
Seorang lelaki sedang menatap intens orang yang kini sedang berbaring di sampingnya
ya itu adalah Bryan sedang memandangi Nindy yang masih terlelap
berhadapan dengan dirinya
Perlahan matanya sedikit terbuka sepertinya masih belum sadar
Bryan mencium pipinya seraya membisikkan sesuatu
"Good morning" bisik Bryan
"Morning" ucap Nindy dengan suara serak khas bangun tidur
Sejenak dia tidak menyadari bahwa dia sedang tidur bersama Bryan
sampai akhirnya dia terlonjak dari tidurnya
saat dia membuka matanya lebar lebar dia dibuat terkejut dengan wajah Bryan yang begitu dekat dengannya
"Astaghfirullah" ucap Nindy seraya mendorong wajah Bryan dengan tangannya
"Harusnya subhanallah, Masya Allah kek atau Alhamdulillah pagi pagi di kasih rezeki lihat orang ganteng
"Minggir gue mau sholat subuh" ucap Nindy menyingkirkan Bryan dari hadapannya
Nindy sudah berangsur hendak turun tapi Bryan menahan tangannya
"Apa lagi?" tanya Nindy malas
"Morning kiss" jawab Bryan menunjuk bibirnya
"Please deh Bryan gue lagi males becanda" ucap Nindy hendak pergi tapi Bryan menarik tangannya kembali
"Apa lagi sih Bryan?" Nindy mulai kesal
"Gue yang imamin" ucap Bryan turun terlebih dahulu
Nindy mematung menatap Bryan yang sudah masuk ke kamar mandi
Nindy bersantai sejenak menunggu Bryan keluar
setelah Bryan keluar Nindy bergantian ke kamar mandi
Pada saat Nindy keluar kamar dia mematung menatap Bryan tak berkedip
menggunakan perlengkapan sholat wajahnya terlihat sangat tampan
Nindy terlonjak saat Bryan mengibarkan sejadah di hadapan Nindy
"Ilernya netes tuh" ucap Bryan dan dengan bodohnya Nindy mengelap bibirnya
Nindy baru sadar kebodohannya saat Bryan menertawakannya
Nindy hanya memberengut kesal menggelar sejadah di belakang Bryan
Selesai sholat Nindy membuka tali mukena di belakang kepalanya
Bryan berbalik mengulurkan tangannya nindy mengangkat sebelah alisnya
lalu Bryan meraih tangan Nindy dan menciumkan tangannya ke hidung Nindy
Wajah Nindy memerah dia segera melipat mukenanya dan berpura pura merapihkan sprei
Bryan tertawa melihat tingkah Nindy yang salah tingkah
"Bisa diem gak sih berisik" ucap Nindy tanpa berbalik
Bryan diam diam mendekati Nindy dan berdiri di belakangnya
saat Nindy berbalik dia terkejut dan memukuli Bryan yang tertawa melihat raut wajah Nindy
Bryan berhenti tertawa dan menangkap satu tangan Nindy yang masih memukulinya
Lalu Bryan menekan pinggul Nindy agar lebih dekat dengannya
sejenak mereka saling pandang tapi karena malu Nindy memalingkan wajahnya
Bryan membalikkan wajah Nindy agar menatapnya
mata mereka saling bertemu terlihat kerinduan Dimata keduanya
"Apa masih ada rasa Yang sama, disini" ujar Bryan menunjuk dada Nindy
Nindy menurunkan tangan Bryan Bryan dan menjauh darinya
Bryan mematung menatap Nindy yang berjalan beberapa langkah membelakanginya
"Gue gak tau rasa itu masih ada atau enggak, gue.. gue gak yakin" tutur Nindy
"Apa Lo gak bisa lupain.. maksud gue berusaha buka lembaran baru gitu?" tanya Bryan
"Gue butuh waktu" ucap Nindy
"Gue mau nagih janji Lo gue mau pulang" lanjut Nindy
"Apa Lo gak bisa lupain, emhh maksud gue buka lembaran baru sama gue?" tanya Bryan
"Gue harus pulang gue gak bisa lebih lama disini" ucap Nindy
"Tapi gue bahagia kalo Lo ada disini" tutur Bryan
"Jujur semakin lama disini luka yg sudah kering itu semakin menganga lebar, gue merasa sakit untuk anak gue kalo gue bahagia sama..." ucapannya terhenti
