DENDAM YANG MEMBARA

DENDAM YANG MEMBARA
CHAPTER 29


__ADS_3

...***...


Malam masih berlanjut, dan saat itu?.


"Kau akan mati!. Mikoto hase!." Teriak Kentaro dengan amarah yang sangat membara. Ia memacu kencang mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Namun apa yang terjadi pada saat itu?. Kentaro dan Tsuruhima tidak lagi melihat keberadaan Yuuto, yang mereka lihat pada saat itu adalah mobil yang datang dari depan mereka.


"Hentikan mobilnya!." Teriak Tsuruhima penuh dengan ketakutan.


Sayang sekali, pada saat itu kecelakaan itu tidak bisa dihindari lagi. Saat itu kedua mobil itu beradu kepala dengan sangat kerasnya?.


Ckit!. Brakh!.


Setidaknya seperti itulah bunyi mobil yang bertabrakan itu. Keadaan mereka yang berada di dal mobil, sudah dipastikan tidak akan ada yang selamat pada saat. Sungguh kecelakaan yang sangat mengerikan pada saat itu.


"Heh!. Mereka adu banteng yuuto." Mikoto dapat melihat bagaimana kondisi mereka yang berada di dalam mobil. Tentunya mereka tidak bisa bergerak lagi, matanya yang saat itu memperhatikan mereka.


"Hm. Kau benar. Mereka ternyata suka adu banteng." Yuuto juga dapat melihat bagaimana kondisi mereka.


"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah dendammu terbalaskan?." Yuuto sedikit penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Mikoto. "Apakah kau akan pergi meninggalkan aku begitu saja?." Yuuto merasa khawatir jika memang itu yang terjadi.


"Itu tidak mungkin." Mikoto tersenyum kecil mendengarkan ucapan itu. "Aku telah bersumpah!. Bahwa aku akan membalas semua dendamku, juga dendam yang ada di hatimu saat ini." Mikoto tentunya tidak akan melupakan sumpahnya begitu saja. "Jadi tidak mungkin aku pergi begitu saja." Mikoto tidak akan mengingkari janjinya begitu saja.

__ADS_1


"Ah!. Benar juga. Kau masih memiliki dendam yang belum kau lakukan." Yuuto merasa sangat senang dengan apa yang ia dengar saat itu. "Ternyata orang yang telah mati, memikul dendam yang sangat berat. Sungguh sangat malang sekali, sampai mati pun kau menanggung beban yang sangat berat." Yuuto sedikit merasa sesak ketika merasakan apa yang dirasakan oleh Yuuto. "Untung saja aku tidak berpikir untuk bunuh diri pada saat itu. Mungkin saja nasibku akan sama dengannya." Dalam hati Yuuto, dulu pernah berpikir akan mengakhiri hidupnya. Jika ia tidak tahan lagi dengan perlakuan mereka semua.


"Jika kau telah mengetahui apa yang aku rasakan. Maka kita lakukan." Mikoto kembali merasa bersemangat.


"Tentu saja-. Bhuek!. Ohokh!." Yuuto saat itu merasakan mual yang sangat luar biasa sehingga ia memuntahkan isi perutnya. Darah?. Yuuto telah memuntahkan darah, itu artinya darah dibayar dengan darah. Itulah arti dari kontrak yang ia lakukan dengan Mikoto Hase. Sungguh resiko yang sangat tinggi yang ia dapatkan ketika ia menjalin hubungan kontrak dengan orang yang telah mati.


"Itu adalah resiko yang akan kau tanggung, yuuto." Mikoto selalu memberikan peringatan pada Yuuto. "Apakah kau tidak takut?. Jika kau akan mati dengan cara yang mengenaskan?. Karena kau telah menjual dirimu pada roh gentayangan seperti aku?." Mikoto secara terang-terangan mengatakan akibat dari apa yang telah mereka lakukan. "Jika darah mereka telah tumpah, maka darahmu juga akan ikut tumpah. Apakah kau tidak akan takut jika suatu hari nanti kau akan mati juga karena kehilangan darah?." Mikoto selalu meyakinkan Yuuto, atas risiko yang akan ia dapatkan.


