
...***...
Saat itu Yuuto dam Mikoto baru saja pulang dari sekolah. Seperti biasanya, mereka akan pulang?. Tidak, saat itu mereka sedang menuju tempat Yuuto bekerja. Akan tetapi pada saat itu Yuuto seakan-akan sedang merasakan apa yang ada didalam hati mikoto.
"Hari ini Kau terlihat sangat berantakan Sekali mikoto-kun. Apa yang sedang kau pikirkan sebenarnya?. Apakah itu ada hubungannya dengan hase sensei?." Dengan penuh penasaran ia bertanya seperti itu.
"Aku hanya tidak ingin dia mengganggu rencana kita. Dendam yang aku rasakan pada saat ini, tidak bisa aku lupakan begitu saja." Rasanya ia semakin sesak, ketika bayangan masa lalu menghantui dirinya, bahkan ketika ia meninggalkan dunia yang akan penderitaan. "Kau tentunya dapat merasakan bagaimana apa yang aku rasakan pada saat ini, bukan?." Tatapan matanya yang kosong itu telah menyimpan kesedihan yang sangat luar biasa.
"Um. Tentu saja aku merasakan apa yang kau rasakan pada saat ini. Bukankah kita telah menjadi satu?. Sehingga ketika kau merasakan sakit, maka aku juga akan merasakannya." Ucap Yuuto. "Jiwa dan raga kita telah terikat oleh kontrak itu. Jadi wajar saja ketika salah satu dari kita merasakan sakit, maka keduanya juga akan merasakan sakit yang sama." Yuuto tidak akan melupakan perasaan sakit itu.
"Kalau begitu, kita tidak perlu goyah hanya karena ucapan mikami nii. Kita harus menuntas dendam ini walaupun harus dibayar dengan nyawa." Mikoto terlihat sedang tersenyum mengerikan.
"Ya, tentu saja." Yuuto tersenyum kecil.
"Kya!."
Tiba-tiba saja pada saat itu mereka mendengarkan cerita seseorang yang berada di depan mereka?.
Deg!.
Saat itu Mikoto tiba-tiba saja masuk ke dalam tubuhnya. Yuuto sangat terkejut dengan apa yang telah dilakukan Mikoto.
"Yho!. Tsuruhima san. Kita berjumpa lagi." Dengan santainya ia menyapa wanita dewasa itu. Terlihat senyumannya yang kaku.
"Ternyata dia toh?." Yuuto tidak menyangka akan bertemu dengan Tsuruhima?.
"Jangan lihat. Jangan lihat." Tsuruhima terlihat sangat ketakutan, ia tidak menduga jika ia akan bertemu dengan Yuuto?. Mikoto?.
"Ah?!. Kau sangat tidak sopan sekali." Yuuto terlihat sangat kecewa ketika Tsuruhima membalikkan tubuhnya untuk menghindari Yuuto?.
"Jangan ganggu aku!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras, akan tetapi ia tidak berani menatap Yuuto.
__ADS_1
"Kau berbicara dengan siapa tsuruhima san?. Aku berada di belakang mu, loh?!." Dengan santainya ia berkata seperti itu?.
"Terserah aku!." Balasnya sambil menahan amarahnya. Setelah itu ia mengambil ancang-ancang dan melarikan diri dari sana.
"Oh?. Dia kabur tu mikoto-kun." Di alam bawah sadarnya Yuuto dapat melihat itu.
"Biarkan saja. Nanti kita juga akan bertemu dengannya. Jadi biarkan dia menikmati hidupnya untuk beberapa hari ke depannya." Mikoto kali ini terlihat lebih tenang dari yang sebelumnya.
"Baiklah, jika memang itu yang kau inginkan." Yuuto juga tidak memaksa. Toh Mikoto telah berhasil menyingkirkan dua orang yang menjadi dalang paling mengerikan yang telah membuat Mikoto menderita.
"Kalau begitu ayo kita lanjutkan perjalanan kita." Mikoto dengan pelan keluar dari tubuh Yuuto. "Tapi, bagaimana dengan surat itu?. Apa yang akan kau lakukan?." Mikoto tiba-tiba saja teringat dengan surat yang diterima Yuuto.
