
...**...
Hase Sensei bergerak menyelamatkan Hasegawa Yuuto karena dituntun oleh orang yang berarti dalam hidupnya. Seseorang yang mungkin tidak ingin orang lain mengalami nasib yang sama dengannya. Mungkin karena itulah alasan kenapa ia menuntunnya untuk pergi menyelamatkan Hasegawa Yuuto.
"Syukurlah dia baik-baik saja." Dalam hatinya ia merasa lega jika sosok itu menyelamatkan siswanya.
Jika tidak, akan ada berita heboh siswa meninggal di kamar mandi sekolah karena terkurung di kamar mandi yang berisi air melimpah. Itu sama saja dengan kejahatan, dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi. Ia harus mencari tau akar penyebab nya, dan ia pasti akan melindungi Hasegawa Yuuto dari bullying di sekolah ini.
Di bawah alam sadar Yuuto.
"Kau yang telah menyelamatkan aku?." Yuuto melihat remaja putra berdiri di hadapannya. Ia tersenyum lembut pada Yuuto, tapi tatapannya begitu kosong. "Apakah benar kau yang telah menyelamatkan aku?." Ia kembali bertanya.
"Umm." Ia menganggukkan kepalanya tanda benar. "Ya, memang aku yang telah menyelematkan dirimu." Ia hanya bisa tersenyum kaku. Namun suasana hatinya saat itu sangat senang luar biasa, karena akhirnya ia bisa bertemu dengan Hasegawa Yuuto. Ini adalah langkah awal baginya untuk melihat itu dari jarak dekat.
"Kau ini siapa kalau aku boleh tahu?. Dan ini dimana?. Kenapa kau menyelamatkan aku?." Ada banyak pertanyaan yang bersarang di kepalanya saat ini. Bukankah tadi ia terkunci di kamar mandi, ia hampir saja tenggelam?. Tapi kenapa ia bisa berada di ruangan putih ini bersama orang yang ia lihat dari sebelum airnya sampai di pinggangnya?.
"Kau akan tahu pada akhirnya, yuuto." Ucapnya dengan pelan, lebih tepatnya berbisik. Sebuah cahaya putih menyelimuti tubuh remaja putra itu. Membuat Yuuto menutupi matanya karena silau.
"Apakah kau tidak bisa memberitahu sekarang?." Yuuto sangat penasaran.
"Tidak perlu terburu-buru. Aku akan menjadi temanmu nantinya." Lanjutnya dengan senyuman kaku.
__ADS_1
"Teman?. Benarkah?." Yuuto hampir tak percaya.
"Ya." Balasnya. "Aku akan menjadi temanmu, hingga saat pada akhirnya kita bisa bertemu nantinya." Setidaknya tidaknya katakan pada saat itu.
Yuuto hanya duduk di sebelah pemuda itu, meskipun ia tidak mengerti siapa pemuda yang katanya akan menjadi temannya?. Tapi bagaimana mungkin itu bisa terjadi?.
"Yuuto kamu itu adalah bayangan masa lalu ku." Suara sayup itu akhirnya menghilang bersamaan dengan sosok remaja putra itu. "Kau adalah alat balas dendam yang sangat tepat, karena kau memiliki pengalaman hidup yang sama denganku." Menghilang entah kemana?. Pemuda itu menghilang entah kemana, hanya sisa Yuuto yang duduk terlelap di kursi itu. Namun yang pasti, perlahan ia membuka matanya, ia melihat sekelilingnya.
Rumah sakit kah?. Ya mungkin saja, sebab ketika ia melihat sekelilingnya ada pasien lainnya yang juga di rawat di sebelahnya?. Sepertinya Hase Sensei telah membawanya ke rumah sakit. Mungkin karena khawatir keadaan Hasegawa Yuuto yang belum juga sadarkan diri.
"Bagaimana mungkin aku bisa berada di sini?." Setidaknya itu yang ada di dalam pikirannya. Tubuhnya sudah terasa baikan, tidak terasa sakit lagi. Ia mencoba untuk duduk, namun ia terkejut saat ada Seseorang memeluk dirinya dengan erat.
