
...π***Like sebelum membacaπ...
terimakasih sebelumnya aku tau kalian orang baik pencet likenya dulu ya πππ***
Sudah seminggu sejak kejadian itu tapi Bryan belum menunjukkan tanda tanda akan siuman
Nindy senantiasa menjaganya di rumah sakit
Cia di rawat mama Damar untuk sementara waktu
sementara Leo tidak pernah sekali pun menemui Nindy bahkan tidak menjawab teleponnya sama sekali
Meskipun ada Mark yang selalu datang menemuinya tapi Nindy merasa sendiri
kehadiran Mark tidak pernah ia pedulikan bahkan untuk sekedar bertukar pandang saja Nindy enggan
tubuhnya tidak terawat dia tidak memiliki semangat lagi
Di pikirannya dia selalu menyalahkannya atas semua yang terjadi
dia juga tidak ingin bertemu orang lain dia takut akan membuat sial orang orang terdekatnya termasuk anaknya sendiri
maka dari itu ia memilih Cia di rawat mama Damar
"Sudah seminggu kenapa kamu gak bangun juga" Nindy meraih tangan Bryan dan meletakkan kepalanya di telapak tangan Bryan
"Aku gak bisa makan dengan lahap aku gak bisa tidur dengan nyenyak bahkan melalui hari hari pun rasanya gak pernah tenang, aku sendiri aku mohon bangun" Nindy terisak menenggelamkan wajahnya di tangan Bryan
"Setidaknya makan sedikit saja, aku tidak mau kau malah mempersulit dirimu sendiri, ada anak dan suami yang harus kau jaga" ucap Mark yang baru saja datang menaruh sarapan di meja
"Tidak usah memperdulikan aku, aku tidak biasa akrab dengan orang asing" ucap Nindy tanpa menoleh
"Kau anakku apapun yang terjadi tidak akan merubah kenyataan"
"Aku sudah tidak punya keluarga, aku sendiri sekarang, aku mohon tinggalkan aku sendiri"
"Aku akan membawa cucuku bersamaku" ucap Mark membuat Nindy sontak berdiri berbalik menatapnya nyalang
"Jangan pernah dekati putriku, Jangan sentuh dia sedikitpun" Ucap Nindy dengan geram
"Aku tidak akan menyakitinya"
"Aku tidak percaya manusia sepertimu, lebih pantasnya aku sebut makhluk sepertimu "
"Aku tau aku bersalah aku minta maaf beri aku kesempatan, apa aku harus bersujud memohon pengampunanmu? " tanya Mark
"Maafmu sudah terlambat, itu tidak akan mengembalikan Bryanku, kakakku, ibuku bahkan hidupku yang dengan susah payah aku tata rapih sebelumnya meskipun banyak kerikil yang menerpanya aku bisa membangun itu perlahan tapi kehadiran kau meluluh lantakkan semuanya, kau bagaikan semburan lava di kehidupanku" Mark menundukkan kepalanya dia merasa bersalah pada putrinya
Namun dia benar kehadirannya hanya menjadi boomerang bagi Nindy
tidak ada kata kata untuk menjawab setiap ungkapan Nindy
selain kata maaf berulang ulang
Mark tau dia salah namun dia ingin memperbaikinya
"Ku mohon pergi aku lelah" Nindy duduk memijat Kepalanya yang terasa pusing
tanpa berkata apapun Mark pergi dari sana dengan mata berkaca kaca
__ADS_1
percayalah tidak ada manusia kuat semua memiliki kelemahan termasuk Mark
.
.
