
"Kenapa Takeshi gak kesini?"tanya Shifana yang sedang disuapi sang kakek
"Dia sedang menghadiri pernikahan sahabatnya."ucap pria bernama Edrick itu
"Pernikahan? Siapa yang menikah?"tanya Shifana lagi
"Itu…. Yang namanya…eemm…siapa yaa?? Aku lupa. Ahh iya,pemuda yang bernama Argana."ucap Edrick
"Arga menikah? Dengan siapa kek?"tanya Shifana,dia sangat syok mendengar perkataan sang kakek.
Pria yang selama ini dia cintai,kini menikah? Ahh, apakah ini hanya mimpi? Jika dia benar menikah? Siapa kah gadis beruntung itu? Itulah yang berkecamuk dalam benaknya
"Kata nya dia menikah dengan seorang gadis yang berasal dari desa beringin."ucap Edrick lagi
"Kapan acaranya?"
"Besok pagi dia menikah dan siang nya dia akan mengadakan resepsi. Kenapa?"tanya Edrick setelah melihat ekspresi salah satu cucu kesayangannya
"Pantas saja mereka tidak ada disini."gumam Shifana sendu,Lalu dia menatap sang kakek."Ahh tidak apa-apa,aku hanya bertanya saja kek."ucap Shifana
"Kau mau pergi kesana?"tanya Edrick
Namun bukan nya sahutan yang dia terima,tapi kesunyian yang ada.Dia melihat wajah cucu nya itu murung dan lesu,setelah dia mengatakan jika cucu Johan akan menikah.Apakah cucunya ini jatuh cinta pada pemuda itu dan bertepuk sebelah tangan? Jika iya, sungguh kasian sekali.
"Shifana."panggil Edrick,gadis itu menoleh pada sang kakek. "Ada apa kek?"tanya gadis itu
"Kau mau pergi tidak?"tanya Edrick lagi
"Pergi kemana?"Shifana membalas bertanya
"Ke pernikahan sahabatnya Takeshi,bukan kah pemuda yang menikah itu juga teman mu."ucap Edrick sambil menatap lekat wajah cucunya
"Kami memang berteman,tapi tidak terlalu dekat."sahut Shifana sambil menatap ke arah lain
"Benarkah?"tanya Edrick
"Iya."sahut Shifana dengan singkat
"Bukan karena mencintai nya kan?"ucap Edrick
Mendengar pertanyaan sang kakek,sontak saja Shifana yang sedang menunduk itu menoleh.Dia menatap sang kakek dengan lekat.
"Kenapa kakek berkata seperti itu?"tanya nya dengan gugup
"Cuma bertanya saja."ucap Edrick acuh tak acuh
Shifana menghela nafas,namun dia kembali dengan berdiam diri.Sedangkan Edrick terus mengamati wajah cucunya itu,tidak salah lagi.Cucu kesayangannya itu benar-benar menyukai cucu teman nya.Tapi sayang, cucunya hanya bertepuk sebelah tangan.
Edrick masih ingat,jika Johan dan Ibrahim mengundang nya ke pernikahan cucu mereka.Dua pria tua itu memang temannya,dan dia akan datang besok.Tapi, bagaimana dengan cucunya ini? Harus kah dia meninggalkan nya,sementara gadis kecilnya ini sedang patah hati.Akan tetapi,jika dia tidak hadir di pernikahan cucu temannya.Apa kata mereka nantinya.
Sungguh,Edrick sangat dilema.
"Shifana,kakek besok akan pergi ke desa beringin.Karena teman Takeshi itu merupakan cucu dari teman kakek.Jadi,kakek akan pergi besok.Apakah kau mau ikut kesana?"ucap Edrick mengajak Shifana
Shifana menoleh,"Apakah aku bisa pergi kesana?"tanya gadis itu bimbang
"Bisa."ucap Edrick
__ADS_1
"Benarkah?"ucap Shifana dengan sumringah
"Iya sayang."sahut Edrick senang,karena cucunya mulai tersenyum
"Beristirahat lah,supaya besok kita bisa berangkat lebih awal."ucap Edrick sambil menatap lembut cucunya.Gadis itu dengan cepat mengangguk dan merebahkan tubuhnya.
Edrick pun duduk di sofa,dia pun merebahkan tubuhnya.Kemudian dia memejamkan matanya,hingga dia pun terlelap.
