Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Dijodohkan Dengan Ketos Galak
eps 18


__ADS_3

sesampainya di apartemen Bryan sedang sibuk merayu Nindy


dia mengikuti Nindy kemanapun Nindy pergi


seperti anak ayam yang takut di tinggal induknya


" kamu ngapain sih ngintilin aku terus" ucap Nindy


"makanya kamu jangan beres beres Mulu , jangan masak biar pesan aja" ucap Bryan


" jangan beres beres emang kamu mau beresin sendiri nanti?" ucap Nindy


" aku janji nanti beresin sendiri sekarang sini bobo dulu" ucap Bryan manja


" ini masih sore, Maghrib aja baru lewat aku gak mau mandi nanti solat isya" ucap Nindy


" aku janji gak ngapa ngapain deh cuma pegang doang" ucap Bryan memeragakan tangannya


"aku gak yakin" ucap Nindy membelakanginya


" aku cape nanti aja lah udah solat isya ya" ucap Nindy


pasti akhirnya dia memintanya mana mungkin Bryan hanya puas mencumbuinya saja


" ya sudah tapi sebentar ya " ucap Nindy membuat Bryan senang


saat akan melakukan ritualnya handphone Bryan berbunyi berkali kali


awalnya Bryan membiarkannya tapi itu mengganggu dan Nindy terus memintanya menjawab telepon


"halo kenapa sih nelpon Mulu ganggu aja tau gak?" bentak Bryan dengan handphone di telinganya


" sayang kok gitu sih kan tadi aku suruh telpon kalo udah nyampe rumah" ucap Maria


" kok gambarnya gelap sih yang" tanya maria


Bryan baru menyadari jika itu panggilan video lalu menjauhkannya dari telinga


selintas saat Bryan menjauhkannya terlihat bahu Nindy dengan dada di tutupi selimut


Bryan pun memakai selimut sampai lehernya


" sayang kamu lagi apa? sama siapa? kok selimutan berdua?" tanya Maria


" bukan siapa siapa, gue lagi sendiri juga" ucap Bryan jutek


" ya udah kalo gak ada yang mau di ucapin gue matiin ya gue mau tidur" ucap Bryan


" ya udh selam....." belum usai Maria berbicara Bryan sudah memutuskan sambungannya


saat Bryan akan melanjutkan ritualnya dia melihat Nindy sudah tertidur pulas


dia hanya bisa mengumpat menyumpahi Maria karena dia gagal dengan misinya


" dasar sialan, cewek brengsek ganggu aja" umpat Bryan


" mimpi indah sayang, kamu juga baby" ucap Bryan mencium bibir dan perut Nindy


lalu dia memeluk Nindy membenamkan wajah Nindy di dada bidangnya


mata Nindy mengintip dengan satu mata terbuka


dihatinya dia bersorak berhasil selamat dari cengkeraman Bryan


waktu menunjukan pukul 9 malam Nindy melambaikan tangannya di hadapan Bryan


tapi tidak ada pergerakan itu tandanya Bryan sudah tidur


dia melangkah memakai bajunya kembali lalu ke kamar mandi hendak melaksanakan solat isya


betapa terkejutnya Nindy saat keluar kamar mandi Bryan sudah berada di hadapannya


bersandar pada lemari dengan bersidekap di dadanya


membuat Nindy hanya cengir kuda saja


" ehh sayang kirain masih tidur" ucap Nindy


" tunggu kita shalat berjamaah" ucap Bryan


selesai shalat Bryan memesan makan malam untuknya dan Nindy


Nindy yang tengah hamil tidak merasakan mual sama sekali


yang ada hanya nafsu makan yang memuncak yang membuat dia semakin bulat sekarang


''sayang aku mau beli seragam baru ya" ucap Nindy


"sekolah bentar lagi pake punya aku dulu kan bisa? ucap Bryan


" tapi kegedean yang" ucap Nindy


" mending kegedean dari pada kekecilan, kan bisa di kecilin" ucap Bryan


" iya deh iya" ucap Nindy


ketika selesai makan Nindy hendak membereskan bekas makan mereka


tapi Bryan melarangnya semua kerjaan rumah sudah ia kerjakan


Nindy punya firasat Bryan menginginkan sesuatu


Nindy berjalan ke kamar berbaring menonton Drakor kesukaannya


saat pintu terlihat terbuka Nindy langsung memakai selimutnya dan memejamkan mata


perlahan Bryan duduk mendekati Nindy dan melambaikan tangan di wajahnya


Bryan menghembuskan nafas kasar dia mengumpat sendiri


pasalnya dia selalu gagal malam ini


akhirnya dia memeluk Nindy dan ikut memejamkan matanya


keesokan paginya Nindy membuka matanya dia mendongak menatap wajah Bryan yang setia memeluknya


