
"Terserah kalian percaya atau tidak" Ujar Mark setelah panjang lebar bercerita
"Selain pembual kau juga pintar berkhayal" Leo senyum menyindir
Mark menatap Nindy yang tampak bingung dengan air mata yang tidak henti hentinya mengalir
Mark menggengam tangan Nindy dengan memandang dalam matanya
"Kau anakku, maafkan aku pernah berniat membunuhmu aku menyesal" Mark berlutut di hadapan Nindy
Nindy mundur perlahan semua terasa berputar dalam otaknya
dia menatap Leo dan mark bergantian semua terasa tidak masuk akal
"Gak mungkin" hanya itu yang keluar dari mulut Nindy
Doorrrrr doorrrrr
Sebuah peluru melesat kearah Nindy namun lagi lagi seseorang menghalanginya
seiring dengan suara tembakan pertama tembakan kedua Leo yang menembak Mark
Leo mengira itu adalah anak buah mark namun dia salah tembakan itu berasal dari luar jendela oleh seorang perempuan
"Sial" umpat Maria melihat Bryan yang memeluk Nindy terkena tembakannya lalu kabur dari sana
"Bryyaaannn" Nindy memeluk tubuh Bryan yang ambruk di hadapannya
Bryan melihat Nindy mulai stres dia sengaja mendekat dan memeluk Nindy untuk menenangkannya
tanpa di duga Maria yang sedari tadi bersembunyi di luar
menonton drama yang sedang berlangsung
tidak ingin terlalu lama Maria melesatkan tembakan ke arah Nindy namun salah sasaran karena tiba tiba Bryan datang memeluknya
"Mark" gumam Leo
Dua orang bersimbah darah di ruangan itu
Leo segera memanggil anak buahnya untuk mengantar mereka ke rumah sakit sementara dirinya pergi mengejar Maria
Leo dan anak buahnya yang lain mengejar Maria yang masuk ke hutan
suara tembakan bersahutan di kegelapan malam
Dooorrr... aaaakkkhhhh
Kaki Maria tertembak hingga membuatnya jatuh kedalam tanah yang terjal
Leo mencarinya hingga harus memutar jalan untuk anak buahnya menuruni tanah terjal itu namun Maria tidak di temukan hanya ada ceceran darah yang terputus
"Tidak ada bos" teriak anak buahnya
"Sial, j*l*ng itu lolos lagi" umpat Leo mengepalkan tangannya kuat kuat
Di rumah sakit Nindy mondar mandir di depan ruangan Bryan menunggu dokter keluar
Cia di bawa Damar pulang ke rumahnya
"Bagaimana keadaan suami saya dok" tanya Nindy
"Suami anda belum sadarkan diri, peluru yang bersarang di kepalanya menembus saraf kita sudah mengeluarkan pelurunya namun kita belum bisa memastikan kapan dia akan sadar"
"Jadi maksud dokter suami saya koma? " tanya Nindy
__ADS_1
"Betul, doakan saja agar ada keajaiban untuk suami anda" ujar dokter
Nindy masuk dengan berjalan gontai
di tatapnya wajah lelaki yang selalu terlihat tegar dan baik baik saja di hadapannya
tidak pernah mengeluh meski apapun keadaannya
Nindy mengusap perlahan kepalanya, menggenggam erat tangan suaminya meletakkan kepalanya di tangan suaminya
"Siapa yang nanti bakal semangatin aku? siapa yang nanti tenangin aku? siapa yang akan lindungin aku? " lirih Nindy menangis sesegukan
"Aku takut, aku kebingungan, aku gak tau harus berbagi sama siapa lagi, kakak yang selalu menyayangi aku apa dia masih mau menerima aku setelah dia tau aku adalah anak seorang pembunuh? "
"Ayahku adalah orang yang membuatnya kehilangan keluarganya, apa kak Leo mau menganggap aku sebagai adiknya lagi? "
"Bangun Bryan bangun please" tangis pilu Nindy
Seseorang melihat Nindy menangis sendirian ikut mengelap air matanya
mungkin dia sangat menyayanginya namun untuk sekarang dia belum sanggup bertemu secara langsung dengan Nindy
Leo pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Nindy
dia hanya melihat gerak gerik Nindy dari luar ruangan Bryan
Entah egonya atau kekecewaan pada takdirnya Leo tidak bisa menemui Nindy untuk saat ini
dia menyayangi Nindy namun melihat wajah Nindy Leo teringat akan Mark yang sudah menghancurkan keluarganya
.
