
...***...
Pukul 19.30
Saat itu Yui sedang berada di rumahnya, karena saat itu ia meminta izin pada ayahnya untuk pulang?. Ia ingin menceritakan sesuatu pada ayahnya saat itu juga. Saat itu mereka sedang berada di ruang keluarga, ada ibunya juga. Yamazaki Arata dan Yamazaki Arora.
"Bagaimana keadaan pasienmu itu?. Ibu dengar dari ayah, kau sedang merawat seorang anak yang terluka parah." Yamazaki Arora tersenyum kecil.
"Um. Seperti itulah ibu." Jawabnya.
"Apakah karena kau teringat dengan anak itu?. Sehingga kau ingin merawat anak itu?." Mungkin itu adalah anggapannya saja.
"Um. Bisa jadi seperti itu ibu." Balasnya dengan tidak bersemangat.
"Apakah kau mengalami kesulitan ketika merawat anak itu?. Sehingga kau terlihat tidak bersemangat sepertti itu?." Yamazaki Arata sangat heran dengan sikap anaknya. "Apakah kau akan menyerah merawatnya?." Itulah pertanyaan yang ia lemparkan saat itu pada anaknya.
"Tidak. Bukan seperti itu ayah." Tidak terlihat ada semangat yang diperlihatkan Yui.
"Jika memang tidak?. Kenapa kau terlihat sangat murung seperti itu?." Yamazaki Arora juga sangat penasaran. "Apa yang membuatmu sepertti ini?. Apakah kau bisa menjelaskan pada kami?." Tentunya ia ingin mengetahui apa alasan anaknya terlihat sangat sedih.
"Nanti akan aku ceritakan pada ayah, juga ibu." Hanya seperti itu saja balasannya.
"Eh?." Yamazaki Arora dan Yamazaki Arata sangat heran dengan sikap anak mereka yang seperti itu.
"Kalau begitu aku mau istirahat dulu ayah. Aku tidak mau kelelahan sebelum anak itu bangun nantinya." Yui langsung pergi meninggalkan tempat.
"Apakah kau telah melakukan sesuatu padanya?. Sayangku?." Dengan tatapan menusuk Yamazaki Yui langsung bertanya seperti itu pada suaminya?.
__ADS_1
"Ma-mana mungkin aku membuat yui murung seperti itu." Balasnya dengan sangat cepat. "Aku bahkan penasaran kenapa wajahnya seperti itu." Arata benar-benar sangat gugup dengan pertanyaan istrinya.
"Lantas?. Kenapa anak kita seperti itu?." Dalam hatinya sangat heran dengan apa yang telah terjadi pada anaknya saat itu.
"Nanti akan aku cari tahu penyebabnya." Arata juga tidak ingin melihat anaknya sedih.
Tentunya keduanya sangat mengetahui kedekatan antara Yui dengan Hase di masa lalu. Bahkan Yui selalu bersemangat jika menceritakan tentang Hase pada keduanya. Keduanya sama sekali tidak merasa keberatan sama sekali. Namun, apakah yang akan mereka lakukan setelah ini?. Simak terus ceritanya.
Sementara itu Yui yang masih murung di kamarnya saat itu. Ia masih belum percaya dengan apa yang telah diceritakan oleh Dokter Remon padanya saat itu. Sungguh sangat heran dan sangat mengejutkan baginya.
Kembali ke masa itu.
"Kau janji tidak akan mengatakan masalah ini pada orang lain?. Termasuk pada ayah dan ibumu jika bertanya nantinya?." Sebelum ia menceritakannya ia mengajukan permintaan pada Yui.
"Baiklah remon-ji. Aku janji tidak akan mengatakannya pada siapapun juga, termasuk pada ayah dan ibuku." Demi mendengarkan kebenaran itu ia telah mengatakan janjinya.
Deg!.
Jantung Yui seperti dipukul dengan palu kenyataan yang sangat menyakitkan setelah mengetahui kebenaran itu?.
"Ahaha!. Remon-ji. Jangan bercanda padaku ya?. Itu rasanya tidak mungkin." Yui sama sekali tidak percaya dengan ucapan itu.
