DENDAM YANG MEMBARA

DENDAM YANG MEMBARA
repost


__ADS_3

...**...


Namaku adalah Putri Arkadewi Bagaskara. Aku adalah putri bungsu dari prabu Maharaja Ganendra Ardajita. Selain sebagai seorang putri kerajaan, aku adalah seorang pembunuh bayaran belati hitam kegelapan. Aku sangat benci dengan orang-orang yang menggunakan topeng pemanis wajah yang mereka gunakan untuk menjerat orang lain. Bermain sandiwara, seakan-akan mereka adalah aktor yang sangat baik. Mereka menyembunyikan kejahatan mereka dengan sangat baik dengan topeng pemanis wajah. Aku sangat benci dengan itu, sehingga aku ingin menghabisi mereka semua dengan hasrat yang ada di dalam diriku saat itu. Dan kali ini aku masih bersabar dengan sikap kedua kakakku itu. Mereka sama sekali tidak suka jika aku berada di istana ini. Mereka sangat benci padaku.


Putri Arkadewi telah sampai di istana beberapa hari yang lalu. Namun ia baru bisa bertemu dengan kedua ibundanya. Tentunya ia melepaskan rindu yang sangat dalam dari hatinya. Saat itu mereka berada di Kaputren, tempat para istri raja dan anak-anak perempuan raja yang berada di sana.


"Selamat pagi nanda putri." Ratu Astina ibu kandung dari Putri Arkadewi Bagaskara menyapa anaknya dengan senyuman yang sangat ramah. Ia sangat merindukan anaknya itu. Setelah sepuluh tahun ia tidak bertemu dengan anaknya, sehingga ia mengungkapkan bagaimana kerinduan itu dengan pelukan yang hangat.


"Selamat pagi ibunda ratu." Putri Arkadewi Bagaskara juga merasakan kerinduan yang sangat dalam pada ibundanya itu. "Aku kembali ibunda." Dalam hatinya sangat merindukan sosok ibundanya.


"Syukurlah ananda telah kembali." Ratu Kemala juga sangat senang.


"Ibunda ratu." Kali ini Putri Arkadewi Bagaskara memeluk Ratu Kemala dengan penuh kasih sayang.


"Ananda telah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik." Ratu Kemala hampir saja meneteskan air matanya, ia tidak dapat menahan perasaan rindu yang ia rasakan.


"Seperti yang ibunda lihat." Balas Putri Arkadewi Bagaskara dengan senyuman ramah.

__ADS_1


Setelah itu ketiganya duduk dengan santainya di gazebo yang lumayan luas.


"Bagaimana keadaan nanda putri sama di sana?. Apakah ananda Putri betah berada di sana?." Ratu Kemala ibunda tirinya itu ikut bertanya pada anaknya tentang keadaan anaknya yang telah lama tidak kembali?. Apa yang membuat Putri Arkadewi Bagaskara, sepuluh tahun tidak kembali ke istana utama?. Tentunya mereka akan menjelaskannya dalam kisah ini.


"Ananda baik-baik saja ibunda. Ibunda berdua tidak perlu cemas dengan keadaan ananda seperti apa di sana." Putri Arkadewi tersenyum lembut meyakinkan kedua ibundanya itu bahwa ia baik-baik saja.


"Syukurlah kalau begitu nak. Ibunda sangat mencemaskan keadaanmu di sana." Ratu Astina terlihat sangat sedih. "Karena ananda putri memutuskan untuk menjadi seorang pendekar, ibunda sangat cemas jika terjadi sesuatu padamu saat bertarung dengan musuh." Sebagai seorang ibu tentunya ia sangat khawatir tentang keadaan anaknya yang seperti itu.


"Benar yang dikatakan oleh dinda astina. Kami di sini sangat mencemaskan keadaanmu. Kami khawatir jika kau terluka di sana." Meskipun ia hanyalah seorang ibu tiri, namun tidak akan mengubah perasaan sayangnya pada putrinya itu.