.
dia mengintip sebentar untuk melihat siapa yang bertamu selarut ini
"Kamu kenapa? " Dara melihat Leo yang sangat kacau
Tanpa menjawab pertanyaan Dara Leo berhambur memeluk Dara
tidak ingin orang lain melihatnya Dara membawa Leo masuk kerumahnya
"Kenapa? " Tanya Dara lembut
"Aku gak bisa cerita sekarang" jawab Leo
"Baiklah, cerita nanti aja kalo kamu udah siap"
"Udah makan" tanya Dara namun Leo menggeleng
"Mau makan? " Leo masih menggeleng
"Kalo gitu kamu istirahat aja" Dara membawa Leo ke kamar lain
"Kalo boleh aku mau kamu temenin aku buat malam ini aja" ucap Leo pelan
"Ma.. mmaksudnya? "
"Temani aku tidur hanya itu aku janji gak lebih" ucap Leo
Dara bisa melihat Leo yang sedang kacau nampaknya Leo sudah melewati hari yang sangat berat
Dara memutuskan untuk menemaninya hanya menemaninya tidur
"Tidurlah, aku temenin kamu disini" Leo memeluk Dara dan Dara mengusap ngusap kepala Leo hingga benar benar tertidur
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi" Dara menatap wajah Leo yang kelelahan
"Sepertinya hari ini adalah hari yang berat buat kamu" Dara mengecup kening Leo lalu ikut tertidur
.
.
Maria pingsan di dalam gua kecil di sisi tebing tempatnya jatuh semalam
Dengan sisa kesadarannya semalam dia merangkak kedalam gua itu
seseorang menemukannya karena tangannya terjulur keluar
Dia membawa pulang Maria yang penuh luka di sekujur tubuhnya juga mengeluarkan peluru di kakinya
wajah Maria terdapat banyak luka hingga sebelah wajahnya rusak
orang tersebut tidak membawa Maria kedokter karena dia juga adalah seorang buronan polisi
"Eemmhh" Maria baru saja tersadar dari pingsannya
"Gue dimana? " gumamnya
"Kamu tidak apa apa nak? " tanyanya
"Anda siapa? " tanya Maria
Dihadapannya seorang pria paruh baya dengan tubuh kekar dan sejumlah tatto di lengannya
rambut yang memutih namun tidak mengurangi kesangarannya
"Aku yang sudah menolongmu, kenapa kmu bisa tergeletak di gua itu? " tanyanya
"Aku.. aku.. aku di siksa dan di buang kesana " bohong Maria
"Biadab sekali orang itu" geram pria itu
"Iya, mereka selalu menyiksaku tak pernah memberiku makan" ucap Maria sengaja wajahnya di buat sedih
"Kenapa mereka berbuat seperti itu? apa masalahmu dan mereka? " tanya nya
"Awww kepalaku" Maria pura pura kesakitan karena tidak dapat menjawab pertanyaannya
"Sebaiknya kamu istirahat, aku akan membantumu setelah sembuh nanti"
"Panggil aku Ashok" ucapnya lalu pergi dari sana
"Sedikit drama saja untuk menarik simpatiknya, sepertinya gue akan dapet tameng baru" ucap Maria dengan seringai liciknya
.
.
Nindy berjalan di Koridor menuju ruangan Mark
Nindy mengintip dari luar tampak Mark sedang terbaring
Nindy menatap dengan tatapan yang sulit di artikan
satu sisi dia senang dia masih punya orangtua disisi lain dia kecewa atas apa yang sudah orang tuanya lakukan
"Orang tua macam apa yang menelantarkan anaknya sampai puluhan tahun" gumamnya seraya tersenyum mengejek
"Aku sudah bahagia meskipun tanpa kehadiran kalian" ucapnya lalu pergi
__ADS_1