DENDAM YANG MEMBARA

DENDAM YANG MEMBARA
CHAPTER 46


__ADS_3

...***...


Suasana pada saat itu sangat panas, karena mereka masih memperebutkan siapa yang akan membawa Hasegawa Yuuto.


"Sudah aku katakan!. Dia itu hasegawa yuuto!. Bukan mikoto hase!." Natsume Sensei sangat kesal.


"Aku adalah seorang dokter. Saat ini kondisinya sangat kritis. Aku harus membawanya ke rumah sakit yang bisa memberikan pengobatan yang lebih ampuh!." Ia masih sabar untuk itu.


"Jika kau ingin membawanya, maka kau harus meminta izin terlebih dahulu pada ibunya." Ucapnya dengan sangat ketusnya.


"Kalau pertemukan aku dengan ibunya!." Ia tidak mau kalah.


"Sudahlah natsume sensei. Ini semua demi kebaikan yuuto. Biarkan saja nona yamazaki membawanya." Hase Sensei merasa bingung dengan kedua wanita yang sama-sama tidak mau mengalah. Hase Sensei hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada Hasegawa Yuuto. Namun saat itu Natsume Sensei masih belum mengizinkan Yamazaki Yui membawa Yuuto.


"Aku sangat penasaran sekali. Jangan-jangan kau menginginkan anak itu mati?. Sama halnya yang kau lakukan pada hase." Itu terdengar sebuah tuduhan yang sangat menyakitkan.


"Jaga bicaramu!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras. Hatinya sangat sakit mendengarkan ucapan Yamazaki Yui.


"Aku berbicara berdasarkan atas apa yang telah aku rasakan." Balasnya dengan sangat kesal.


"Kau ini bicara apa?." Natsume Sensei semakin marah, hatinya semakin sakit mendengarkan ucapan itu.


"Kau menghalangi aku untuk membawanya. Itu artinya kau sama saja ingin membunuhnya!." Yamazaki Yui juga merasa sakit hati, karena Natsume Sensei yang menghalanginya untuk membawa Hasegawa Yuuto.


Deg!.


Tentunya Natsume Sensei sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Yamazaki Yui. Natsume Sensei sebenarnya iba mendengarkan ucapan itu, dan ia hanya bisa menghela nafasnya.


"Baiklah, jika memang sepertti itu yang terjadi." Ucapnya dengan pasrah. "Aku serahkan padamu." Ia tidak lagi membantah. Dari lubuk hatinya yang paling dalam ia tidak ingin itu terjadi.


"Itu lebih baik." Yamazaki Yui sangat senang dengan itu.


"Sepertinya sudah agak tenang." Dalam hati Hase Sensei sangat senang dengan kondisi yang lebih baik.


"Kalau begitu aku akan mempersiapkan semuanya." Ucapnya sambil berjalan meninggalkan mereka.


"Tunggu!." Akan tetapi pada saat itu Hase Sensei menghentikannya.

__ADS_1


"Kali ini apa lagi?." Yamazaki Yui sangat heran dengan itu.


"Ada hal penting yang ingin aku tanyakan padaku." Ucapnya dengan sangat serius.


"Apa yang ingin kau tanyakan padaku?. Katakan saja." Balasnya dengan cueknya.


"Apakah aku boleh mengetahui tentang adikku darimu?. Aku hanya ingin mengetahuinya. Aku sangat sedih ketika hase kun pergi dengan cara seperti itu." Dari sorot matanya memang sangat menggambarkan suasana hatinya.


"Baiklah. Akan aku ceritakan." Yamazaki Yui dengan senang hati akan menceritakannya. Ia kembali duduk di samping kursi tempat tidur pasien. "Akan aku ceritakan padaku, apa saja tentang hase yang aku ketahui." Ucapnya sambil melihat ke arah Yuuto yang masih terbaring lemah.


Kembali ke masa itu.


Saat itu, Yamazaki Yui adalah siswa pindahan. Ia satu kelas dengan Mikoto Hase. Entah kenapa saat itu ia merasakan ada yang aneh dengan kondisi kelas. Dan benar saja, saat itu ia melihat Mikoto Hase diperlukan dengan sangat kasar.


"Hei!. Apa yang kalian lakukan padanya!." Dengan sangat kesal ia mendorong mereka yang berbuat jahat pada Mikoto Hase.


"Kau itu siswa baru di sini. Sebaiknya tidak usah ikut campur." Ucapnya dengan marah.


