
Nindy makan sambil sesekali melirik Bryan yang sedang menatapnya dengan tajam
Nindy membuang muka saat tatapan mereka beradu
"Siapa Richard?" tanya Bryan
"Temen kuliah" singkat Nindy
"Apa kalian dekat? punya hubungan apa kalian? kenapa sampai dia menyusulmu kesini? apa cuma mau diajak jalan atau ada urusan lain? apa dia tau Lo udah punya suami?" Bryan sudah seperti mengintrogasi tersangka
Nindy memutar bola matanya jengah sekarang dia tau kenapa dengan sikap Bryan yang berubah dalam sekejap
alasannya karena cemburu pada Richard
"Gue gak tau pasti dia kesini mau ngapain kalo soal janji ajak jalan ya itu karena waktu itu dia kayak penasaran aja makanya gue ngomong gitu gue kira dia cuma iseng iseng ternyata beneran kesini " Nindy berusaha menjelaskan
"Apa kalian dekat? apa dia tau Lo punya suami?" Bryan menegaskan pertanyaannya lagi
"Deket banget enggak kami cuma berteman, dia baik banget sama gue bantu segala hal waktu gue disana, dan soal gue punya suami dia belum tau" ucap Nindy
"Kenapa? apa Lo malu ketauan punya suami atau Lo malah sengaja gak ngasih tau biar tambah Deket dan kalian pacaran gitu?" nada bicara Bryan mulai meninggi
"Hey calm down" Nindy berbicara sambil melirik sekitarnya pengunjung mulai menatap mereka
"Gue gak ngasih tau karena dia gak nanya, siapa gue gitu tiba tiba bilang 'hey gue udah punya suami' kesannya kayak gue kepedean banget gitu" ucap Nindy pelan
"Tapi Lo bisa kan jujur aja biar dia gak deketin lo" ucap Bryan pelan tapi penuh penegasan
"Dulu gue berpikir Lo udah seneng seneng sama cewek lain dan apa salahnya kalo gue punya temen cowok" ucap Nindy
"Jadi Lo berniat gantiin posisi gue sama orang lain?"
"Bryan please jangan marah marah cuma karena masalah kayak gini, gue gak pernah sedikitpun Deket sama cowok lain lebih dari sekedar teman"
"Gue mau Lo jujur kalo kita ketemu dia dan Lo gak usah ajak dia kemana pun"
"Oke oke" Nindy pasrah dengan kemauan Bryan
'Cemburunya merepotkan' batin Nindy
.
.
"Hallo apa ada kabar bagus?" Maria menelpon seseorang
"What? jadi merek lagi cari anaknya? Waaww menarik, ikuti terus kasih kabar selanjutnya" ucap Maria lalu menutup teleponnya
"Sebentar lagi kalian akan merasakan kehilangan anak untuk yang kedua kalinya dan kali ini gue gak perlu turun tangan" gumam Maria
.
.
Di tempat lain Leo sedang mengintai tempat disekapnya orang tua Meira
tidak butuh waktu lama akhirnya orang tua Meira dapat diselamatkan
tubuhnya penuh luka mungkin karena di siksa oleh Maria
Leo membawanya pulang disana sudah ada Meira yang berjalan mondar mandir menunggu kepulangan ibunya
__ADS_1
"Mamaaaaa" teriak Meira memeluk ibunya
"Terimakasih" ucap Meira pada Leo
"Kalau bukan Nindy yang meminta saya membebaskan dan melindungi kalian saya tidak Sudi, Nindy terlalu baik untuk orang kotor seperti kalian" hardik Leo lalu pergi dengan anak buahnya
Meira menitikkan air mata menatap punggung Leo yang sudah masuk ke dalam mobil
Leo benar Nindy orang baik dia harusnya tidak menghancurkan hidup Nindy
"Ma kita harus minta maaf sama Nindy "
"Iya nak mama sudah banyak menyakitinya, mana papa kamu?" tanya Tamara
"Jangan cari tua Bangka itu lagi bisanya dia cuma pergi keluyuran dan pulang mabuk mabukan dia bahkan tidak khawatir dengan keadaan mama" ucap Meira
.
.