"Ibunda tidak perlu khawatir. Dengan bantuan mereka semua, nanda bisa melewati semua itu dengan sangat baik." Putri Arkadewi memaklumi bagaimana kecemasan yang dirasakan oleh kedua ibundanya itu, ia menjelaskannya agar kedua ibundanya tidak terlalu cemas. "Banyak hal yang ananda pelajari saat berada di sana." Senyumannya sangat meyakinkan sekali. Seakan-akan ia memang belajar banyak hal dari orang-orang yang bergaul dengannya.


"Baiklah ibunda. Ananda akan melaksanakan apapun yang ibunda minta pada ananda." Sebagai anak yang baik tentunya ia menuruti apapun yang dikatakan oleh ibundanya.


"Ananda putri sangat penurut sekali." Ratu Kemala tertawa kecil melihat sikap baik yang ditunjukkan oleh Putri Arkadewi Bagaskara saat itu. Begitu juga dengan Ratu Astina.


Sementara itu di waktu dan tempat yang sama, ada dua orang putri raja lainnya yang saat itu mendengarkan apa yang mereka katakan. Sepertinya kedua Putri Raja itu tidak bisa menerima kehadiran putri bungsu dari Prabu Maharaja Ganendra Ardajita. Sepertinya keduanya memiliki dendam pribadi yang sangat berbeda pada putri bungsu sang raja.

__ADS_1


"Yunda dapat melihat sendiri bagaimana dia mengambil hati ibunda kita." Putri Kenanga Bagaskara, adalah Putri pertama dari prabu Maharaja Ganendra Ardajita. Hanya ia saja yang sangat tidak menyukai adik dirinya itu?. Tidak!. Masih banyak lagi yang tidak menyukai Putri Arkadewi Bagaskara.


"Kita harus mengusirnya kembali dari istana ini. Karena dia hanya akan merugikan kita nantinya jika ia berlama-lama di istana ini." Putri Kenanga juga tidak menyukai adik tirinya itu. "Aku tidak ingin dia kembali ke istana ini." Dengan perasaan hatinya yang sangat membara itu telah membuat dirinya dipenuhi oleh rasa iri yang sangat tidak wajar pada saudarinya sendiri.


Lihatlah?. Bagaimana sikap mereka padaku?. Padahal aku sama sekali tidak memiliki dendam apapun pada mereka, namun mereka begitu berniat buruk padaku. Niat mereka yang ingin menyingkirkan aku dari istana, karena itulah aku harus waspada dengan mereka. Saat itu juga aku dapat melihat apa yang ada di dalam pikiran mereka saat itu. Pikiran jahat mereka yang telah menyengsarakan beberapa orang demi kepuasan mereka. "Lihat saja. Saat itu aku menghukum kalian atas apa yang telah kalian lakukan." Sosok Hitam ku pun sangat mendukungnya. Hanya saja aku mencoba menekannya, karena biasanya jika aku telah melihat kejahatan seseorang, maka sosok Hitam ku akan membunuhnya.


"Mereka telah melakukan kejahatan yang sangat tidak bisa dimaafkan." Begitulah ucapannya saat itu.


"Jangan terlalu terburu-buru. Kita lihat sejauh mana mereka akan terus melakukan itu." Balas Putri Arkadewi Bagaskara dengan senyuman lembut.


"Apakah kau yakin akan membiarkan mereka?." Sosok Hitam ku itu sepertinya sangat khawatir atas apa akan dilakukan oleh kedua kakakku itu. "Mereka telah memiliki kejahatan yang sangat merugikan." Lanjutnya.


"Untuk saat ini kita lihat saja. Jangan sampai kita langsung ketahuan hanya karena kita tidak bisa menahan diri." Aku hanya bisa tersenyum saja, karena sebenarnya perasaan yang ada di dalam hatiku sedang membara, hanya saja aku harus menahan diri.


"Baiklah, jika memang seperti itu yang kau katakan." Sosok Hitam ku tentunya memahami diriku yang saat itu.


Aku memang harus menunggu waktu yang tepat untuk membunuh keduanya, mereka tidak akan aku ampuni. Hanya menunggu, dan hingga habis sudah kesabaran yang aku miliki.

__ADS_1


...***...


__ADS_2