"Syukurlah kalau kau sudah bangun hase-kun." Suaranya terdengar bergetar karena menahan tangisnya. Yuuto dapat merasakan kehangatan dari pelukan seseorang. "Aku sangat cemas padamu. Hangat dan menenangkan hatinya yang selama ini merindukan kasih sayang seseorang di dalam hidupnya.
"Sensei?." Yuuto tidak tau mau berkata apa lagi, Senseinya ini sangat memperhatikan dirinya.
"Daijobu, Sensei akan selalu berada di samping mu. jadi katakan semua keluhanmu di kelas, agar Sensei bisa meringankan bebanmu. Percayalah padaku hase-kun." Hase Sensei memeluk erat tubuh Yuuto, ia seakan tidak ingin kehilangan seseorang lagi dalam kehidupannya.
"Tolong lepaskan sensei. Rasanya sangat sesak sekali." Ia mencoba untuk memberitahu pada gurunya itu bahwa ia merasa sesak dengan pelukannya yang sangat erat itu.
"Eh?. Maafkan aku." Hase Sensei benar-benar sangat empuk ketika mendengarkan ucapan itu dari siswanya.
__ADS_1
"Fyuuh!." Yuuto menarik nafasnya dengan sangat lega.
Sedangkan Hase Sensei hanya bisa tertawa kecil melihat bagaimana reaksi siswanya yang kesakitan karena pelukannya itu. "Aku hanya mencemaskan dirimu saja. Maaf jika aku telah membuatmu merasa tidak nyaman." Sungguh, ia tidak memiliki niat apapun untuk menyakiti siswanya itu.
"Umm, arigatou gozaimasu sensei." Yuuto merasa lega jika Senseinya ini memang membantunya. "Terima kasih karena telah menyelamatkan aku." Jika dilihat dari situasinya, sepertinya memang gurunya ini yang membantunya.
"Ya. Tentu saja." Hase Sensei merasa sangat lega. Ia hampir saja frustasi ketika melihat keadaan siswanya yang seperti itu.
"Untuk saat ini kau telah aman yuuto." Suara seseorang berkata seperti itu.
Tanpa mereka sadari, sosok pucat misterius itu mengamati keduanya dengan senyuman kaku. "Aku hanya menunggu di saat yang tepat saja. Jadi aku tidak perlu terburu-buru dengan apa yang akan aku lakukan nantinya." Senyumannya benar-benar sangat menyeramkan. "Yuuto, kita akan segara menyatu. Karena kita akan terikat dengan kontrak nyawa yang sangat erat." Ucapnya dengan penuh kemenangan.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Kontrak apa yang dikatakan oleh pemuda sosok tak kasat mata itu?. Simak terus ceritanya.
Sementara itu di sisi lain.
Natsume Sensei, dokter yang bertugas di sekolah itu hanya memandangi foto Hasegawa Yuuto. Ia memang tidak berani untuk mendekati siswa itu karena korban bully?.
"Sejauh ini kau masih bisa bertahan?. Bukankah itu adalah hal yang sangat luar biasa?." Dalam hatinya malah memuji seperti itu?. "Apakah kau akan berakhir atau bertahan sampai akhir?." Dalam hatinya kembali muncul pertanyaan seperti itu. "Kenapa kau tidak menyerah saja?. Apa yang membuatmu bertahan selama ini?. Katakan padaku apa yang membuatmu tidak menyerah selama ini?." Terkadang ia merasa sangat heran dengan sikap Yuuto yang seakan-akan ia sangat kuat menghadapi kehidupan yang sangat pahit itu. "Sebaiknya kau menyerah saja, dari pada kok konfirmasi sama dengan dia." Saat itu ia teringat dengan seorang siswa yang dulu pernah menjadi korban bully. "Aku harapan segera pergi dari sini, supaya kau tidak lebih menderita dari ini. Aku yakin kau merasakan kesakitan ketika mereka menyiksa dirimu." Dalam hatinya sedikit mencemaskan keadaan siswa malang itu. "Lebih baik kau mencari tempat aman saja daripada kau tersiksa di sini." Ia merasakan perasaan simpati?. Benarkah itu?. Apakah ia tidak ingin itu terjadi pada Yuuto?. Tapi apa alasannya ia tidak ingin itu sampai terjadi pada Yuuto?. Simak terus ceritanya, temukan segera jawabannya.
...**...
__ADS_1