
Hai para pembaca yang masih setia mohon maaf untuk up yang jarang jarang
dan maaf juga untuk cerita yang masih jauh dari kata sempurna
terimakasih masih setia membaca
Jangan lupa Like komen dan vote ya
jangan lupa kasih hadiah juga 😁
sebagai penyemangat untuk othor up
percaya deh tekan semua juga tidak akan menyakiti jari mu
salam sayang buat kalian semua 🤗🤗
.
.
.
Keesokan paginya Nindy sudah bersiap untuk membawa pulang Cia
dia hanya tinggal menunggu dokter memeriksa Cia saja
Nindy duduk di ranjang Cia dengan kaki yang di julurkan ke bawah
Nindy memandangi Bryan yang sedang tidur di sofa
pikirannya berkecamuk, melihat Bryan yang masih setia selama beberapa tahun apa mungkin dia benar benar selingkuh?
Lamunan Nindy buyar saat kedua makhluk di depan dan belakangnya menggeliat pertanda akan bangun dari tidurnya
Nindy membetulkan posisinya dengan duduk di kursi dan menghadap ke arah Cia
Saat Cia membuka matanya orang yang pertama dia lihat adalah wanita cantik yang sedang tersenyum
sementara Bryan melihat kedua orang yang sedang saling menyapa di pagi hari
Hati Bryan mencelos dia ingat akan kenangannya dulu dengan Nindy
sekarang jangankan morning kiss sapaan saja tidak ia dapatkan
Bryan bangkit berjalan ke arah kamar mandi
"Selamat pagi papa" Cia menyapa Bryan yang melewati nya
Bryan menghentikan langkahnya dia berbalik dan berjalan kearah Cia
Bryan mencium kening Cia dengan mata yang berkaca kaca
"Selamat pagi sayang" ucap Bryan mengelus puncak kepala Cia
Saat sedang menyapa Cia tiba tiba perutnya terasa bergejolak
rasa mual di kala pagi kini datang lagi Bryan berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi di perutnya
Nindy berjalan mengikuti Bryan dan memijat tengkuknya dari belakang
"Apa sudah baikan?" tanya Nindy saat Bryan sudah berhenti muntah
"Gak apa apa , thanks " Bryan mengelap mulutnya dengan tissue
"Selamat pagi anak pintar" Nindy mendengar seseorang masuk
"Dokter hari ini Cia sudah boleh pulang? " tanya Cia
"Sudah dong, Kamu anak kuat jadi sakitnya gak boleh lama lama" dokter mulai memeriksa dan suster mencopot selang infusnya
Nindy dan Bryan sama sama keluar dari kamar mandi membuat Meira menatap mereka tanpa berkedip
tiba tiba raut wajahnya menjadi panik Meira bahkan tidak menyapa mereka dan segera merapikan alat alatnya
"Bryan bawa Cia keluar dulu gue mau bayar administrasi" Bryan langsung menggendong Cia dan membawanya keluar
Nindy memegangi tangan Meira sebelum dia keluar
Meira berbalik menundukkan wajahnya
"Kenapa dokter Meira yang terhormat?" tanya Nindy penuh tekanan
"Apa yang anda sembunyikan hingga tidak tenang jika bertemu saya?" lanjutnya
__ADS_1
"Gak aada apa apa Nindy, gue cuma merasa banyak salah dan malu sama Lo" jawab Meira terbata bata
"Lo memang banyak salah sama gue, termasuk dengan hilangnya anak gue kan?" nada bicara Nindy meninggi
Meira benar benar terkejut dia yang awalnya menunduk kini mengangkat kepala menatap Nindy dengan mata yang sudah berkaca kaca
"Darimana Lo tau?" hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya
"Gue yang panggil scurity saat Lo hampir di bunuh Maria" bentak Nindy
Deeegg