Leo sedang berada di kantor dengan sejuta pekerjaan yang menumpuk
di sela sela pekerjaannya dia terus menerus melirik jam di tangannya
sudah waktunya istirahat dia mengambil ponsel dan menelpon seseorang
"Hallo bagaimana apa kabarnya baik? dia masih menemuinya? jika ada yang lain segera hubungi aku" Leo mematikan teleponnya
Ya.. dia memang tidak pernah menemui Nindy namun selalu menyuruh anak buahnya mengawasi serta menjaga Nindy
dia menyayangi adiknya tapi egonya masih besar dia takut jika menemui Nindy hanya akan melukai Nindy
Leo tersadar dari lamunannya saat seseorang mengetuk pintu
"Masuk"
Ternyata itu adalah meira yang membawakan bekal untuk Leo
Leo hanya memandangnya malas namun Meira selalu menunjukkan senyum tulusnya
baru saja Meira melangkah beberapa langkah pintu kembali di ketuk
Leo menyuruhnya masuk dan itu ternyata Dara
Leo tersenyum manis dan Meira membalas senyuman itu
"Kemarilah" Leo merentangkan tangannya menggerakan jarinya memanggil
Bukannya Dara yang melangkah maju namun Meira yang menghampiri Leo dengan terus tersenyum
"Hei kemarilah apa kamu tuli" ucap Leo ketika Meira sudah mendekat ke mejanya
Meira mengikuti arah pandangan Leo dan berapa terkejutnya dia
ternyata Leo sedari tadi berbicara pada Dara di belakangnya
karena cintanya pada Leo Meira menjadi sangat bodoh
Dara tersenyum canggung pada Meira sementara Meira tersenyum menahan malunya
"Dara kenapa bengong disana, sini" Dara berjalan mendekat
Leo merentangkan tangannya dan membawa Dara duduk di pangkuannya
Meira meremas wadah bekal yang ia bawa
wajahnya memerah dengan mata berkaca kaca
"Apa ini? kelihatannya enak" Leo membuka wadah bekal Dara
"Aku duduk di sofa aja ya" Dara yang di peluk erat berusaha turun
"Diam disini, ohh ya Meira ada perlu apa? " Leo memeluk erat Dara
__ADS_1
"Gue bawain lo bekal, gue.. gue.. cuma " Meira menjawab dengan gugup
"Meira gimana kalo kita makan sama sama, jadi lebih seru" Dara berusaha meredakan kecanggungan
"Aku gak mau" Leo langsung menjawab
"Gak usah dar, ini bisa buat staf lain lagian Leo udah punya dari lo"
"Ayolah, jangan galak galak gak enak" Dara berbicara pelan dengan geram seraya mencubit tangan Leo
"Oke oke, mari kita makan bersama" Leo mengalah mencubit pipi Dara
"Gak usah gue duluan ya" Meira tersenyum namun terlihat raut kecewanya
"Hei kita udah lama gak ketemu, sekalian kita bisa Damai dan berteman karna di masa lalu kita pernah menjadi musuh" ucap Dara dengan tersenyum konyol
Dara menarik tangan Leo dan meira duduk di sofa dan mulai membuka wadah nasi masing masing
Dara menyimpan lauk di piring Leo begitu pun Meira
Leo tidak bicara hanya melirik mereka bergantian
tapi Leo lebih memilih makanan yang di pilihkan Dara dan membiarkan makanan Meira
Sakit memang namun entah mengapa rasanya Meira enggan pergi dari sana
dia ingin lebih lama melihat Leo meskipun kenyataannya dia hanya di suguhkan rasa perih menonton live acara mesra saat Leo menyuapi Dara
^^^Ddrrtt ddrrtt ^^^
"Aku harus kembali ke kantor, pak Reno menelpon" ucap Dara
"Emang gak bisa izin buat hari ini aja, aku pengen kamu temenin aku kerja, kerjaan aku numpuk aku butuh penyemangat" Leo menahan tangan Dara
"Maaf tapi ada rapat penting, lagi pula pak Bryan masih di rumah sakit"
"Apa Bryan di rumah sakit? " Meira tidak mengetahui kabar Nindy dan Bryan
"Iya Bryan koma" jawab Dara
"Tapi kenapa bisa? apa mereka kecelakaan? " tanya meira
"Sebaiknya lo kesana aja, gue belum ada waktu kesana kemaren lusa gue juga nemenin Nindy dua hari" jawab Dara
"Oke nanti gue hubungin Nindy buat minta alamatnya"
"Aku pergi dulu ya" pamit Dara
"Yakin gak mau tinggal? " goda Leo
"Kalo udah ada waktu aku temenin" Leo mengizinkan Dara pergi
Sebelum Dara pergi Leo mencium tangan Dara begitu pun Dara mencium tangan Leo
Meira semakin merasa malu sekaligus cemburu menyaksikannya
"Kenapa masih disini? bukannya mau ketemu Nindy? " tanya Leo saat Dara sudah pergi
"Ahh iya, apa lo gak mau sekalian? " tanya Meira
__ADS_1
"Lo gak denger apa budeg gue udah bilang banyak kerjaan, udah sana gue harus kerja" mendapat usiran dari Leo akhirnya Meira pergi dengan sedih