"Jika kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan tidak apa-apa." Dokter Remon saat itu tidak memaksa sama sekali, sehingga ia tidak merasa keberatan saat Yui tidak percaya dengan ucapannya. "Tapi kenyataannya adalah?. Hasegawa yuuto sebenarnya adalah anakku dengan wanita lain." Ucapnya lagi dengan senyuman kecil. Namun saat itu ia sedang menyimpan luka yang sangat parah.
"Re-remon-ji serius?." Yui masih belum percaya. "Lalu bagaimana dengan renna-ba-chan mengetahui ini?. Atau tidak mengetahui ini sama sekali?." Dengan perasaan yang sangat cemas ia bertanya seperti itu.
"Renna chan mengetahuinya. Hanya saja tidak mengizinkan aku untuk merawat anak ini." Dengan perasaan sedih ia berkata seperti itu. "Aku telah menitipkan anak ini pada ibu kandungnya. Tapi ibu kandungnya juga tidak mau menerimanya, karena aku tidak menikahinya." Ucapnya dengan perasaan sangat sedih.
__ADS_1
"Kau sangat jahat sekali remon-ji." Entah kenapa hatinya saat itu sangat sakit. "Jadi bagaimana dengan ibu kandungnya?. Dari kabar yang aku dapatkan, yuuto sama sekali tidak dirawat ibunya. Dia tinggal sendirian di kosan kecil." Hatinya merasa simpati dengan apa yang terjadi pada Yuuto. "Sebagai seorang ayah?!. Harusnya remon-ji tidak membuangnya." Hatinya sangat kesal di saat yang bersamaan.
"Itu memang kesalahan besar yang aku miliki. Aku telah menelantarkan anakku. Aku lah yang salah telah selingkuh dengan anak sekolah pada saat itu." Ucapnya dengan penuh penyesalan.
Duakh!.
Tanpa pikir panjang, ia memukul kepala Dokter Remon dengan kesalnya. "Kau ini laki-laki yang sangat menyedihkan sekali!. Berani sekali kau membuang anak kandungmu yang tidak mengerti apa-apa. Dan kau malah selingkuh dengan anak sekolah?. Apakah kau tidak puas hanya dengan renna-ba-chan?." Ada amarah yang ia sampaikan saat itu.
"Aku memang salah. Aku salah." Ia mengakui kesalahannya saat itu.
"Jika memang bersalah?. Kenapa remon-ji tidak mencari keberadaannya?. Atau mencari keberadaan ibunya?." Ia sangat kesal.
"Aku telah mencari keberadaan mereka, tapi tidak ketemu sama sekali." Ya. Ia telah melakukan itu, sayangnya tidak ada masalah sama sekali.
"Saat ini keadaannya sangat menderita. Ia dibully di sekolahnya dengan sebutan anak haram." Hatinya semakin sakit mengingat apa yang telah ia saksikan saat itu.
"Eh?." Dokter Remon sangat terkejut.
"Yuuto menjadi korban bully. Kondisinya yang sekarang sekarat karena perbuatan bocah ingusan yang sama sekali tidak suka ada anak yang lahir seperti yuuto. Lahir dari seroang ibu pelakor." Dengan perasaan yang sangat sedih ia berkata seperti itu. "Menjadi korban mereka yang merasa hidupnya sangat sempurna. Apakah paman tidak merasa kasihan dengan hidupnya yang sepertti itu?." Hampir saja ia menangis sambil mengingat nasib Hase temannya di masa lalu.
"Ya. Aku akan mengatasi masalah ini. Aku yang akan bertanggung jawab atas perawatan yang akan ia lalui nantinya." Hatinya juga sedih membayangkan bagaimana perlakuan siswa lainnya pada anaknya itu?. "Sungguh, maafkan ayah, nak?." Hatinya sangat iba mendengarkan apa yang telah dikatakan Yui padanya.
"Paman harus lebih perhatian padanya. Akan berbahaya jika tidak segera bertindak. Aku takut ia akan mengalami nasib yang sama dengan hase." Yui tidak ingin itu terjadi pada Yuuto. "Paman harus bisa menjaganya dari apapun itu." Ucapnya dengan sangat serius.
Apakah yang terjadi?.
...***...
__ADS_1