Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Dijodohkan Dengan Ketos Galak
eps 10


__ADS_3

hari ini ke lulusan Bryan


semua murid hadir merayakan kenaikan kelas dan kelulusan


Nindy duduk di barisan depan dengan orang tua Bryan dan ibunya


menyaksikan Bryan mendapatkan penghargaan di sekolah


Bryan turun menyalami orang tua Bryan dan ibu Nindy


ketika bryan mendekatinya Nindy menghalau dengan tangannya


membuat orang tua Bryan dan ibu Dessy heran


Bryan mengalah menjauh dari Nindy


meira mendekati orang tua Bryan begitu pula dengan Maria


mereka menyalami orang tua Bryan


" halo Tante saya Meira teman dekatnya Bryan" ucap meira setelah bersalaman membuat bunda menautkan alisnya lalu saling tatap dengan ayah


" saya Maria Tante mantannya Bryan" ucap Maria kini ayah dan. bunda menatap Bryan, Bryan yang di tatap menunduk seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


" ohh iya, kami permisi dulu ya" ucap orang tua Bryan dan ibu Nindy pergi


Bryan menatap Nindy yang masih diam di sampingnya


meira dan Maria saling tatap dengan wajah yang memancarkan aura permusuhan


Maria menggandeng tangan Bryan menggelayut manja


membuat Nindy menghela nafas kasar dan menggeleng


" Bryan kita ke cafe favorit kita yuk, kita rayakan kelulusan kita" ucap Maria, Meira juga tidak mau kalah dia menggandeng tangan Bryan yang satunya lagi dan menyingkirkan Nindy yang ada di sampingnya


" gak tau malu banget " ucap Nindy pergi dari sana


" nin tunggu, kalian apaan sih lepas" ucap Bryan menepis tangan mereka


meira dan Maria memberengut kesal


Maria pergi mengikuti Bryan dan Nindy


Nindy dan bryan sekarang tinggal di apartemen dengan alasan ingin hidup mandiri


Bryan memiliki cafe yang di kelola sahabatnya karena dia masih sekolah bryan sesekali ke cafe hanya untuk mengontrol keuangan


bryan memilih tinggal di apartemen karena ingin menyembunyikan kehamilan Nindy dari kedua orang tuanya


Bryan takut di marahi bunda karena tidak mendengarkan perkataannya


flashback


" nin jangan bilang dulu sama orang tua kita ya" ucap bryan


'' takut di marahin bunda ya'' ucap Nindy meledek


'' gak kok siapa bilang" Bryan menyangkalnya


" ya udah gue bilangin aahh'' ucap Nindy seraya berjalan ke arah pintu kamar


" jangan, bisa abis telinga gue di jewer" ucap Bryan memeluk nindy dari belakang


" iya iya lepasin dong gue mau muntah nih" ucap Nindy Bryan segera melepaskannya karena takut Nindy muntah di baju nya lagi


Nindy berlari ke kamar mandi benar saja dia muntah setelah Bryan memeluknya


setelah Nindy membaik mereka turun dan meminta izin pada ibu Dessy untuk pindah ke apartemen


" kenapa gak disini aja? ibu pasti kesepian" ucap Bu Desy


" kita mau mandiri Bu, kita mau belajar menghadapi apapun berdua nanti kita bakal sering kesini kok" ucap Nindy meyakinkan ibunya


" ya sudah kapan kalian pindah?" tanya ibu Dessy


" hari ini Bu kita GK bawa apa apa kok baju juga cuma sedikit" jawab Bryan


" baiklah jika itu mau kalian, ibu titip Nindy ya jaga dia'' ucap ibu Dessy


flashback off


sesampainya di parkiran apartemen Maria membuntuti Bryan dan Nindy


sampai Bryan dan Nindy benar benar masuk


Maria menguping di pintu tapi tidak terdengar apapun


tiba tiba Maria di kagetkan dengan kedatangan Wina dara dan Reno yang menepuk pundaknya


" Lo lagi ngintip ya'" ucap Wina menepuk pundak Maria membuatnya terperanjat


" eehh gak kok ga, kalian ngapain disini?" tanya Maria


" kita janjian mau main game sama Bryan" ucap Reno


Bryan yang tau di buntuti oleh Maria akhirnya mendapatkan ide menelpon Reno dan sahabat nindy


hal itu berhasil membuat Maria percaya


" Lo mau ikut masuk juga?" ajak Reno


" boleh'' ucap Maria ikut masuk setelah Bryan membukakan pintu


Bryan dan Reno bermain game sedangkan Nindy dan sahabatnya membuat makanan untuk mereka


Maria yang canggung mau tidak mau membantu


devano mencium wangi kue di dapur mengakhiri permainannya dia menyusul para wanita ke dapur


