
Nindy keluar dari rumah sakit menuju mobilnya
Bryan yang sedari tadi menunggu di luar menghampirinya
memegang erat tangan Nindy agar tidak pergi
"Apa lagi" ucap Nindy memutar matanya jengah
"Aku mohon demi bunda kita kembali lagi seperti dulu" ucap Bryan
"Demi bunda? bunda gak nyuruh kita balikan dia cuma minta supaya saya temenin aja" ucap Nindy tersenyum sinis
Bryan malu bukan main dia merutuki kebodohannya
kenapa bisa bisanya dia berbicara seperti itu
Bryan melepaskan genggamannya lalu menyilangkan tangannya di dada bergaya sok angkuh
"Ya kali aja kan bunda masih ngarepin kamu jadi mantunya" ucap Bryann
"Permisi tuan Brayn saya harus pergi" ucap Nindy menepis tangan Bryan lalu masuk ke mobilnya
"Nindy... Nindy " panggil Bryan tapi Nindy tidak menghiraukannya
Bryan membuntuti kemana Nindy pergi sampai di sebuah sekolah TK
Bryan bertanya tanya siapa anak yang bersama Nindy
apakah Nindy berbohong jika anak mereka hilang
Bryan terus membuntuti Nindy ternyata Nindy masuk ke sebuah panti asuhan
Bryan terenyuh ternyata meskipun Nindy banyak berubah
tapi hatinya masih lembut dan baik seperti dulu
Bryan terus menunggu disana memperhatikan Nindy dari kejauhan
semua anak anak sudah kembali dari sekolah
Nindy tidak kunjung keluar dia sedang memasak untuk anak anak
setelah selesai pekerjaannya barulah Nindy bermain di halaman bersama anak anak itu
Bryan melihat tawa Nindy yang tidak pernah ia tunjukkan di hadapannya
Bryan benar benar merindukan Nindy yang mustahil sekarang bisa ia dekati dengan mudah
"Gimana caranya supaya kamu mau dengerin aku" gumam Bryan
Beberapa hari kemudian Bryan ke panti asuhan itu lagi
pagi pagi sekali dia kesana setelah mengikuti kegiatan Nindy setiap hari
dia jadi tau Nindy kesana jam 6 pagi jadi dia kesana 30 menit sebelum Nindy
"Assalamualaikum" ucap Bryan
"Waalaikum salam, maaf tuan cari siapa?" ucap ibu Ambar
"Saya mau kasih ini untuk anak anak" ucap Bryan mengulurkan banyak bag paper berisi pakaian anak anak
"Terimakasih nak, silahkan masuk nak" ucap ibu Ambar
"Anak anak ini semua dari om ini ayo bilang terimakasih" ucap ibu Ambar
"Terimakasih om" ucap anak anak serempak
"Assalamualaikum" ucap Nindy yang baru datang
"Tante...." ucap anak anak itu berlari memeluk Nindy
"Ayo anak anak kita masuk, hari ini Tante bawa sup siapa yang mau?" ucap Nindy
"Akuuuu...." anak anak itu bersemangat mengekor pada Nindy
"Selamat pagi ibu" ucap Nindy menyalami ibu Ambar
Nindy belum menyadari ada Bryan karena posisinya membelakangi Bryan
ketika dia berbalik dia melihat Bryan yang tersenyum padanya
"Kenapa orang ini ada disini Bu?" tanya Nindy
"Oohh.. iya ini nak Bryan kasih anak anak baju dan ukurannya pas sekali di mereka" ucap Ambar
"Saya juga akan membantu ibu disini saya harap ibu tidak keberatan" ucap Bryan
"Silahkan nak ibu malah senang banyak yang membantu" ucap ibu Ambar
Nindy yang malas dengan Bryan tidak berbicara sepatah kata pun
dia pergi ke dapur menyiapkan makan untuk anak anak
tidak di sangka Bryan juga ikut kedapur
"Ngapain kesini?" tanya Nindy
"Mau ikut makanlah" ucap Bryan
Nindy tidak mau menjadi contoh yang buruk untuk anak anak di hadapannya
di menyiapkan sepiring sup dan nasi pada Bryan
mereka menyantapnya dengan lahap
"Emang masakan kamu dari dulu gak berubah selalu enak" ucap Bryan membuat Nindy tersedak
"Uhuk uhhuukk"
"Ini nak minum dulu" ucap ibu Ambar memberikan segelas air
"Memangnya kalian sudah saling kenal?" tanya ibu Ambar membuat Nindy salah tingkah sementara Bryan tersenyum senang
