DENDAM YANG MEMBARA

DENDAM YANG MEMBARA
CHAPTER 37


__ADS_3

...***...


Hase Sensei masih mencoba untuk membujuk Yuuto untuk mengatakan yang sebenarnya, sehingga hari ini ia masih meminta izin pada sekolah agar bisa merawat Yuuto. Akan tetapi Yuuto masih enggan untuk menceritakannya pada Hase Sensei mengenai apa yang telah menyebabkan dirinya melakukan itu semua?.


"Jika alasan kau di-bully?. Sehingga kau melakukan itu?. Maka aku akan melindungi mu yuuto." Dengan perasaan sedih Hase Sensei mencoba untuk membujuk Yuuto. "Kau harus bisa menarik dirimu dari hase kun adikku. Kau harus memutuskan kontrak itu!. Supaya kau tidak celaka nantinya." Entah bagaimana caranya ia mengatakan pada siswanya itu agar tidak melakukan hal yang berbahaya seperti itu.


"Maaf hase sensei. Sebaiknya sensei jangan terlalu peduli padaku. Karena aku tidak akan memutuskan begitu saja kontrak yang telah aku buat bersama mikoto hase." Sepertinya Yuuto memang tidak peduli lagi dengan apa yang dikatakan Hase Sensei padanya.


"Aku mohon yuuto. Dengarkan apa yang aku katakan ini." Hase Sensei terus berusaha agar ia memenangkan hati Yuuto.


Sedangkan Yuuto belum menanggapi ucapan karena saat itu ia masih ingat bagaimana perlakuan mereka semua padanya. Bahkan ia ingat bagaimana perasaan dendam yang membara ketika ia telah mengenakan pakaian Mikoto Hase saat itu. Kembali Yuuto dan Mikoto seakan-akan tersedot ke dalam dimensi di mana keduanya melihat apa yang telah dilakukan Yuuto saat itu.


Deg!.


"Kita kembali melihatnya yuuto." Mikoto Hase melihat apa saja yang ada di depannya saat itu. Seakan-akan mereka sedang menonton bioskop yang sangat besar, di mana kator utamanya adalah Yuuto dan Mikoto?.


Yuuto tidak mengerti apa yang terjadi, namun saat itu ia merasa berada di tempat yang sangat aneh. "Mungkin itu hanya firasatku saja." Dalam hatinya mencoba meyakinkan kembali, bahwa tadi itu ia sedang berhalusinasi.


Setelah mengenakan pakaian yang diberikan oleh Hase Sensei, Yuuto menuju kelas, namun tanpa di sadari ada sosok tak kasat mata sedang mengekor di belakang Yuuto. Tatapannya begitu dingin dan menusuk, samar-samar Yuuto merasakan aura itu namun Yuuto mencoba mengabaikannya.


"Aku rasa ini adalah awalnya yuuto. Apa yang kau rasakan saat itu?." Mikoto memberikan pertanyaan pada Yuuto. "Yuuto. Aku sudah menunggu kesempatan ini, ayo kita balas semua perbuatan mereka padamu, juga padaku. Itu yang aku katakan saat itu." Lanjutnya.


Sosok itu tersenyum kaku dengan wajah pucat pasi, ia mengenakan seragam sekolah, sosok itu keluar dari tubuh Yuuto, sosok itu seakan perwujudan dari rasa sakit yang terlalu lama dipendam oleh Yuuto.


"Pada saat itu aku memang belum melihatmu mikoto-kun." Jawab Yuuto. "Tapi entah kenapa aku dapat merasakannya. Aku dapat merasakan dendam yang sangat membara dari dasar hatiku yang paling dalam." Lanjutnya.


"Benarkah?." Mikoto kembali bertanya. "Tapi kenapa kau sangat lama sekali menyadari keberadaan ku?." Mikoto Hase terlihat sangat jengkel dengan apa yang telah terjadi. "Kau benar-benar membuat aku putus asa. Apakah kau tidak menyadarinya?." Perasaannya saat itu memang sedang bergejolak.


"Itu karena saat itu hatiku sedang sangat kacau. Perlakuan mereka padaku sungguh menyakitkan hati." Balas Yuuto sambil menundukkan wajahnya. "Saat di kelas, siswa lainnya berbisik-bisik tentang diriku yang terlihat berbeda. Entah kenapa seperti itu yang terlihat pada diriku, namun saat itu sangat menyebalkan sekali. Hatiku ingin mengutuk mereka semua." Hatinya memang dipenuhi oleh dendam yang membara saat itu, sehingga ia tidak menyadari keberadaan Mikoto Hase saat itu.


