Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Dijodohkan Dengan Ketos Galak
eps 32


__ADS_3

Nindy keluar dari rumah sakit menuju mobilnya


Bryan yang sedari tadi menunggu di luar menghampirinya


memegang erat tangan Nindy agar tidak pergi


"Apa lagi" ucap Nindy memutar matanya jengah


"Aku mohon demi bunda kita kembali lagi seperti dulu" ucap Bryan


"Demi bunda? bunda gak nyuruh kita balikan dia cuma minta supaya saya temenin aja" ucap Nindy tersenyum sinis


Bryan malu bukan main dia merutuki kebodohannya


kenapa bisa bisanya dia berbicara seperti itu


Bryan melepaskan genggamannya lalu menyilangkan tangannya di dada bergaya sok angkuh


"Ya kali aja kan bunda masih ngarepin kamu jadi mantunya" ucap Bryann


"Permisi tuan Brayn saya harus pergi" ucap Nindy menepis tangan Bryan lalu masuk ke mobilnya


"Nindy... Nindy " panggil Bryan tapi Nindy tidak menghiraukannya


Bryan membuntuti kemana Nindy pergi sampai di sebuah sekolah TK


Bryan bertanya tanya siapa anak yang bersama Nindy


apakah Nindy berbohong jika anak mereka hilang


Bryan terus membuntuti Nindy ternyata Nindy masuk ke sebuah panti asuhan


Bryan terenyuh ternyata meskipun Nindy banyak berubah


tapi hatinya masih lembut dan baik seperti dulu


Bryan terus menunggu disana memperhatikan Nindy dari kejauhan


semua anak anak sudah kembali dari sekolah


Nindy tidak kunjung keluar dia sedang memasak untuk anak anak


setelah selesai pekerjaannya barulah Nindy bermain di halaman bersama anak anak itu


Bryan melihat tawa Nindy yang tidak pernah ia tunjukkan di hadapannya


Bryan benar benar merindukan Nindy yang mustahil sekarang bisa ia dekati dengan mudah


"Gimana caranya supaya kamu mau dengerin aku" gumam Bryan


Beberapa hari kemudian Bryan ke panti asuhan itu lagi


pagi pagi sekali dia kesana setelah mengikuti kegiatan Nindy setiap hari


dia jadi tau Nindy kesana jam 6 pagi jadi dia kesana 30 menit sebelum Nindy


"Assalamualaikum" ucap Bryan


"Waalaikum salam, maaf tuan cari siapa?" ucap ibu Ambar


"Saya mau kasih ini untuk anak anak" ucap Bryan mengulurkan banyak bag paper berisi pakaian anak anak


"Terimakasih nak, silahkan masuk nak" ucap ibu Ambar


"Anak anak ini semua dari om ini ayo bilang terimakasih" ucap ibu Ambar


"Terimakasih om" ucap anak anak serempak


"Assalamualaikum" ucap Nindy yang baru datang


"Tante...." ucap anak anak itu berlari memeluk Nindy


"Ayo anak anak kita masuk, hari ini Tante bawa sup siapa yang mau?" ucap Nindy


"Akuuuu...." anak anak itu bersemangat mengekor pada Nindy


"Selamat pagi ibu" ucap Nindy menyalami ibu Ambar


Nindy belum menyadari ada Bryan karena posisinya membelakangi Bryan


ketika dia berbalik dia melihat Bryan yang tersenyum padanya


"Kenapa orang ini ada disini Bu?" tanya Nindy


"Oohh.. iya ini nak Bryan kasih anak anak baju dan ukurannya pas sekali di mereka" ucap Ambar


"Saya juga akan membantu ibu disini saya harap ibu tidak keberatan" ucap Bryan


"Silahkan nak ibu malah senang banyak yang membantu" ucap ibu Ambar


Nindy yang malas dengan Bryan tidak berbicara sepatah kata pun


dia pergi ke dapur menyiapkan makan untuk anak anak


tidak di sangka Bryan juga ikut kedapur


"Ngapain kesini?" tanya Nindy


"Mau ikut makanlah" ucap Bryan


Nindy tidak mau menjadi contoh yang buruk untuk anak anak di hadapannya


di menyiapkan sepiring sup dan nasi pada Bryan


mereka menyantapnya dengan lahap


"Emang masakan kamu dari dulu gak berubah selalu enak" ucap Bryan membuat Nindy tersedak


"Uhuk uhhuukk"


