
...**...
Tiga berlalu sejak kejadian itu.
Namun suasana masih adem, belum terdengar kabar jika Hasegawa Yuuto melakukan aksinya. Baik itu balas dendam pada teman sekelasnya atau teman masa lalu Mikoto Hase?. Apakah anak itu memang telah berbuat baik?. Dan hari ini, Yuuto dan Mikoto baru saja menikmati masa istirahat mereka setelah kegiatan hari ini?. Memangnya apa yang mereka lakukan sehingga mereka beristirahat tiga hari?. Yang pertama libur pada hari Jum'at yang ternyata adalah tanggal merah, dan tentunya Sabtu Minggu memang sekolah libur. Itulah alasan kenapa keduanya libur?.
"Ne yuuto. Aku bosan loh?!." Mikoto dengan nada merengek menarik kecil lengan baju Yuuto. Saat ini mereka berada di kosan Yuuto, di kamar Yuuto sedang istirahat. Yuuto tertawa kecil melihat tingkah Mikoto yang seperti teman pada umumnya, tidak mencerminkan sedikitpun seperti roh gentayangan yang membawa dendam?. Ia hidup layaknya orang normal biasanya bersama Yuuto, dan bahkan Yuuto lupa jika Mikoto itu sudah berbeda dengan dirinya?.
"Bukankah ini menyenangkan mikoto kun?." Yuuto tiduran di samping Mikoto yang juga ikutan tiduran di tempat tidur.
"Menyenangkan dari mananya yuuto?. Tiga hari ini kita tidak beraksi loh?." Suara Mikoto terdengar lirih karena itu keinginan Yuuto, ia heran kenapa Yuuto melarangnya untuk tidak melakukan apapun selama tiga hari ini.
"Ne, coba bayangkan?." Yuuto menggeser tubuhnya hingga melihat ke arah Mikoto, terlihat wajah semangat dari Yuuto. Raut wajah yang disukai oleh Mikoto, yaitu memiliki ambisi yang membara. Mikoto hanya diam sambil menunggu apa yang akan dikatakan oleh Yuuto padanya. "Bukankah kita mengancam mereka agar-agar berhati-hati?. Jadi kita santai saja, karena hati-hati mereka akan waspada. Dan kau tau artinya jika waspada?. Mikoto kun." Yuuto membiarkan Mikoto untuk menebak apa yang akan terjadi.
"Ha!." Mikoto yang terbaring langsung refleks duduk dan ia memikirkan sesuatu jika itu yang dipikirkan oleh Yuuto.
"Mereka akan merasa ketakutan, karena terlalu waspada dengan apa yang akan kita lakukan?. Ketakutan dari ancaman itu adalah waspada itu. Xixixixi." Mikoto merasa gejolak semangat membara. "Ini seperti memberi tekanan mental yang kuat. Karena rasa waspada akan ancaman yang akan terjadi kapan saja. Jika mereka terlalu waspada terhadap apa yang terjadi, maka yang mereka rasakan adalah dihantui rasa ketakutan. Apakah itu yang kau maksudkan, yuuto?." Sungguh ia tidak memikirkan ke arah sana.
"Yaps!. Betul sekali mikoto kun." Yuuto duduk sambil menjentikkan jarinya sebagai ekspresi ungkapan betul apa yang dikatakan oleh Mikoto.
__ADS_1
"Kau sangat luar biasa sekali yuuto. Aku tidak pernah berpikir ke arah sana." Mikoto sangat kagum. "Saat ini mereka sedang dalam ketakutan yang luar biasa, karena waspada terhadap apa yang akan kita lakukan pada mereka. Wuahaha!." Ruangan kecil itu dipenuhi tawa Mikoto yang membuat bulu kuduk merinding, ia saat ini merasa semangat karena rencana bagus dari Yuuto.
"Menikmati ketakutan yang seperti itu lebih menyenangkan, bukan?. Dari pada kita yang waspada jika mereka mencari bukti apa yang telah kita lakukan selama ini?." Yuuto memberikan pertanyaan seperti itu pada Mikoto. "Apakah kau menikmatinya?. Mikoto-kun?. Anggap saja itu adalah balas dendammu pada natsume sensei yang juga mengabaikan dirimu." Yuuto tersenyum lebar saat itu.