*********
Mentari pagi telah menyapa,bahkan tetesan embun seakan menyejukkan kalbu.Namun, kesejukan itu hanya hadir sementara.Jika habis pun akhirnya tiada bersisa.
Didalam kamarnya,Yasmin sudah memakai baju kebaya yang berwarna putih nan suci.Dan wajahnya pun sudah di dandani oleh seorang perias yang berada didesa nya ini.
Walaupun sudah berusia setengah abad, namun wajahnya tidak menampakkan penuaan.Jika dilihat,dia seperti berusia tiga puluh lima saja.Orang-orang pasti tidak ada yang mengira jika umurnya sudah tua.
Hasil dandanan nya pun tidak kalah dari seorang perias terkenal.Kenyataan nya adalah jika sang perias sendiri memakai ilmu kecantikan.Karena itu sudah menjadi kebiasaan turun temurun dalam keluarganya,jika ingin menjadi seorang perias pengantin.
Seharusnya hari ini Yasmin bersemangat,karena sebentar lagi akad akan segera dilaksanakan.Namun dia malah menjadi gelisah.Karena tidak tahan berdiam diri, akhirnya Yasmin menyuruh adik nya mencari bapak nya.Saat Farisham mencari bapak nya,dia menemukan pria itu.Bapak nya sedang mengobrol dengan para kerabatnya.
"Bapak."panggil Farisham lembut setelah berada disisi bapak nya
Bima menoleh,dan menyahut."Ada apa Faris?"
"Kak Yasmin memanggil bapak, katanya ada yang ingin dibicarakan."ucap pemuda itu
"Baiklah,katakan padanya.Sebentar lagi aku akan menyusul."ucap Bima,dan Farisham hanya mengangguk
Setelah Farisham pergi dari hadapan Bima.Bapak nya Yasmin berkata pada kerabat nya."Aku permisi dulu yaa, sepertinya ada hal penting yang ingin dikatakan putri ku itu."ucap Bima,lalu dia pergi meninggalkan mereka semua
"Benar sekali perkataan si Yanto hahaha.Anak zaman sekarang,cepat sekali merindu.Sehari saja tidak bertemu,katanya bisa mati.Sungguh aneh pula anak zaman sekarang."ucap pria disebelah Yanto,pria ini bernama Surya
"Ahh kau ini Sur, seperti tidak pernah muda saja.Padahal kau juga begitu sewaktu ingin bertemu dengan Zulaikha."timpal Ridwan teman akrab Surya
"Hahaha itu kan beda lagi zaman nya."ucap Surya sambil tertawa
"Hahaha kau ini sungguh pembual Sur."ejek teman-temannya
Sementara itu,Bima masuk ke dalam kamar Putri nya.Lalu dia melihat putri sulungnya itu sedang berdiri kesana kemari karena gelisah.
"Yasmin."panggil Bima,gadis itu pun menoleh dan mendekati nya."Pak, bagaimana ini.Aku takut sekali."ucap Yasmin dengan panik
"Kau kenapa Yasmin? Apa yang membuat kau takut?"tanya Bima beruntun
"Aku takut,jika bang Arga atau keluarganya tahu.Jika bapak dalang dari tewas nya orang tua bang Arga.Aku takut jika dia tahu,dan membatalkan pernikahan kami.Dan aku juga takut jika keluarganya tahu,mereka pasti tidak akan tinggal diam."ucap Yasmin dengan ekspresi ketakutan
"Kau tidak perlu khawatir Yasmin,tidak ada orang yang tahu jika aku pelaku sebenarnya.Kau fokus saja dengan pernikahan mu."ucap Bima dengan santai
"Tapi pak…..?"ucap Yasmin terhenti,karena bapak nya dengan cepat memotong perkataan nya."Tidak perlu khawatir, cukup fokus dan tenangkan dirimu.Sebentar lagi kau akan menikah Yasmin,jadi nikmati saja kehidupan mu."ucap Bima
Lalu Bima meninggalkan putri nya itu dan keluar dari kamar.Saat keluar dia terkejut dengan pemuda dihadapan nya.
"Apa yang kau lakukan disini?"tanya nya
*********
Dirumah pak kades,Argana sudah siap dengan stelan putihnya,senada dengan warna pakaian Yasmin.Dia pun membawa cincin pernikahan dan mahar untuk Yasmin.Gadis itu meminta mahar berupa kitab suci Al-Qur'an saja.Dia tidak menginginkan hal yang lain.
