
"Nindy awas"
Buuuggghhhh
Nindy menendang Maria yang hendak memukulnya dengan balok kayu
Maria tersungkur ke tepi lemari yang sudah usang
"Hendrico... hendrico.. lo masih pura pura baik? hah" ucap Maria sambil bersandar di lemari kecil
"Lo udah gila" hardik Hendrico
"Waaww lo bilang gue gila? lalu apa bedanya sama lo? "
"Jangan lupain siapa yang udah lecehin Nindy waktu sekolah" lanjut Maria
Deeggggg
Nindy mematung menatap hendrico dia menggelengkan kepalanya
menjauh dari hendrico perlahan jalan mundur
"Nin lo gak percaya gitu aja kan?" ucap Hendrico
Nindy hanya menggeleng dan mundur seiring majunya langkah Hendrico
"Stop jangan mendekat"
"Nin ini gak seperti yang lo bayangin"
"Gak seperti yang di bayangkan gimana? jelas jelas lo yang ngajak temen temen lo buat lecehin Nindy karena lo di tolak teruskan? dan lo adalah orang yang udah neror Nindy dengan hoodie " ucap Maria
"Hahahaaa jangan sok jadi malaikat Hendrico" Maria terus saja membicarakan tentang masa lalu Hendrico
Nindy mulai merasakan perutnya kembali keram dia memegangi perutnya meringis kecil
Hendrico yang panik hendak mendekati Nindy tapi Nindy malah berteriak menyuruhnya menjauh
Sementara itu Maria mengambil sesuatu di laci lemari usang itu
"Lo harusnya mati dari dulu Nindy" Maria mengacungkan senjata apinya ke arah Nindy
"Jangan lakuin ini lo bisa masuk penjara" ucap Hendrico
"Gue gak peduli, kita bisa mati sama sama disini" Maria sudah bersiap menarik pelatuknya
"Maria lo gila" Teriak Hendrico
"Segilanya gue gue gak pernah berniat celakain lo nin gue bersumpah, gue cuma neror lo aja" Hendrico membuat pengakuan
"Bye bye Nindy" ledek Maria
Doorrrrr
"Aakkkhhhh" teriak Nindy
Wwiiiww wwiiiww
Terdengar suara sirene mobil polisi membuat Maria panik
"Maria jangan kabur " Nindy menghalangi Maria
Namun nahas Maria tahu kelemahan Nindy yang sedang mengandung dia menendang perut Nindy hingga terjungkal kebelakang
dan Maria pun berhasil kabur saat polisi datang
"Nin lo tahan pertolongan bentar lagi datang" samar samar terdengar suara Hendrico yang melemah sebelum Nindy pingsan
Hendrico yang terkena luka tembak di dadanya karena menghalangi Nindy berusaha kuat untuk mengangkat kepala Nindy yang tergeletak pingsan
lalu kemudian dia juga tak sadarkan diri setelah menjadikan tangannya sebagai bantal untuk Nindy
__ADS_1
Flashback on
Hendrico melihat Nindy yang sedang mengemudi sambil menangis
dia mengikutinya sampai ke gubug tua itu
saat Nindy sedang berdebat dengan Maria dia memanggil polisi karena merasa Nindy sedang dalam bahaya
Namun polisi datang disaat yang tidak tepat kedua orang itu sudah tergeletak bersimbah darah
Flashback ******off******
.
.
"Uncle aku harus pulang" pinta Cia
"Kamu gak betah disini? disini kebutuhan kamu sudah terpenuhi" ucap Mark yang percakapan mereka di terjemahkan oleh anak buahnya
"Aku kangen Mama" lirih Cia
Sejujurnya Mark merasa kesepian dia tidak pernah mengasuh anak
dia hanya foya foya bermain wanita dan keluar masuk club malam
Hadirnya Cia yang menurutnya bisa mengobati kesepiannya membuatnya enggan melepaskan atau menyakiti anak itu
"Uncle punya mama? " tanya Cia yang rambutnya sedang di sisir Mark
"Punya" jawab Mark
"Apa uncle tidak kangen mama? " tanya Cia
"Tidak aku tidak pernah merindukan siapa pun dan aku tidak pernah mencintai siapapun" Jawab Mark
" Uncle punya anak? " Tanya Cia
" Punya, dia cantik sangat cantik tapi sayang uncle tidak pernah bertemu lagi dengannya sejak dia bayi"
"Kenapa? apa dia sama seperti aku di pisahkan dari kecil? " tanya Cia
"Ya keadaan memaksa kita berpisah entah dia mau menerimaku atau tidak jika dia tahu aku adalah ayahnya" ucap Mark
"Uncle menyayanginya? " tanya Cia
"Sangat sangat menyayanginya, dia satu satunya orang yang uncle sayangi" jawab Mark
.
.