"Sama siapa?" tanya Bryan
"Sama Lo yang jadi penyebab semuanya" ucap Nindy
"Lo masih nyalahin gue atas hilangnya anak kita?" tanya Bryan
"Gu.. gue gak tau gue bingung itu yang gue rasain sekarang" ucap Nindy sambil berkaca kaca
"Gue gak pernah mau ini terjadi, gue juga terpukul atas hilangnya anak kita gue kehilangan dua orang yang gue cinta" ucap Bryan seraya memeluk erat Nindy
Mereka berdua tengah menangis di hati mereka sama sama merindukan
tapi diantara mereka terhalang tembok Yaang begitu tebal
hanya mereka yang bisa menghancurkan egonya sendiri
Bryan melepas pelukannya dan menangkup wajah Nindy menghapus air mata dengan ibu jarinya
"Aku tau ini sulit tapi aku juga ngerasain hal yang sama" ucap Bryan
"Kamu boleh pergi" ucap Bryan
Setelah mengucapkan itu dia pergi lebih dulu
entah kemana dia akan pergi dengan masih menggunakan baju Koko dan sarung
Bryan mengemudi dengan kecepatan tinggi tanpa arah
dia ingin melampiaskan sesak di dadanya
Nindy bersimpuh di lantai dia menangis sejadi jadinya
padahal keinginannya untuk pergi tapi ketika Bryan melepaskannya itu malah membuatnya sakit
__ADS_1
dia tidak ingin pergi tapi egonya yang menjauhkan dia dengan Bryan
"Siaallll siiaall aaarrrggghhhhh" teriak Bryan dalam mobil seraya memukul mukul kemudi
sementara Nindy tidak juga berhenti menangis
berat kakinya melangkah pergi dari sana
dia bangkit dari duduknya dan menuju meja belajar Bryan yang masih ada disana
"Maaf Bryan gue gak bisa lupain masa itu
masa dimana gue lewatin hal berat sendiri
dalam waktu yang singkat gue kehilangan orang orang yang gue cinta
maaf gue gak bisa balik sama Lo " tulis Nindy di secarik kertas
"Kenapa kali ini rasanya lebih berat dari pada sebelumnya" gumam Nindy
Mulutnya memang ingin pergi tapi hatinya berkata lain
pertemuannya kembali dengan Bryan membuat hatinya semakin tidak bisa melupakan Bryan
setelah menulis pesan dia pergi dari sana
"Mau kemana nak?" tanya bunda saat Nindy baru turun tangga
"Nindy mau pulang Bun" jawab Nindy
"Apa Bryan menyakiti kamu?" tanya bunda yang melihat Nindy sepertinya habis menangis
"enggak sama sekali" ucap Nindy
Nindy memeluk bunda seakan membagi kegundahannya
"Nindy pamit pulang Bun" ucap Nindy
"Bunda harap kamu sering menemui bunda seperti orang tua kamu sendiri" ucap bunda mengelus rambut Nindy
Nindy pergi dari rumah Bryan bunda menatap Nindy diambang pintu sampai mobilnya menghilang
"Tuhan apa aku salah? jujur saja aku merindukan dia tapi saat aku bersamanya malah mengingatkanku akan kesedihan di masa lalu" Nindy terus bergumam dalam hatinya
Bukannya pulang Nindy malah ke panti dulu untuk menemui Cia
Nindy mengetuk pintu dan mengucap salam
ketika ibu Ambar membuka pintu anak anak berhambur memeluk Nindy
Nindy berlutut di peluk semua anak kecuali Cia
saat mereka melepaskan pelukannya Nindy menatap Cia yang berada agak jauh dengannya
Cia terdiam dengan mata berkaca-kaca bibirnya bergetar
Nindy segera memeluknya lama Cia menangis di pelukan Nindy
"Cia kira mama gak akan kesini lagi" ucap Cia dalam Isak tangisnya
"Kemarin mama ada urusan dulu, mana mungkin mama tahan sehari gak ketemu Cia" ucap Nindy
"Ini aja mama belum pulang langsung kesini karena kangen sama Cia " lanjut Nindy seraya menggendong Cia
"Bu kalo Cia Nindy bawa kerumah dulu gimana?" tanya Nindy
"Tapi..." jawab ibu Ambar ragu
"Tenang aja Bu Cia pasti aman kok" ucap Nindy
