
...***...
Saat jam istirahat. Di atas atap gedung sekolah.
"Hei, yuuto. Kau sudah tau siapa aku kan?." Mikoto ingin memastikan bahwa Yuuto sekarang sudah tau tentang dirinya.
"Um." Yuuto menganggukkan kepalanya pertanda bahwa ia memang tahu.
"Jadi apa yang akan kau lakukan yuuto?." Mata Mikoto terlihat sedih. Jadi Yuuto sudah tau siapa dirinya?.
"Hei, mikoto kun. Apakah kau lupa apa yang aku katakan malam itu?." Yuuto tersenyum lembut pada Mikoto, ia mengingat kembali percakapan mereka malam itu.
Mikoto menatap mata Yuuto yang begitu tulus padanya. itu membuatnya tersentuh, hingga ia menganggukkan kepalanya. "Haik. Aku akan menjadi temanmu, sampai akhirnya kita terpisahkan karena dendam yang aku rasakan terbalaskan dengan baik." Mikoto tentunya mengingat semua apa yang dikatakan oleh Yuuto padanya.
"Apa kau yakin yuuto?. Aku ini roh jahat. Kau aku kendalikan, dan melakukan perbuatan jahat." Mikoto mengatakan kebenarannya, jika ia adalah sosok roh gentayangan yang membawa dendam dimasa lalu.
"Um, wakaru. Aku tahu itu mikoto kun." Lagi, Yuuto menganggukkan kepalanya. Mikoto tidak percaya jika Yuuto tahu dirinya.
"Lalu kenapa kau tidak mengatakan padaku?. Kapan kau menyadarinya yuuto?." Dengan herannya Mikoto bertanya seperti itu.
"Gomen mikoto kun." Yuuto tersenyum kecil menatap Mikoto, ia juga tidak tahu harus berkata jujur pada Mikoto.
"Aku baru menyadarinya semalam, juga saat bertemu dengan pendeta itu. Apalagi saat aku muntah darah. Aku menyadari ada sesuatu yang aneh padaku. Juga saat teman sekelas mengatakan, kalau aku berbicara sendirian." Lanjut Yuuto sambil menyentuk bahu Mikoto.
__ADS_1
"Lalu apa yang akan kau lakukan, setelah mengetahuinya yuuto?." Mikoto takut jika Yuuto akan mengusirnya dengan meminta bantuan pada Pendeta tua itu.
"Daijobu. Kita akan menjadi teman sampai akhir. Aku justru berterima kasih padamu mikoto kun. Kau adalah teman pertamaku, jadi kau tidak perlu takut." Yuuto sangat yakin dengan ucapannya, bahwa ia tidak menyesali apa yang menjadi keputusannya.
"Arigatou yuuto." Mikoto terharu dengan ucapan Yuuto, jadi Yuuto menerima apa yang ia lakukan pada Yuuto.
"Tapi kenapa?. Tubuhmu tidak akan kuat menampung roh jahat seperti ku." Mikoto ingin tahu, kenapa Yuuto mau begitu saja diajak berbuat kejahatan?.
"Bagiku kau adalah temanku, entah itu roh jahat atau manusia jahat sekalipun." Jawab Yuuto tersenyum kecil.
"Mungkin tanpamu aku tidak akan bisa melangkah sejauh ini, mikoto kun. Arigatou, meski tanganku telah dilumuri oleh darah. Setidaknya aku tahu, kalau kau melakukan itu demi dirimu dimasa lalu, juga diriku dimasa ini." Tidak masalah bagi Yuuto. Toh ia telah terlanjur jatuh ke lubuk kubangan kejahatan. Jadi tidak perlu takut, apalagi menyesali apa yang terjadi.
"Mereka pantas menerimanya, mikoto kun. Perasaanku dan perasaanmu sudah terhubung, sejak aku menggunakan seragam yang diberikan hase sensei padaku." Lanjut Yuuto, ia tanpa ragu, ia percaya jika Mikoto hanyalah bagian masa lalu yang tidak boleh ia abaikan begitu saja. Ia tahu itu salah tapi bagian dirinya yang lain menginginkan balas dendam yang sama dengan Mikoto.