Nindy mengecup bibir Bryan sekilas tapi tiba tiba Bryan menekan tengkuk Nindy


kecupan itu berubah menjadi ciuman Nindy mengerjapkan matanya berkali kali


lama Bryan ******* bibir Nindy membuat Nindy kehabisan oksigen dan memukul dada Bryan

__ADS_1


Bryan menatap Nindy dengan mata sayu dia menyampingkan anak rambut Nindy ketelinganya


membuat Nindy geli


" shalat dulu yuk" ajak Nindy


" sebentar lagi, aku masih mau seperti ini" ucap Bryan memeluk erat Nindy


" nanti kesiangan, kamu gak ngampus?" tanya Nindy


" aku masuk pagi sih, tapi gak apa apa kan libur sehari" ucap Bryan


" jangan macam macam, kamu mau di marahin sama bunda?" ucap Nindy


" apa hubungannya sama bunda? aku bayar uang kuliahku sendiri" ucap Bryan


" terserah saja tapi yang jelas aku mau mandi mau sekolah" ucap Nindy langsung berdiri pergi ke kamar mandi


Nindy belum masuk ke kamar mandi tiba tiba Bryan berlari menyusul Nindy dan tidak sengaja menubruk tubuh Nindy hingga mereka terjatuh


Bryan membalikkan tubuhnya dengan cepat dengan memeluk Nindy


Nindy terjatuh berada di atas Bryan dan langsung memukul bahu Bryan


Bryan hanya tertawa melihat wajah Nindy yang sangat kesal


tiba tiba Bryan mengangkat tubuh Nindy ke bathtub


membuat Nindy terperanjat dan mengalungkan tangannya ke leher Bryan


" kamu mau ngapain? kita belom shalat nanti kesiangan" tanya Nindy


"apa? emangnya aku mau apa?" Bryan balik bertanya membuat Nindy malu


" aku cuma mau mandi bareng aja" lanjut Bryan


"oohhh" ucap Nindy menggaruk tengkuknya


"otak kamu perlu di refresh" bisik Bryan membuat pipi Nindy bersemu merah


Nindy mempercepat mandinya dan segera pergi dari kamar mandi


Nindy shalat tanpa menunggu Bryan saat Nindy selesai Bryan baru keluar kamar mandi


" kok gak nungguin?" tanya Bryan


" nunggu kamu lama, bisa kesiangan aku.. udah ahh aku mau masak" ucap Nindy seraya pergi ke dapur


"kamu berangkat jam berapa?" tanya Nindy pada Bryan saat makan


" kita bareng aja" ucap Bryan


" gak deh aku mau naik motor aja" ucap Nindy mengambil jaket dan kunci motornya


"tunggu tunggu" teriak Bryan seraya menungguk air minumnya


Nindy sedang memakai sepatunya di depan pintu


ketika selesai dengan sepatunya Nindy hendak melangkah pergi tapi Bryan menjinjing ranselnya seperti anak kucing yang di gendong induknya


" lepasin iihh" ucap Nindy mengguncang pundaknya


" mau kemana buru buru amat, bareng aja ya?" ucap Bryan menaik turunkan alisnya


drrtttt ddrrtt drrtttt


handphone Bryan berbunyi membuat dia melepaskan ransel Nindy


Nindy mendengarkan apa yang di bicarakan orang di sebrang telepon tapi tidak terdengar sedikit pun


" kenapa bisa ? sebentar lagi saya kesana" ucap Bryan


" kamu berangkat sendiri aja ya?" lanjut Bryan


" siapa yang telepon?" tanya Nindy


"Maria , dia..." ucapan Bryan terhenti saat Nindy menyela pembicaraannya


" dari tadi juga mau berangkat, urusin aja tuh pacar yang lagi sakit, bye" ucap Nindy seraya melajukan motornya kencang