"Dulu kami.." ucap Bryan terputus karena Nindy menyelanya
"Dulu kami teman sekolah" ucap Nindy
"Bu saya sama Bryan mau belanja dulu ke pasar" ucap Nindy
"Ohh iya sebentar" ucap ibu Ambar
"Ini daftar belanjanya dan ini uangnya" lanjutnya
"Gak usah Bu, uang ini biar buat jajan anak anak aja" Nindy mengembalikan uangnya
"Cia ikut boleh?" ucap Cia dengan wajah memelas
"Boleh dong jadi Cia bisa temenin Tante belanja" ucap Nindy kemudian menggendong Cia
__ADS_1
Nindy juga menarik tangan Bryan kasar membuatnya berjalan tidak seimbang
mereka sudah berada di dalam mobil
Nindy mendudukkan Cia di kursi belakang agar dia bisa leluasa bicara dengan Bryan
"Maksudnya apaan sih pake mau bantu bantu segala di panti?" tanya Nindy
"Emangnya gak boleh berbuat baik?" tanya Bryan balik
"Boleh sih, tapi bisa gak cari panti lain aja" ucap Nindy
"Kok gitu? suka suka dong masalahnya apa sama kamu?" tanya Bryan
"eeuuhhh" Nindy greget sampai menggretakan giginya mengepalkan kedua tangannya kedepan
Bryan tersenyum puas saat Nindy membuang muka ke arah jendela karena kesal
sesampainya di pasar Nindy menggendong Cia yang sedari tadi memperhatikan perdebatan mereka tanpa bicara sepatah kata pun
Bryan mengekor pada Nindy yang menggendong Cia sambil menenteng tas belanjaan
saat sedang memilih sayur Cia di turunkan dan memegangi ujung baju Nindy
"Sini om gendong aja" ucap Bryan tapi Cia menggeleng dia takut karena Bryan orang baru
Karena Cia menolak di gendong Bryan mengikuti Cia dan Nindy persis di belakangnya
takut jika Cia melepaskan pegangannya dan hilang di tengah ramainya pasar
"Nih bawa bantuin kek diem Mulu" ucap Nindy menaruh belanjaannya ke dada Bryan
Dengan sigap Bryan memeluk belanjanya yang ternyata berat
Nindy menggendong Cia sampai ke mobil
di dalam mobil Nindy mengelap keringat yang menetes di dahinya
tiba tiba Bryan mengambil tissue dan mengelap keringat Nindy
"Apaan sih, saya bisa sendiri tuan Bryan yang terhormat" ucap Nindy sinis
"Gitu doang sewotnya minta ampun, kamu lupa apa kita udah lakuin lebih dari ini" ucap Bryan yang langsung mendapat tinjuan di lengannya
Bryan meringis karena tinjuan Nindy cukup keras
Bryan mengelus lengannya Nindy memalingkan wajahnya menatap keluar jendela
ada perasaan bersalah melihat Bryan meringis kesakitan
"Tante sama om jangan berantem dong, kata Bu guru berantem itu gak baik" ucap Cia dengan polosnya
Nindy berbalik menatap Cia dengan senyuman manis
"Kita gak berantem sayang kita cuma lagi becanda" ucap Nindy
"Kenapa Tante pukul om itukan sakit" ucap Cia
Nindy menggigit bibir bawahnya mencari jawaban yang tepat untuk Cia
Bryan menahan tawanya mendengar Nindy di ceramahi anak kecil
belum sempat Nindy bicara Cia sudah bicara lebih dulu
"Minta maaf Tante sama om" ucap Cia membuat Nindy terpaksa berbicara lembut pada Bryan
" Maaf ya om aku gak sengaja" ucap Nindy menjabat tangan Bryan erat
sepanjang perjalanan Cia bercerita panjang lebar
betapa menggemaskannya anak ini dengan lucunya menceritakan kegiatan nya di sekolah dan di rumah
"Cia bawa kue ke sekolah buat di titip di ibu kantin, kakak2 Cia juga bawa tapi kadang di sekolah Cia suka di gangguin sama temen temen karena jualan kue dan mereka ngatain Cia gak punya ayah sama ibu" ucap Cia raut wajahnya menjadi sedih
"Sayang jangan sedih lagi ya, kamukan punya ibu Ambar punya kakak2 dan adek2 di panti mereka menyayangi kamu sama seperti ibu dan ayah kamu, sekarang kamu juga punya Tante yang selalu ada buat kamu" ucap Nindy Cia menggisik matanya yang mulai berembun dia berusaha menahan tangisnya
