
...***...
"Yuuto?. Apa yang sedang kau lakukan di sini?. Aku pikir kamu sudah tidur." Mikoto sangat heran.
"Tidak ada. Hanya ingat dengan apa yang telah aku rasakan selama ini. Bagaimana ibuku yang telah mene;antarkan aku." Hatinya merasakan sakit yang sangat luar biasa.
"Apakah rasanya sangat sakit?." Ucapnya sambil menyentuh dada kirinya yang terasa sangat sakit. "Sebab aku dapat merasakannya." Lanjutnya.
"Meskipun kau telah tiada, kau jauh lebih merasakan penderitaan yang aku rasakan, dari pada mereka yang masih hidup." Itulah yang membuat dadanya semakin terasa sakit.
"Kau pasti mengalami nasib yang sangat malang. Sama seperti aku hidup dulu." Mikoto dapat merasakan sensasi sakit. "Kenangan yang hanya diisi dengan rasa sakit, luka, kepedihan serta air mata yang tiada henti-hentinya." Itulah yang ia rasakan saat itu.
Kembali ke masa itu. Ketika Mikoto berumur 6 tahun, ketika ia tidak mengetahui apapun tentang dunia ini?. Tapi saat itu mentalnya sedang diuji sebagai seorang anak kecil yang seharusnya masih bermain dengan sangat ceria disertai dengan raut wajah yang polos.
Saat itu ia baru saja pulang dari sekolahnya, akan tetapi pada saat itu ibu tirinya?.
"Ibu. Aku pulang." Ucapnya dengan penuh keceriaan. Namun tidak ada tanggapan sama sekali dari ibu tirinya?. "Ibu-."
Prang!.
Saat itu ia tidak sengaja menyenggol gelas minuman ibu tirinya itu.
Plak!.
Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi kiri Mikoto, hingga anak itu terdiam setelah mendapatkan tamparan keras itu.
__ADS_1
"Apakah sekali saja kau tidak dapat menenangkan diri?. Hah?!. Kenapa kau malah membuat kekacauan di rumahku ini!." Bentaknya dengan sangat suara yang sangat keras. Hingga Mikoto kecil menangis sedih, pipinya terasa sangat sakit, hingga tangisan lah yang menggambarkan suasana hatinya saat itu. "Diam!. Diam!. Jangan nangis!. Jangan nangis!." Bahkan ia memukul anak itu bekali-kali tepat di punggung dan pinggangnya.
"Ampun ibu. Ampun ibu!. Maafkan aku ibu." Dalam tangisnya ia mengucapkan kata itu. "Ia yang saat itu masih polos mengucapkan kata maaf?. Namun ibu tirinya saat itu seakan-akan tidak mendengarkan tangisan serta kata maaf yang terucap dari bibir polos itu.
Kembali ke masa ini.
"Bahkan setiap harinya dia menyiksa aku dengan kata-kata yang sangat menyakitkan, serta pukulannya yang sangat melukai diriku." Tanpa sadar ia menangis sedih.
"Jadi kita memang mengalami nasib yang sangat malang?." Yuuto juga ikut menangis sedih mendengarkan apa yang telah diceritakan Mikoto padanya.
"Memangnya nasib malang seperti apa yang kau alami?. Apakah lebih parah dari apa yang akan aku alami?." Tebak Mikoto sambil menahan tawanya.
"Kau ini sangat mengejek sekali mikoto." Ucapnya sambil mengetuk kepala Mikoto.
Kembali ke masa lalu Yuuto ketika kelas 1 SMP. Saat itu ia baru saja pulang dari sekolah. Saat itu hendak masuk ke dalam kamarnya, akan tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik kerah bajunya dari belakang. Bahkan ia sampai tertarik ke belakang, menabrak dinding.
"Kegh!." Ia meringis sakit.
"Kau ini memang anak kurang ajar!." Bentaknya dengan sangat keras.
"Aku salah apa bu?. Sehingga aku diperlakukan seperti ini?." Yuuto sangat heran dengan sikap ibunya yang seperti itu. Ibunya menarik kuat rambut belakangnya dengan sangat kuat, hingga ia meringis sakit.
