
...***...
Pria Tua itu pergi meninggalkan Yuuto yang masih tercengang, ia hanya diam melihat kepergian Pria Tua itu, kemudian ia melirik ke arah Mikoto yang berdiri di sampingnya.
"Ada apa yuuto?. Apakah dia mengatakan sesuatu padamu?." Mikoto jadi penasaran apa yang dibisikkan oleh pendeta itu pada Yuuto hingga membuat Yuuto terdiam.
"Aa tidak, dia hanya mengatakan aku harus berhati-hati. Karena pulang larut itu berbahaya untuk anak usia seperti ku." Seakan tersadar dari dunia khayalannya, Yuuto sedikit tergagap mendengarkan pertanyaan Mikoto.
"Souka?." Ada perasaan curiga dibenak Mikoto, karena pendeta itu sangat jelas melihat ke arahnya tadi. Pasti Pendeta itu tau dan menyadari keberadaannya. Mungkin Yuuto hanya tidak ingin membahas apa yang dibisikkan oleh pendeta itu padanya.
Tapi itu tidak masalah, toh ia tidak akan bertemu lagi dengan pendeta itu. Sebaiknya ia berhati-hati jika tidak ingin diganggu oleh pendeta itu. Dendamnya masih belum terbalaskan, jadi ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
...**...
Keesokan harinya.
Di sekolah.
"Ne Yuuto, setelah aku mengantarmu ke kelas aku akan menuju kelasku." Mikoto tersenyum kaku menatap Yuuto.
"Haik, arigatou mikoto kun." Balas Yuuto tersenyum senang. Ia sangat senang memiliki teman seperti Mikoto yang selalu memperhatikan dirinya.
"Ohayou hase kun." Sapa Hase Sensei dengan senyum ramah ketika berpas-pasan dengan Yuuto saat ia hendak masuk ke kantor guru.
"Ohayou hase sensei." Balas Yuuto tersenyum kecil, dan matanya melirik ke arah Mikoto.
"Mikami nii." Batin Mikoto, ia merasa sedih karena tidak bisa menggapai abangnya itu lagi. Rasa sedih karena kondisinya yang sekarang.
"Yosh, senyummu sudah mulai bagus hase kun. Sampai jumpa lagi di kelas. Jangan lupa bahagia ya." Hase Sensei kemudian masuk ke kantor guru, meninggalkan Yuuto sambil mengacak kecil rambut Yuuto.
__ADS_1
"Mikami nii, bahkan kau memanggil yuuto dengan namaku. Dan menggunakan namaku." Batin Mikoto lagi. Ada perasaan iba di dalam hatinya, dan ia tidak menyangka jika kakak tirinya akan menjadi guru di sekolah ini.
"Apa begitu besar rasa bersalahmu nii san?." Mikoto merasa sedih, Daan kesedihan itu dapat dirasakan oleh Yuuto, sama seperti kemarahannya di kelas 2 hari yang lalu.
"Ada apa mikoto kun?." Yuuto melihat raut wajah Mikoto yang berubah drastis. Apa yang terjadi pada Mikoto, kenapa suasana hatinya berubah?.
"Tidak apa-apa. Aku hanya iri denganmu, yang memiliki wali kelas yang baik." Ya, Mikoto sangat ingat sekali waktu itu. Wali kelasnya bahkan ikut menyalahkan dirinya. Selalu mengiyakan apa yang dikatakan oleh siswa di kelasnya, dan ia selalu saja menjadi korban atas kesalahan yang tidak pernah ia perbuat.
"He?. Apa kau juga dibully di kelasmu Mikoto Kun?. Apa wali kelasmu tidak membelamu?." Yuuto jadi penasaran bagaimana Mikoto di kelasnya, dan ia baru ingat ingin bertanya bagaimana Mikoto di kelasnya.
"Tidak, aku baik-baik saja." Mikoto tersenyum kecil seakan berusaha meyakinkan Yuuto bahwa ia baik-baik saja.
"Yokatta ne, mikoto kun." Yuuto tersenyum lega mendengar ucapan Mikoto, cukup ia saja yang menjadi korban bullying.
"Nanti kau akan mengetahui semuanya, yuuto." Dalam hati Mikoto tersenyum tipis. Mungkin suatu hari nanti Yuuto akan tau alasan kenapa Mikami memanggil Yuuto dengan nama Hase, dan mengapa Mikami menggunakan nama Hase juga.
...**...
Saat jam pulang.