" eemmhh wangi banget" ucap Bryan seraya mengendus tengkuk nindy

__ADS_1


"Bryan diem aahh'' ucap Nindy membekap mulutnya


Maria yang melihat itu semakin merasa kesal


memotong buah dengan kasar membuat mereka menatap Maria


ketika mereka menatap Maria mereka di kejutkan dengan Nindy yang lari ke kamar mandi karena muntah


mereka semua mengejar Nindy karena penasaran dengan keadaan Nindy


"Nindy Lo kenapa?" ujar Wina mengetuk pintu


'' Nindy kita kerumah sakit ya" ucap dara


mereka melihat Bryan biasa saja tidak ada rasa khawatirnya sama sekali


dia hanya bersandar menumpangkan kakinya


Maria merasa heran kenapa Nindy muntah saat di dekati Bryan dia teringat sesuatu


Nindy muncul dari balik pintu memegangi kepalanya


" Nindy Lo GK apa apa? " tanya Wina dan dara yang di jawab gelengan oleh Nindy


" Lo hamil ya ?" celetuk Maria membuat mereka saling pandang lalu menatap Maria bersamaan


" Lo jangan gila deh, Nindy GK mungkin kayak gitu" ujar dara


" gue kan cuma nanya, soalnya kakak gue waktu hamil gitu Deket sama orang yang menurutnya bau ya muntah" ujar Maria


" gue gak apa apa cuma masuk angin, makan kuenya yuk" ajak Nindy agar mereka tidak bertanya terus


" Lo yakin gak apa apa?" ujar dara


" gak, ayo aahh''" Nindy menarik tangan dara


Maria menatap Nindy penuh curiga setiap gerak geriknya di awasi begitu juga dengan bryan


"gue per liat Lo sama Bryan pulang malem ke rumah lo" ujar Maria membuat Nindy tersedak


" nin Lo gak papa, nih" ujar Bryan memberikan segelas air


" gue cuma nganterin Nindy aja abis nonton" lanjut Bryan


" terus nginep?" ujar Maria membuat Nindy panik


"ohh hahaha, gak kok dirumahkan ada ibu" ucap Nindy dengan ketawa yang di paksakan


"ohh ya" ucap Maria


ketika Nindy dan teman temannya membereskan piring bekas mereka


Maria dengan sengaja menyenggol Nindy hingga perutnya terpentok meja


" awwwww , perut gue" Nindy meringis membuat Bryan segera menghampirinya


" perut gue Bryan sakit banget" ucap Nindy meremas lengan Bryan


" Lo semua pulang aja gue mau bawa Nindy dulu" ucap Bryan


" jangan sekarang please entar gue kabarin" ucap Bryan membuat mereka kecewa tidak bisa menemani Nindy


Bryan membawa Nindy ke dokter dengan mengemudi sangat kencang


dia takut terjadi apa apa pada Nindy dan anaknya


setelah sampai Nindy langsung di tangani


Bryan menunggu mondar mandir di luar ruangan


saat dokter keluar Bryan langsung memberondong dokter dengan sederet pertanyaan


" dok gimana keadaan istri dan anak saya? apa mereka baik baik saja?dokter saya tidak mau tanya pokoknya dokter harus menyelamatkan mereka, bisakan dokter bisakan?" ucap Bryan membuat dokter tersenyum


" tenang saja tuan ibu dan bayinya baik baik saja untuk kedepannya harus bisa benar benar menjaganya " ucap dokter lalu Bryan berterimakasih lalu lari kedalam


" mana yang sakit?" tanya bryan mendekatinya


"perut gue cuma ngilu, Lo jangan Deket Deket deh" ucap Nindy


"udah ngasih tau ibu belum" tanya Nindy


" jangan deh Lo juga udah GK apa apa kan?" ucap bryan


" Lo masih takut sama bunda? mau sampe kapan di sembunyikan entar kalo tau dari orang bunda pasti marah banget " ujar Nindy


" yaudah entar gue yang ngomong deh kalo waktunya tepat" ucap Bryan


Bryan membayar administrasi Nindy


karena keadaannya baik baik saja Nindy besok di bolehkan pulang


di rumahnya Maria curiga dengan Nindy dan Bryan


dia mengira Nindy hamil di luar nikah


" gue pasti bisa bongkar semuanya, tunggu aja Lo Nindy" ujar Maria dengan menyunggingkan senyumnya


keesokan harinya Bryan membawa nampan berisi sarapan untuknya dan Nindy


nasi goreng sambal matah dan ayam untuk bryan


lalu bubur untuk nindy


Nindy melirik mangkuknya dan piring bryan berganti


" gue cobain dikit dong" ucap Nindy


" gak boleh lo kan lagi sakit, makan aja tuh bubur abisin" ucap Bryan dengan mulut penuh


Nindy hanya bisa menelan salivanya Bryan makan enak sementara dirinya makan bubur hambar

__ADS_1


setelah sarapan mereka pulang


Nindy mengusap perut nya dia masih tidak menyangka ada kehidupan kecil di perutnya


Bryan yang melihat Nindy mengulurkan tangannya akan menyentuh perut Nindy


" Bryan stop jangan buat gue muntah lagi" ucap Nindy menatap tajam pada Bryan membuatnya menarik tangannya kembali