"Tentu saja ini sangat menyenangkan sekali, yuuto." Balasnya. "Aku sangat berterima kasih padamu yang memiliki ide yang sangat luar biasa seperti itu." Mikoto tidak akan menduga jika Yuuto memiliki pemikiran yang sangat luar biasa untuk mengadu nyalinya untuk melakukan sesuatu.
Yuuto yang kini telah berbeda dengan Yuuto yang sebelumnya, ia telah tenggelam dalam kegelapan pekat. Rasa sakit telah membuatnya menyelam dalam air hitam yang tak dapat ia bersihkan lagi. Apakah Yuuto telah kalah dari rasa sakitnya?. Apakah Yuuto akan melakukan yang tidak terduga?. Baca terus ceritanya.
...***...
Keesokan harinya
"Ohayou, sensei." Sapa Yuuto dengan senyuman ramah ketika ia melihat Natsume Sensei yang menghampirinya dengan wajah serius.
"Um, ohayou yuuto, teruslah jadi anak yang baik, yuuto." Natsume Senawi tersenyum kecil menatap Yuuto, hatinya lega sekaligus takut jika Yuuto kapan saja melakukan kejahatannya. Dirinya saat ini sedang dilanda rasa takut dan waspada, namun saat ini belum ada kabar.
"Seperti yang anda inginkan ibu-guru." Ucap Yuuto dengan santainya sambil membungkukkan badannya memberi hormat pada Natsume Sensei, kemudian ia menuju loker sepatunya.
Deg!.
__ADS_1
Natsume Sensei sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Yuuto. Seperti menusuk hatinya. Kata-kata itu tidak mau ia dengar dari mulut Yuuto dari dulu?. Kata-kata itu seperti sedang memperolok dirinya hingga membuatnya merasa sakit hati?.
"Anak itu-. Pasti akan aku hentikan. Dan aku pastikan kau-." Natsume sensei tidak habis pikir dengan jalan pikiran Yuuto. "Apakah anak itu bersama mikoto hase?." Dalam hatinya ingin bertanya seperti itu. Akan tetapi Yuuto sama sekali tidak menanggapi dirinya saat itu.
Sedangkan Yuuto yang saat itu masih berada di loker sepatunya?.
"Ah!. Ada surat?." Yuuto sedikit kaget melihat sebuah amplop kecil di loker sepatunya. Mikoto penasaran, dan ia ingat dulu juga pernah menerima sebuah surat seperti Yuuto, tapi ia kepo apa isinya.Yuuto juga penasaran dan ia membuka surat itu,
"Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi bisakah kamu menemui ku saat jam istirahat nanti di perpustakaan?." Begitulah isi surat itu, membuat Yuuto dan Mikoto saling berpandangan. Ini surat tantangan kah?
"Ah!. Yuuto, ini-!." Hampir saja Mikoto mengatakan kejadian yang hampir sama di masa lalunya, namun Yuuto menyidipkan matanya memberi kode pada Mikoto ia ingin tau kejadian berikutnya tanpa di narasi oleh Mikoto.
"Haik!. Aku tidak akan spoiler, yuuto sama." Mikoto mengerti maksud Yuuto, lagipula biarkan Yuuto berkembang dengan caranya sendiri. Ia hanya menuntun dan mengikuti permainan Yuuto saja, toh tujuannya memang balas dendam. Mempermainkan hati manusia, termasuk Yuuto mungkin?. Entahlah kita lihat seberapa jauh apa yang dilakukan Mikoto untuk Yuuto nantinya.
"Aku sendiri yang akan melihatnya." Yuuto hanya tersenyum kecil sambil menyimpan surat itu ke dalam tasnya.
"Terserah kau saja, yuuto." Mikoto tentunya tidak akan melarang itu.
Apakah Mikoto benar-benar akan menjadi teman?. Atau hanya sekedar alat balas dendam Yuuto saja?. Belum ada yang tahu, namun untuk sekarang Mikoto lah yang paling berpengaruh dalam hidup Yuuto dalam sebulan ini.
__ADS_1
...**...