
...***...
"Ne,,, Mikoto kun, kau mau kan?. Jadi temanku sampai akhir?." Itulah ucapan Yuuto sebelum ia menutup matanya dan tertidur pulas.
"Aaa, tentu saja. Aku adalah temanmu, sampai rasa sakit yang kita rasakan terbalaskan." Balas Mikoto dengan senyuman lembut, ia senang Yuuto membutuhkan dirinya, tidak seperti dirinya yang dulu selalu sendirian.
Flash back on
Lagi, ibu tirinya marah besar sampai menghajarnya tanpa belas kasihan. Ibu tirinya ini memang tidak menyukai kehadirannya.
"Sudah aku katakan berkali-kali, jangan pernah merepotkan anakku, kau ini mengerti atau tidak ucapan ku, anak haram sialan." Makinya sambil memukul tubuh Mikoto Hase dengan ikat pinggang suaminya.
"Aaakhqq, aku tidak minta bantuannya, tapi dia yang membantuku." Hase mencoba untuk membela dirinya, ia menahan sakit karena lecutan itu mengenai betis kirinya.
"Jadi kau kau mau menyalahkan anakku, Hah?." Yumi menjambak kuat rambut Hase, hingga remaja itu mendongak kan wajahnya.
Terlihat wajahnya yang lebam karena sering dipukul oleh ibu tirinya, juga kadang ayahnya memukulinya tanpa ampun. Hase hanya diam tidak menjawab, percuma saja membela diri jika pada akhirnya disalahkan juga.
"Ini yang terakhir kalinya aku memperingatkanmu!. Jika kau tidak suka kau boleh pergi dari rumahku!." Kata-kata itu begitu tajam dan menusuk, pilu dan sedih. Mengapa ia begitu dibenci oleh orang lain?. Apa salahnya?.
"Hiks, hiks, aku juga tidak ingin seperti ini." Rintihannya setiap hari selalu sama, ia juga tidak menginginkan hal seperti ini terjadi dalam hidupnya. Ia hanya diam meringkuk menahan sakit setelah kepergian ibu tirinya. Apa salahnya mencoba akrab dengan kakak tirinya Mikami. Apakah ia akan kehilangan satu-satunya orang yang selalu memperhatikan dirinya?. Apakah ia akan sendirian lagi?.
Begitu ia ingin berdiri, ia melihat abangnya datang dengan wajah cemas. ia segera menyeka air matanya.
"Okaeri mikami nii." Hase tersenyum manis untuk menutupi rasa sakit yang ia rasakan.
"Hase kun?." Mikami tercengang melihat kondisi adiknya yang babak belur, rasanya sangat sedih, kenapa adiknya diperlakukan seperti ini?. Kenapa ibunya sangat membenci adiknya?. Adiknya ini tidak tau apa-apa, tapi kenapa ia yang disalahkan?.
__ADS_1
"Hase kun." Mikami memeluk adiknya, ia tau adiknya sedang menyimpan rasa sakit sendirian, dan betul saja, adiknya menangis terisak begitu ia peluk.
"Gomen ne hase kun." Mikami sangat merasa bersalah pada adiknya ini, ia hanya melindungi adiknya, tapi kenapa ibunya tidak suka?. Mikami selalu bertanya pada ibunya tapi jawaban ibunya tetap saja.
Yaitu kebencian karena ibu dari anak itu telah merusak kebahagiannya bersama suami tercintanya, dan suaminya membenci anak ini karena ibu anak ini pergi meninggalkan dirinya.
Hase hanya terjebak dalam keegoisan orang tua mereka, karena itulah Mikami melindungi adiknya ini, tapi kenapa malah seperti ini?.
Flash back off
Keesokan harinya.
ini berita kedua tentang kematian siswa kelas 3A, yaitunya Ryoutaro. Situasi kelas lagi-lagi memanas, apalagi siswa menuduh Hasegawa Yuuto yang melakukan perbuatan keji itu.
"Cukup!. Hentikan kalian semuanya!." Hase Sensei menggebrak meja, suasana kelas hening seketika. Siswa yang menangis karena berita itu memperhatikan Hase Sensei dengan terisak.
