DENDAM YANG MEMBARA

DENDAM YANG MEMBARA
104.


__ADS_3

Bima sudah terlanjur lemas dan tidak memiliki gairah untuk hidup lagi.Dia sudah memasrahkan diri nya pada takdir.Jika hidup nya akan berakhir seperti ini.


Sementara itu,Yasmin dan ibunya serta adiknya juga ikut menatap sendu ke arah Bima.Tidak ada yang bisa mereka lakukan,selain bersedih.


"Farisham,Yasmin."ucap Yuanika lirih


"Iya Bu."sahut Yasmin dan Farisham secara bersamaan


"Ibu minta tolong pada kalian.Jemput nenek kalian dan bawa segera kesini. Cepat!"ucap Yuanika


"Untuk apa membawa nenek kesini Bu?"tanya Farisham yang masih bingung


"Kau jangan banyak tanya Faris,cepat kalian pergi dan bawa nenek kesini.Hanya nenek kalian lah yang bisa menolong bapak."ucap Yuanika dengan percaya diri nya


Yasmin menatap sang ibu. "Ibu yakin berada disini sendirian."tanya Yasmin dan dibalas anggukan sang ibu


"Yakin sekali."ucap Yuanika


"Tidak,aku tidak akan membiarkan ibu sendirian disini. Farisham,kau jaga ibu.Kakak akan pergi untuk menjemput nenek."ucap Yasmin dan beranjak dari tempat itu meninggalkan mereka berdua,tanpa peduli panggilan ibunya.


Disaat waktu maghrib semua orang melaksanakan ibadah.Yasmin terus melangkah berlari menuju ke rumah neneknya.Dia harus melewati jalan yang dikelilingi pepohonan besar dan jalanan pun sangat sepi.Kegelapan mulai menyelimuti sekelilingnya,namun Yasmin tidak takut melangkah.


Tidak lama kemudian,dia tiba didepan rumah sang nenek.Aura sekeliling rumah itu terasa negatif, bahkan Yasmin merasa ada yang mengintai nya.Tiba-tiba pintu rumah terbuka,dan nenek nya Yasmin sudah berdiri diambang pintu.


"Nenek."seru Yasmin


"Masuk."titah sang nenek


Tanpa basa-basi,Yasmin pun langsung menuruti perintah sang nenek untuk masuk ke dalam rumah.Setelah berada didalam rumah,sang nenek langsung mencecar nya dengan pertanyaan-pertanyaan.


"Kenapa kau berada diluar rumah disaat senja begini ? Bukah kah kau tahu,jika ini adalah saat-saat mereka yang tidak kasat mata keluar? Pamali. Apalagi kau ini masih gadis dan bisa menjadi incaran mereka."ucap Neneknya Yasmin


"Maaf nek,tapi aku tidak bisa menahan diri untuk datang kesini.Bapak nek.....bapak....."ucap Yasmin lirih


"Tenang lah. Minum dulu air putih ini."ucap nenek nya Yasmin sambil menyerahkan segelas air dan Yasmin pun meneguknya.Setelah itu,dia menarik nafas dalam-dalam.


"Sekarang katakan,ada apa dengan bapakmu? Firasat ku mengatakan, jika terjadi sesuatu. Apa yang sebenarnya terjadi? "tanya Nenek nya Yasmin


"Bapak ternyata pelaku yang menyebabkan kematian pasangan suami istri didesa beringin.Peristiwa yang terjadi kurang lebih dua puluh empat tahun yang lalu.Kini bapak akan diadili nanti malam."ucap Yasmin


Ibunya Bima terkejut mendengar perkataan sang cucu. Dia memang sangat mengetahui peristiwa malam itu.Karena yang sebenarnya menyantet anak pak Badar adalah dirinya sendiri.