"Ini nak minum dulu" ucap ibu Ambar memberikan segelas air


"Memangnya kalian sudah saling kenal?" tanya ibu Ambar membuat Nindy salah tingkah sementara Bryan tersenyum senang


"Dulu kami.." ucap Bryan terputus karena Nindy menyelanya


"Dulu kami teman sekolah" ucap Nindy


"Bu saya sama Bryan mau belanja dulu ke pasar" ucap Nindy


"Ohh iya sebentar" ucap ibu Ambar


"Ini daftar belanjanya dan ini uangnya" lanjutnya


"Gak usah Bu, uang ini biar buat jajan anak anak aja" Nindy mengembalikan uangnya


"Cia ikut boleh?" ucap Cia dengan wajah memelas


"Boleh dong jadi Cia bisa temenin Tante belanja" ucap Nindy kemudian menggendong Cia

__ADS_1


Nindy juga menarik tangan Bryan kasar membuatnya berjalan tidak seimbang


mereka sudah berada di dalam mobil


Nindy mendudukkan Cia di kursi belakang agar dia bisa leluasa bicara dengan Bryan


"Maksudnya apaan sih pake mau bantu bantu segala di panti?" tanya Nindy


"Emangnya gak boleh berbuat baik?" tanya Bryan balik


"Boleh sih, tapi bisa gak cari panti lain aja" ucap Nindy


"Kok gitu? suka suka dong masalahnya apa sama kamu?" tanya Bryan


"eeuuhhh" Nindy greget sampai menggretakan giginya mengepalkan kedua tangannya kedepan


Bryan tersenyum puas saat Nindy membuang muka ke arah jendela karena kesal


sesampainya di pasar Nindy menggendong Cia yang sedari tadi memperhatikan perdebatan mereka tanpa bicara sepatah kata pun


Bryan mengekor pada Nindy yang menggendong Cia sambil menenteng tas belanjaan


saat sedang memilih sayur Cia di turunkan dan memegangi ujung baju Nindy


"Sini om gendong aja" ucap Bryan tapi Cia menggeleng dia takut karena Bryan orang baru


Karena Cia menolak di gendong Bryan mengikuti Cia dan Nindy persis di belakangnya


takut jika Cia melepaskan pegangannya dan hilang di tengah ramainya pasar


"Nih bawa bantuin kek diem Mulu" ucap Nindy menaruh belanjaannya ke dada Bryan


Dengan sigap Bryan memeluk belanjanya yang ternyata berat


Nindy menggendong Cia sampai ke mobil


di dalam mobil Nindy mengelap keringat yang menetes di dahinya


tiba tiba Bryan mengambil tissue dan mengelap keringat Nindy


"Apaan sih, saya bisa sendiri tuan Bryan yang terhormat" ucap Nindy sinis


"Gitu doang sewotnya minta ampun, kamu lupa apa kita udah lakuin lebih dari ini" ucap Bryan yang langsung mendapat tinjuan di lengannya


Bryan meringis karena tinjuan Nindy cukup keras


Bryan mengelus lengannya Nindy memalingkan wajahnya menatap keluar jendela


ada perasaan bersalah melihat Bryan meringis kesakitan


"Tante sama om jangan berantem dong, kata Bu guru berantem itu gak baik" ucap Cia dengan polosnya


Nindy berbalik menatap Cia dengan senyuman manis


"Kita gak berantem sayang kita cuma lagi becanda" ucap Nindy


"Kenapa Tante pukul om itukan sakit" ucap Cia


Nindy menggigit bibir bawahnya mencari jawaban yang tepat untuk Cia


Bryan menahan tawanya mendengar Nindy di ceramahi anak kecil


belum sempat Nindy bicara Cia sudah bicara lebih dulu


"Minta maaf Tante sama om" ucap Cia membuat Nindy terpaksa berbicara lembut pada Bryan


" Maaf ya om aku gak sengaja" ucap Nindy menjabat tangan Bryan erat


sepanjang perjalanan Cia bercerita panjang lebar


betapa menggemaskannya anak ini dengan lucunya menceritakan kegiatan nya di sekolah dan di rumah


"Cia bawa kue ke sekolah buat di titip di ibu kantin, kakak2 Cia juga bawa tapi kadang di sekolah Cia suka di gangguin sama temen temen karena jualan kue dan mereka ngatain Cia gak punya ayah sama ibu" ucap Cia raut wajahnya menjadi sedih