Meira mematung sejenak lalu air matanya lolos begitu saja
Meira bersimpuh memegangi kaki Nindy
tapi Nindy tidak berniat membangunkannya
"Sekarang jawab jujur kemana anak gue?" tanya Nindy dengan sudah berlinang air mata
"Maafin gue maafin keluarga gue yang udah buat Lo menderita, gue berada di bawah tekanan Maria saat itu gue ketakutan buat ngelawan, dan perlu Lo tau Bryan sama sekali gak bersalah dia di jebak Maria dan yang buat Lo di siksa preman itu juga ulahnya Maria" Meira sudah terisak dia meluapkan rahasia yang selama ini dia pendam sendiri
"Gu.. gue yang buang anak Lo hiks hiks, gue gak tega di suruh bunuh bayi Lo sama Maria ja.. jadi gue buang di panti kasih bunda huaaa" Meira sesegukan memegangi kaki Nindy
Nindy mematung sejenak mendengar panti itu
ternyata anak yang selama ini dia cari ada di panti yang sering dia kunjungi
"Dan apa sekarang Lo puas? gue kehilangan suami yang gue cintai bahkan kehilangan anak yang belum sempat gue lihat sama sekali hiks hiks" Nindy benar benar marah tapi untuk membalas semua perbuatannya Nindy rasa itu tidak akan ada gunanya lagi
"Lo bisa lakuin apapun sama gue, Tapi please tolong mama gue di sekap sama Maria, untuk kali ini aja gue mohon"
"Kenapa gue harus nolongin orang yang udah buat hancur hidup gue bertahun tahun? biar Lo rasain kehilangan orang yang Lo sayangi" ucap Nindy tersenyum getir mengusap air matanya
"Gue mohon Nin huu... Lo bisa jeblosin gue sama mama ke penjara asal jangan biarin Maria bunuh mama Nindy" Meira tidak tahu harus minta tolong sama siapa lagi
"Sorry gue harus pergi" Nindy melepaskan tangan Meira dari kakinya dan melangkah hendak pergi
Meira memeluk kencang kaki Nindy
dia terus memohon agar Nindy mau memaafkan dan membantunya
Nindy memejamkan matanya besarnya rasa amarahnya sedikit goyah oleh rasa kasihan
Nindy menghembuskan nafas kasar
"Gue usahain tapi gue gak janji bisa berhasil" ucap Nindy
Mendengar itu Meira melepaskan pelukannya
dia masih terisak sambil sesekali mengusap air matanya
baru beberapa langkah Nindy berjalan tiba tiba pandangannya kabur
Bruukkk
Nindy jatuh di hadapan Meira
Meira segera memanggil orang lain untuk mengangkat tubuh Nindy
Meira mengambil handphone Nindy hendak menelpon
tapi belum sempat dia menelpon sudah ada panggilan masuk
"Halo Lo masih di rumah sakit? mau gue jemput gak?" tanya Leo
"Halo pak ibu Nindy pingsan di rumah sakit, apa bapak bisa kesini sekarang?" ucap Meira
Bryan yang lama menunggu pun akhirnya menyusul kembali ke dalam rumah sakit dengan menggendong Cia
saat akan masuk Leo lebih dulu masuk tergesa gesa
Bryan mengerutkan keningnya melihat Tingkah Leo
"Ada apa ini?" tanya Bryan yang melihat Nindy terbaring
"Nindy sedang hamil dan usia kehamilan sepertinya baru beberapa Minggu, untuk lebih jelasnya sebaiknya periksa ke bagian obgyn" ucapan Meira membuat Bryan dan Leo saling menatap tajam
"Eemmhh" Nindy tersadar memegangi kepalanya
Sontak Bryan dan Leo menghampiri Nindy
saat matanya terbuka dia menatap orang orang yang ada di sekelilingnya
__ADS_1
ketika dia menatap Bryan air matanya lolos begitu saja
"Maaf" lirih Nindy menatap Bryan sendu
"Hey kenapa ini?" tanya Bryan menurunkan Cia dan mendekati Nindy