Leo dan Bryan berhasil menemukan tempat persembunyian Mark
Tapi sebelum mereka masuk anak buah Mark sudah lebih dulu tau dan memberi informasi pada Mark agar pergi dari sana
Leo Bryan dan anak buahnya berhasil mengalahkan anak buah Mark tapi sayang Mark sudah pergi dari sana
"Sial Arrrggghhh" Bryan berteriak menendang barang barang disana
"Kita akan cari besok, sebaiknya kita pergi dari sini jangan sampai kita masuk dalam jebakan Mark" ujar Leo menepuk-nepuk bahu Bryan
Di perjalanan Bryan mendapat telpon dari handphone Nindy
"Hallo sayang ada apa? " ucap Bryan
"Hallo pak saya hanya ingin memberi tahukan bahwa nyonya Nindy masuk rumah sakit" ujar si penelepon
"Apaaa? " teriak Bryan
"Ada apa? " tanya Leo
__ADS_1
"Nindy masuk rumah sakit kita harus kesana sekarang"
Sesampainya disana di Depan ruangan Nindy dirawat dijaga oleh polisi
Bryan dan Leo saling menatap merasa heran kenapa Nindy bisa sampai di jaga polisi
"Ada apa ini pak? " tanya Leo
"Begini pak, sodari Nindy terluka di sebuah gubug dia tidak sadarkan diri saat kami tiba dan si tersangka melarikan diri"
"Ada dua korban disana yang satu laki laki dengan luka tembak di bagian dada sebelah kiri, dan laki laki itu yang menelpon kami agar datang kesana... untuk kejadian yang sebenarnya kita masih menunggu keduanya sadar" lanjut polisi
Setelah mendengar penjelasan polisi Bryan dan Leo masuk ke ruangan Nindy
dimana ruangan Nindy dan Hendrico di satukan dan hanya di skat gorden
Bryan mengepalkan tangannya dia ingin cepat mengintrogasi keduanya mengapa mereka bisa berdua di gubug
"Kalian saudara korban? " ucap dokter yang baru saja datang
"Iya dok, saya suaminya" jawab Bryan
"Ini dompet dan handphone nyonya Nindy maaf kami lancang membukanya untuk menemukan identitas" ucap dokter
"Bagaimana keadaan istri saya dok? " tanya Bryan
"Istri anda baik hanya saja.... "
"Hanya saja apa dok? " tanya Bryan mulai panik
"Kandungannya mengalami keguguran pak, beri support kepada pasien agar dia tidak depresi kehilangan anaknya, Jangan tanyakan sesuatu yang bisa membuat dia bersedih" lanjut dokter
Bryan duduk disamping Nindy mengusap kepalanya serta menciumi tangannya
Leo menepuk pundak Bryan memberi kekuatan padanya
"Satu lagi ujian buat rumah tangga kalian, gue titip adik gue, gue yakin lo orang yang tepat yang bisa jagain dia" Leo pergi keluar ruangan itu untuk kembali melacak keberadaan Mark
"Haus" lirih Nindy yang baru saja sadar
"Minum sayang " Bryan memberikan minum pada Nindy
"Aku dimana, perut aku sakit" Nindy meringis memegangi perutnya
"Kita pindah kamar ya sayang biar kamu lebih enakan" Bryan memindahkan Nindy ke ruangan VIP
"Aku Mau ke kamar mandi" sesampainya di kamar baru Nindy ingin buang air kecil
"Aku bantu" Bryan memapah Nindy
"Kamu tunggu di luar aja" Nindy kemudian menutup pintu
"Darah? darah apa ini? gak mungkin gak mungkin" Nindy menggelengkan kepalanya
Menepis semua kemungkinan yang berputar di kepalanya
Nindy meraba raba perutnya karena belum terlalu besar Nindy masih tidak mau menerima jika dia keguguran
"Gak... gak mungkiiiinnnn arrrggghhh gak mungkin" Nindy menjerit jerit sendiri di kamar mandi
Bryan yang Khawatir mendobrak pintu kamar mandi dan menemukan Nindy sedang duduk di sudut memeluk kedua lututnya
"Sayang" panggil Bryan
"Gak mungkin.. ini semua gak mungkin kan? " tanya Nindy dengan berlinang air mata
"Dengerin aku, Ikhlaskan sayang jangan membuat berat kepergiannya, dia akan menjadi anak syurga " Bryan memeluk Nindy dan mengusap rambutnya
"Kenapa Tuhan gak pernah adil, kenapa harus orang orang yang aku cinta yang di ambil, aku hanya ingin berkumpul dengan mereka gak lebih" Nindy terisak di pelukan Bryan
"Gak ada yang abadi sayang, apapun yang kita punya sekarang adalah milik sang pencipta hanya dia yang berhak menentukan untuk mengambil atau membiarkan kita merawatnya, apapun itu yang ada di dunia tidak akan abadi" ucap Bryan
__ADS_1