" aaarrrggghhhhh sial jadi serba salah" ucap Bryan mengacak rambutnya frustasi


sesampainya di rumah sakit Bryan langsung menuju ruang rawat Maria


Bryan melihat Maria yang sedang kacau dan di tenangkan oleh mamanya dan perawat disana


Bryan mendekati Maria dan memeluknya untuk menenangkan Maria


" hey kenapa, tenang gue disini jagain Lo" ucap Bryan mengelus rambut Maria


" Lo kemana aja? jangan tinggalin gue" ucap Maria


" gue disini, gue gak bakal ninggalin Lo sebelum Lo tenang" ucap Bryan


" syukurlah nak Bryan kesini Tante sudah kewalahan karena Maria mencari nak Bryan yang tidak bisa dihubungi'' ucap mama Maria


Bryan menghela nafas kasar dia berpikir hidupnya akan semakin rumit karena Maria


menghadapi dua wanita yang sama sama tidak bisa ia acuhkan salah satunya


karena Maria adalah penyelamatnya dan Nindy adalah cintanya


Bryan tidak bisa kemana mana karena Maria menahannya


sampai sampai Bryan tidak masuk kuliah


di sekolah Nindy sedang marah marah tidak jelas dia berbicara tanpa henti meluapkan kekesalannya pada dua sahabatnya


sahabatnya hanya bisa mendengarkan tanpa ada jeda untuk mereka berbicara


" kalian ngerti gak sih maksud gue? kalian kok gak ngomong?" tanya Nindy dengan nafas yang menggebu gebu


" sayang sini duduk, gimana kita mau jawab kalo Lo ngomong gak ngasih waktu buat kita" ucap Daraa menarik tangan Nindy agar duduk


" Lo ngomong kayak petasan yang di hajatan itu Nin nyerocos mana kenceng banget lagi" ucap Wina


" abisnya gue kesel banget, bisa bisanya dia hilang ingatan tapi dia ngaku ngaku Bryan pacarnya, Gedeg gue" ucap Nindy


" cemburu nih ceritanya" ucap Damar yang baru saja datang


" apaan sih nyebelin banget deh pagi pagi" ucap Nindy memberengut kesal

__ADS_1


" biar gak galau gimana kalo entar pulang sekolah gue ajak ke mall gue yang teraktir deh" ucap Damar membuat dua makhluk di samping Nindy semangat


'' tapi gue ada pelajaran tambahan pulangnya sore" ucap Nindy


" gue tungguin disini sampe Lo pulang" ucap Damar


" kita juga tungguin Lo disini jadi berangkatnya bareng" ucap Wina yang di angguki Dara


" thank you guys... Lo emang sahabat gue yang terbaik" ucap Nindy menjabat tangan Damar lalu merangkul kedua sahabatnya


" gue gak di peluk nih?" ujar Damar


" dalam mimpi Lo hhahha" ucap Nindy tertawa membuat mereka ikut tertawa


"Lo ikut pelajaran tambahan di sekolah? kenapa gak sama kak Bryan aja sih diakan pinter?" tanya Wina


" kalo dia yang ngajar gak bakal serius, gue belajar aja di gangguin Mulu" ucap Nindy


di tempat lain di kediaman ibu Dessy


Tamara dan mantan suaminya datang ke rumah Bu Dessy


entah apa yang mereka bicarakan hingga mereka saling adu mulut


dan mantan suaminya tidak punya rasa kasihan kepada wanita yang selama ini menemaninya bertahun tahun


mereka mendorong ibu Dessy dengan melontarkan kata kata kasar


para tetangga yang melerai pun ikut kena semprot oleh Tamara dan suaminya


mereka berniat membawa Bu Dessy tapi di usir


terpaksa mereka menelpon Nindy yang sudah akan pulang dari sekolah


" kita berangkat gengs" ucap Dara


ddrrtt ddrrtt


" bentar guys ada telepon" ucap Nindy lalu menjawab teleponnya


"apa? tapi ibu saya baik baik aja kan?"tanya Nindy pada orang di sebrang telepon


"guys sorry gue gak bisa ikut kalian ajaa ya" ucap Nindy seraya memakai helmnya


" Lo mau kemana? " tanya Wina


" ada urusan keluarga" teriak Nindy melajukan motornya


Nindy sudah sampai di rumah Bu Dessy dia melihat ibunya yang bersimpuh di hadapan dua manusia angkuh ini