"Gu.. gue salah huuuaaa" Nindy menangis semakin keras
"Kenapa hmm? " tanya Leo mengelus kepala Nindy
"Singkirin tangan busuk Lo dari istri gue" Bryan menepis kasar tangan Leo
"Kak ternyata gue salah selama ini" Nindy menggenggam tangan Leo membuat Bryan semakin kesal
Nindy menceritakan semuanya termasuk untuk membebaskan mama Meira pada Leo dan Bryan
sementara Meira menunduk dengan air mata yang terus mengalir
"Kurang ajar" ucap Bryan dan Leo bersamaa hendak berjalan ke arah Meira
tapi Nindy menahan tangan mereka
"Ada cia, lagi pula semuanya sudah berlalu sekarang kita tinggal cari anak kita" ucap Nindy menuntun tangan Bryan agar duduk
"Gue bawa Cia makan dulu" ucap Leo lalu pergi menggendong Cia
"Gue juga permisi ada pasien yang harus di periksa, sekali lagi makasih Nindy" ucap Meira
"Tapi siapa ayah dari anak yang Lo kandung?" tanya Bryan setelah Meira pergi
"Apa?? gue hamil?" Nindy menganga seakan tak percaya
"Iya jangan pura pura gak tau, gue gak mau ngakuin anak yang bukan darah daging gue" ucap Bryan
"Gue gak tau sama sekali kalo gue hamil, lagian gue cuma ngelakuin itu sama Lo waktu di paksa di apartemen" ketus Nindy
"Gue gak yakin aja Lo tinggal sama cowok lain tapi gak pernah di apa apain" ucap Bryan asal
"Dia itu bukan cowok brengsek ya, keluarganya orang baik baik" tegas Nindy
"Gue gak yakin"
"Dia itu kakak kandung gue Bryan, dia gak brengsek kayak Lo" teriak Nindy dengan nafas memburu dan air mata yang menggenang di pelupuk matanya
Bryan benar benar terkejut dengan pernyataan Nindy
sampai sampai dia berdiri dari duduknya
"Gak... gak mungkin" Bryan bergumam sendiri
"Kalo dia kakak Lo berarti gue berhasil 2x dapet buruan hanya dengan satu kali tembak" Bryan malah memikirkan hal itu sambil tersenyum bangga
"Tapi apa ada bukti?" tanya Bryan
"Ada tes DNA dan kalung ini sama persis dengan punya kak Leo" jawab Nindy
"Jadi... kita bakal sama sama lagi dengan kedua anak kita?" tanya Bryan senang tapi Nindy malah menggeleng
"Kenapa? " tanya Nindy
"Pertama anak kita belum di temukan kedua Lo belum minta maaf untuk semua tudingan Lo sama gue dan kak Leo'' Bryan melebarkan bola matanya kala mendengar penuturan Nindy
"Maaf sayang gue terlalu cemburu sama kedekatan kalian" Bryan mencium kedua tangan Nindy
"Gue belum bisa maafin sebelum anak kita ketemu" ucap Nindy
"Taaapi itu kan bukan salah gue, tentang anak kita cari sama sama tapi Lo harus kembali ke rumah" Nindy menggeleng memalingkan tubuhnya membelakangi Bryan
Punggungnya bergetar sepertinya dia menangis
Bryan menghela nafas berat kala melihat Nindy merajuk
apa ini yang membuatnya mual setiap pagi pikirnya dalam hati
"Oke, oke gue turutin apa pun yang Lo mau" ucap Bryan Nindy langsung mengelap air matanya
"Dan satu lagi jangan bicarakan apapun tentang hubungan Leo dan gue karena kita sedang dalam bahaya sekarang usahakan juga identitas anak kita jangan ada yang tau kalo udah ketemu, itu kata kak Leo" ucap Nindy
"Oke, tapi Lo harus cerita tentang itu" ucap Bryan lalu duduk di belakang Nindy dan memeluk pinggangnya"
***Jangan lupa apa?????
Like komen dan vote biar aku tambah semangat up nya 👏👏👏***
__ADS_1