"Lalu bagaimana pendapatmu tentang mikami nii?. Apakah dia cukup baik dengan membelamu saat itu?." Kembali Mikoto memberikan pertanyaan.


"Saat itu aku hanya tidak menduga saja, jika hase sensei adalah kakakmu. Dan dia sangat polos menurutku." Ucapnya dengan herannya.


"Baiklah!. Nanti saja bercerita-nya ya?." Ia mencoba untuk memulainya. "Apa yang terjadi pada mereka sebenarnya?." Ia merasakan ada intimidasi di kelas. "Baiklah. Nama saya hase mikami, saya baru saja ditugaskan di sekolah ini." Ia mencoba mengabaikan itu. "Saya sebagai wali kelas kalian." Ia mengamati mereka semua, termasuk Hasegawa Yuuto.

__ADS_1


Namun saat itu ia hanya melihat mereka semua sebagai siswa yang sangat penurut, seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa pada mereka semua. Sebagai seorang guru ia mencoba mengamati itu untuk pertama kalinya.


"Meski guru BK setidaknya ada beberapa mata pelajaran yang bisa saya kuasai. Seperti bahasa inggris sedikit, olahraga sedikit, musik juga lumayan, sejarah saya juga menguasainya sedikit. Jadi jangan sungkan untuk bertanya ya." Hase Sensei memperkenalkan dirinya dihadapan siswanya. Suaranya jelas dan lantang, membuat siswa memperhatikan dirinya dengan seksama sosok wali kelas baru mereka muda dan tampan. Akan tetapi bagaimana dengan tanggapan mereka semua pada saat itu?.


"Sensei, kalau sedikit sama saja bohong."


"Benar itu sensei. Kalau sedikit-sedikit sih kami juga bisa jadi guru dong?!."


"Ahaha!. Benar itu."


Mereka malah menertawakan Hase Sensei yang berkata seperti itu pada mereka?. Seolah-olah mereka memang menguasainya?. Bukan hanya itu saja, bahkan mereka berbisik sesama teman terdekat mereka.


"Gurunya kocak coy!."


"Mungkin baru jadi guru kali ya?."


"Ahaha!. Aku rasa juga seperti itu."


"Ahaha!. Pantesan lah?!."


Hingga suasana di kelas itu cukup ribut karena gunjingan mereka mengenai guru baru tersebut. Mereka tidak dapat menahan diri untuk tidak memberikan komentar yang pedas mengenai Hase Sensei.


"He?. Sensei sudah tahu namaku ya?." Ucapnya dengan nada kecewa, membuat yang lainnya makin tertawa.


"Apakah kau lihat itu?. Yuuto?. Memang benar yang kau katakan. Mikami nii memang sangat polos. Bahkan tanpa malu-malu ia berkata seperti itu. Bffhh!." Mikoto Hase mencoba untuk menahan tawanya saat itu. Sungguh, itu baginya sangat lucu yang sangat parah.


"Memang tingkat polos yang sangat parah, apalagi saat itu mengatakan jika dirinya kenal dengan semuanya karena ia adalah wali kelas." Yuuto menghela nafasnya dengan pasrah.


"Tentu aja dong. Saya kan wali kelasmu, ya taulah?." Hase Sensei tertawa geli melihat tingkah siswanya yang kecewa. Ia telah mempelajari sedikit tentang mereka.


Suasana kelas begitu adem dan bersahabat, namun berbeda dengan Yuuto. Ia hanya diam, hanya sesekali menanggapi ucapan Hase Sensei. Ia tidak begitu terlalu akrab dengan Gurunya terutama wali kelasnya.


"Namun saat itu aku sangat benci dengan apa yang katakan saat itu." Ucap Yuuto sebelum penglihatan mereka masuk pada tahan selanjutnya.


"Maksudmu pertanyaan siapa yang telah membully mu?." Mikoto mencoba menebak apa yang hendak dikatakan Yuuto.

__ADS_1


"Um." Yuuto hanya mengangguk saja.


"Oh ia, saya mau bertanya masalah tadi pagi. Kenapa kalian mengerjai teman kalian sampai seperti itu?." Hase Sensei langsung bertanya. Karena ia ingin melihat reaksi siswanya ini. Mereka semua hanya diam?. Apa karena guru baru, jadi Hase Sensei tidak bisa membaca suasana?. Umm mungkin saja begitu.