Cia senang bukan main dia langsung mengemas pakaiannya sendiri
dengan antusias Cia pamit pada semuanya di panti
"Cia mau nginep dulu di rumah mama ya, daahhh" ucap Cia melambaikan tangannya
"Cia jangan nakal ya nurut sama mama" ucap ibu Ambar
Nindy sudah pergi dengan mobilnya sepanjang jalan Cia mengoceh
bercerita banyak bertanya tentang apa saja yang dia lihat sepanjang jalan
sesampainya di rumah Damar
"Assalamualaikum" ucap Nindy
"Waalaikum salam" ucap semua yang ada di rumah itu
"Sayang kamu gak di apa apainkan? Leo cerita semuanya, eehh ini siapa " ucap mama Damar mencuil pipi Cia
"Gak apa apa tan, ohh iya aku bawa Cia.. ayo sayang kenalan" ucap Nindy
"Hai om Tante aku Cia" ucap Cia menyalami orang orang disana
"Halo sayang panggil Oma aja biar lebih enak" ucap mama Damar
"Horeeeeee aku sekarang punya mama sama Oma tinggal papa opa dan adik yeeee" ucap Cia antusias membuat semua orang disana iba
"Kamu bisa panggil om papa ehh Dady aja om kan lebih ke bule bulean" ujar Leo
"Dady itu apa?" tanya Cia
" Itu panggilan lain selain papa" jelas Nindy
"Asyiiik papa ehh Dady aku ganteng" ucap Cia
"Iya dong pastinya" ucap Leo dengan pedenya mengelus dagunya dengan telunjuk dan ibu jari membuat semua orang disana tertawa
"Eehh lo kemarin kasih jatah mantap mantap ya?" bisik Damar yang masih bisa di dengar orang
pletak
Nindy dan mamanya menjitak kepala Damar yang ada di tengah mereka
Nindy meminta membawa Cia ke kamarnya
agar dia puas memarahi Damar
"Lo kalo ngomong kagak pake filter" ucap Nindy menoyor kepala Damar yang hanya cengengesan
"Tau punya dosa apa Tante punya anak bar-bar gini" ucap mamanya sendiri
"Lagian kalo masih cinta ngapa gak balikan lagi aja sih?" ucap Damar dengan santainya
"Yang punya pacar masih bocil mending diem deh Lo gak bakal paham" sindir Nindy
"Diihh songong Lo mentang mentang udah tua" ledek Damar sambil berlari menjauh
Entah kenapa Damar jadi sebarbar ini berbeda saat mereka masih sekolah
"Dady sekarang Cia gak bakal di ledekin temen temen lagi dong karena punya orang tua dan nenek kayak temen temen " ucap Cia dengan polosnya
Leo mengelus kepala Cia dia bisa merasakan di posisi Cia
hanya saja hidupnya lebih beruntung hidup berkecukupan meskipun identitasnya di sembunyikan oleh Dady Dion
"Emang Cia suka di ledekin apa?" tanya Leo
__ADS_1
"Katanya Cia di buang sama orang tua Cia mereka gak mau Cia, mereka kadang juga suka ngambilin dagangan Cia" ucap Cia
"Sekarang gak akan ada yang ganggu Cia lagi, kalo mereka ganggu lagi nanti Dady jewer satu satu" ucap Leo memeragakan dengan tangannya
"Tapi kenapa ya orang tua Cia gak mau sama Cia?" ucap Cia
" Mungkin ada alasan di balik itu, Cia gak boleh benci sama orang tua Cia, Cia harus tetap jadi anak berbakti doakan yang baik baik" ucap Leo mengusap kepala Cia
"Lagi ngomongin apa sih kayaknya seru banget?" tanya Nindy yang baru datang
"Mama dari mana aja?" tanya Cia
"Biasa ngobrol dulu" ucap Nindy
"Mama mandi dulu ya nanti kita jalan jalan" lanjut Nindy
"Asyiiik jalan jalan sama Dady kan?" tanya Cia
"Iya boleh, Dady ganti baju dulu ya" ucap Leo keluar dari sana
Saat Nindy mandi Cia berkeliling kamar Nindy yang luas menurutnya
dia melihat lihat Poto yang terpajang di atas lemari kaca
disana ada Poto Nindy sedang hamil yang di peluk Bryan dari belakang
dan masih ada Poto lain
Nindy baru saja keluar dari kamar mandi dia melihat Cia melihat Poto
