
Pagi itu Bryan sedang menyuapi Nindy makan
meski terus menolak Bryan tidak patah arang dia dengan telaten merawat Nindy
Leo dan anak buahnya disibukkan dengan mencari Cia
tiba tiba seseorang mengetuk pintu ruangan dimana Nindy di rawat
"Selamat pagi bu" ucap perawatan itu memeriksa cairan infus Nindy
"Bagaimana keadaan Hendrico Sus? " tanya Nindy
"Belum ada perkembangan bu, tapi nanti jika dia sudah siuman saya kabari ibu" ucap suster lalu pamit ke luar
"Kamu khawatirkan dia? " tanya Bryan jealous
"Dia begitu karena lindungin aku, meskipun dia jahat "
"Jahat? " tanya Bryan
"Iya, dulu dia yang neror aku dan lecehin aku"
"Brengsek" Bryan hendak berdiri namun tangannya di tahan Nindy
"Mau kemana? duduk biar aku jelasin" Bryan menurut dan duduk mendengarkan Nindy
"Itu dulu, tapi dia gak pernah celakain aku ada yang aneh disini, orang yang berusaha celakain aku itu bukan Hendrico bahkan aku bisa lihat itu postur tubuh perempuan"
"Maria tahu semuanya sepertinya dia yang menggantikan Hendrico setelah dia pergi" ucap Nindy
"Tapi tetep aja kan itu artinya Hendrico juga berniat jahat" ucap Bryan
"Iya itu dulu, dia sudah meminta maaf dan berkat dia aku masih hidup sampai sekarang"
"Aku harap kamu juga mau memaafkannya" lanjut Nindy
"Sayang aku tau kamu orang baik" Nindy meraih tengkuk Bryan dan mencium bibirnya sekilas
"Jangan mancing mancing deh" ucap Bryan
.
.
"Uncle Cia mau jalan jalan" rengek Cia
"Jangan sekarang uncle sedang sibuk" ucap Mark menggendong Cia
"Bos di luar nona Maria sedang menunggu" ucap seorang penjaga yang baru saja masuk
"Ayo keluar" titah Mark pada penerjemahnya
"Cia main sendiri dulu uncle ada kerjaan" Mark menurunkan Cia kemudian pergi
"yahh sendiri lagi" gerutu Cia
Mark berjalan menghampiri Maria yang sedang menunggu di ruangan kerjanya
"Hai sayang aku kangen" Maria mengalungkan tangannya di leher Mark
"Aku nginep disini ya" ucap Maria mencium Mark dengan nakal
Maria sebenarnya sedang bersembunyi dari kejaran polisi karena berniat mencelakai Nindy dan Hendrico
dia tahu bersama Mark dia akan aman karena Mark tidak akan bisa di lacak oleh siapapun
"Kenapa? ada masalah sampai kau bersembunyi disini? " Tanya Mark
"Tidak, aku hanya ingin selalu dekat denganmu" Mark menekan pinggang Maria agar lebih dekat dengannya
Mark mencium Maria dengan ganas mereka berc*mb* di ruangan kerja Mark
Maria tidak memberi tahu Mark kalau dia sudah berniat mencelakai Nindy
Meskipun dia tahu Mark juga berniat menghancurkan Leo dan Nindy
.
.
__ADS_1
Leo mengacak rambutnya frustasi dia dan anak buahnya sampai tidak tidur untuk menemukan Cia tapi hasilnya nihil
sudah terlalu lelah dia berhenti sejenak dan pergi ke kantor Bryan untuk merilekskan pikirannya dengan menemui Dara
"Hai beib" ucap Leo dekat telinga Dara membuatnya terlonjak kaget
"Iihh ngagetin deh" gerutu Dara
"Aku lagi kerja kita ketemu nanti sore aja" lanjut Dara
"Kamu takut di marahin asistennya Bryan? " tanya Leo
"Aku takut di pecat" jawab Dara
"Kalo kamu di pecat pindah ke kantor aku atau kamu bisa jadi nyonya bos disana" ucap Leo membuat Dara merona merah
"Becandanya gak lucu"
"Aku gak becanda, aku mau kamu jadi nyonya Alexander" pernyataan Leo membuat Dara gelagapan
"Aku.. aku.. "
"Kamu gak mau? pantes aja kamu ganti nomor" ucap Leo dengan wajah di buat sedih
"Bukan gitu, HP aku rusak " Dara mengeluarkan handphonenya dari laci
Tanpa bicara Leo menarik tangan Dara keluar dari kantor
dan memasukkannya kedalam mobil
Reno mengepalkan lengannya kuat kuat melihat Leo membawa Dara dengan mobilnya
"Aku lagi kerja" gerutu Dara
"Aku izin sama Bryan gak ada yang bisa pecat kamu" Leo melakukan mobilnya
Di perjalanan Dara terus saja bertanya namun Leo tidak mau memberi tahu kemana mereka akan pergi
sampai akhirnya mobil Leo berhenti di sebuah Mall
"Ngapain kesini? '' tanya Dara
" Ikut aja"
Leo berhenti dan mensejajarkan dirinya disamping Dara lalu menggandeng tangan Dara
