamaan
"Tidak merepotkan pak Bu,kalau begitu kami pamit pulang. Assalamualaikum."ucap Ucap Farisham
"Waalaikumsalam."ucap satu keluarga itu
"Terimakasih Ustadz."
"Terimakasih bang Farish."
Ucap kakak dan adik itu,lalu mereka dengan cepat masuk kedalam rumah.
*********
__ADS_1
BERSAMBUNG