Nindy memeluk ibunya yang menangis


" kenapa kalian mengganggu ibu ku? apa belum cukup kalian membuat penderitaan untuk ibuku? kalian manusia tidak punya perasaan" ucap Nindy membawa ibunya berdiri


" diam kau hanya anak..." ucap seorang laki laki yang dia sebut ayah


ucapannya terhenti saat ibu Dessy memotong pembicaraannya


" anakku, dia anakku" ucap ibu Dessy


" sekarang kalian pergi atau aku akan panggil polisi" ucap Nindy


" urusan kita belum selesai, dan kau anak tidak tau diri suatu saat kau akan tau kalau ibu mu ini pembohong" ucap Tamara menunjuk pada Nindy dan ibunya


" terserah aku lebih percaya ibuku, jika dia berbohong pasti ada alasan di baliknya" ucap Nindy memeluk erat tubuh ibunya


"ibu gak apa apa? ayo kita masuk" ucap Nindy memapah ibunya masuk


" lutut ibu berdarah sebentar Nindy bawain obat dulu" ucap Nindy lalu pergi mencari p3k


" maafin ibu ya ibu ngerepotin kamu" ucap ibu Dessy membelai pipi anaknya


" ibu inget gak waktu Nindy belajar sepeda terus Nindy jatuh kan ibu juga yang obatin Nindy " ucap Nindy membuat ibunya mengangguk


" Bu.. ibu yang membesarkan Nindy dari bayi Nindy yang rewel Nindy, sang sakit, Nindy yang manja, Nindy banyak belajar dari ibu, sekarang Nindy sudah besar jadi kalo ibu ada masalah apapun berbagi sama Nindy kita akan hadapi sama sama " ucap Nindy menggenggam tangan ibunya


" tapi kalo ibu berbohong sama kamu apa kamu akan marah?" ucap ibu Dessy meneteskan air mata


" Nindy tau ibu berbohong untuk kebaikan Nindy kan? Nindy gak akan tanya apa kebohongan ibu tapi suatu saat kalo ibu udah siap jujur sama Nindy, Nindy mohon jangan tahan itu... ungkapan semua" ucap Nindy dengan senyum manisnya


membuat ibu Dessy semakin berderaian air mata


dia tidak sanggup jika suatu saat dia akan kehilangan sosok seorang anak yang selalu membawa kebahagiaan untuknya


" ibu udah ahh jangan sedih nanti Nindy juga ikut sedih, kasihan Dede bayi kan kalo ibunya sedih Dede bayi juga sedih" ucap Nindy seraya mengusap air mata ibunya


ibu Dessy segera menghapus air matanya lalu mendekatkan telinganya ke perut Nindy


seraya mengelusnya


" berapa bulan sekarang nak?" tanya ibu Dessy


" dua bulan Bu, kalo udah bisa nendang itu usia berapa bulan ya Bu? " tanya Nindy


"5 atau 6 bulanan lah kira kira" ucap ibu Dessy


Nindy memasak bersama ibunya di dapur


sementara Bryan belum juga pulang dari rumah sakit karena menunggu Maria tidur


" aku pulang aja ya ini udah malem" ucap Bryan melihat jam di tangannya sudah pukul 8 malam


" kamu nginep aja disini" ucap Maria manja


" gak bisa nanti Nindy nyariin" ucap Bryan keceplosan


" emangnya kenapa Nindy nyariin kamu?" tanya Maria


" kan dia belajar tiap malem sama gue" bohong Bryan


Bryan menelpon Nindy tapi tidak diangkat juga


dia khawatir dengan keadaan Nindy


" gue harus pulang, nanti kalo gue ada waktu gue kesini lagi" ucap Bryan


" tapi..." belum selesai Maria bicara Bryan sudah pergi dari sana


" liat aja nanti Lo bakal jadi milik gue" gumam Maria dalam hati seraya mengepalkan tangannya


like, komen, dan vote ya biar semangat up-nya

__ADS_1


selamat membaca 😍😍😍


__ADS_2