DENDAM YANG MEMBARA

DENDAM YANG MEMBARA
CHAPTER 36


__ADS_3

...***...


Pada saat itu, Yuuto dan Mikoto sedang duduk bersama, meskipun Hase Sensei mengajaknya untuk berbicara?. Namun keduanya tidak menanggapi ucapan Hase Sensei. Pada saat itu keduanya seakan-akan sedang mengingat apa yang telah terjadi sebelum keduanya terikat dengan kontrak yang telah terikat dengan kontrak yang mereka lakukan saat itu. Sungguh, ini adalah takdir yang membingungkan diantara keduanya.


"Apakah kau ingat?. Yuuto?." Mikoto bertanya pada Yuuto.


"Harus kah?. Aku mengingat semuanya?." Yuuto tersenyum kecil saat itu.


"Ya, supaya kita bisa menentukan langkah selanjutnya. Apa yang akan kita lakukan." Balasnya.


Pada saat itu mereka sedang melakukan komunikasi melalui mata batin, sehingga Hase Sensei yang sedang menunggu mereka untuk berbicara, namun belum juga memberikan jawabannya. Keduanya seakan-akan sedang tenggelam dalam kesedihan akan ingatan masa-masa yang sangat menyakitkan.


Kembali ke masa itu.


Masa dimana awal Yuuto mendapatkan kekuatan gaib yang dibantu oleh Mikoto Hase untuk balas dendam pada teman sekelasnya yang telah membuatnya merasa sakit hati. Ini adalah bagian dari ingatannya yang penuh dengan dendam yang membara.


Lonceng pagi jam pertama berbunyi nyaring, siswa mulai memasuki kelas masing-masing. Sebab pagi masih segar jadi masih ada semangat untuk menerima mata pelajaran dengan baik. Namun ada satu siswa yang tidak bisa masuk kelas?. Kau mau tahu kenapa?.


Byuuur!!!.


Ketika ia hendak memasuki kelasnya, di pintu masuk kelas ia mendapatkan hadiah yang kurang mengenakkan, ember yang berisi air tepung kotor telah membasahi kepala dan sebagian badan atasnya, kejadian tak terduga ini membuatnya tidak bisa masuk kelas pagi ini.


"Selamat pagi hasegawa!."


"Oh?!." Kau terlihat sangat tampan sekali dengan penampilan yang seperti itu!."


"Kau sangat keren sekali hasegawa!. Aku sangat iri padamu!."


"Ahaha!."


Sedangkan siswa yang lainnya menertawakan dirinya, tidak ada satupun yang mau membantunya, yang ada dirinya diejek, dicibir dengan kata-kata yang pedas dan tidak pantas untuk ukuran anak sekolahan seperti mereka, dan kejadian ini telah berlangsung selama hampir 2 bulan pada semester kedua di kelas 3A.


Sangat sedih, ketika Yuuto mengingat kembali kejadian itu. Rasanya sangat sesak, hingga ia tidak ingin mengingatnya. Namun saat itu mereka mencobanya walaupun terasa sangat sakit.


"Bagaimana menurutmu mikoto-kun?. Apakah pada saat itu kau melihat kejadian itu?." Yuuto bertanya pada Mikoto yang seakan-akan benar-benar menyaksikan itu dengan perasaan sesak.


"Aku melihatnya yuuto." Jawabnya. "Aku selalu melihat apa yang telah mereka lakukan padamu. Hanya saja-." Mikoto tidak sanggup melanjutkan ucapannya. "Hanya saja aku tidak bisa membantumu saat itu. Karena aku tidak memiliki kekuatan untuk menjangkaunya." Lanjutnya sambil menahan perasaan sesak. Karena mereka benar-benar terhubung saat itu, sehingga ia merasakannya. "Pasti kau merasakan perasaan yang sangat sedih yuuto. Karena ucapan mereka yang sangat menusuk hati." Hampir saja ia menangis karena melihat itu.


"Tentunya. Siapa yang tidak sedih mendengar perkataan menusuk seperti itu. Kata-kata itu seperti pisau yang langsung menusuk jantungku." Itulah yang ia rasakan saat itu. "Mereka dengan teganya berkata seperti itu padaku. Seakan-akan aku ini adalah robot yang tidak memiliki perasaan." Hatinya semakin sesak mengingat dan melihat bagaimana kejadian saat itu.


Kejadian yang membuat dirinya menjadi manusia yang paling lemah, hanya karena ia tidak bisa membatah ataupun melawan atas apa yang telah mereka katakan padanya saat itu.


"Lihat lah!. Dia mau menangis!. Ahaha!."


"Sebaiknya kau pergi saja dari sini hasegawa!."


"Akan tetapi saat itu ada seorang guru yang hendak memasuki kelas terlihat terkejut, ketika melihat kondisiku saat itu yang dalam keadaan berantakan?." Yuuto tersenyum kecil mengingat itu. "Wajahnya yang sangat khawatir saat itu sangat menggemaskan sekali." Kali ini ia malah terkekeh kecil.