"Hallo, sekarang lagi dimana? kapan pulang?" Leo menelpon Nindy
"Lagi siap siap mau pulang" jawab Nindy
"Gimana lancar?" tanya Leo
''Awalnya susah tapi di bolehin dengan catatan..." Nindy menggantung ucapannya
"Ada apa? " tanya Leo
"Apapun nanti hasilnya kalo pun positif dia anak gue, gue gak boleh nemuin dia" Nindy mulai terisak
"Lagi teleponan sama siapa?" Bryan menegur Nindy dan mengambil handphonenya
"Hallo, Nindy lagi istirahat gak boleh di ganggu" ucap Bryan tiba tiba tanpa melihat nama kontak si penelepon
"Posesif" ucap Leo lalu mematikan teleponnya
Bryan yang mendengar suara Leo mematung
dia malu terlalu mencurigai Nindy
Nindy menatapnya datar merebut kasar handphone dari tangan Bryan
dengan wajah tanpa dosa Bryan berjalan melewati Nindy dan tidur memunggunginya
"Kenapa malah tidur bukannya kita harus pulang?" tanya Nindy
Bryan membulatkan matanya karena kelakuannya dia malu sendiri sampai sampai lupa niatnya ke kamar untuk mengambil barang barang
tapi karena terlanjur cemburu akhirnya dia jadi salah tingkah sendiri
"Aahh iya gue barusan cuma pegel aja makanya tiduran" ucap Bryan dengan wajah yang terlihat bodoh
"Gue bawa barang barang duluan " lanjut Bryan
"Kita gak bawa apapun Bryan , cuma dua paper bag doang" Nindy mengangkat paper bag nya
Tanpa menjawab Bryan meraih paper bag nya lalu ke luar dari kamar
Nindy mengerutkan keningnya lalu menggeleng
__ADS_1
"Malu kan " gerutu Nindy lalu pergi mengikuti Bryan
Sebelum melanjutkan ke kota D mereka pulang terlebih dahulu ke rumah mereka
di perjalanan sepertinya mobil Bryan diikuti oleh mobil hitam dari belakang
Bryan menjalankan mobilnya pelan serta kencang dan mobil itu mengikuti laju mobil Nindy
"Sepertinya mobil itu ngikutin kita, pake sabuk pengaman" ucap Bryan
Nindy memakai sabuk pengaman dan Bryan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi
Nindy berpegang pada pintu mobil sambil memegangi perutnya
dia juga mengerjapkan matanya karena kepalanya terasa pusing
"Pelan pelan aja kepala gue pusing" Bryan melirik Nindy di sampingnya dengan wajah pucat dan memejamkan matanya
Akhirnya dia mengurangi kecepatan dan sengaja mencari tempat ramai di depan sebuah minimarket
tanpa di duga mobil tersebut menabrakkan body mobil sampingnya ke kap mobil Bryan
hingga mobilnya oleng dan menabrak trotoar
Orang orang yang ada di minimarket berhambur memeriksa mobil Bryan dan meneriaki mobil yang menyerempetnya karena kabur
Nindy memegang kepalanya yang berdarah karena terkena dashboard mobil
Nindy membuka sabuk pengaman saat hendak berhenti sebelum mobil itu menabrak mereka
"Sayang lihat aku, kamu baik baik aja?" Bryan menangkup wajah Nindy yang pucat lalu Nindy kehilangan kesadarannya
Bryan bergegas turun untuk memanggil taksi karena mobilnya rusak
Bryan di bantu orang orang yang ada disana memanggilkan taksi dan memindahkan barang bawaannya
"Kep*r*t Baj*ng*n siapa yang berani main main sama gue" Bryan mengumpat melihat wajah istrinya yang pucat
.
.
Sesampainya di rumah sakit Nindy sudah selesai di periksa
Bryan menggosok tangan Nindy sesekali menciumnya
tangannya perlahan bergerak
"Eemmhh dimana ini?" Nindy baru saja membuka matanya
"Ini dirumah sakit, kamu gak apa apa?" tanya Bryan lembut
Nindy menggeleng sebagai jawaban
Bryan mengelus kepala Nindy lalu mengecupnya
Nindy hanya diam mendapatkan perlakuan manis dari Bryan
tiba tiba Bryan memeluk Nindy dan membaringkan kepalanya di dada Nindy
"Aku takut kehilangan kamu sama anak kita lagi" Nindy bisa merasakan bahwa sekarang Bryan sedang menangis
__ADS_1