"Kalian ini sangat keterlaluan sekali." Yamazaki Yui sangat heran dengan sikap mereka. "Ayo kita pergi dari sini mikoto-san." Tanpa perduli dengan tanggapan mereka.


Saat di belakang sekolah, keduanya menghentikan langkah mereka untuk memastikan apakah tidak ada yang mengikuti mereka.


"Aku hanya tidak suka, jika dengan apa yang telah dilakukan oleh mereka semua." Ucapnya dengan sangat kesal.


"Apakah kau mengasihani aku?." Ia sangat kesal, jika memang sepertti itu.


"Tenang saja. Aku sama sekali tidak kasihan padamu. Hanya saja aku tidak bisa melihat kekerasan di depanku. Jadi aku membantumu saja." Balasnya.


Untuk saat itu mereka diam sesaat, karena tidak ada pembicaraan yang ada diantara keduanya. Namun saat itu Yamazaki Yui bukanlah tipe orang yang akan diam begitu saja.


"Namaku yamazaki yui." Ucapnya.


"Kau telah mengatakan itu dengan sangat jelas di kelas." Balasnya dengan dingin.


"Aku mengatakan itu secara formal. Tapi aku ingin mengatakannya dengan pribadi padamu." Ucapnya dengan senyuman manis.


"Kenapa?. Kenapa kau melakukan itu?." Mikoto Hase sangat heran dengan itu.

__ADS_1


"Karena aku ingin berteman denganmu." Jawabnya dengan cepat.


"Sebaiknya jangan." Mikoto Hase terlihat sangat terkejut.


"Eh?. Kenapa jangan?. Kau tidak mau berteman dengan aku?." Yamazaki Yui terlihat sangat kecewa.


"Jika kau berteman dengan aku, maka kau akan mendapatkan masalah nantinya." Jawabnya sambil menunduk. "Aku tidak mau kau jadi sasaran mereka juga." Lanjutnya.


"Aku akan mengatasi itu. Jadi kau tidak usah khawatir padaku. Aku pasti bisa membela diriku." Mikoto Hase hanya ingin memberitahu kan itu pada Yamazaki Yui.


"Jangan, nanti akan bahanya. Yamazaki san, sebaiknya jangan melakukan hal yang berbahaya." Mikoto Hase sangat cemas.


"Panggil saja aku yui. Dan namamu siapa?. Kau belum memperkenalkan namamu." Begitu besar rasa penasaran yang ia rasakan saat itu.


"Namaku mikoto hase." Jawabnya dengan pelan.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan memanggilmu hase kun." Ia tersenyum kecil.


"Panggil mikoto saja." Mikoto Hase membantah.


"Ayolah. Jangan seperti itu, aku juga ingin dekat denganmu." Yamazaki Yui mencoba untuk akrab dengan Mikoto Hase.


Kembali ke masa ini.


"Saat itu aku telah mencoba berbagai macam cara untuk dekat dengannya. Aku tidak ingin dia menjalani hari-hari yang buruk selama di sekolah." Dengan perasaan sakit ia berkata seperti itu. "Aku sangat benci dengan mereka yang telah berani mem-bully-nya. Aku sangat ingin membunuh mereka saat itu." Ucapnya dengan perasaan benci.


"Jadi adikku benar-benar diperlakukan dengan sangat kasar oleh mereka?." Hase Sensei sangat penasaran dengan cerita itu.


"Memangnya sebagai kakak?. Kau tidak mengetahui jika adikmu jadi korban bully?." Itulah pertanyaan yang keluar dari mulutnya.


Hase Sensei saat itu menunduk, ia tidak tahu harus berkata apa saat itu. "Aku tidak mengetahuinya sama sekali." Hatinya sangat sedih mengingat itu. "Karena hase selalu menutup dirinya. Ada masalah yang sangat rumit saat itu terjadi antara kami." Lanjutnya. Hatinya sangat sakit mengingat itu semua.


"Masalah keluarga, kan?." Itulah pertanyaannya saat itu.


"Ya. Memang seperti itulah." Balasnya dengan perasaan berkecamuk. "Aku sangat lemah, dan tidak bisa menjaganya dengan baik." Dengan nada penuh penyesalan ia berkata seperti itu.


Bagaimana kelanjutannya?. Simak terus ceritanya.

__ADS_1


Next.


...**...


__ADS_2