Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Dijodohkan Dengan Ketos Galak
eps 64


__ADS_3

"Terserah kalian percaya atau tidak" Ujar Mark setelah panjang lebar bercerita


"Selain pembual kau juga pintar berkhayal" Leo senyum menyindir


Mark menatap Nindy yang tampak bingung dengan air mata yang tidak henti hentinya mengalir


Mark menggengam tangan Nindy dengan memandang dalam matanya


"Kau anakku, maafkan aku pernah berniat membunuhmu aku menyesal" Mark berlutut di hadapan Nindy


Nindy mundur perlahan semua terasa berputar dalam otaknya


dia menatap Leo dan mark bergantian semua terasa tidak masuk akal


"Gak mungkin" hanya itu yang keluar dari mulut Nindy


Doorrrrr doorrrrr


Sebuah peluru melesat kearah Nindy namun lagi lagi seseorang menghalanginya


seiring dengan suara tembakan pertama tembakan kedua Leo yang menembak Mark


Leo mengira itu adalah anak buah mark namun dia salah tembakan itu berasal dari luar jendela oleh seorang perempuan


"Sial" umpat Maria melihat Bryan yang memeluk Nindy terkena tembakannya lalu kabur dari sana


"Bryyaaannn" Nindy memeluk tubuh Bryan yang ambruk di hadapannya


Bryan melihat Nindy mulai stres dia sengaja mendekat dan memeluk Nindy untuk menenangkannya


tanpa di duga Maria yang sedari tadi bersembunyi di luar


menonton drama yang sedang berlangsung


tidak ingin terlalu lama Maria melesatkan tembakan ke arah Nindy namun salah sasaran karena tiba tiba Bryan datang memeluknya


"Mark" gumam Leo


Dua orang bersimbah darah di ruangan itu


Leo segera memanggil anak buahnya untuk mengantar mereka ke rumah sakit sementara dirinya pergi mengejar Maria


Leo dan anak buahnya yang lain mengejar Maria yang masuk ke hutan


suara tembakan bersahutan di kegelapan malam


Dooorrr... aaaakkkhhhh


Kaki Maria tertembak hingga membuatnya jatuh kedalam tanah yang terjal


Leo mencarinya hingga harus memutar jalan untuk anak buahnya menuruni tanah terjal itu namun Maria tidak di temukan hanya ada ceceran darah yang terputus


"Tidak ada bos" teriak anak buahnya


"Sial, j*l*ng itu lolos lagi" umpat Leo mengepalkan tangannya kuat kuat


Di rumah sakit Nindy mondar mandir di depan ruangan Bryan menunggu dokter keluar


Cia di bawa Damar pulang ke rumahnya


"Bagaimana keadaan suami saya dok" tanya Nindy


"Suami anda belum sadarkan diri, peluru yang bersarang di kepalanya menembus saraf kita sudah mengeluarkan pelurunya namun kita belum bisa memastikan kapan dia akan sadar"


"Jadi maksud dokter suami saya koma? " tanya Nindy

__ADS_1


"Betul, doakan saja agar ada keajaiban untuk suami anda" ujar dokter


Nindy masuk dengan berjalan gontai


di tatapnya wajah lelaki yang selalu terlihat tegar dan baik baik saja di hadapannya


tidak pernah mengeluh meski apapun keadaannya


Nindy mengusap perlahan kepalanya, menggenggam erat tangan suaminya meletakkan kepalanya di tangan suaminya


"Siapa yang nanti bakal semangatin aku? siapa yang nanti tenangin aku? siapa yang akan lindungin aku? " lirih Nindy menangis sesegukan


"Aku takut, aku kebingungan, aku gak tau harus berbagi sama siapa lagi, kakak yang selalu menyayangi aku apa dia masih mau menerima aku setelah dia tau aku adalah anak seorang pembunuh? "


"Ayahku adalah orang yang membuatnya kehilangan keluarganya, apa kak Leo mau menganggap aku sebagai adiknya lagi? "


"Bangun Bryan bangun please" tangis pilu Nindy


Seseorang melihat Nindy menangis sendirian ikut mengelap air matanya


mungkin dia sangat menyayanginya namun untuk sekarang dia belum sanggup bertemu secara langsung dengan Nindy


Leo pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Nindy


dia hanya melihat gerak gerik Nindy dari luar ruangan Bryan


Entah egonya atau kekecewaan pada takdirnya Leo tidak bisa menemui Nindy untuk saat ini


dia menyayangi Nindy namun melihat wajah Nindy Leo teringat akan Mark yang sudah menghancurkan keluarganya


.