"Cia kuat seperti Tante Nindy " ucap Bryan membuat Nindy menoleh padanya
"Apaan bawa bawa orang" gumam Nindy
untuk menghibur Cia Bryan membawanya keliling berjalan jalan
Cia senang dan bisa melupakan kesedihannya
ternyata anak sekecil ini saja sudah merasakan pahitnya hidup
"Waaahhh Tante pernah kesana gak?" tanya Cia antusias melihat gedung mall di pinggir jalan
"Cia mau kesana?" tanya Nindy tapi Cia menggeleng
"Kenapa?" tanya Nindy
"Cia belum punya uang mau nabung dulu" ucap Cia polos membuat air mata Nindy menggenang di mata cantiknya
Tanpa bicara Bryan memutar mobilnya kembali ke mall itu
berada di parkiran saja Cia sudah begitu senang
Bryan menggendong Cia yang sekarang mulai berani mendekati Bryan
"Cia sebentar lagi masuk sekolah SD kan?" tanya Nindy dan dia pun mengangguk
Cia masih mengagumi isi mall tersebut
matanya berbinar dengan bibir yang tidak berhenti tersenyum
"Tante mau beliin kamu perlengkapan sekolah yuk" ucap Nindy tidak kalah antusias
Tanpa disadari Nindy menarik sebelah tangan Bryan
Bryan merasa sangat senang meskipun hanya di genggam tangannya
Selesai belanja perlengkapan mereka mengantri untuk membayar
dan saat giliran mereka lagi lagi mereka ribut masalah pembayaran
"Gak perlu biar aku aja" ucap Nindy
"Gak mbak pake kartu saya aja" ucap Bryan memberikan blackcard nya
"Mbak mas masa bayar aja harus berantem, kalo punya masalah rumah tangga di selesaikan di rumah saja, lihat nih antrean udah panjang" ucap salah seorang di belakang mereka
Nindy mengambil Cia dari gendongan Bryan
lalu berbicara pada kasir sebelum pergi
"Biar dia aja yang bayar'' ucapnya lalu pergi dari sana
"Tante kenapa sih berantem terus sama om? " tanya Cia
__ADS_1
"Gak berantem sih cuma Tante lagi sebel aja" ucap Nindy
"Yeee sama aja" ucap Cia menepuk keningnya
"Hehehe " Nindy hanya cengir kuda
Nindy menunggu Bryan setelah melihatnya dia berjalan lebih dulu menuju tempat bermain
mata Cia melebar melihat permainan di sekelilingnya
"Woooaaaa" Cia terkagum kagum
"Cia mau main?" tanya Nindy dan Cia mengangguk antusias dengan senyum yang terus mekar
Nindy bermain dengan Cia tertawa lepas lagi lagi hatinya merasa perih
dia bisa tertawa bersama siapapun tapi dengan dirinya hanya wajah sinis dan galak yang dia tunjukkan
Setelah puas bermain mereka pulang Cia lelah dan mengantuk lalu tidur di kursi belakang di pangkuan Nindy
Bryan memandang mereka dari kaca spion
terlihat Nindy yang sedang mengelus rambut Cia yang terlelap
" Aku juga kangen di elus sama kamu" ucap Bryan
Bukan berkata Nindy malah menendang kursi yang di duduki Bryan
Bryan tersenyum dia senang bisa bersama Nindy meskipun dia galak dan kasar sekarang
"Kamu punya waktu luang? aku mau ngomong berdua sama kamu" ucap Bryan
"Aku sibuk" ucap Nindy datar
"Kamu masih marah soal Poto waktu itu?" tanya Bryan
"Berisik Cia lagi tidur" ucap Nindy enggan mendengar apapun
"Aku gak tau apapun tentang itu meskipun Maria mengatakan kejadiannya tapi aku gak percaya, aku yakin gak terjadi apapun malam itu" Bryan berusaha menjelaskan panjang lebar tapi ternyata Nindy memakai earphone
Bryan menghela nafas kasar capek capek dia menjelaskan ternyata Nindy tidak mendengarkan
setelah sampai Bryan turun menggendong Cia yang masih tertidur
Tanpa berbicara pada Nindy dia bahkan meninggalkan Nindy yang masih mengumpulkan belanjaan
melihat Nindy kesusahan anak anak membantunya membawa belanjaan