"Kenapa bapakmu sampai ditangkap? Siapa yang menangkap nya ?"tanya ibunya Bima


"Paman nya bang Arga,nek. Dia yang telah menculik bapak dan dia juga yang mengatakan kepada semua warga bersama paman Aziz."ucap Yasmin terisak-isak


"Kurang ajar mereka,berani sekali mereka melakukan hal itu pada putra ku."Ucap nenek nya Yasmin menggeram


"Kenapa bapak tega melakukan hal itu nek? Aku tidak menyangka,jika bapak pernah melakukan perbuatan jahat pada orang tua bang Arga."ucap Yasmin


"DIAM KAU YASMIN. Dari perkataan mu,kau terlihat seperti membela pemuda itu? Jelas-jelas keluarganya membuat bapak mu tertangkap saat ini."ucap wanita itu marah


"Mereka tidak akan melakukan hal itu,jika bapak tidak terlebih dahulu membuat ulah."ucap Yasmin


"Aku tahu jika kau mencintai pemuda itu,tapi tidak perlu kau membela nya seperti itu.Jika disuruh memilih,kau harus memilih salah satunya. Pilih bapakmu atau pemuda itu?"tanya ibunya Bima


"Tentu saja aku memilih bapak,karena aku hubungan ku dengan bang Arga sudah berakhir tadi."ucap Yasmin lirih


"Hanya begitu saja , dia sudah memutuskan hubungan denganmu.Itu artinya dia tidak mencintai mu."ucap wanita tua itu,sedangkan Yasmin hanya bisa terdiam mendengar perkataan sang nenek.


"Ayo kita segera kesana,sebelum terlambat."ucap ibunya Bima beranjak dari tempatnya dan diikuti oleh Yasmin


Perjalanan mereka menuju ke desa beringin Seperti nya akan ada sedikit hambatan.Bagaimana tidak,baru beberapa langkah mereka berjalan.Satu sosok genderowo menghadang mereka.


"Jangan menghalangi jalan kami,minggir!"bentak ibunya Bima

__ADS_1


Namun sosok itu masih berdiri dan dia menatap penuh nafsu ke arah Yasmin."Aku menginginkan gadis yang berada disamping mu."ucap genderowo itu dengan lantang


Yasmin yang memang mata batin nya telah terbuka hanya tetap diam ditempatnya.Sebenarnya,dia sudah melihat berbagai macam sosok makhluk halus saat dia akan ke rumah neneknya tadi.Dan beruntung dia tidak diganggu oleh mereka.Tapi sekarang, sosok tinggi besar itu menginginkan dirinya.Tentu saja hal itu membuat Yasmin bergidik.


"Untuk apa?"tanya neneknya Yasmin


"Untuk ku jadikan istriku hahahahah."ucap nya sambil tertawa menggelegar


"Hahaha sebaiknya kau sadar diri.Bahkan jika ada manusia seperti kau pun,aku tidak akan sudi menjadikan dia suami cucuku.Apalagi kau yang hanya makhluk buruk rupa."sentak wanita tua itu


Genderowo itu marah mendengar perkataan ibunya Bima."Jahanam,ku robek mulutmu. Arrhhhhhh. Hyyaaaatttt!"bentak Sosok tinggi besar itu.Lalu dia menyerang ibunya Bima,wanita tua itu pun tidak tinggal diam.Terlihat mulut nya menggumam kan sesuatu,entah apa kah itu.Hanya dia yang tahu,Yasmin pun hanya bisa diam menatap sang nenek.


Belum sempat genderowo itu menyentuh wanita tua itu,dia sudah terpental sekitar tiga tombak.Dia terlihat kesakitan sambil memegang dadanya."Aku akan kembali, tunggu pembalasan ku wanita tua."ucap genderowo itu dengan lantang ,lalu dia menghilang dari pandangan nenek dan cucu itu.


Ibunya Bima menghela nafas,lalu dia menoleh ke arah Yasmin."Ayo nak,kita harus buru-buru."ucap wanita itu dan dibalas anggukan kecil Yasmin


Mereka pun melakukan perjalanan menuju ke desa beringin tanpa ada gangguan lagi.


*********


Setelah melakukan ibadah shalat maghrib secara berjamaah,beberapa orang pulang begitupun anak-anak.Kini tinggallah Argana,ustadz Mirza,Johan dan Takeshi disana.