__ADS_1


"Ahaha!. Kau ini ada-ada saja yuuto. Kau jangan seperti itu pada orang yang telah membantumu." Mikoto juga ikut terkekeh kecil mendengarkan ucapan Yuuto.


"Abisnya memang seperti itu yang terjadi. Kau bisa melihatnya mikoto-kun." Ucap Yuuto sambil menunjuk ke arah penglihatan mereka akan kejadian pada saat itu.


Mikoto melihat dengan seksama bagaimana kakaknya yang terlihat sangat cemas pada Yuuto. Itu adalah sikap alami yang dimiliki kakaknya itu pada orang lain. "Dia memang seperti itu." Dalam hatinya tidak terkejut lagi dengan apa yang dilakukan kakaknya itu.


"Oi!. Kau baik-baik saja?!." Guru tersebut membuka jas nya dan mengenakannya pada siswa tersebut. "Apa yang terjadi padamu?!." Ia merasa bersimpati pada siswanya ini. Apa yang terjadi, kenapa siswanya kotor begini?.


Yuuto tidak menjawabnya, karena ia sedang menahan perasaan sedih yang sangat luar biasa di hatinya. "Kenapa mereka selalu saja memperlakukan aku seperti ini?." Dalam hatinya sedang bergejolak.


"Ayo ikut sensei." Dengan suara lembut penuh simpati guru tersebut membimbing siswanya menuju ruang kesehatan.


Sedangkan siswa yang melihat itu malah merasa kecewa. Hah?. Apa yang mereka pikirkan sebenarnya?. Tidak adakah simpati pada mereka. Entahlah, lupakan karena itu sangat mustahil mereka lakukan.


"Ah!. Tidak asik!. Sangat menyebalkan!."


"Siapa guru itu?. Berpura-pura bersimpati pada hasegawa?."


"Aku rasa dia adalah guru baru. Mungkin saja seperti itu. Sebab guru lama sudah mengetahui siapa hasegawa yuuto. Aku yakin mereka tidak akan repot-repot mengurusnya."


"Aku rasa kau benar."


Mereka memang tidak memiliki perasaan sedikitpun pada Hasegawa Yuuto. Mereka memang melakukan itu sudah sejak lama. Bahkan sebelum naik kelas tiga, Hasegawa Yuuto memang sering di bully. Akan tetapi, di pojok kelas, ada sosok yang tak kasat mata yang sedang memperhatikan apa yang telah mereka lakukan.


"Lihat itu yuuto. Mereka malah kecewa saat kau pergi dari sana." Mikoto kali ini yang menunjuk ke arah sana.


"Mereka akan bahagia jika berhasil membuat aku menderita." Balas Yuuto dengan sangat kesal. "Mungkin jika aku mati pada saat itu mereka juga akan bahagia." Saking kesalnya ia berkata seperti itu.


"Gunakan pakaian ini." Ucap guru tersebut menyerahkan seragam pada siswanya yang baru saja selesai mandi di ruang kesehatan. Tidak mungkin siswanya ini mengenakan pakaian basah bukan?. Akan tetapi sepertinya siswa tersebut memiliki pakaian lain di tasnya, sehingga ia tidak terlalu membutuhkan pakaian itu.


"Arigatou sensei. Tapi saya bisa memakai pakaian olahraga." Yuuto mencoba tersenyum.


"Tidak apa-apa. Pakailah!. Seragam ini aku berikan padamu sebagai perkenalan dariku. Apakahpa kau mau menolak pemberian dari wali kelas mu?." Ia terlihat sedih.


"Ah!. Gomen sensei. Jadi sensei adalah wali kelas baru saya ya?." Ia sangat terkejut.


Siswa tersebut merasa canggung, karena merasa tidak sopan dengan pemberian dari wali kelasnya. Ia tidak menduga jika yang membantunya adalah wali kelasnya yang baru?.


"Saat itu hase sensei sangat memaksa sekali, jadi aku tidak enak hati. Dan yang paling parahnya adalah, aku tidak mengetahui sama sekali jika hase sensei adalah wali kelas ku." Yuuto hampir saja pundung melihat itu. "Rasanya aku sangat malu sekali, dan tidak ingin mengingatnya. Apalagi aku sangat trauma dengan kebaikan yang diberikan guru-guru padaku, jika pada akhirnya aku akan dibully." Ucapnya dengan penuh kekecewaan.


"Ya, itulah yang aku rasakan saat itu yuuto." Mikoto tentunya sangat ingat dengan kejadian itu. "Tapi setidaknya kau beruntung memiliki wali kelas seperti itu." Lanjutnya.


Yuuto hanya diam saja, karena pada saat itu ia menyimak apa yang telah dikatakan Hase Sensei.