"Cia lagi apa?" tanya Nindy
"Mama ini om yang waktu itu kan?" tanya Cia
"Eemmhh i.. iiya emang kenapa?" tanya Nindy
"Kok bisa peluk peluk mama emang Dady gak marah?" tanya Cia polos
"Dady itu kakaknya mama kalo om itu suaminya mama, tapi Cia jangan bilang siapa siapa ya? janji?" ucap Nindy mengacungkan kelingkingnya
" Janji" ucap Cia mengaitkan kelingkingnya
Setelah bersiap siap Nindy turun dengan Cia sementara leo sudah menunggu di mobil
tidak lupa Nindy pamit pada mama Damar
"Nin Lo tau kemaren Bryan ngomong apa sama gue?" tanya Leo
"Emang dia ngomong apa?" tanya Nindy balik
"Dia nyuruh gue jangan Deket deket sama Lo pake tegasin kalo dia suami Lo lagi, cemburu banget deh kayaknya" ucap Leo
"Biarin aja dia gak usah tau yang sebenarnya" ucap Nindy
"Gak ada niatan buat kembali lagi gitu?" tanya Leo
"Gak usah bahas itu deh" ucap Nindy
Di lain negara seorang wanita dan pria paruh baya mengumpulkan anak buahnya
mereka sudah mencium tentang kembalinya keluarga Alexander
mereka belum mengetahui bahwa Leo adalah anak sulung keluarga Alexander
Yang mereka tau Leo adalah anak Dion yang menggantikan ayahnya mengelola perusahaan
karena wasiat terakhir ayah Leo adalah Dion harus mengurus semua harta kekayaannya sebelum anak dan istrinya di temukan
"Cari mereka sampai dapat, kalau perlu bunuh saja dan bawa bukti kalau mereka sudah mati" ucap Mario yang tidak lain adalah adik tiri tuan Alexander yang ingin mengambil alih harta mereka
"Baik tuan, akan kami laksanakan" ucap bawahannya
Sekarang Nindy dan Leo sedang dalam masalah besar karena sewaktu waktu bisa saja penyamaran mereka terbongkar
belum masalah kisah asmaranya selesai kini masalah baru datang
Kembali pada Nindy dan Cia yang sedang berjalan jalan ke kebun binatang, taman buah, dan tempat bermain lainnya
pukul 17:00 mereka sudah puas berjalan jalan
dan sedang dalam perjalanan pulang
"Mau liat apartemen yang gue beli gak?" tanya Leo
"Boleh deh, emang daerah mana?" tanya Nindy
" Udah Lo ikut aja" ucap Leo
Cia sudah tertidur di pangkuan Nindy di kursi belakang
mereka memutuskan untuk ke apartemen yang di janjikan Leo untuk Nindy
Nindy tertidur hingga tak menyadari jalan yang mereka lewati
sesampainya disana Leo membangunkan Nindy
"Nindy bangun. udah nyampe" ucap Leo
"eemmmpphh pegel banget badan gue" ucap Nindy masih belum membuka matanya
Nindy mengucek matanya lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling
dia seperti mengenal tempat ini dia menatap Leo seolah meminta jawaban
"Apa?" tanya Leo pura pura tidak tau
"Lo kenapa pilih apartemen disini?" tanya Nindy penuh selidik
"Gak tau feeling aja" ucap Leo asal
"Gue gak mau yang disini" ucap Nindy ngambek
"Ya udah Lo gak dapet apartemen berarti, ini bisa buat istri gue suatu hari nanti" ucap Leo
"Emang laku" sindir Nindy sambil membangunkan Cia
" Liat aja nanti gue gak bawa pacar tapi tau tau bawa bini" ujar Leo
"Terserah" singkat Nindy turun dari mobil
Nindy menatap gedung apartemen dengan hati yang berdebar
terlalu banyak kenangannya dan Bryan disini
Leo membawa Nindy keatas Nindy tidak bicara sepatah kata pun
ingatannya masih melayang seolah terjebak di masa lalu
"Sampai" ucap Leo membuka pintu
Membuat lamunan Nindy buyar
seketika mata Nindy melebar melihat sekitar apartemen
dia menatap nyalang pada leo yang acuh tak acuh
Leo seakan tidak peduli dengan tatapan Nindy yang terlihat marah
__ADS_1