"Aku tidak akan menyesal. Kau sendiri juga mengetahui itu, kan?." Yuuto tersenyum kecil mendengarkan itu. Meskipun nafasnya sedikit terasa sesak, akan tetapi ia tidak akan mundur begitu saja hanya karena muntah darah seperti itu.


"Kalau begitu mari kita pergi. Karena sebentar lagi akan pagi. Jika kau tidak berangkat ke sekolah, mikami nii, natsume sensei akan panik mencari keberadaan mu." Mikoto memang selalu memberikan peringatan pada Yuuto.


"Ya, kau benar juga." Yuuto menyekat darah yang ada di sudut bibirnya saat itu. "Kita akan kerepotan jika mereka mencari kita dalam keadaan seperti ini." Yuuto juga tidak ingin itu terjadi. Karena pada dasarnya ia memang sangat malas berurusan dengan dua orang sayangnya itu.


...***...


Pukul 7.30.


Pagi itu, Natsume Sensei paruh jasa aja selesai mandi. Saat itu sebelum berangkat ke sekolah, ia menghidupkan televisi untuk hiburan?. Akan tetapi pada saat itu ia melihat berita yang sangat mengejutkan baginya.


Deg!.


Saat itu ada sebuah berita yang menampilkan kecelakaan maut yang menyebabkan empat orang meninggal?. Saat itu di televisi tertampan dengan jelas foto korban yang meninggal akibat kecelakaan itu.

__ADS_1


"Tsuruhima, kentaro." Natsume Sensei tidak menduga akan melihat dua orang mantan muridnya itu. "Aku harus segera menghubungi hase sensei." Dalam keadaan yang panik ia masih ingat dengan seseorang yang harus ia hubungi.


Sementara itu, Hase Sensei yang baru saja bangun tidur tiba-tiba mendengar suara teleponnya yang berdering.


"Selamat pagi-." Hase Sensei mencoba menyapa seseorang yang telah menelponnya di pagi hari. Akan tetapi orang itu telah memotong ucapannya sehingga ia tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Kabar buruk. Coba lihat berita pagi ini." Natsume Sensei terdengar sangat panik saat itu.


Tanpa pikir panjang Hase Sensei segera turun dari tempat tidurnya menuju ruang tv. Ia segera menyalakan televisinya, tentunya ia ingin melihat berita yang dimaksudkan oleh Natsume Sensei.


"Kecelakaan yang sangat mengerikan. Ada empat orang yang tewas dalam kecelakaan itu. Dari identitas yang berhasil kami dapatkan, tsuruhima hajime, kentaro musashi. Isaki mori, dan aya yokohama. Sungguh kabar duka yang sangat mendalam yang terjadi sekitar pukul 00.15 dini hari." Reporter cantik yang membawa berita kecelakaan melaporkan apa yang telah terjadi di sebuah jalan tol.


Hase Sensei yang melihat foto itu tentunya teringat dengan dua orang yang ia temui saat di sekolah.


"Apa artinya itu?." Hase Sensei sungguh tidak percaya dengan apa yang ia lihat pada saat itu.


"Kita harus segera menemui yuuto. Aku takut dia yang menyebabkan kecelakaan itu." Natsume Sensei merasa pusing ketika ia memikirkan kejadian itu, kejadian yang mungkin ada hubungannya dengan Yuuto.


"Baiklah. Aku akan mengirimmu alat rumah yuuto yang berhasil aku dapatkan." Hase Sensei saat itu tidak membantah sama sekali. Setelah mendengarkan secara langsung pengakuan dari Yuuto, saat itu juga ya mulai waspada dengan siswanya itu.


"Kalau begitu aku akan bersiap-siap sepuluh menit lagi. Sampai jumpa hase sensei." Natsume Sensei langsung memutuskan panggilannya. Saat itu ia menangis sejadinya, dadanya terasa sangat sesak setelah apa yang terjadi?. "Yuuto." Dadanya semakin sesak mengingat apa yang telah terjadi.


Bagaimana kisah selanjutnya?.

__ADS_1


...**...


__ADS_2