" Bryan gue mau itu" ucap Nindy menengok jendela karena sudah terlewat


" bryaaaaannn stop" lanjut Nindy membuat Bryan mengerem mendadak


"apa sih ngagetin. aja bahaya tau" bryan membentak Nindy seraya menghendaki mobilnya


Nindy yang di bentak Bryan perlahan air matanya menggenang


bibirnya mulai di tekuk dan di sekitar hidung memerah menandakan dia akan segera menangis


Bryan yang melihat itu merutuki kebodohan nya


" duuhh maaf ya bukaan maksud gue marahin Lo" ucap Bryan seraya menggaruk kepalanya


" gak apa apa gue mau pulang gue cape' ucap Nindy dengan suara khas orang menahan tangis


" sayang jangan gitu dong kalo kamu sedih entar dedenya juga sedih, Sekarang bilang kamu mau apa?" bujuk Bryan


Nindy yang mendengar itu menyeka air matanya


dia terpengaruh dengan omongan Bryan


dia tidak mau anaknya bersedih


" aku mau telor gulung itu" ucap Nindy seraya menunjuk


Bryan menghela nafas panjang dengan malas dia memutar balik mobil ya


Bryan mulai tidak enak perasaan


dia turun dari mobil memesan


tapi Nindy mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil


" aku maunya kamu yang gulung by" ucap Nindy manja membuat Bryan meleleh sebentar


" udah gue duga " gumam Bryan


Bryan mencoba menggulung tapi tidak ada yang berhasil satupun


waktu berlalu cukup lama sampai telur di wadah akan habis tinggal sedikit lagi


Bryan bercucuran keringat tukang telur gulung hanya menggelengkan kepalanya


Nindy yang menunggu mulai kesal


" Lo lama banget sih, kalo gak bisa biar abangnya aja yang bikin" ucap Nindy marah marah tidak merasa bersalah


" ya Allah Gusti, tadi gue juga udah bilang gak bisa" gumam Bryan


"istrinya lagi ngidam ya mas" tanya Abang tukang telur gulung


" iya bang ngidamnya aneh aneh pusing saya" ucap Bryan yang di dengar Nindy


" apa Lo bilang? jadi Lo gak ikhlas apa yang udah Lo lakuin buat anak kita gak ikhlas? jangan mau enaknya aja dong Lo gak tau gimana menderitanya gue muntah muntah tiap waktu Lo di suruh gitu aja ngeluh " ucap Nindy dengan segala omelannya


" sayangku cintaku manisku aku padamu, gak gitu yang kamu salah ngertiin" ucap Bryan mengusap wajahnya kasar


" yang sabar ya mas" ucap tukang telur gulung seraya menepuk nepukan pundak Bryan


Bryan membayar semua dagangannya yang hancur menjadi bahan eksperimen gagal Bryan membuat pedagang itu senang


Bryan masuk ke dalam mobil memberikan bingkisan seraya tersenyum manis


" kenapa senyumnya gitu? Lo ngeledek ya?" tanya Nindy


" ya Allah sayang gak gitu, kok aku jadi salah Mulu" ucap Bryan mulai putus asa


" karena cowok itu selalu salah, kalian gak pernah peka gak pernah ngerti" ucap Nindy


" ya cewek maha benar, kalian gak pernah salah " jawab Bryan


"emang" singkatan Nindy dengan wajah juteknya


sesampainya di apartemen disana sudah ada Maria


dia menunggu di depan pintu apartemen


membuat Bryan terkejut begitu juga dengan Nindy


" loh kok Nindy di bawa kesini bukan kerumahnya?" ucap Maria


" oohhh iya hehe nanti di jemput ibunya" ucap bryan


" ohh gitu, gue boleh masuk dulu kan?" ucap Maria membuat bryan dan Nindy saling pandang


" bo.. boooleh ayo masuk" ucap Bryan


Bryan mendudukan nindy di ranjang sementara dia menemui Maria yang duduk di sofa


Maria senang melihat Bryan yang menghampirinya tanpa nindy


Bryan duduk di ujung sofa berjauhan dengan Maria tapi Maria mendekatinya menyandarkan kepalanya di bahu Bryan


"geser kek disana masih kosong" ucap Bryan mendorong dorong kepala Maria yang menempel di pundaknya


'' iihh Bryan gini doang juga, dulu aja lebih dari ini gak apa apa" ucap Maria memeluk lengan Bryan


" Lo ngomong apa sih , minggir sana nanti Nindy liat bisa salah paham" ucap Bryan berusaha menjauh


" Lo kenapa sih kaya takut banget sama Nindy?" tanya Maria


" karena dia itu..... dia calon istri gue" ucap Bryan yang sempat tergantung

__ADS_1


" kan cuma calon masih belum sah" ucap Maria memeluk bryan


" kalian lagi ngapain" tanya Nindy membuat Bryan terperanjat mendorong tubuh Maria


__ADS_2