"Oh iya, ia aku lupa, jika meria sensei sedang cuti karena sudah dekat dengan tanggal lahiran." Dalam hati Yuuto saat itu ingat, jika wali kelasnya sedang mengambil cuti karena suatu alasan.


"Namaku hase mikami." Ia memperkenalkan dirinya. "Panggil saja hase sensei." Lanjutnya. "Aku baru ditugaskan di sekolah ini. Meskipun sebagai guru BK, aku juga bisa mengajarkan beberapa mata pelajaran, loh?." Ia tersenyum lembut melihat tingkah lucu malu-malu siswanya ini.

__ADS_1


Yuuto mendengarkan gurunya berbicara dengan sangat lancar tanpa adanya perasaan yang canggung padanya. Mungkin saja karena guru itu belum mengenal dirinya?.


"Haik!. Nama saya hasegawa yuuto yoroshiku onegai shimasu sensei." Balasnya sedikit canggung.


Ini pertama kalinya ia memperkenalkan dirinya pada guru lain dalam keadaan seperti ini?. Namun siapa sangka guru tersebut malah terlihat sangat senang?.


"Wah!. Hase juga namamu ya?." Ucapnya.


"Ya, begitu lah sensei." Hanya seperti itu balasannya.


"Bffhhh!." Mikoto yang hampir saja tertawa saat itu berusaha untuk menahannya. Setelah apa yang ia simak saat itu, ucapan kakaknya yang seperti anak kecil.


"Oi!. Kau jangan tertawa seperti itu!." Yuuto sangat kesal dengan sikap Mikoto yang telah menertawakan situasi seperti itu.


"Maafkan aku. Habisnya, bfffhh!." Mikoto benar-benar telah berusaha untuk menahan tawanya. "Itu sangat lucu sekali!. Ahahaha!." Mikoto tertawa geli mendengarnya.


Namun saat itu mereka masih menyimak pembicaraan itu dengan baik, karena mereka benar-benar kembali ke masa lalu untuk melihat apa yang telah terjadi selama ini.


"Kalau gitu aku panggil kamu hase-kun saja, supaya nama kita sama." Senyaman ceria Hase Sensei mengembang di wajahnya, ia senang berkenalan dengan siswa pertamanya di hari pertama. "Hase-kun." Saat itu ia teringat seseorang yang berharga dalam hidupnya, rasanya ada kerinduan dalam hatinya saat ini.


"Ah!. Tidak sensei, yuuto saja." Dalam hatinya merasa semakin canggung, karena Hase Sensei memanggilnya seperti itu.


"Yosh!. Hase-kun, kenakan pakaian ini." Ia menyerahkan pakaian itu. "Setelah itu kita ke kelas bersama-sama, ok?!." Hase Sensei menyuruh Yuuto untuk mengenakan pakaian yang ia berikan, dari pada masuk angin?. Lebih baik menggunakan pakaian itu


"Um. Baiklah sensei. Terima kasih banyak, nanti akan saya kebalikan pakaian ini." Yuuto hanya menuruti apa yang dikatakan oleh Hase Sensei dari pada dirinya kena masalah nantinya.


"Tidak usah. Pakai saja, karena pakaian ini sudah memang akan aku berikan pada seseorang." Ucapnya dengan sangat yakin.


"Terima kasih kalau begitu sensei. Akan saya jaga dengan baik pakaian ini." Yuuto hanya bisa menerimanya saja.


"Ya, sama-sama." Balasnya dengan senyuman ramah.


Setelah itu Yuuto segera menggantikan pakaian olahraga yang ia kenakan tadi dengan pakaian seragam itu. Namun apa yang terjadi ketika ia mengenakan pakaian itu?.


Deg!.


Keduanya seakan merasakan perasaan itu. Perasaan yang memberikan sensasi yang sangat berbeda.


"Itulah yang aku rasakan saat itu mikoto-kun. Hanya saja aku belum menyadarinya." Ucap Yuuto sambil mengingat bagaimana sensasi itu mengalir ke seluruh tubuhnya.


"Aku juga merasakan. Hanya saja saat itu aku sedang menunggu waktu yang sangat tepat untuk memasuki dirimu, yuuto." Balas Mikoto.


"Jadi kau dan aku benar-benar terhubung karena aku menggunakan seragam mu saat itu?." Yuuto begitu sangat penasaran.


"Aku rasa memang seperti itu, yuuto." Balas Mikoto dengan senyuman kaku. "Hanya saja aku memang sangat menunggumu menyadari keberadaanku." Lanjutnya lagi sambil mengingat bagaimana usahanya saat itu.


"Maafkan aku, saat itu mungkin persentase putus asaku belum cukup menjangkau dirimu mikoto." Ucapnya sambil mengingat itu semua.

__ADS_1


Lalu bagaimana dengan kejadian lainnya yang telah keduanya lalui setelah berhasil bertemu?. Atau masih butuh waktu?. Simak terus ceritanya.


...***...


__ADS_2