DENDAM YANG MEMBARA

DENDAM YANG MEMBARA
CHAPTER 48


__ADS_3

...***...


Saat itu Yui sama sekali tidak menduga jika Mikoto Hase memang bersama Hasegawa Yuuto?.


"Dari awal dia masuk ke sekolah, aku selalu memperhatikannya. Aku sangat perhatian dengan apa yang telah terjadi padanya." Hase sangat ingat itu. "Bahkan ketika dia masuk ke kelas saat kelas tiga." Hase memang memperhatikan itu dengan matanya.


Kembali ke masa itu.


Byuuur!!!.


Ketika ia hendak memasuki kelasnya, di pintu masuk kelas ia mendapatkan hadiah yang kurang mengenakkan, ember yang berisi air tepung kotor telah membasahi kepala dan sebagian badan atasnya, kejadian tak terduga ini membuatnya tidak bisa masuk kelas pagi ini.


"Selamat pagi hasegawa!."


"Oh?!." Kau terlihat sangat tampan sekali dengan penampilan yang seperti itu!."


"Kau sangat keren sekali hasegawa!. Aku sangat iri padamu!."


"Ahaha!."


Sedangkan siswa yang lainnya menertawakan dirinya, tidak ada satupun yang mau membantunya, yang ada dirinya diejek, dicibir dengan kata-kata yang pedas dan tidak pantas untuk ukuran anak sekolahan seperti mereka, dan kejadian ini telah berlangsung selama hampir 2 bulan pada semester kedua di kelas 3A.


Sedih?.


Tentunya. Siapa yang tidak sedih mendengar perkataan menusuk seperti itu. Kata-kata itu seperti pisau yang langsung menusuk jantungnya.


"Lihat lah!. Dia mau menangis!. Ahaha!."


"Sebaiknya kau pergi saja dari sini hasegawa!."


Namun seorang guru yang hendak memasuki kelas terlihat terkejut, ketika ia melihat kondisi siswanya yang dalam keadaan berantakan?.


"Oi!. Kau baik-baik saja?!." Guru tersebut membuka jas nya dan mengenakannya pada siswa tersebut. "Apa yang terjadi padamu?!." Ia merasa bersimpati pada siswanya ini. Apa yang terjadi, kenapa siswanya kotor begini?.

__ADS_1


Yuuto tidak menjawabnya, karena ia sedang menahan perasaan sedih yang sangat luar biasa di hatinya. "Kenapa mereka selalu saja memperlakukan aku seperti ini?." Dalam hatinya sedang bergejolak.


"Ayo ikut sensei." Dengan suara lembut penuh simpati guru tersebut membimbing siswanya menuju ruang kesehatan.


Sedangkan siswa yang melihat itu malah merasa kecewa. Hah?. Apa yang mereka pikirkan sebenarnya?. Tidak adakah simpati pada mereka. Entahlah, lupakan karena itu sangat mustahil mereka lakukan.


"Ah!. Tidak asik!. Sangat menyebalkan!."


"Siapa guru itu?. Berpura-pura bersimpati pada hasegawa?."


"Aku rasa dia adalah guru baru. Mungkin saja seperti itu. Sebab guru lama sudah mengetahui siapa hasegawa yuuto. Aku yakin mereka tidak akan repot-repot mengurusnya."


"Aku rasa kau benar."


Mereka memang tidak memiliki perasaan sedikitpun pada Hasegawa Yuuto. Mereka memang melakukan itu sudah sejak lama. Bahkan sebelum naik kelas tiga, Hasegawa Yuuto memang sering di bully. Akan tetapi, di pojok kelas, ada sosok yang tak kasat mata yang sedang memperhatikan apa yang telah mereka lakukan.


Kembali ke masa ini.


Yui sangat terkejut dengan apa yang ia dengar saat itu. "Sungguh, sangat kejam sekali atas apa yang telah mereka lakukan padamu." Yui hampir saja menangis mendengarkan itu.


"Kenapa kau tidak mengadu pada ibu?. Atau ayahmu?. Kenapa kau tidak mengatakan pada mereka tentang apa yang telah kau lalui selama di sekolah?." Yui melihat ke arah Yuuto dengan tatapan penuh belas kasihan.