Nindy menyusun sayur di kulkas dan handphonenya di simpan di meja makan
Drttt drttt
panggilan telepon dari Leo Bryan yang kebetulan ada disana menolak panggilan
berkali kali memanggil selalu Bryan tolak
lalu Leo mengirimkan pesan
kak Leo
Wooyy *dimana sih? jemput sekarang katanya mau liat apartemen
Cepetan mobil gue mogok, gue tunggu di cafe seafood Deket kantor*
Nindy
oke tunggu bentar
Bryan membalas pesan Leo lalu menghapusnya
kebiasaan Nindy tidak menggunakan password pada handphonenya
membuat Bryan leluasa melihat isi handphone Nindy
Bryan membawa handphone Nindy mumpung dia tidak ingat dengan handphonenya karena terlalu sering bermain dengan anak anak
Banyak pesan tapi kebanyakan dari laki laki Bryan juga melihat riwayat panggilan sama saja seperti pesan
Dia juga mengambil no handphone Nindy
dia membuka galeri foto banyak sekali foto selfie Nindy dia mengirimkannya ke handphonenya
Banyak foto yang dia lihat sampai di satu folder
banyak fotonya dengan Leo dan Damar terlihat sangat dekat
bahkan Leo tidak segan merangkul dan memegang pipi Nindy
Bryan terbakar api cemburu dia berfikiran yang bukan bukan tentang Nindy
apalagi melihat foto fotonya dan Leo akan berikan apartemen untuk Nindy
dia meletakkan kembali handphonenya di meja makan
Saat sore hari Nindy berpamitan kepada ibu Ambar begitu pun dengan Bryan
Nindy sudah pergi terlebih dahulu dan Bryan mengikutinya dari belakang
disaat jalanan sepi Bryan menghadang mobil Nindy membuat Nindy terkejut dan segera mengerem
"Apa apaan sih ni orang?" gumam Nindy kesal dan keluar dari mobil
"Heehh Lo punya masalah apa sih?" tanya Nindy sewot
"Jelas gue ada masalah sama Lo, Lo masih istri gue apa pantes kelakuan Lo Deket sama cowok lain? pake minta apartemen segala, oohh selama Lo pergi apa Lo jadi sugar baby? apa bukan cuma Leo dan Damar aja?" apa masih banyak cowok lainnya lagi?" sederet pertanyaan ia lontarkan
Awalnya Nindy hanya mengkerutkan keningnya
tidak mengerti dengan pertanyaan Bryan tapi setelah Bryan mengatakan yang bukan bukan barulah dia mengerti Bryan sekarang sedang merendahkannya
"Atas dasar apa anda menuduh saya? saya tidak seperti anda yang berkhianat pada istrinya sendiri diam diam tidur dengan wanita lain disaat istrinya hamil besar
bahkan saat istrinya hampir meregang nyawa di tangan orang orang bejat apa anda ada?"
"Bahkan antara hidup dan matinya dia menghubungi anda tapi tidak ada jawaban sama sekali, karena apa? karena anda sedang asyik bersama wanita lain.
bahkan saat saya kehilangan anak saya bertahun tahun saya mencari sampai saya hampir gila, apa anda ada? apa anda peduli?"
"Tidak sama sekali. Sekarang anda datang kembali dan menuduh saya yang bukan bukan? dosa apa yang saya lakukan hingga saya di perlakukan seperti ini oleh anda" ucapan Nindy menggebu gebu menusuk hati Bryan
Bahkan Nindy berbicara sambil menangis hanya air mata dan unek uneknya selama ini yang keluar tidak ada isakan
Bryan diam membisu amarahnya yang tadi memuncak seperti tertahan melihat Nindy yang tampak sangat menderita selama ini
"Secepatnya saya akan mengajukan gugatan, jika semua sudah selesai jangan pernah temui saya lagi, bahkan ketika kita bertemu pun anggap saja kita tidak saling mengenal" ucapnya lalu pergi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi
"Bodoh.. bodoh.. bodoh.. kenapa gue bisa selemah ini berhadapan dengan Nindy " Bryan merutuki dirinya sendiri
***Kita buat Nindy dan Bryan pisah atau jangan ya?
__ADS_1
Like, komen dan vote 😍😍😍
biar tambah semangat up-nya***