"Sensei." Yuuto tidak percaya jika gurunya ini membelanya. Antara senang dan lega ada orang lain yang mempercayaimu?.
"Kalau kalian tidak mau bernasib sama dengan teman kalian yang membully hase kun. Maka hentikan perbuatan kalian dan minta maaf pada hase kun." l
Lanjut Hase Sensei dengan penuh penekanan. Ia juga tidak mengerti kenapa siswa yang membully Hasegawa Yuuto meninggal dengan cara mengerikan?.
Siswa di kelas 3A hanya diam saja, mereka tidak bersuara sedikitpun, hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Hase Sensei, namun hati mereka mengutuk Yuuto, dan mereka akan membuktikan jika Yuuto lah yang melakukannya.
"Bagus nii san. Bela saja yuuto, jangan dengarkan mereka." Disisi lain Mikoto yang selalu memperhatikan Yuuto tersenyum lebar melihat itu. Melihat kakaknya Mikoto Mikami yang sekarang bernama Hase Mikami membela Yuuto. ia sangat senang karena Yuuto tidak disalahkan dalam kasus ini.
Tapi jangan harap ia akan berhenti meski siswa kelas 3A minta maaf pada Yuuto dan masalah ini selesai begitu saja?.
__ADS_1
"Tidak. Kalian salah besar." Mikoto menyeringai seram, ia menatap tajam satu persatu siswa di kelas. "Kalian harus merasakan sakit yang kami rasakan. Jangan lari dari tanggung jawab perbuatan yang kalian lakukan pada kami." Ucap saja lagi, hatinya saat ini penuh dengan dendam, rasa sakit masa lalu yang masih membekas di dalam hatinya seakan tidak bisa memaafkan apa yang terjadi.
"Mikoto kun." Dari sudut matanya Yuuto melihat sosok Mikoto, ia tahu jika perasaannya yang bergejolak ini berasal dari Mikoto.
Ia sadar jika ada sesuatu yang aneh pada Mikoto setelah hampir dua Minggu bersama. Bukannya Yuuto tidak menyadarinya, tetapi saat ini, hanya Mikoto satu-satunya teman yang ia miliki saat ini, jadi ia hanya diam saja untuk saat ini.
Seperti yang ia ia katakan pada Mikoto, apakah Mikoto mau berteman dengannya hingga akhir?.
"Arigatou, mikoto Kun." Batin Yuuto tersenyum tipis. Beban di dalam dadanya sedikit berkurang, meski dibayar dengan kejahatan.
Sementara Hase Sensei berusaha menjelaskan pada siswanya bahwa bully itu tidak baik, dan jam pelajaran kali ini hanya membahas masalah yang terjadi berhubungan dengan kedua teman mereka yang meninggal dengan cara yang tidak wajar.
...***...
Dua hari kemudian.
Yuuto dan Mikoto sedang berjalan menuju kosan, namun tiba-tiba ada seseorang yang mencegat Yuuto. Pria tua itu menatap tajam ke arah samping Yuuto.
"Apakah begitu besar beban yang kau pikul nak?." Pria tua itu tersenyum lembut menatap Yuuto, ia tepuk pundak Yuuto dengan pelan.
Yuuto hanya diam saja, ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Pria Tua ini, sepertinya Pria ini seorang pendeta jika dilihat dari pakaiannya.
"Kau tidak boleh mengikuti rasa sakitmu. Jika kau ingin mengurangi bebanmu, maka datanglah kepada ku. Maka aku akan membantumu." Lanjutnya lagi, kali ini ia mengusap kepala Yuuto. Senyumnya masih melekat di wajahnya yang mulai keriputan.
"Kendalikan ia, Jangan turuti dendamnya dengan dendammu yang masih hidup." Bisik pendeta itu di telinga Yuuto, membuat Yuuto terbelalak kaget. Kenapa Pria Tua ini bisa tahu?. Apakah ia bisa melihat Mikoto?. Entahlah.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?.
__ADS_1
...***...