.


dia mengintip sebentar untuk melihat siapa yang bertamu selarut ini


"Kamu kenapa? " Dara melihat Leo yang sangat kacau


Tanpa menjawab pertanyaan Dara Leo berhambur memeluk Dara


tidak ingin orang lain melihatnya Dara membawa Leo masuk kerumahnya


"Kenapa? " Tanya Dara lembut


"Aku gak bisa cerita sekarang" jawab Leo


"Baiklah, cerita nanti aja kalo kamu udah siap"


"Udah makan" tanya Dara namun Leo menggeleng


"Mau makan? " Leo masih menggeleng


"Kalo gitu kamu istirahat aja" Dara membawa Leo ke kamar lain


"Kalo boleh aku mau kamu temenin aku buat malam ini aja" ucap Leo pelan


"Ma.. mmaksudnya? "


"Temani aku tidur hanya itu aku janji gak lebih" ucap Leo


Dara bisa melihat Leo yang sedang kacau nampaknya Leo sudah melewati hari yang sangat berat


Dara memutuskan untuk menemaninya hanya menemaninya tidur


"Tidurlah, aku temenin kamu disini" Leo memeluk Dara dan Dara mengusap ngusap kepala Leo hingga benar benar tertidur

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi" Dara menatap wajah Leo yang kelelahan


"Sepertinya hari ini adalah hari yang berat buat kamu" Dara mengecup kening Leo lalu ikut tertidur


.


.


Maria pingsan di dalam gua kecil di sisi tebing tempatnya jatuh semalam


Dengan sisa kesadarannya semalam dia merangkak kedalam gua itu


seseorang menemukannya karena tangannya terjulur keluar


Dia membawa pulang Maria yang penuh luka di sekujur tubuhnya juga mengeluarkan peluru di kakinya


wajah Maria terdapat banyak luka hingga sebelah wajahnya rusak


orang tersebut tidak membawa Maria kedokter karena dia juga adalah seorang buronan polisi


"Eemmhh" Maria baru saja tersadar dari pingsannya


"Gue dimana? " gumamnya


"Kamu tidak apa apa nak? " tanyanya


"Anda siapa? " tanya Maria


Dihadapannya seorang pria paruh baya dengan tubuh kekar dan sejumlah tatto di lengannya


rambut yang memutih namun tidak mengurangi kesangarannya


"Aku yang sudah menolongmu, kenapa kmu bisa tergeletak di gua itu? " tanyanya


"Aku.. aku.. aku di siksa dan di buang kesana " bohong Maria


"Biadab sekali orang itu" geram pria itu


"Iya, mereka selalu menyiksaku tak pernah memberiku makan" ucap Maria sengaja wajahnya di buat sedih


"Kenapa mereka berbuat seperti itu? apa masalahmu dan mereka? " tanya nya


"Awww kepalaku" Maria pura pura kesakitan karena tidak dapat menjawab pertanyaannya


"Sebaiknya kamu istirahat, aku akan membantumu setelah sembuh nanti"


"Panggil aku Ashok" ucapnya lalu pergi dari sana


"Sedikit drama saja untuk menarik simpatiknya, sepertinya gue akan dapet tameng baru" ucap Maria dengan seringai liciknya


.


.


Nindy berjalan di Koridor menuju ruangan Mark


Nindy mengintip dari luar tampak Mark sedang terbaring


Nindy menatap dengan tatapan yang sulit di artikan


satu sisi dia senang dia masih punya orangtua disisi lain dia kecewa atas apa yang sudah orang tuanya lakukan


"Orang tua macam apa yang menelantarkan anaknya sampai puluhan tahun" gumamnya seraya tersenyum mengejek


"Aku sudah bahagia meskipun tanpa kehadiran kalian" ucapnya lalu pergi

__ADS_1


__ADS_2