"Kau masih masih saja bertanya apa kesalahan mu?." Tarikan itu semakin kuat. "Aku telah dipanggil oleh gurumu!. Gara-gara kau tidak membayar uang sekolah yang aku berikan padamu?. Kenapa tidak kau bayarkan?." Bentaknya dengan sangat keras, bahkan diiringan dengan pukulan di tubuhnya.
"Sakit!. Sakit!" Yuuto mencoba untuk menahan sakit akibat pukulan di tubuhnya.
__ADS_1
"Jawab!. Kenapa tidak kau bayar uang sekolahnya?!." Tanpa henti-hentinya ia memukul Yuuto tanpa perasaan.
"Aku tidak membayarnya!. Karena memang ibu yang tidak memberikan uang itu padaku!" Dalam keadaan penuh kesakitan ia menjawabnya.
"Apa?." Wanita yang dipanggil ibu itu sangat terkejut dengan ucapan anaknya, ia menghentikan pukulannya. "Coba kau ulangi apa yang kau katakan tadi?." Ia hanya ingin memastikan, apakah yang dikatakan anaknya itu benar atau tidak.
"Aku telah mengatakan pada ibu. Jika ibu memang tidak pernah memberikan aku yang membayar uang sekolah!." Yuuto hampir saja putus asa dengan apa yang ia rasakan.
PLAK!.
Sebuah tamparan keras di layangkan ke pipi tuuto, membuat anak remaja itu terdiam.
"Kau ini memang anak yang tidak tahu diri!. Aku besarkan kau seorang diri?!. Tapi malah seperti ini balasan yang aku dapatkan dari anak tidak berguna seperti kau!." Emosinya saat itu sedang meledak- ledak tidak karuan seperti itu.
Yuuto hanya pasrah saja saat itu, meskipun bukan hanya hatinya yang tersakiti?. Tapi fisiknya juga merasakan sakit yang sangat luar biasa.
Kembali ke masa ini.
Yuuto sangat ingat dengan kejadian yang sangat menyakitkan. "Kemarahan seorang wanita memang sangat menakutkan. Apalagi kalau mereka tidak mengakui apa yang seharusnya adalah bagian dari dirinya." Dengan hati yang sakit Yuuto berkata seperti itu.
"Kau benar. Kenapa mereka melampiaskan amarah yang sangat tidak baik pada kita. Apakah mereka tidak memiliki hati nurani sebagai seorang ibu?. Sehingga mereka tega sekali membuang kita?. Apakah mereka tidak merasakan kesakitan saat melahirkan kita?." Kekuatan hatinya saat itu benar-benar telah diuji sampai la pergi dari duma ini. Sungguh, hatinya saat itu sangat hancur-sehancur - hancurnya. "Terkadang aku tuh bertanya apa yang membuat mereka membenci kita?. Kenapa ibu yang telah melahirkan kita malah membenci kita?. Kesalahan apa telah kita lakukan?. Bukankah mereka yang telah membuat kita lahir ke dunia ini?. Tapi kenapa malah kita yang menjadi korbannya?." Hatinya sangat pedih, dengan apa yang telah ia lalui selama ini.
"Kadang aku juga bertanya seperti itu. Apa gunanya aku dilahirkan ke dunia ini?. Jika selama ini aku hanya merasa tersakiti." Sungguh, ia hendak bertanya seperti itu. "Tapi pada siapa aku akan bertanya masalah itu?. Rasanya sangat menyakitkan sekali." Rasanya sangat sekali sekali mengatakan betapa menderitanya dirinya dengan pertanyaan itu. Pertanyaan yang terngiang-ngiang di dalam kepalanya saat itu, yang saling bertabrakan dengan suasana hatinya.
"Sudahlah. Kita harus memutuskan apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Karena akan berbahaya jika kita membuang waktu balas dendam yang tidak akan lama ini." Mikoto mengingatkan Yuuto akan batasan balas dendam itu.
__ADS_1
"Ya. Tentu saja. Setelah aku baikan kita bisa balas dendam dengan leluasa." Yuuto tidak akan lupa dengan perjanjian itu. Sangat sakit jika ia biarkan begitu saja, akan ia manfaatkan sebaik-baiknya balas dendam itu. "Aku akan melakukannya." Ucapnya dengan sakit hati.
...***...