"Sayang jangan sedih lagi ya, kamukan punya ibu Ambar punya kakak2 dan adek2 di panti mereka menyayangi kamu sama seperti ibu dan ayah kamu, sekarang kamu juga punya Tante yang selalu ada buat kamu" ucap Nindy Cia menggisik matanya yang mulai berembun dia berusaha menahan tangisnya


"Cia kuat seperti Tante Nindy " ucap Bryan membuat Nindy menoleh padanya


"Apaan bawa bawa orang" gumam Nindy


untuk menghibur Cia Bryan membawanya keliling berjalan jalan


Cia senang dan bisa melupakan kesedihannya


ternyata anak sekecil ini saja sudah merasakan pahitnya hidup


"Waaahhh Tante pernah kesana gak?" tanya Cia antusias melihat gedung mall di pinggir jalan


"Cia mau kesana?" tanya Nindy tapi Cia menggeleng


"Kenapa?" tanya Nindy


"Cia belum punya uang mau nabung dulu" ucap Cia polos membuat air mata Nindy menggenang di mata cantiknya


Tanpa bicara Bryan memutar mobilnya kembali ke mall itu


berada di parkiran saja Cia sudah begitu senang


Bryan menggendong Cia yang sekarang mulai berani mendekati Bryan


"Cia sebentar lagi masuk sekolah SD kan?" tanya Nindy dan dia pun mengangguk


Cia masih mengagumi isi mall tersebut


matanya berbinar dengan bibir yang tidak berhenti tersenyum


"Tante mau beliin kamu perlengkapan sekolah yuk" ucap Nindy tidak kalah antusias


Tanpa disadari Nindy menarik sebelah tangan Bryan


Bryan merasa sangat senang meskipun hanya di genggam tangannya


Selesai belanja perlengkapan mereka mengantri untuk membayar


dan saat giliran mereka lagi lagi mereka ribut masalah pembayaran


"Gak perlu biar aku aja" ucap Nindy


"Gak mbak pake kartu saya aja" ucap Bryan memberikan blackcard nya


"Mbak mas masa bayar aja harus berantem, kalo punya masalah rumah tangga di selesaikan di rumah saja, lihat nih antrean udah panjang" ucap salah seorang di belakang mereka


Nindy mengambil Cia dari gendongan Bryan


lalu berbicara pada kasir sebelum pergi


"Biar dia aja yang bayar'' ucapnya lalu pergi dari sana


"Tante kenapa sih berantem terus sama om? " tanya Cia

__ADS_1


"Gak berantem sih cuma Tante lagi sebel aja" ucap Nindy


"Yeee sama aja" ucap Cia menepuk keningnya


"Hehehe " Nindy hanya cengir kuda


Nindy menunggu Bryan setelah melihatnya dia berjalan lebih dulu menuju tempat bermain


mata Cia melebar melihat permainan di sekelilingnya


"Woooaaaa" Cia terkagum kagum


"Cia mau main?" tanya Nindy dan Cia mengangguk antusias dengan senyum yang terus mekar


Nindy bermain dengan Cia tertawa lepas lagi lagi hatinya merasa perih


dia bisa tertawa bersama siapapun tapi dengan dirinya hanya wajah sinis dan galak yang dia tunjukkan


Setelah puas bermain mereka pulang Cia lelah dan mengantuk lalu tidur di kursi belakang di pangkuan Nindy


Bryan memandang mereka dari kaca spion


terlihat Nindy yang sedang mengelus rambut Cia yang terlelap


" Aku juga kangen di elus sama kamu" ucap Bryan


Bukan berkata Nindy malah menendang kursi yang di duduki Bryan


Bryan tersenyum dia senang bisa bersama Nindy meskipun dia galak dan kasar sekarang


"Kamu punya waktu luang? aku mau ngomong berdua sama kamu" ucap Bryan


"Aku sibuk" ucap Nindy datar


"Kamu masih marah soal Poto waktu itu?" tanya Bryan


"Berisik Cia lagi tidur" ucap Nindy enggan mendengar apapun


"Aku gak tau apapun tentang itu meskipun Maria mengatakan kejadiannya tapi aku gak percaya, aku yakin gak terjadi apapun malam itu" Bryan berusaha menjelaskan panjang lebar tapi ternyata Nindy memakai earphone