__ADS_1
Awalnya, bapaknya Yasmin tidak mau dengan maharnya itu.Tapi,Yasmin bersikeras ingin meminta mahar kitab suci Al-Qur'an saja.Akhirnya bapaknya Yasmin pun mengalah dan menuruti keinginan putrinya.
Semua keluarganya sudah siap dan menunggu Argana diluar.Pemuda itu menuju ke luar rumah dan menemui semuanya.
"Wah,ganteng banget elu Ga.Gak nyangka gua."ucap Marcelian
"Baru nyadar elu,kalau gua ganteng."sahut Argana bercanda
"Widih,yang sekarang mulai percaya diri dengan kegantengan nya sendiri.Biasa nya suka insecure."sahut Takeshi menimpali dengan candaan juga
"Bagus dong,jika Argana percaya diri karena ganteng.Kan memang fakta jika dia ganteng."Sahut Johan ikut berkata dan merangkul cucu kesayangannya ini
"Benar yang diucapkan Johan,jika Argana memang ganteng.Dia sangat mewarisi seluruh wajah putraku."ucap Ibrahim dengan percaya diri
"Dia juga mewarisi kemiripan dengan putriku."ucap Johan dengan tegas
"Tapi lebih banyak kemiripan dengan Fandi putraku."balas Ibrahim tak kalah tegas
Jefri yang melihat sikap ayahnya terlalu kekanak-kanakan hanya menghela nafas.Sedangkan Marcelian dan Takeshi hanya bisa diam,setelah dua pria tua itu berdebat.
Karena asik berdebat,mereka tidak menyadari kedatangan seorang pria yang merupakan teman mereka berdua.
"Hei para tua bangka, berhentilah berdebat.Kalian hanya buang-buang waktu."omel pria itu dengan tegas
"DIAM KAU."ucap Johan dan Ibrahim bersamaan membentak pria yang berbicara tadi.Lalu mereka kembali berdebat.
"Ka-kau……berani sekali kalian membentak ku."ucap pria itu dengan hati dongkol,dia pun memijit pelipisnya.Tidak biasanya Johan berdebat dengan Ibrahim.Biasanya dia paling tidak suka berdebat,jika pun berdebat hanya dirinya dan Ibrahim saja.
Argana yang sekarang berada diantara dua kakek nya yang sedang berdebat.Hanya bisa geleng-geleng kepala dan akhirnya dia berkata."Sudah yaa kek,aku mirip dengan ayah dan ibu kok.Lihatlah wajah ku sekarang.Bukan kah kakek Johan pernah mengatakan,jika mata dan bentuk hidung ku seperti ibu.Sedangkan wajah dan perawakan mirip dengan ayah.Bukan kah sudah adil?"tanya Argana pada kedua pria yang tidak lagi muda itu
Dua pria yang tadinya asik berdebat kini terdiam dan menatap wajah Argana.Argana yang dipandang pun menjadi salah tingkah,namun dia berusaha tenang.
"Benar sekali perkataan mu nak."ucap Johan
"Memang benar-benar pemuda yang adil sahabat kita ini,Cel."ucap Takeshi
"Iya bro,cocok banget kalau jadi pahlawan."ucap Marcelian asal
"Maksud lu apaan? Apa hubungannya Argana sama pahlawan?"tanya Takeshi bingung
"Mereka sepupu."ucap Marcelian lagi
"Bacot lu kagak lucu dan gak jelas"gerutu Takeshi
"Hahaha."gelak tawa Marcelian membuat hati Takeshi makin dongkol.Namun Alifa lewat dihadapannya,hatinya langsung berbunga-bunga.
"Hai."sapa Takeshi pada gadis itu,gadis itu tidak menyahut.Namun dia membalas sapaan Takeshi dengan senyuman.Senyuman gadis itu membuat Takeshi terbuai dalam angan.
Setelah gadis itu lewat, Takeshi bergumam."Cantik dan manis sekali senyumannya."
"Cepat lamar dia atau gua duluan lamar dia."bisik Marcelian ditelinga Takeshi.Takeshi pun langsung menoleh dan menatap Marcelian dengan sinis."Berisik lu,awas aja kalau elu nikung gua.Tamat riwayat elu."ucap Takeshi dengan mengancam
Lalu gelak tawa Marcelian kembali terdengar.Tidak menunggu lama lagi,mereka pun berangkat ke rumah Yasmin.Karena sebentar lagi akad pernikahan Argana dan Yasmin akan segera dimulai.
*********
BERSAMBUNG
__ADS_1