"Ustadz,apakah ada cara untuk menghentikan perbuatan mereka yang ingin menggunakan hukum mereka sendiri?"ucap Argana setelah menceritakan permasalahannya pada pria yang tua beberap tahun darinya


"Sepertinya akan sangat sulit,mereka sudah terbiasa menggunakan hukum adat disini.Pernah juga setahun yang lalu,seorang wanita yang telah melakukan ritual didesa ini.Dia menculik wanita hamil dan dibunuh,lalu anaknya dijadikan tumbal.Akhirnya dia tertangkap dan dihukum bakar oleh warga.Kami sempat menghentikan kegiatan itu,malah kami diancam."ucap ustadz Mirza,dia pun bingung dengan mereka.Walaupun sudah separuh warga yang mau mengikuti kegiatan mengaji dan mendengarkan tausiyah dari nya di surau.Tetap saja tidak bisa mengalahkan sifat mereka yang suka menghakimi siapa saja yang melakukan perbuatan jahat.


"Sungguh mengerikan warga desa ini."bisik Takeshi pada mereka semua


Ustadz Mirza terkekeh. "Aku tidak mengerikan."ucap ustadz Mirza


Takeshi cengengesan. "Maaf ustadz."


Krrrucuuukkkk ...


Terdengar bunyi perut Takeshi yang sudah lapar.Takeshi yang merasa perutnya berbunyi merasa malu.


"Tidak perlu ustadz,kami tetap tinggal disini saja."ucap Argana dengan sopan menolak secara halus ajakan ustadz Mirza


"Jangan menolak rezeki,itu tidak baik.Mari."ucap ustadz Mirza dan akhirnya dia berjalan dan diikuti oleh Argana,Takeshi dan Johan.


Sekitar sepuluh menit perjalanan,akhirnya mereka tiba dirumah ustadz Mirza.


"Assalamualaikum."ucap ustadz Mirza


"Waalaikumsalam."sahut sang istri dari dalam dan terdengar juga celotehan anak dari ustadz Mirza


"Umi,abi dah datang."ucap anak ustadz Mirza yang baru berusia satu tahun,tapi sudah bisa berbicara.Walaupun bicara nya belum terlalu lancar.


"Iya sayang,yuk kita buka pintu dulu yaa."ucap istri ustadz Mirza dengan lembut pada putra kecilnya itu


Pintu terbuka dan putra ustadz Mirza itu menatap wajah ayah nya dengan sumringah.Lalu mata bulatnya itu menatap Argana dan lainnya.


"Meleka ciapa abi?"tanya bocah itu dengan tatapan penasaran


Ustadz Mirza langsung menggendong putra kecilnya dan mengenalkan dia pada Argana dan yang lainnya."Perkenalkan,ini putraku.Nama nya Mizan."ucap ustadz Mirza


"Hai Mizan."sapa Takeshi yang begitu gemes melihat Mizan yang berada dalam gendongan ustadz Mirza


"Hai."sapa Mizan dengan riang


Argana pun ikut menyapa bocah itu. "Hai ganteng."


"Hai uga bang ganteng."ucap nya dengan bibir yang mungil sekali


Kini tinggal Johan yang belum menyapa nya.Johan pun bingung harus bagaimana menyapa anak sekecil itu.

__ADS_1


"Abi,kek itu....?"tanya nya pada sang ayah,lalu ustadz Mirza berkata."Dia kakek nya Abang ini."ucap ustadz Mirza lalu menunjuk ke arah Argana


"Ooohh,,kek bang anteng."sahut nya beh oh ria


Johan tersenyum melihat bocah itu berbicara dengan bahasa cadel nya.


"Mari masuk. Umi,tolong siapkan makan malam yaa.Kita kedatangan tamu."ucap Ustadz Mirza


"Maafkan kami ustadz,karena telah merepotkan."ucap Argana yang merasa tidak enak


"Jangan sungkan,kalian adalah tamu ku.Sudah sepantasnya kalian diperlakukan dengan baik."ucap ustadz Mirza


Lalu mereka duduk di lantai yang telah dilapisi tikar pandan.Istri ustadz Mirza pun menghidangkan makanan dan minuman.Sedangkan Mizan,dia masih betah dipangkuan ayahnya.


Setelah itu,mereka berdoa bersama dan akhirnya menyantap hidangan.


*********


Tepat pukul sembilan,warga sudah berkumpul didepan balai desa.Mereka terlihat antusias ingin menghukum Bima yang telah membuat mereka sengsara selama ini.Karena hasutan Bima,mereka dengan mudah nya membakar Fandi dan arum didalam rumah nya.Dan akhirnya mereka harus diteror selama lebih kurang dua puluh tahun.Banyak keluarga mereka yang harus tewas ditangan kuntilanak Arum.