Demi apapun hati dari berbunga bunga baru kali ini dia di perlakukan manis oleh seorang pria
'Kata siapa gue gak laku buktinya sekali dapet langsung bule' gumam Dara dalam hati
"Mbak tunjukkan handphone keluaran terbaru" ucap Leo
Mereka segera mengeluarkan berbagai jenis handphone
dan menjelaskan rinci tentang handphone itu
Leo menyuruh Dara memilih sendiri handphonenya tapi dia masih mematung memahami ucapan Leo
"Kamu pilih sendiri handphonenya, mau yang mana? " tanya Leo
"Tapi aku belum gajian" bisik Dara membuat Leo tertawa
"Aku beliin buat kamu biar kita bisa teleponan" Leo kembali berbisik membuat Dara salah tingkah
Tidak di sangka bukannya memilih handphone yang termahal Dara justru meminta handphone yang lebih murah dari produk yang di tawarkan
membuat Leo ternganga
Leo berpikir pilihannya sangat tepat Dara bukan wanita matre
"Kamu yakin? " tanya Leo
"Iya, emang kenapa? "
"Mbak saya ambil yang ini" Leo memilih handphone disana yang termahal
Membuat Dara ternganga bahkan harga handphone itu bisa sampai uang gajinya 5 bulan
Dara menatap Leo tidak percaya namun Leo malah tersenyum manis
__ADS_1
"Kalo aku beli handphone ini bisa gak makan 5 bulan aku" ucap Dara ketika sudah di dalam mobil
"Ini gak seberapa"
"Gak seberapa? kamu beli handphone kayak beli ciki, enak banget Nindy jadi adik kamu" ucap Dara
"Lebih enak kalo kamu jadi istri aku, mau pulau pun aku beli, jalan jalan ke luar planet aku anter" Leo dengan sombongnya
"Sombong " ucap Dara mencebikkan bibirnya
Kemudian mereka tertawa bersama entah apa yang lucu namun sepertinya mereka bahagia jika bersama
Leo membawa Dara kesebuah pantai mereka duduk di tepi pantai memandangi ombak
"Kamu pernah pacaran? " tanya Leo namun Dara menggeleng
"Bohong banget" lanjut Leo
"Emang aku keliatan tukang boong? " tanya Dara
"Enggak sih cuma gak percaya aja"
"Aku jelek, kata seseorang penampilanku aja yang kayak cewek padahal dalemannya kayak cowok"
"Kata siapa? dia rabun kali" ucap Leo
"Ada lah"
"Tapi jujur kamu cantik, baik, apa adanya, gak matre, aku suka" ujar Leo
"Suka? " tanya Dara ambigu
"Iya aku suka sama kamu, sikap kamu semuanya" pernyataan Leo membuat wajah Dara memerah dia memalingkan wajahnya tidak ingin rasanya dia menatap Leo
"Hei kenapa liatnya kesana? kamu gak suka ya sama aku? " tanya Leo
"Eehh engak kok, aku suka" jawab Dara asal asalan
"Jadi kamu juga suka sama aku? " tanya Leo membuat mata Dara melebar seketika
'Ampun ini mulut kenapa sih, duh malu banget' gumam Dara dalam hati
"Jadi gimana? " tanya Leo
"Gi.. ggi.. mana apanya? "
"Kamu bersedia gak jadi istri aku? " tanya Leo
"Gimana ya" Dara terlihat sedang berpikir
"Kamu gak suka ya sama aku? "
"Bu.. bukan gitu kita belum terlalu mengenal aku takut kalo kita buru buru nikah nanti gak ada ke cocokan diantara kita"
"Aku gak mau jadi janda" ucap Dara pelan
Leo tertawa mendengar pernyataan Dara membuat Dara malu
Dara menutupi wajah dengan kedua tangannya
"Hei liat aku" titah Leo
"Gak aku malu kamu ngetawain aku" Leo menarik tangan Dara
"Gak gitu, abisnya kamu mikirnya kejauhan"
"Kita manusia gak akan pernah ada yang cocok satu sama lain, kakak adik, orang tua dan anak, apalagi pasangan akan selalu ada perdebatan bahkan untuk hal hal sepele" lanjut Leo
"Aku cuma gak mau terlalu berangan angan, kita itu berbeda kamu bagaikan raja dan aku rakyat jelata" ucap Dara
"Aku mencintaimu apa adanya, aku Terima kekurangan kamu kamu juga harus Terima kekurangan aku, ya meskipun aku gak kekurangan apapun" Leo membuat Dara mendelik mendengar candaan Leo
"Ngelawak" Dara memukul pelan lengan Leo
"Jadi gimana" Leo menggenggam tangan Dara
"Aku mau, tapi pacaran dulu" jawab Dara
"Oke kalo gitu, tapi jangan coba coba khianatin aku"
__ADS_1
"Siap bos" Leo merangkul bahu Dara dan Dara meletakkan kepalanya di bahu Leo dengan tangan saling menggenggam
menikmati angin yang bertiup di bibir pantai sambil memandangi ombak di lautan