"Dengar ya?. Mengerjai teman sekelas itu tidak baik loh?. Itu sama saja dengan membully teman kalian sendiri, dan itu tidak lah baik." Hase Sensei memperingatkan mereka agar tidak melakukan kesalahan fatal untuk kedepannya. "Untung saja dia tidak apa-apa, kalau kena matanya?. Gimana?." Lanjut Hase Sensei sambil melihat ke arah Hasegawa Yuuto yang hanya diam menunduk. Namun belum ada reaksi dari siswa lainnya. "Apa kalian mendengarkan apa yang saya katakan?." Tanya Hase Sensei karena mereka hanya diam saja.


"Baik sensei." Koor mereka bersamaan dengan terpaksa, mereka hanya nurut saat ini juga, toh Hase Sensei pada akhirnya juga akan membenci Hasegawa Yuuto nantinya. Lihat saja kedepannya bagaimana, apakah gurunya itu akan berubah pikiran?.


"Yosh!!!. Ayo kita mulai pelajarannya."


Hase Sensei menerangkan pelajarannya dengan tenang. Ia menjelaskan secara detail pelajarannya, membuat mereka mengerti apa yang dijelaskan.


"Hase Kun bagaimana kalau kau jawab pertanyaan ini?." Ucap Hase Sensei sambil melihat ke arah Yuuto.


"Hase kun?. Bukan kah itu nama sensei?." Marina siswi yang di bangku paling depan tepat di depan Hase Sensei merasa aneh, masa menyebut dirinya?. Tentunya ucapan Marina membuat seisi kelas tertawa terbahak-bahak. Ini Sensei kenapa ya?. Setidaknya begitu yang ada dipikiran mereka?.


"Ya tidaklah. Saya memanggil hasegawa yuuto, karena nama kami sama. Jadi saya memanggilnya hase." Balas Hase Sensei dengan santainya. Ia belum mengerti situasi kelas yang sebenarnya. Siswa yang mendengarkan itu terdiam sejenak, jadi nama panggilan itu untuk hasegawa yuuto ya?.


Yuuto melihat sekelilingnya, mata mereka mengintimidasi dirinya, rasanya tidak nyaman, namun didalam dirinya ada sebuah dorongan kecil untuk menentang mereka.


"Yuuto, kau jangan takut, aku bersamamu." Tanpa disadari sosok yang membuntuti Yuuto berdiri di pojokan kelas, ia memperhatikan bagaimana Yuuto diperlakukan di kelasnya. Ada niatan kebencian di dalam hatinya, kenapa harus seperti ini?. Kenapa mereka begitu membenci kehadirannya juga kehadiran Yuuto?. Sedangkan Yuuto, ia berusaha bersikap tabah, Apa salah dirinya mencoba akrab dengan wali kelasnya?. "Bukankah kau sudah terbiasa diperlukan seperti itu hasegawa yuuto?." Dalam hatinya mencoba menguatkan dirinya. Rasanya sangat menyakitkan, dan sakit itu juga dirasakan oleh sosok yang memperhatikan Yuuto.


"Baiklah?!. Silahkan hase-kun." Perintah Hase Sensei.


Bukannya tidak merasakan apa yang terjadi di kelas, ia hanya mencoba mengamatinya terlebih dahulu. Hase Sensei hanya ingin tahu, kenapa yang tadi itu terjadi, dan mereka malah menertawakan Hasegawa Yuuto?. "Apa yang mereka lakukan sebenarnya pada yuuto?." Dalam hatinya merasa bingung dengan sikap mereka.


"Haik!. Hase sensei." Balasnya dengan suara pelan. Ia hanya menunduk karena takut dengan tatapan tajam dari mereka yang membenci dirinya. Hasegawa Yuuto menjawab dengan benar jawaban dari Hase Sensei.


"Kau sangat pintar sekali, yuuto. Sama seperti dirinya." Batin Hase merasa puas, dengan jawaban yang ditulis oleh Yuuto, ia melihat kemiripan Hase pada dirinya, membuatnya semakin merindukan sosok itu. "Yap!. Jawabannya benar sekali." Hase Sensei memuji apa yang dikerjakan oleh Yuuto, kemudian ia kembali memilih siswa lainnya untuk menjawab pertanyaan berikutnya.


"Rasanya aku tidak mau melihat adegan ini. Aku sangat malu sekali dipanggil hase kun oleh hase sensei." Ia sangat benci itu.


"Tapi aku melihatnya saat itu." Ucap Mikoto dengan senyuman kaku.


"Huufh!." Yuuto menghela nafasnya dengan lelahnya. "Kenapa aku malah melihat kembali adegan ini?." Dalam hatinya sangat curiga.

__ADS_1


Next halaman.


...*** ...


__ADS_2