Yuuto dan Mikoto baru saja keluar dari kelas karena Yuuto piket, dan ia mengerjakannya sendirian.
Namun ketika ia hendak melagkah keluar. "Huwaa." Yuuto terkejut karena kakinya tersandung sesuatu, dan pelakunya adalah Youichi teman sekelas Yuuto yang sudah menunggunya dari tadi di luar.
"Lama juga kau bersih-bersih nya ya,,, anak haram." Youichi menarik kerah baju belakang Yuuto, membuat Yuuto terkejut.
Sedangkan Mikoto hanya memperhatikan apa yang terjadi pada Yuuto. Ia memperhatikan kejadian berikutnya, baru ia akan bertindak dengan merasuki tubuh Yuuto.
"Aa, apa yang kau inginkan youichi san?." Yuuto menatap takut pada Youichi yang juga termasuk salah satu siswa yang ikut membully nya.
__ADS_1
"Tidak. Hanya saja aku ingin memberimu hukuman, atas apa yang kau lakukan pada yuko dan ryoutaro." Bisiknya di telinga Yuuto, membuat Yuuto terkejut, terlihat jelas diraut wajahnya. Dan tanpa diduga Youichi malah menuangkan tong sampah ke kepala Yuuto.
"AHAHAHA KAU MEMANG PANTAS MENDAPATKANNYA ANAK HARAM SIALAN!." Youichi tertawa keras karena ia berhasil mengerjai Yuuto. Begitulah yang ia lakukan pada Yuuto, yaitu menuangkan sampah kotor pada Yuuto.
"Sampai kapan kau akan melakukan ini youichi san?." Yuuto merasa kesal karena selalu saja dipermainkan oleh Youichi dengan cara kotor seperti ini. Sedangkan Mikoto yang melihat itu merasa geram, ia merasuki tubuh Yuuto.
Selanjutnya tawa Youichi terhenti karena mulutnya disumbat dengan sampah oleh Yuuto. "Tawamu itu berisik sekali Youichi san" mata Yuuto memerah, ia tersenyum menyeringai, membuat bulu kuduk merinding melihatnya.
"Emmmphhh!!!." Youichi berusaha memberontak, namun cengkraman tangan Yuuto sangat kuat, membuatnya sulit bernapas karena mulutnya tersumpal sampah.
"Kegh keqh bffhh!." Yuuto seperti sedang menahan tawanya saat melihat ekspresi ketakutan Youichi, entah kenapa ia ingin tertawa, seakan ada yang menggelitiki perutnya.
"WUAHAHAHA SAMPAH SEPERTI KAU PANTASNYA MATI SAJA!." Ada hasrat kebahagian yang tak bisa ungkapkan dengan kata-kata. Ia juga tidak mengerti, namun pikirannya terasa lapang hingga membuatnya tertawa aneh dengan kerasnya.
DUAKH
"HEMPPHHHHHH!!" Teriakan terakhir dari mulut Youichi sebelum ia menemui ajalnya karena kepalanya dihempas kuat ke tembok tepat belakang nya.
"Kau tidak pantas hidup, sampah seperti kau tidak layak untuk bernapas!!." Yuuto melepaskan tubuh Youichi yang sudah bersimbah darah, ia masih tertawa karena perasaan aneh itu. "Hanya mengotori udara sekitar saja!." Gerutu Yuuto dengan nada kesal, sambil mengibas-ngibas kecil hidungnya seakan ada bau tak sedap tercium oleh hidungnya.
Yuuto menatap tangannya yang dilumuri darah Youichi, entah kenapa ada perasaan senang hingga membuatnya tertawa. "Kenapa aku tertawa?." Ucap Yuuto dengan aneh. Ia tidak mengerti bagaimana perasaanya saat ini, namun ia bertanya pada dirinya kenapa ia bisa tertawa?. "Perasaan ini!. Rasanya ada yang berbeda dengan diriku yang sekarang!." Amarahnya yang bergejolak saat itu memenuhi hasrat yang sangat berbeda. "Heh!. Ini yang namanya balas dendam yang membara." Ucapannya itu benar-benar menggambarkan bagaimana suasana hatinya saat itu.
"Kau adalah bayangan masa lalu ku, yuuto." Mikoto juga merasakan sensasi yang berbeda itu. Perasaan hati mereka yang telah menyatu menjadi satu. Dendam yang membara!.
Apakah itu dendam?.
Next.
...** ...
__ADS_1