Itu semua karena Bima,mereka tetap menyalahkan Bima.Tidak sadar diri kah mereka,jika mereka melakukan perbuatan itu atas kemauan mereka sendiri.Yaa walaupun awal nya mereka merasa dihasut,tapi tetap saja perbuatan itu atas dasar mereka sendiri yang melakukannya.


"Bakar dia sekarang."teriak seorang pria


"Kubur saja dia hidup-hidup."


"Gantung saja,biar dia bisa merasakan kesakitan dan keputusasaan."


"Jangan banyak bacot,segera lakukan hukuman."


Warga desa beringin begitu semangat,tanpa sadar jika perbuatannya pada Bima.Tidak ada bedanya dengan perbuatan mereka pada Fandi dan Yasmin dahulu.


"Tenang. Harap tenang bapak-bapak dan ibu-ibu semuanya."ucap pak kades dengan berdiri gagah didepan warganya,disana juga ada Ibrahim dan Jefri menyaksikan perbuatan mereka.Mereka berdua ingin melihat,bagaimana tersiksanya Bima dengan hukuman itu.


Semua warga langsung tenang saat pak kades berbicara.Lalu dia memandang ke arah Bima yang terlihat sangat mengenaskan.Bibir Bima terlihat pucat dan dia juga sudah sangat lemas.Dia hanya makan saat pagi tadi saja.Yaitu ditempat dia disekap oleh Jefri.Bahkan,Bima juga sudah pasrah dengan hukuman yang akan diberikan oleh warga.


Tidak lama kemudian,ustadz Mirza bersama Argana,Takeshi dan Johan datang.


"Tidak bisa kah jangan menggunakan hukuman seperti ini?"tanya Argana pada mereka semua,semua orang pun menatapnya dengan berbagai macam ekspresi.


"Kenapa kau berkata seperti itu,Arga. Kau harus ingat,dia yang menyebabkan kematian kedua orang tuamu. Dia harus mendapatkan hukuman yang paling mengerikan."ucap Jefri


"Paman,maafkan perkataan ku.Aku tahu dan aku bisa merasakan bagaimana rasanya sakit jika mengingat kematian orang tua ku.Tapi,pernah kah kalian sadari. Jika kalian menghukum Paman Bima sepeda itu.Lalu apa bedanya kalian dengan nya? Harus nya kalian sadar diri,kalian juga ikut terlibat atas kematian kedua orang tuaku.


Jangan hanya karena paman Bima yang memfitnah ayah dan ibuku ,lalu menghasut kalian untuk membakar mereka.Lalu dengan seenaknya kalian melempar semua kesalahan pada paman Bima.Asal kalian tahu,itu bukan hanya salahnya,tapi salah kalian juga.Kalian juga ikut andil dalam permasalahan ini.Harus nya kalian juga ikut dihukum seperti paman Bima."ucap Argana dengan emosi tertahan didada


Benar.


Mereka juga ikut terlibat,namun mereka menutup mata atas kesalahannya.


"Kau jangan menghalangi kami untuk menghukum Bima anak muda.Tahu kah kau,jika putra kami dan keluarga kami banyak yang mati karena ibumu yang berubah menjadi setan dan meneror kami selama dua puluh tahun."ucap seseorang yang merasa kesal atas ucapan Argana


Argana terkekeh. "Ibuku tidak pernah menjadi setan. Asal kalian tahu,jika manusia yang sudah meninggal.Tidak akan pernah gentayangan dan menjadi setan.Yang menjadi setan itu hanya jin qarin saja."ucap Argana dengan tegas


"Heh,tetap saja gara-gara ibu mu kami jadi sengsara begini."


"Hentikan. Kenapa kalian mendebat Argana Seperti itu, harusnya kalian sadar diri.Jika kalian juga bersalah."bentak pak kades


"Pak kades,kami tahu jika putramu tewas karena ibu pemuda itu.Jadi,jangan terus-terusan membela nya."


Belum sempat pak kades membalas perkataan warga nya, tiba-tiba saja seorang gadis maju ke hadapan warga.Dan dia menatap semua orang dengan kepala miring dan tersenyum sinis.


"HIHIHIHHIHIHIHI."


*********

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2