"Sayangnya aku tidak bisa melakukan itu. Karena aku ini adalah anak yang tidak diharapkan sama sekali kelahirannya." Dengan perasaan sedih ia berkata seperti itu.


"Oh?. Kenapa itu bisa terjadi?." Yui benar-benar tidak dapat menyembunyikan kesedihan yang ia rasakan.


"Karena Yuuto memiliki nasib yang sama denganku, aku tidak akan membiarkannya mati begitu saja karena ulah mereka." Mikoto saat itu masih ingat dengan apa yang terjadi pada Yuuto.


"Hampir mati?." Yui semakin terkejut mendengarnya. "Apa yang membuatmu hampir mati?. Apa yang telah mereka lakukan padamu?. Hasegawa-kun?." Yui sangat miris mendengarkan ucapan itu.


"Jika itu-." Yuuto sedang mengingat apa yang telah terjadi padanya.


Kembali ke masa itu.

__ADS_1


Saat pulang sekolah, Yuuto kembali merasakan rasa takut yang luar biasa karena Yuko, Ryuto, Daiki, dan Kimiko mengurungnya di kamar mandi sekolah.


Gelap, dan pengap membuat Yuuto merasa sesak, apalagi seragamnya juga basah.


"Apa yang terjadi padaku?!."


Kenapa ia bisa berada di sini?. Itu karena Marina teman sekelasnya yang mengatakan ada orang yang mau menemui Yuuto di belakang. Namun siapa sangka ia malah jadi korban keisengan temannya?.


"Tolong aku!. Lepaskan aku!." Suara Yuuto bergetar ketakutan. Kepalanya terasa pusing dan sakit, ia tidak tahan lagi. Tangannya sampai bergetar ketakutan sehingga ia tidak bisa lagi mendobrak pintu untuk meminta bantuan pada seseorang. Kenapa selalu saja ada orang yang mau menyiksa dirinya?. Padahal ia tidak pernah mengganggu siapapun?. Tidak ada satupun orang yang mau menolong dirinya?. Lalu kepada siapa ia akan meminta tolong dalam kondisi seperti ini?.


Kenapa?.


"Tenanglah. Aku selalu berada di sampingmu. Tenanglah!."


Entah kenapa Yuuto merasa ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Ia menoleh dan melihat seseorang berdiri tepat dihadapannya. Yuuto tidak mengerti bagaimana sosok itu bisa berdiri dibelakangnya?. Padahal kamar mandi ini terisi air, juga terkunci?.


"Daijobu, kau tidak sendirian yuuto." Suara lemah nan parau, tapi membuat Yuuto merasa tenang, kata-kata itu seakan menguatkan dirinya, dan mengatakan tenang saja, semuanya akan baik-baik saja.


Tapi apakah itu benar bahwa dirinya akan baik-baik saja?. Mungkin ia hanya sedang berkhayal saat ini karena memikirkan seseorang yang mau menyelamatkan dirinya dari kondisi yang seperti ingin membunuhnya.


Namun, Setelah itu Yuuto seperti kehilangan kesadarannya. Ia tidak tau apa yang terjadi setelah itu, ia sudah tidak sanggup lagi menahan siksaan ini, rasanya sudah mati rasa. Entah itu hatinya, pikirannya, fisiknya, semuanya sudah tidak dibendung lagi.


Kembali ke masa ini.


"Oh?. Sadis sekali. Mereka bukan manusia. Mereka adalah binatang." Yui benar-benar tidak tahan dengan apa yang ia dengar saat itu. Hatinya sangat sakit mendengarkan cerita dari Yuuto dan Hase.


"Karena itulah aku ingin balas dendam pada mereka." Ucap Yuuto dengan penuh rasa sakit. "Mereka telah mendorong aku untuk membuat kontrak dengan mikoto-kun." Lanjutnya lagi.


"Membuat kontrak?." Yui sama sekali tidak mengerti dengan apa yang telah dikatakan Hasegawa Yuuto.


"Kami akan menjelaskannya suatu hari nanti." Jawab Yuuto dengan senyuman kecil.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah Yuuto bisa diselamatkan oleh Yui?. Apakah mereka bisa berkomunikasi setiap Yui menyentuh tangan Yuuto?. Simak dengan baik kisah ini. Temukan jawabannya.

__ADS_1


Next.


...***...


__ADS_2