Bryan menghela nafas kasar capek capek dia menjelaskan ternyata Nindy tidak mendengarkan


setelah sampai Bryan turun menggendong Cia yang masih tertidur


Tanpa berbicara pada Nindy dia bahkan meninggalkan Nindy yang masih mengumpulkan belanjaan


melihat Nindy kesusahan anak anak membantunya membawa belanjaan


Nindy menyusun sayur di kulkas dan handphonenya di simpan di meja makan


Drttt drttt


panggilan telepon dari Leo Bryan yang kebetulan ada disana menolak panggilan


berkali kali memanggil selalu Bryan tolak


lalu Leo mengirimkan pesan


kak Leo


Wooyy *dimana sih? jemput sekarang katanya mau liat apartemen


Cepetan mobil gue mogok, gue tunggu di cafe seafood Deket kantor*


Nindy


oke tunggu bentar


Bryan membalas pesan Leo lalu menghapusnya


kebiasaan Nindy tidak menggunakan password pada handphonenya


membuat Bryan leluasa melihat isi handphone Nindy


Bryan membawa handphone Nindy mumpung dia tidak ingat dengan handphonenya karena terlalu sering bermain dengan anak anak


Banyak pesan tapi kebanyakan dari laki laki Bryan juga melihat riwayat panggilan sama saja seperti pesan


Dia juga mengambil no handphone Nindy


dia membuka galeri foto banyak sekali foto selfie Nindy dia mengirimkannya ke handphonenya


Banyak foto yang dia lihat sampai di satu folder


banyak fotonya dengan Leo dan Damar terlihat sangat dekat


bahkan Leo tidak segan merangkul dan memegang pipi Nindy


Bryan terbakar api cemburu dia berfikiran yang bukan bukan tentang Nindy


apalagi melihat foto fotonya dan Leo akan berikan apartemen untuk Nindy


dia meletakkan kembali handphonenya di meja makan


Saat sore hari Nindy berpamitan kepada ibu Ambar begitu pun dengan Bryan


Nindy sudah pergi terlebih dahulu dan Bryan mengikutinya dari belakang


disaat jalanan sepi Bryan menghadang mobil Nindy membuat Nindy terkejut dan segera mengerem


"Apa apaan sih ni orang?" gumam Nindy kesal dan keluar dari mobil


"Heehh Lo punya masalah apa sih?" tanya Nindy sewot


"Jelas gue ada masalah sama Lo, Lo masih istri gue apa pantes kelakuan Lo Deket sama cowok lain? pake minta apartemen segala, oohh selama Lo pergi apa Lo jadi sugar baby? apa bukan cuma Leo dan Damar aja?" apa masih banyak cowok lainnya lagi?" sederet pertanyaan ia lontarkan


Awalnya Nindy hanya mengkerutkan keningnya


tidak mengerti dengan pertanyaan Bryan tapi setelah Bryan mengatakan yang bukan bukan barulah dia mengerti Bryan sekarang sedang merendahkannya


"Atas dasar apa anda menuduh saya? saya tidak seperti anda yang berkhianat pada istrinya sendiri diam diam tidur dengan wanita lain disaat istrinya hamil besar


bahkan saat istrinya hampir meregang nyawa di tangan orang orang bejat apa anda ada?"


"Bahkan antara hidup dan matinya dia menghubungi anda tapi tidak ada jawaban sama sekali, karena apa? karena anda sedang asyik bersama wanita lain.


bahkan saat saya kehilangan anak saya bertahun tahun saya mencari sampai saya hampir gila, apa anda ada? apa anda peduli?"


"Tidak sama sekali. Sekarang anda datang kembali dan menuduh saya yang bukan bukan? dosa apa yang saya lakukan hingga saya di perlakukan seperti ini oleh anda" ucapan Nindy menggebu gebu menusuk hati Bryan


Bahkan Nindy berbicara sambil menangis hanya air mata dan unek uneknya selama ini yang keluar tidak ada isakan


Bryan diam membisu amarahnya yang tadi memuncak seperti tertahan melihat Nindy yang tampak sangat menderita selama ini


"Secepatnya saya akan mengajukan gugatan, jika semua sudah selesai jangan pernah temui saya lagi, bahkan ketika kita bertemu pun anggap saja kita tidak saling mengenal" ucapnya lalu pergi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi


"Bodoh.. bodoh.. bodoh.. kenapa gue bisa selemah ini berhadapan dengan Nindy " Bryan merutuki dirinya sendiri


***Kita buat Nindy dan Bryan pisah atau jangan ya?

__ADS_1


Like, komen dan vote 😍😍😍


biar tambah semangat up-nya***


__ADS_2