DENDAM YANG MEMBARA

DENDAM YANG MEMBARA
82.


__ADS_3

Hari-hari yang dilewati oleh Arum sangat lah membosankan.Dia bingung harus melakukan apa.Ingin menelpon Fandi,tapi ponselnya nya malah di sita oleh ayahnya.Dan Arum kesal tapi tidak bisa melawan keinginan ayahnya.


'Sangat menyebalkan!' rutuk Arum dalam hati


Ingin sekali Arum pergi ke rumah Fandi dan meninggalkan ayahnya.Tapi,dia masih ragu.Apa yang harus dia lakukan,agar ayah nya menyetujui hubungan mereka.Arum terus memikirkan hal itu,sejak tadi dia juga mondar mandir dan tidak bisa berhenti.


Hal itu menjadi perhatian bibi,sang pengasuh Arum.Lalu bibi mendekati Arum dan menyentuh bahu gadis itu."Arum."panggilnya


Arum yang sedang berdiri dengan pikiran berkecamuk di otaknya,sontak saja terkejut.Dia segera menoleh dan tersenyum."Bibi."ucapnya


"Kenapa mondar-mandir begitu, kepikiran tentang mas Fandi nya yaa?"tanya bibi dengan senyum tersungging di bibirnya


Arum menunduk dengan meremas tangan nya sendiri."Iya bibi,aku sedang kepikiran dengan mas Fandi."ucapnya ,lalu dia memandang bibi dan kembali berucap."Aku bingung bi, bagaimana caranya agar bapak bisa menerima mas Fandi menjadi menantunya."


Bibi pun menghela napas,dia tahu kegundahan hati tuan besar.Yaitu takut jika putrinya hidup dalam kesusahan jika bersama Fandi yang hanya orang miskin.Karena dia tahu,jika tuan besarnya itu pernah hidup susah saat bayi nya yang masih merah.Bayi merah itu adalah Arum.Dimana saat itu dia masih membutuhkan kasih sayang ibunya,namun ibunya lebih dahulu disayangi oleh tuhan yang maha kuasa,yaitu Allah SWT.Arum harus menjadi anak piatu saat dia masih membutuhkan ASI.


Perjalanan hidup yang tuan besar nya lakukan bukan lah mudah.Sebelum bekerja,Johan selalu menitipkan Arum kepada bibi yang dulu masih tetangga.Johan bekerja siang hingga malam,bekerja terus dan tidak kenal lelah sedikit pun.Dia pernah mengatakan kepada bibi,jika dia bekerja dan mencari rezeki hanya untuk Arum,putri semata wayangnya.


"Arum,bibi tidak menyalahkan sikap tuan kepada nak Fandi.Tapi bibi juga tidak menyalahkan hubungan antara kalian berdua.Bibi hanya mengatakan,jika perjalanan yang ayah mu tempuh saat dahulu hingga sekarang.Bukan lah hal yang mudah,dia bekerja terus menerus hanya untuk bisa membiayai nak Arum.Percayalah nak, bukan lah hal yang mudah bagi orang tua tunggal seperti tuan Johan.


Jika pria lain,mungkin dia akan menitipkan anak nya kepada orang lain.Tapi tidak dengan ayahmu,dia hanya menitipkan mu pada bibi saat dia bekerja saja.Setelah dia pulang kerja,dia menjemput dan merawatmu.Padahal saat pulang bekerja,dia pasti lelah.Namun dia tidak pernah melepas tanggung jawab nya sebagai seorang ayah.


Bibi saja salut dengan ayah mu non,jika orang lain mungkin saja ayah mu sudah menikah dan meninggalkan mu.Beruntung non Arum bisa mempunya ayah sehebat tuan Johan.Dia begitu tulus menyayangi mu non,bibi mengatakan ini semua bukan untuk membuat mu dilema.Tapi bibi hanya mengatakan yang sebenarnya saja."ucap Bibi menjelaskan dengan panjang lebar


Arum termenung mendengarkan ucapan bibi,dia baru tahu jika ayah nya sudah banyak berkorban untuknya.Walaupun begitu,dia tidak bisa melupakan kekasih nya begitu saja.Dia dan Fandi akan berusaha mendapatkan restu dari ayah nya.


"Bibi, terimakasih sudah menjelaskan tentang kehidupan ayah.Aku baru tahu,jika perjalanan ayah tidak lah mudah.Tapi aku juga tidak ingin mengorbankan perasaan kami.Aku sangat mencintai mas Fandi Bi."ucap Arum


"Bibi tahu dengan perasaan mu non. Apa yang akan non Arum lakukan sekarang?"tanya bibi


"Aku boleh pinjam ponsel bibi?"tanya Arum


"Buat apa non?"tanya bibi dengan ekspresi bingung


"Menelpon teman ku bibi,ponsel ku sedang di sita oleh ayah.Jadi aku tidak bisa menghubungi nomor siapapun."ucap Arum sedikit kesal


"Ohh begitu,non tunggu sebentar yaa.Bibi ambil ponsel bibi ke dalam dulu."ucap bibi,lalu meninggalkan Arum sendirian.


Tidak lama kemudian,bibi datang membawa ponsel yang berada di genggaman nya dan menyerahkan kepada Arum.


"Ini non."ucap bibi

__ADS_1


Arum terkejut,dia pikir ponsel milik bibi nya seperti milik nya.Tapi ini.... Ponsel nya masih jadul.Tapi tidak masalah,yang penting bisa untuk menelpon Sofia.gumam Arum. Lalu dia mengambil ponsel jadul bibi."Bibi boleh kedalam sekarang, aku pinjam dulu yaa bi."ucap Arum,bibi pun menuruti perkataan Arum


*********


Arum pun mengetik nomor teman nya di ponsel jadul bibi dan menelpon teman nya.Tidak lama kemudian, panggilan pun di terima.