"Ya, kau benar. Karena itulah mikoto Kun, kau mau kan?. Berteman denganku hingga akhir, kan?." Yuuto tidak akan menyesali apa yang ia lakukan hari ini, meski bayarannya adalah sebuah nyawa manusia.
"haik. Tentu saja yuuto. Sebab kau adalah bayangan masa lalu ku. Jadi aku pasti akan memenuhi apa yang kau inginkan. Justru aku lah berterima kasih padamu, yuuto." Mikoto sangat senang mendengar apa yang dikatakan oleh Yuuto. Ia tidak melihat keraguan dari Yuuto, perasaan alami dari Yuuto menyatu dengan dirinya yang kini hanyalah sebuah roh penasaran.
Janji mereka telah terikat, mereka telah membuat janji dengan orang yang telah mati, tidak bisa lepas lagi. Dan Yuuto telah membuat keputusan besar di dalam hidupnya. Mengikat janji dengan roh gentayangan memiliki risiko, jadi jangan salahkan mereka jika tubuhmu juga akan rusak nantinya.
...***...
Pukul 17.30 Yuuto baru saja hendak meninggalkan gerbang sekolah, namun langkahnya terhenti saat suara seseorang memanggilnya dengan suara keras.
__ADS_1
"Yuuutoooooo." Ia berlari dari dalam gedung sekolah, terlihat dari raut wajahnya, keringat membasahi pelipisnya. Ada raut wajah cemas dari dirinya.
"Oo natsume sensei." Yuuto melihat guru UKS nya dengan keadaan kacau, apa yang terjadi pada gurunya ini?.
"Hei, yuuto. Tolong hentikan apa yang kau lakukan. Aku mohon padamu yuuto." Natsume Sensei tidak tau harus berbuat apalagi, tapi ia harus mengatakan pada Yuuto apa yang ia lakukan itu salah.
Yuuto tersenyum lebar mendengarkan nasihat Natsume Sensei, entah kenapa ucapan itu menggelitiki perutnya hingga ia ingin tertawa.
"Natsume Sensei. Apakah anda berpikir siapa yang menuntun aku berbuat jahat?." Yuuto kali ini sangat sadar dengan ucapannya, Mikoto masih berdiri di sampingnya. Mikoto tidak mengambil alih tubuhnya, ia benar-benar sadar dengan ucapannya.
"Hampir tiga tahun aku disini, apakah anda sudi melihat diriku, yang bertahun-tahun menanggung rasa sakit sendirian?. Tidak!. Kau hanya mendengar tanpa menghentikan apa yang mereka lakukan padaku." Tatapan sedih itu, seakan membuka luka lama yang tak seharusnya ia katakan pada Natsume Sensei.
"Apakah anda bersimpati pada saya meski sedikitpun?. Tidak, ibu, guru natsume sensei." Ucapnya lagi dengan mengeja nama Natsume Sensei, ia seakan sengaja memanggilnya seperti itu.
Hati Natsume Sensei bergetar sakit, inikah hukumannya? Inikah yang ia dapatkan atas dosanya di masa lalu. "Tapi yuto." Natsume Sensei masih belum juga mengakuinya, Natsume Sensei masih menepis kejadian masa lalunya. Tapi kehadiran Yuuto adalah suatu bukti kebenaran kesalahan masa lalunya yang sangat pahit.
"Gomen Sensei, sepertinya aku harus cepat pergi. Ada pekerjaan penting yang harus aku lakukan, jaa." Yuuto pergi meninggalkan Natsume Sensei yang kehilangan kata-kata nya. kepalanya terasa pusing memikirkan cara, bagaimana ia harus bertindak?. Haruskah ia mengakui semuanya pada Yuuto?. Tapi hatinya berat melakukan itu.
Ia berat mengakui siapa Yuuto, karena luka lama itu. Masih sakit dan membekas di dalam hatinya, hingga ia terpaksa melakukan itu pada Yuuto, sebagai ungkapan rasa kecewanya pada orang itu.
"Natsume Sensei?." Dari arah belakang, suara Hase Sensei terdengar cemas melihat kondisi Natsume Sensei. Apa yang terjadi padanya?.
Bagaimana tanggapan darinya?. Next.
__ADS_1
...***...