"Kita akan ke sana nantinya. Itu pasti sangat menyenangkan. Membunuh seseorang sebelum libur tiba." Ucap Yuuto sambil membayangkan hal menyenangkan yang akan ia lakukan.
"Ternyata kau lebih menyeramkan dari apa yang aku bayangkan." Mikoto terkekeh geli mendengarkan apa yang telah diucapkan oleh Yuuto.
"Anggap saja itu karena aku telah menjadi orang yang lebih buruk dari yang sebelumnya." Ia juga merasakan perubahan itu.
***
Sementara itu di sisi lain.
Natsume Sensei dan Hase Sensei yang masih berada di sekolah. Keduanya selalu berdiskusi mengenai Yuuto dan Mikoto yang saat ini masih berbahaya menurut keduanya?.
"Sebentar lagi kita akan libur pertengahan semester. Apa yang akan kita lakukan?." Natsume Sensei semakin gelisah memikirkan itu. "Aku sangat khawatir jika dia berani berbuat sesuatu yang tidak baik ketika libur nantinya." Bisa jadi itu adalah perasaan takut yang berlebihan yang sedang menyerang dirinya saat itu.
"Tenanglah natsume sensei. Jika kau terlihat panik seperti itu, maka guru lain akan sangat curiga padamu." Hase Sensei mengerti, hanya saja ia tidak ingin pihak lain mengetahuinya. "Aku akan mengawasi yuuto saat libur nanti. Sekalian aku akan mengajaknya ke tempat orang tuaku. Hanya dia satu-satunya anak yang dapat berkomunikasi dengan mikoto. Aku akan mencoba memperbaiki hubungan mikoto dengan kedua orang tuaku." Setidaknya itu yang ia pikirkan pada saat itu.
"Tapi hase sensei." Natsume Sensei masih terlihat sangat gelisah?.
"Percayalah padaku. Aku akan mencoba melakukannya." Hase Sensei sangat memohon?.
__ADS_1
Natsume Sensei menghela nafasnya. "Baiklah, aku mohon padamu agar tidak melakukan kesalahan nantinya." Ia sangat takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nantinya.
"Aku akan melakukan yang terbaik demi mereka berdua." Hase Sensei akan mengusahakan itu.
Tapi pertanyaannya adalah. Apakah ia mampu melakukan itu?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu nantinya.
***
Sedangkan Tsuruhima yang melarikan diri?. Saat itu ia telah berhasil bertemu dengan Kentaro yang masih di rumahnya.
"Tadi aku bertemu dengannya." Dengan penuh ketakutan ia berkata seperti itu.
Deg!.
Kentaro sangat terkejut mendengarnya. "Kau bertemu dengannya?!." Kentaro mengulangi ucapan Tsuruhima.
"Dia semakin terlihat sangat mengerikan. Aku sangat takut sekali!." Memang seperti itulah yang tergambar di wajahnya. Ketakutan yang sangat luar biasa menghantui pikirannya.
"Kita harus segera pergi meninggalkan tempat ini. Aku tidak mau berurusan dengannya." Itulah yang ada di dalam pikiran Kentaro mengingat apa yang telah terjadi pada kedua temannya.
"Ya!. Kita harus segera pergi meninggalkan tempat ini!." Perasaannya yang saat itu sedang menggebu-gebu, langsung setuju dengan apa yang dikatakan oleh Kentaro.
"Kalau begitu kita berkemas-kemas terlebih dahulu. Setelah itu kita langsung menuju desa ayahku. Aku yakin dia tidak akan mengetahui kita berada di sana." Kentaro langsung mengetahui ke mana ia akan pergi.
"Baiklah kalau begitu. Setalah aku membantumu berkemas-kemas, kau juga bantu aku. Kita harus meninggalkan tempat ini." Tsuruhima langsung mengikuti Kentaro yang menuju kamarnya untuk mengambil barang-barang yang perlu ia bawa.
"Aku tidak ingin mati sia-sia hanya karena dendam dari sampah busuk haram itu." Dalam hati Kentaro sangat mengutuk Mikoto yang ternyata memiliki dendam padanya.
Apakah yang akan mereka lakukan setelah ini?. Apakah mereka benar-benar bisa kabur dari cengkraman Mikoto Hase yang kini memiliki wadah untuk balas dendam?. Simak terus ceritanya, karena dendam masih berlanjut.
...***...
__ADS_1