"Hallo. Ini siapa yaa?"tanya seseorang dibalik telepon


"Ini aku,Arum."ucap Arum


"Ohh Arum,kau ganti nomor yaa?"tanya Sofia


"Enggak sof,ponsel ku di sita ayah.Dan ini nomor bibi dirumah ku.Pokok nya panjang lah ceritanya.Aku ingin berbicara dengan mu."ucap Arum


"Ini kan sudah berbicara."ucap Sofia sedikit tergelak


"Oh iya yaa hehehe."sahut Arum sambil cengengesan


"Hehe kau ingin bicara tentang apa,Arum?"tanya Sofia


"Aku mau curhat nih,Sof.Tapi rasa nya kurang nyaman jika bicara di telepon."ucap Arum


"Besok aku akan datang ke rumah mu."


"Iya,aku janji. Pukul sembilan pagi aku akan otw deh."sahut Sofia


"Aku tunggu yaa,Sofia. Bye!!"


"Bye."


Setelah itu, panggilan segera berakhir.Arum pun langsung mencari bibi ke dalam rumah.Dia berjalan sambil bernyanyi,hati nya sangat senang menunggu kedatangan sahabatnya.Walaupun sahabatnya datang besok hari,tapi dia akan tetap sabar menunggu.Dia menemukan bibi dan menyerahkan ponsel milik bibi.Kemudian dia memasuki kamarnya.


*********


Di sebuah ruangan ,seorang pria begitu asyik mengerjakan semua pekerjaan nya.Dia terlalu fokus bekerja,tanpa sadar jika waktu pulang telah tiba.Asisten pribadinya yang bernama Bastian memandangi nya.Yaa,dia adalah Johan.


Bastian tahu,jika bos nya itu telah bekerja seharian.Bahkan,untuk makan siang nya pun dia hampir saja melupakan nya.Andai Bastian tidak mengingatkan makan siang nya,mungkin saja Johan bekerja terus menerus tanpa henti.


TOK....TOK....


Bastian mengetuk pintu ruangan Johan.

__ADS_1


Johan menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah pintu."Masuk."ucapnya sedikit keras


Bastian pun langsung masuk ke dalam."Ada apa,Bas?"tanya Johan


"Ini sudah waktu nya pulang,tuan!"ucap Bastian


"Pulang?"gumam Johan,lalu dia melirik ke arah jam tangan nya.Dan benar saja,ini sudah waktu pulang dan lewat lima menit sudah.Dia pun segera membereskan berkas yang ada disana.Bastian pun membantu tuan nya.Walaupun dia seorang bos,tapi tetap saja dia membereskan nya sendiri.


"Terimakasih,Bas."ucap Johan


"Sama-sama,tuan."


Setelah itu,mereka keluar beriringan dan suasana di kantor juga cukup sunyi.Karena semua karyawan dan karyawati sudah pulang beberapa menit yang lalu.


Johan memasuki mobilnya,Bastian pun juga masuk ke dalam mobil Johan dan duduk di kursi kemudi.Dia melajukan mobil milik tuan nya.


"Bagaimana keadaan putrimu,Bas?"tanya Johan


"Sekarang sudah membaik,tuan."sahut Bastian


"Syukurlah."


"Terimakasih tuan,karena tuan telah membantuku."ucap Bastian


"Kau jangan berkata seperti itu ,Bas. Jangan menganggap aku orang lain,walaupun aku bos mu.Tapi kita sudah cukup lama bersama.Kau selalu ada disamping ku,kau juga teman terbaik ku.Jika kau membutuhkan bantuan,datang saja kepadaku.Aku akan membantu mu semampu ku."ucap Johan


"Terimakasih tuan."ucap Bastian sedikit terharu,sebab tuan nya selalu memperlakukan dia dengan baik.Padahal dia hanya seorang bawahan.


Johan hanya mengangguk kecil dan berdehem.


Tidak lama kemudian,mobil yang Bastian kendarai sampai didepan rumah Johan.Mereka berdua pun turun,dan Bastian pamit pulang kepada Johan.Letak rumah Bastian tidak jauh dari rumah Johan,itu sebabnya dia ingin mengemudi mobil Johan tadi.Lagi pula,dia takut terjadi sesuatu pada Johan.Sebab,Johan terlihat sangat lelah hari ini.Apalagi dia sedikit bermasalah dengan Arum.Pasti itu lah yang membuat Johan terus kepikiran.


Johan pun segera memasuki rumahnya,dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


Sepi. Dia tidak melihat kesayangannya,Arum.


"Dimana gadis itu?"gumam Johan


Lalu dia segera menuju ke dalam dan mendekati kamar Arum.Pintu kamar Arum tertutup rapat,dia ingin mengetuk pintu kamar putrinya.Namun dia segera mengurungkan niatnya,dia pun berbalik menuju ke kamarnya.Dan dia pun membuka baju nya dan mandi.


Air yang menyentuh tubuhnya terasa sejuk.Dia berharap hubungan nya dengan Arum segera membaik.Gadis kesayangan nya itu tidak mau bicara dengan nya sejak pulang dari rumah sakit.Gadis nya itu juga marah saat dia menyita ponsel milik nya.Bukan tanpa sebab,dia tidak ingin Arum berhubungan dengan pemuda itu lagi.

__ADS_1


*********


BERSAMBUNG


__ADS_2